ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 33# Dibuat Marah


__ADS_3

Pak Ridwan tidak bisa tenang memikirkan teror hasil USG kehamilan yang di kirim oleh... Entah?


Membolak balik rebahannya di ranjang itu. Lirik ke samping, istrinya sudah nyenyak belum, ya? Tes dengan cara mengibaskan tangannya tepat di depan wajah terpejam Ibu Melati.


"Aman sepertinya," gumamnya dalam hati. Yakin kalau Ibu Melati sudah pulas.


Pria yang seharusnya jadi panutan baik dalam keluarga itu pun, bangkit secara pelan pelan. Seperti maling dalam rumah sendiri, Pak Ridwan mengendap endap keluar dari kamar.


Saat ingin buka pintu kamar, Sang Istri bergerak. Aman, dia tidur lagi. Sampai akhirnya, pria itu lolos sampai keluar pagar rumah.


Di jalan komplek yang pencahayaannya kurang, Pak Ridwan hubungi Sinta. Tidak diangkat. Lanjut kirim chat, "Buka pintu gerbang rumahmu, penting."


Tidak ada balasan. Apa Sinta sudah tidur juga.


Lebih baik dia ke rumah Erika untuk mengintimidasi wanita itu yang ia curigai kalau Erika lah pelakunya. Aldo? Pria itu sudah ia bungkam dengan uang banyak. Kalau melanggar, ia juga sudah mengancamnya. So, Erika pasti pelakunya.


Tok tok tok....


Erika yang masih sibuk menulis naskah novelnya, jadi terganggu oleh ketukan di pintu sana.


"Siapa yang bertamu malam malam begini?" gumam Erika sambil memindai jam di dinding, pukul sebelas malam.


Penasaran, Erika pun mengintip dahulu melalui jendela. "Pak Ridwan?" lirihnya cemas seketika. Bukan apa-apa, menerima tamu malam malam yang notabenenya dia seorang janda, adalah hal yang harus ia hindari. Lebih lebih, ia cuma tinggal bersama Icha yang belum tau apa-apa anaknya itu. Takut, ada fitnah yang malah menyapa, Erika memilih tidak membukanya.


"Saya tau kamu belum tidur, Erika. Buka pintunya, saya cuma ingin bicara sesuatu!" kata Pak Ridwan yang ternyata mendengar derap langkah kaki Erika yang memakai sendal jepit.


"Saya memang belum tidur, tapi saya menolak tamu di malam hari. Maaf, Pak." Jawab Erika mencoba sopan.

__ADS_1


"Cih, jangan sok suci!"


Sabar! Sebaik baik dirinya bersikap, kalau lawan bicara nya sudah menaruh mindset buruk untuknya, maka berbicara model apapun, ia tetap akan dipandang salah. Oleh sebab itu, Erika lebih baik mengancam tegas tegas halus, "Kalau memang sangat penting dan ingin bicara dengan saya malam ini juga, maka datanglah bersama Ibu Melati atau perlu bawa Afnan sekalian."


Pak Ridwan gagu tiba-tiba. Sialan wanita yang ada di dalam sana. Bawa istri dan anaknya sama saja akan masuk ke neraka.


" Apa kamu mau, saya dobrak pintunya?!" Pak Ridwan masih kekeuh.


" Apa Pak Ridwan juga mau saya telpon Afnan atau Ibu Melati?!" Meski tampang Erika itu lugu nan polos, tapi sikapnya tidak mencerminkan ciri ciri orang lemah di sana. Tergantung lawan, orang memperlakukannya baik, maka ia pun bisa berperilaku double good ettitude. Tapi kalau jahat, maaf, Erika pun bisa bersikap tegas. Dan Sekonyong-konyongnya, Ia menyilak gorden jendela, memamerkan layar hapenya memperlihatkan kontak Ibu Melati yang siap di telepon. "Pergi atau malam ini, kebusukan Bapak akan terbongkar karena kekurang sopanan Anda dalam bertamu paksa di waktu yang tidak tepat!"


Braak...


Tanpa membalas kalimat ancaman Erika, Pak Ridwan hanya menendang daun pintu kesal lalu beranjak pergi.


Erika mengelus dadanya sabar sembari mulutnya merafal istighfar berkali kali.


"Kenapa saya bisa terjebak masalah sama orang seperti dia." Tidak mau bertambah runyam ke depannya, Erika memberi clue kepada Afnan melalui chat, "Maaf, Afnan. Cuma mau bilang, yang baik terlihat di depan mata, tak selamanya baik di belakang kita. Begitupun dalam keluarga, adakalanya orang mempunyai sifat manipulatif dan bermuka dua."


Centrang dua berwarna hijau, pertanda Afnan langsung me-readnya. "Apa maksud mu?"


Haruskah Erika melanggar janji dan sumpahnya ke Pak Ridwan demi membongkar semuanya. Kasihan juga Ibu Melati kalau berlarut larut di bohongin. Pasti sakit hati, seperti yang pernah ia rasakan.


"Coba ke balkon dan tengok bulan di sana." Erika berharap, Afnan bisa memergoki Papanya sendiri yang baru keluar dari rumah dan memicu kecurigaan Afnan. Dengan begitu, ia tidak lah melanggar janji bukan?


Afnan tidak membalas chat tersebut lagi dan lebih memilih mengikuti instruksi Erika yang puitis menurutnya.


"Mana bulannya? Tidak ada kok, adanya malam gelap gulita di atas sana, " gumamnya dan mengetik chat kalimat serupa ke Erika.

__ADS_1


"Tunggu saja, mungkin bulannya belum sampai ke rumahmu."


Alis Afnan hampir bertaut karena bingung apa yang dimaksud oleh Erika.


Sementara Pak Ridwan, pria itu masih belum menyerah. Tengok sana kemari, aman. Ia pun nekat memanjat pagar rumah Sinta, karena sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran ke Aldo kalau memang pria itu pelakunya. Kan cuma Aldo dan Erika yang mengetahuinya. Jadi salah satu dari mereka lah yang harus ia uber uber. Untuk Erika, besok pun akan ia ganggung kalau malam ini Aldo tidak mengakui teror itu.


Tok tok tok...


Sinta sama saja dengan Erika yang tidak membuka pintu, membuat Pak Ridwan mendengus kesal.


Karena kamar Sinta ia tahunya di lantai bawa, ia pun menelusuri pelataran rumah itu.


Shiiit...


Saat di jendela kamar Sinta yang gordennya tidak tertutup rapat, mata Pak Ridwan membelalak shock. Di dalam sana, Aldo yang tidur di ranjang, sedang digodain oleh Sinta dengan cara menggerayangi Aldo yang belum sadar itu.


Marah sekali Pak Ridwan melihat wanita yang mengandung anaknya itu, menggoda laki laki lain selain dirinya.


Double shiit ...


Pak Ridwan dibuat murka dalam diamnya, Sinta main copot baju langsung saat Aldo sudah terganggu tidurnya.


Sebagai pria yang punya hormon testosteron yang tinggi, Aldo yang tiba-tiba diserang oleh Sinta, susah untuk mengendalikan hasrat lelakinya. Sampai terjadi pertempuran panas antara Aldo dan Sinta di depan mata Pak Ridwan.


Braaakk...


Piyaaar...

__ADS_1


Jendela pecah akan hantaman pot bunga oleh kelakuan murka Pak Ridwan.


Dua orang yang saling menikmati sensasi panas, langsung dibuat terkesiap hebat.


__ADS_2