ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 31


__ADS_3

Satu minggu berlalu...


Erika sibuk mencari kontrakan baru demi ketenangannya dari gangguan Aldo yang kadang datang bertamu tanpa tau batasan. Akan tetapi, ia masih belum mendapatkan lingkungan yang memadai untuk Icha dan dirinya.


Sementara, Aldo sendiri hari ini berduka. Paska operasi tentang pendarahan di bagian kepala Ibunya, nyatanya berujung gagal. Hari ini adalah pemakaman ibu Rani. Sinta sendiri sebagai istri hanya menatap datar suaminya yang sedang memanjatkan doa terakhir di depan makam basah mertuanya.


Dari kejauhan, ada Erika dan Icha yang sedang memandang satu persatu warga yang pergi meninggalkan pemakaman mantan mertuanya. Hanya Aldo dan Sintalah yang tersisa di depan sana. Erika akan mendekati makam itu setelah mantan suaminya dan Sinta sudah pergi. Bukan karena takut kepada pasutri itu, Erika hanya malas meladeni sisi negatif keduanya.


"Bu..." Icha memanggil. Bocah itu berniat menyadarkan ibunya kalau di belakang mereka ada Paman baik yang baru datang.


"Sebentar ya, Sayang. Setelah sepi, baru kita berdoa di makam nenek mu."


"Kenapa harus menunggu mereka pergi. Apa kamu gagal move on?" celetuk Afnan tiba tiba. Erika baru tersadar dan segera menoleh ke belakang. Pria yang umurnya dua tahun lebih muda darinya itu tersenyum lebar padanya.


"Ehh..." Erika semakin tak habis pikir. Afnan saat ini main gendong Icha dan berjalan ke arah kuburan Ibu Rani di mana masih ada Aldo yang berjongkok di sana.


"Afnan..." desis Erika geram. Pria itu selalu saja bertingkah seenak jidat.


Terpaksa, Erika pun mengekor karena percuma juga berdiam di tempat setelah Icha sudah ada di depan Ayahnya.


"Icha..." ujar Aldo tidak suka melihat anaknya begitu akrab di atas gendongan pria yang menjadi rivalnya. Lalu menoleh ke belakang Afnan, di mana Erika ada di sana.


"Turut berduka cita atas kepergian Ibumu, Aldo," seru Afnan dengan nada tulusnya.

__ADS_1


Aldo tidak merespon. Pandangannya terus tertuju ke Icha yang malah menyembunyikan wajahnya di sela leher Afnan. Tanpa ada yang menyadari, Icha mendapat plototan seram dari Sinta meski itu hanya sesaat, tetapi Icha yang masih kecil tentu saja merasa takut.


"Mas, apa saya boleh berdoa di depan makam ibumu?" tanya Erika merasa canggung. Aldo masih diam saja, tetapi tatapannya seakan-akan menelanjang*nya.


"Silahkan, Erika. Dan Atas nama Ibu ku, saya meminta maaf padamu. Tolong maafkan beliau agar kuburannya dilapangkan." Akhirnya, suara Aldo terdengar. Tetapi ramahnya itu hanya untuk Erika, bukan ke Afnan.


Erika hanya mengangguk. Lalu beringsut ke hadapan makam, mengabaikan delikan Sinta yang terang terangan menatapnya tak bersahabat.


Ia pun memanjatkan doa tulusnya dalam hati. Atas perlakuan buruk mantan mertuanya, Erika memutuskan untuk melupakannya. Yang lalu biarlah berlalu. Ia tidak mau menaruh dendam pada orang yang sudah pergi menghadap-Nya.


"Icha, sini sama Ayah, Nak." Aldo ingin mengambil secara paksa anaknya dari gendongan Afnan, tetapi Sinta yang memang tidak suka kalau perhatian Aldo terbagi meski ke Icha, berpura-pura sakit kepala.


"Mas... Kepala ku sangat sakit. Perutku juga tidak enak rasanya. Ayo pulang, Mas. Aku nggak tahan lagi sama cuaca panas di sini." Sinta merengek manja sembari bergelayut manja ke Aldo. Ia sengaja memamerkan ke mesraannya di depan tiga pasang mata di depannya.


Aldo sendiri sebenarnya muak dengan nada suara manja Sinta, tetapi biarkan ia tahan dahulu. Untuk Sinta dan Pak Ridwan, dia punya rencana khusus untuk pembalasannya. Toh, hari ini ia sudah tidak ada alasan lagi untuk terus bertahan di dalam permainan hina Sinta dan Pak Ridwan.


"Kenapa mesti pamit segala, Erika itu cuma mantanmu," celetuk Sinta. Lalu segera menarik Aldo untuk bergerak tanpa menunggu jawaban Erika.


"Pasangan aneh." Afnan mencibir dua orang yang semakin menjauh. Erika hanya diam dan tak mau ambil pusing. Segera, ia mengajak Icha yang ada di gendongan Afnan untuk pulang.


"Icha, turun, Sayang. Kamu kan berat." bujuk Erika. Icha menggeleng. Ia sudah nyaman di gendongan Afnan.


"Anak pintar." Afnan tersenyum jumawa. Anaknya saja begitu mudah menyukainya, entah kenapa ibunya susah diambil hatinya. Ah, apakah karena Erika masih dalam tahap penyembuhan luka lara yang didapatkan oleh Aldo.

__ADS_1


"Aku antar pulang!"


"Jangan repot repot, Afnan!" tolak halus Erika.


"Kata siapa aku repot. Aku malah suka. Icha juga suka sama Paman, kan?"


Anak kecil itu mengangguk polos sembari tersenyum. Membuat Afnan tak sabar menggoda Erika dengan cara mengedipkan mata lucunya.


"Paman keyiyipan?" tanya polos Icha. Lantas membuat senyum refleks Erika tersemat di sela langkahnya menuju pintu TPU tersebut. Dan Afnan suka melihat senyum wanita itu.


"Hehe... Icah benar sekali. Mata Paman suka berkedip lucu kalau melihat Ibu mu, soalnya sangat menyejukkan hati sih."


Icha mana paham akan gomabalan manis Afnan. Namun, Erika tahu itu. Tetapi hanya pura-pura bodoh saja.


"Kalau Paman jadi Papa mu, Icha suka nggak?"


Uhuuk...


Erika batuk batuk mendengarnya.


"Mau..."


Dan batuk Erika semakin menjadi jadi saat Icha menyahut polos.

__ADS_1


"Ibu suka juga, kan?" Icha bertanya pada Ibunya. Membuat Afnan tersenyum terus.


"Ibu suka, kan?" cecar Icha. Afnan semakin bahagia. Namun Erika sengaja menulikan pendengarannya. Entah kenapa, semakin hari anaknya itu malah lebih kompak bersama Afnan daripada dirinya apalagi Aldo yang semakin dijauhi oleh Icha tanpa ada sugesti apapun untuk nama Aldo.


__ADS_2