ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 29


__ADS_3

"Di matamu, Papamu itu sosoknya seperti apa di dalam keluarga?"


Karena didesak terus oleh Afnan, Erika lebih dahulu bertanya pendapat anak Pak Ridwan ini. Ia tidak mau gegabah membongkar aib seorang ayah langsung pada anaknya sendiri. Bagaimana pun, Afnan dan Pak Ridwan itu sedarah, sementara dirinya hanyalah orang asing yang baru kenal dan akrab beberapa hari belakangan ini. Tanpa bukti kuat, Afnan pasti tidak akan mempercayainya bukan? Takutnya, Pak Ridwan malah menuntutnya atas pasal pencemaran nama baik. Erika ngeri jikaulah dirinya tersandung kasus berat, Icha bagaimana nanti? Kasihan anaknya bukan, kalau dampak kelancangannya menyeret dirinya dalam masalah besar.


"Papa ku? Hem... Susah ku jabarkan dengan untaian kalimat. Intinya, pria yang menjadi pemimpin keluarga kami itu adalah sosok membanggakan. Hampir tidak cela dalam dirinya. Penyayang dan tentu saja sangat menghormati Mama ku."


Erika menghela nafas pendek pendek. Afnan memang benar, Pak Ridwan itu sangat alim di rumahnya. Erika pun nyaris tertipu jikalau ia tidak melihat kelakuan tak senonoh pria itu secara langsung tepat kedua bola matanya. Beliau sangatlah bermain halus dan cantik sehingga kelakuan buruknya masih terbungkus rapih. Erika merasa, pembahasan tentang pria bermuka dua itu cukup sampai di sini saja, karena air muka Afnan ini sangatlah kagum pada sosok pahlawan yang disebut seorang Papa.


"Apakah tawaran mu tentang novel ku tidak lanjut pembahasan? Lebih baik aku pulang saja kalau begitu, ***__"


"Eh, sebentar dulu!" Afnan ingin menahan tangan Erika untuk menghentikan pergerakan wanita itu yang hendak berdiri dari kursi. Tetapi tersadar kalau janda muda ini tidak suka kulitnya di sentuh oleh pria manapun, ia jadinya hanya menarik tali tas Erika.


"Kamu merusak tas ku, Afnan." Saking kuatnya tarikan Afnan yang refleks itu, tali tersebut putus. Erika cemberut dan hanya bisa menatap nanar tas kesayangannya yang sudah putus.


"Maaf, maaf. Aku tadinya mau narik tangan mu, namun mengingat kalau kamu nggak suka kulit mu disentuh, jadinya aku menarik refleks tas mu saja. Maaf ya?" Suara Afnan benar-benar merasa bersalah.


Erika yang mendengar penjelasan Afnan yang sangat menghormatinya, jadi memaklumi saja.


"Lupakan tas! Lagian, tas ku memang murahan jadi mudah putus," kata Erika tidak mempermasalahkan lagi. Afnan pun tersenyum paksa karena masih tidak enak hati. Dalam hatinya, ia akan mengganti apa yang telah dirusaknya.


"Ini kontrak awal kita. Kamu boleh bawa pulang untuk mempelajarinya. Dan di situ pun sudah ada tertulis tentang bagian mana saja yang perlu direvisi sebelum dicetak."


Erika mengganguk paham sembari meraih map biru yang disodorkan Afnan.


"Aku ingin pulang sekarang, Icha pasti sudah merepotkan Mamamu."

__ADS_1


***


"Aku dengan mudah bisa memberi uang padamu, Mas. Tetapi syarat dari Pak Ridwan yang tidak boleh membongkar hubungan kami sampai waktunya tiba, kamu bisa memenuhinya, bagaimana?"


Aldo yang pusing dan terdesak oleh pembiayaan rumah sakit Ibu Rani, mau tak mau menemui istri sirinya ini. Padahal, niatnya ia ingin langsung mentalak Sinta. Namun di sisi lain, hanya Sinta lah yang bisa membantu membiayai pengobatan ibunya yang kata dokter harus dioperasi. Akibat benturan di bagian kepalanya waktu terjatuh di tangga tadi sore, membuat ada pendarahan yang harus di hentikan.


Erika dan Icha sudah jauh dari hidupnya, ia pun tidak mau kehilangan seseorang terdekatnya lagi untuk kedua kalinya. Oleh sebab itu, Aldo terpaksa menerima semua keinginan Sinta dan Pak Ridwan untuk menjadi pria penutup aib dua manusia cabul tersebut. Itu tandanya, ia harus berpura-pura mengakui calon bayi Sinta adalah benihnya. Sangat menjijikkan!


"Inilah Aldo yang cerdas. Dalam hidup itu, kita tidak boleh naif, Mas. Dan ingat, Mas, jangan menipu kami. Kalau itu terjadi, maka Pak Ridwan bisa berbuat kejutan untuk mu." Setelah melontarkan kalimat ancamannya, Sinta dengan santai mencium pipi Aldo. Membuat pria itu terkejut dan menampilkan air muka jijiknya dengan mata menatap tajam ke wanita yang malah tertawa sumbang mengejeknya.


"Sebenarnya, aku ingin sekali dimanja malam ini, tetapi kamu ada urusan di rumah sakit, maka pergilah." Sinta berjalan ke arah laci di dalam kamarnya itu. Kemudian mengeluarkan uang untuk Aldo.


Pria itu hanya diam membisu meski dadanya sesak yang harus masuk ke permainan gila Sinta dan Pak Ridwan. Dengan tangan gemetar, ia menerima uang yang masih terbungkus amplop coklat.


"Mas, cepat pulang ya." pinta Sinta sembari tersenyum menggoda Aldo. Jujur, ia benar benar mencintai Aldo, namun berhubung Aldo ini kere, Sinta mau tak mau tetap membutuhkan Pak Ridwan, lebih tepatnya butuh pundi pundinya dan anak yang di dalam perutnya itu suatu saat akan menggeser posisi Afnan sebagai pewaris utama kekayaan Pak Ridwan. Pintar kan dirinya?


***


Di sisi Erika, wanita itu sudah berada di ruang tamu Afnan. Ia berkunjung sekadar menjemput Icha.


"Tunggu di sini saja, aku panggilin Icha. Pasti bersama Mama di ruang keluarga."


Erika mengangguk takzim. Ia pun duduk di ruang tamu tersebut. Menatap Afnan menelusuri ruangan itu dan hilang di belokan ruang tengah.


"Ehem..." Erika terjungkit kaget saat mendengar deheman seseorang yang tidak asing. Ia menoleh ke sumber suara. Ada Pak Ridwan dengan stylish santainya.

__ADS_1


"Baru tadi siang kita bertemu, Erika." Pak Ridwan duduk di sofa pojok sana.


Diam lebih baik.


"Aku harap kamu tidak bocor ke Afnan atau ke istriku."


Erika tersenyum miring. Pria yang mendapat puber kedua ini takut rupanya. Jelas sekali dari nada dan gerak gerik tubuhnya yang gelisah.


"Kalau Pak Ridwan tidak mau ketahuan, maka jangan membahas di sini."


"Ketahuan apa?"


Mampus! Ada suara ibu Melati. Pak Ridwan terlihat memucat. Ia cemas, Erika akan berkata jujur.


Bahkan, ada Afnan pun di sisi Ibu Melati dengan tangan mungil Icha dalam genggamannya.


Erika dan Pak Ridwan kompak berdiri di sofa masing-masing.


"Kenapa Papa terlihat gugup?" Ibu Melati mendapati gerak gerik tak biasa suaminya.


Afnan juga demikian.


Sementara, Erika diam dan santai santai saja. Ia ingin melihat dan mendengar alasan apa si muka dua ini mengelak?


"Pa, ketahuan apa yang kalian bahas?"

__ADS_1


__ADS_2