
"Kenapa kalian tiba-tiba seperti orang bisu? Aku bertanya, maniak apa yang kalian perdebatkan?" Afnan menatap Sinta dan Erika saling bergantian.
"Kamu di sini sejak kapan?" Sinta balik melempar pertanyaan ke Afnan. Ia cemas perdebatannya bersama Erika terdengar semua oleh anak dari Pak Ridwan. Dan berujung masuk ke kuping Ibu Melati yang sebenarnya garang itu.
"Assalamualaikum....!" Dan Erika lebih memilih pergi.
Afnan kebingungan, antara ingin mencecar Sinta perihal maniak muda dan tua yang kurang ia pahami arah sindir menyindir dua wanita itu, atau mengejar Erika yang memang ia sengaja kemari hanya mau menjemput Erika.
" Erika, tunggu!" teriak Afnan sembari berlari, karena langka Erika sudah berada di dalam lift.
"Syukurlah dia pergi..." gumam Sinta bernafas lega. Setidaknya, ia selamat dari cecaran Afnan.
Erika menekan terus tombol open button demi mengindahkan panggilan Afnan. Setelah pria itu di dalam lift, ia pun melepas jarinya membuat pintu lift perlahan tertutup.
"Apa kamu bisa menjawab pertanyaanku tentang maniak yang kalian bahas tadi?" tanya Afnan yang masih penasaran.
"Aku malas membahas itu!" Erika tidak mau berbohong. Oleh sebab itu ia menjawab demikian. "Kalau masih mau mengetahuinya, lebih baik kamu keluar dan menemui Mbak Sinta. Dia lebih tau segalanya." Ia sebisa mungkin menghindar dari tatapan penuh tanya Afnan dengan cara menghadap lurus lurus ke pintu lift. Bukan ia tidak bisa mengatakan semua permainan affair Pak Ridwan dan Sinta, Erika cuma tau batasan yang tidak berhak diikut campuri urusan rumah tangga orang. Toh, bangkai itu baunya busuk. Cepat atau lambat, Ibu Melati pasti akan mengetahui kelakuan buruk suaminya.
"Aku kemari atas perintah Mama."
Erika segera menoleh ke Afnan dengan alis mengkerut halus. "Apa Icha menyusahkan Mamamu?" tebaknya sudah tidak enak hati.
__ADS_1
Afnan menggeleng. "Bukan! Mama baru ingat kalau Sinta ada di sini, takutnya kamu dan dia ribut cakar cakaran hanya karena Aldo."
Afnan tercengir kuda mendapati Erika memutar mata malas menghadiahi ucapannya.
Ting...
Denting lift yang sudah sampai di lantai dasar membuat Erika tidak mengindahkan ejekan Afnan.
Wanita itu melangkah keluar di susul Afnan dan terus menelusuri lobby menuju ke parkiran. Banyaknya tatapan penuh makna dari karyawan tak di pedulikan oleh Afnan. Mungkin karyawan itu heran ada anak muda berpenampilan badboy dan terkesan urakan memasuki perusahaan begitu bebasnya. Dari sekian banyaknya staff, hanya Sinta lah seorang diri yang tau identitas anak Pak Ridwan itu.
"Kenapa kamu terus mengikuti ku?" tanya Erika saat Afnan sudah mensejajarkan langkahnya.
"Afnan!" protes Erika tidak suka mendengar ucapan ngaur Afnan.
Pria itu manaik turunkan kedua alisnya, sembari mundur mundur di depan langkah Erika yang sudah berada di area parkiran. "Apa calon istri ku? Kalau wajahmu terlihat marah, kecantikan mu semakin terpancar dua kali." goda Afnan kian gencar mendekati Erika.
Duahgg...
Badan mobil di belakang sana membuat punggung Afnan terbentur keras, karena ia memang asyik menggoda Erika sehingga tidak menyadari keadaan sekitarnya.
Bukannya menahan Afnan yang terpental ke arahnya, Erika justru lebih memilih melangkah ke samping membuat Afnan terhuyung bebas ke lantai parkiran.
__ADS_1
"Aww..." Adunya meringis sakit. Bagian lutut yang memakai jeans bolong itu, berujung terluka. "Kenapa malah menyingkir alih alih menahanku?" protesnya sedikit kesal sembari mendongak ke arah Erika yang menahan senyum. Ah, tidak jadi marah kalau wanita yang jarang tersenyum itu akhirnya melebarkan bibirnya di atas kesialannya. Tak apalah, terpenting Erika bahagia. Duh, senyum simpulnya itu sudah berhasil membuat hatinya bergetar getar.
"Maaf ya, aku hanya tidak mau kita bersentuhan yang memang bukan mahramnya." Erika sudah berjongkok di depan Afnan yang masih duduk pasrah di lantai parkiran itu.
Lantas saja Afnan menafsirkan posisi jatuhnya tadi kalau kalau Erika tidak menyingkir. Oh my good, ia akan menubruk dada Erika. Hampir saja 'untung.' Eh... Pergi kau setan, batin Afnan sembari menggeleng pelankan kepalanya yang sudah berpikiran nakal di tubuh wanita yang selalu menjaga kehormatannya itu.
"Makanya, kalau beli celana itu jangan memilih yang discoun lima puluh persen." Erika mengejek jeans bolong di kedua dengkul Afnan, ia sebenarnya tau kalau itu adalah tren anak gaul. "Lihatlah, celana gaulmu! Tidak bisa melindungimu dari ciuman lantai kasar." Sembari memberi tahu kesalahan si pria tengil ini, Erika mengobrak abrik isi tasnya yang berniat mencari obat merah dan plaster yang memang selalu ia siapkan di dalam tasnya, sebagai jaga jaga jikalau Icha tidak sengaja jatuh disaat di luar rumah.
"Ini itu karena aku tidak punya pacar yang mementingkan penampilanku." Afnan menyeringai tengil. Lalu kembali berkata, "Kamu mau kan jadi pacarku?" tanyanya. Sejurus tersenyum manis ke Erika yang menatapnya datar.
Erika hanya menganggap kalau Afnan sedang menggodanya, karena karakter Afnan yang memang suka becanda itu meyakinkan dirinya. Lagian, tidak mungkin pria brondong itu menyukai janda beranak satu sepertinya.
"Berpacaran hanya menambah dosa, Afnan. Cobalah kamu ajak wanita spesial mu naik ke jenjang pernikahan. Lebih afdol."
Ah, siaappp!
" Ehem... "Afnan berdeham untuk menekan suara gugupnya yang tiba-tiba mengganggu kepedeannya untuk mengajak Erika sesuai petuah wanita itu. Nikah! Meski ini bukan tempat romantis, tetap saja ia akan melancarkan aksinya, kapan pun dan dimana pun.
Dehaman Afnan, membuat Erika mendongak sejenak yang lagi sibuk meneteskan obat merah ke salah satu lutut Afnan.
"Erika, aku ingin menjadikanmu istriku. Apakah kamu bersedia?"
__ADS_1