ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 32


__ADS_3

Ibu Melati tergesa gesa membuka pintu kamar setelah mendengar ketukan dari luar.


Pintu terbuka memperlihatkan ART nya dengan tangan membawa sebuah kotak.


"Ada paket, Bu," lapor nya. Dengan senyum mengembang, Ibu Melati meraihnya. Pasti paket untuk suaminya, pikirnya demikian karena ia merasa tidak pernah pesan paket baik hari ini maupun hari yang sudah berlalu.


"Terimakasih, Bi."


"Iya, Bu. Kalau begitu, saya pamit ya." ART yang kerjanya pulang pergi itu pun beranjak setelah diangguki ramah sang majikan.


Sedikit penasaran kotak paket yang isinya sangat enteng tersebut, Ibu Melati pun melirik tulisan yang ada di atas paket itu. "Eh, ini buat ku?" katanya bingung saat mendapati namanya lah yang tertulis di sana.


Ceklek...


Atensi Ibu Melati teralihkan ke arah pintu kamar mandi. Suaminya yang baru selesai membersihkan tubuhnya terlihat segar di mata. Meski pun sudah berumur, tidak dipungkurinya kalau suaminya masih terlihat berkharisma.


"Paket aku, Ma?"


"Bukan! Di sini tertulis buat Mama. Tapi dari siapa ya? Mama nggak ada pesan apa pun."


Pak Ridwan hanya sekedar mendengar cerita kebingungan istrinya. Pria yang sedang dilanda puber kedua itu lebih asyik dan seru berbalas chat mesra bersama Sinta.


"Pa, dengar nggak aku bicara? Kok malah sibuk main hape sih?"


Pak Ridwan terjengkik kaget dan segera keluar dari aplikasi chat, padahal ia belum selesai membalas chat terakhir dari Sinta. "Ada chat penting, Ma. Papa dengar kok. Lagian, kalau penasaran tinggal buka aja."


Iya juga. Tak butuh waktu lama, Ibu Melati segera unboxing kotak tersebut.


Prang... "Astagfirullah...!" kagetnya tidak sengaja menjatuhkan kotak tersebut saat matanya disuguhkan oleh sehelai alat tes kehamilan bekas pakai. Garis dua terbaca jelas di sana. Apalagi, ada dua lembar foto 4D hasil USG. Ibu Melati bukan orang bodoh yang tidak tahu arti foto USG itu. Tapi masalahnya, barang itu milik siapa? Dan untuk apa sang pengirim tersebut memperlihatkan padanya.


"Isinya apa, Ma?" Pak Ridwan jelas penasaran melihat wajah pucat dan kaget istrinya. Segera ia menarik bokongnya yang sedari tadi duduk di kursi pijat. Kepalanya tiba-tiba berdenyut melihat isi kotak itu. Tidak salah lagi, ada yang menteror hubungan gelapnya bersama Sinta.


"Ini maksudnya, apa?" Meksi belum jelas asal usulnya, hati seorang istri itu langsung dirundung Kekacauan. Kaki Ibu Melati sampai bergetar hebat membayangkan pikiran negatif nya yang mungkin saja dua jenis bukti itu tanda tanda kehancuran rumah tangganya yang selama ini baik baik saja.


"Mana Papa tau. Mungkin orang iseng, Ma." Seorang pembohong ulung, sudah tidak usah diragukan skill aktingnya. Wajah yang pias, tertekan begitu apik di muka pak Ridwan. Pria itu juara mengubur bangkai sampai saat ini.

__ADS_1


"Iseng?" Ibu Melati mendengkus pelan. Rasa panas di dadanya masih tertahan karena belum punya bukti kuat menuduh sang suami. "Semoga saja!" sambungnya sembari mengatur nafas demi bisa menguasai kendalinya.


Pak Ridwan yang di tatap intens oleh istrinya, semakin memaksa dirinya untuk bersikap santai. Padahal, di dalam sana sudah bergetar hebat. Jangan sampai ketahuan.


"Pengkhianat adalah penjahat ulung bagi ku. Semoga 'orang - orang' sekelilingku tidak pernah berani apalagi ingin mencoba coba berbuat bodoh." Halus halus penuh ancaman kalimat tersebut. Selesai berambigu ria, Ibu Melati meninggalkan kamar membawa dua jenis bukti yang belum sama sekali tersentuh ujung jarinya. Pengirimi itu pasti mengira dirinya bodoh apa? Dengan catatan tertulis di sisi foto USG itu, maka dengan mudah ia mencari tahu siapa sesungguhnya nama pemilik barang tersebut. Besok, ia akan mulai mencari tau dengan awal mendatangi rumah sakit.


"Aargh..." Pak Ridwan melolong pelan. Murka sembari menjambak prustasi rambutnya. "Siapa yang mulai bermain main dengan ku? Erika? Atau Aldo?" Dua nama itulah yang tahu aibnya. Pasti salah satu dari mereka yang ingin menabuh genderang peperangan. "Melati tidak boleh tau. Aku bisa didepak di rumah ini. Hah... Sialan!"


Awas saja, siapa pun pelakunya akan mendapatkan balasan.


Pak Ridwan sebenarnya bukanlah pria yang takut istri, melainkan ia cuma takut di usir dari rumah dan sialnya perusahan yang ia kelola adalah milik istrinya. Harta dan segalanya akan lenyap begitu saja kalau Ibu Melati sudah murka, maka skakmatlah dirinya. Dulu, sebelum menikahi Ibu Melati, ia hanyalah staf biasa yang diangkat derajatnya oleh Ibu Melati, di mana wanita itu adalah anak konglomerat tempat kerjanya dulu.


***


"Hah...?"


Lain halnya Pak Ridwan yang sedang pusing tujuh keliling. Anaknya-Afnan saat ini malah melancarkan keseriusan hatinya ke Erika. Berharap rasa cintanya itu bermuara.


Afnan tersenyum lalu kembali mengulang kalimatnya yang sepertinya si janda muda ini susah mengartikan untaian sederhananya tetapi sangat bermakna penuh kasih dan tulus.


Mulut Erika setengah terbuka. Kata Afnan tadi, mereka akan membahas tentang kontrak kerjaan. Makanya, ia diajak makan malam beserta Icha pun ikut yang begitu lahap memakan hidangan restoran di depannya.


Kembali, Afnan melebarkan senyumnya melihat ekspresi Erika yang menurutnya menggemaskan. Bulu mata lentik itu mengerjap erjap lucu sembari menatapnya intens sekali.


"Aku tidak bercanda, Erika. Sejak pertama kali bertemu dengan mu, hati ku sudah tercuri."


Erika masih melongo dan terus menatap bola mata Afnan. Kira kira mencari kebohongan pria itu. Tetapi, Erika merasa tidak ada tampang tampang tukang gombal di sana.


"Agamaku memang tidak sehebat ustadz atau ulama di luaran sana. Makanya aku belajar ngaji padamu. Tetapi kalau menjadi imammu, maka insyaallah aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk mu dan tentu saja akan menjadi Ayah sambung yang baik untuk Icha," sambung Afnan ingin meyakinkan Erika.


" Afnan __"


"Jangan dijawab sekarang, tapi pertimbangkan dahulu keputusan mu. Aku mengerti kalau perceraian mu dengan Aldo masih dalam proses. Masa iddah mu pun belum selesai. Santai saja, Erika. Aku mengatakan lebih awal, agar kamu punya waktu banyak untuk perpikir. Menolak dan menerima adalah hakmu. Dan menyukai mu adalah hak ku!"


Berujung, Erika menelan kembali kalimatnya. Dalam hati berkata, "Umurnya masih muda tetapi kenapa pikirannya sangat dewasa?"

__ADS_1


Entahlah, Erika pun bingung. Harus senang atau bagaimana? Perasaannya tidak menentu untuk di ajak kompromi. Di sisi lain, ia sangat menghargai niat baik Afnan, tetapi di sisi lainnya pun ia meragu pada dirinya sendiri. Setelah mengalami nasib buruk akan pernikahan sebelumnya, sebenarnya ia tidak ada pikiran untuk merajuk hati terlebih dahulu. Ia takut, kalau Afnan suatu saat akan kecewa pada pilihannya yaitu seorang janda.


"Hidup sesungguhnya itu adalah langkah maju, Erika. Bukan mundur apalagi berdiam diri di tempat. Jangan anggap, kegagalan kita sebagai tanda tak mampu kita meraih kebahagiaan baru. Aku berkata seperti ini, bukan karena ingin mengambil perhatian mu. Logislah berpikir. Ku yakin, kamu pasti paham perkataan ku."


"Itu adalah kalimat yang aku tulis di salah satu bab novel, Halaqah Cinta Azizah, Afnan. Kamu ini...!"


Afnan tersenyum lucu. Benar apa kata Erika, ia menggoda wantia itu dengan cara mengingatkan sepenggal kalimat bijak tulisan Erika.


"Baiklah, aku pertimbangkan niat baik mu mulai saat ini. Tapi jangan tanya, kapan aku akan menjawabnya. Dan satu pertanyaan ku...!"


"Apa?" Afnan menghembuskan nafas lega karena Erika mau mempertimbangkan keinginan nya. Awal yang bagus.


"Apa semua ucapan mu tadi bukan hal lelucon mengerjai ku, kan?" tanya Erika. Jelas ia ingin kepastian. Ia tidak mau saat di atas langit malah di hempaskan ke bumi kalau ujung ujungnya Afnan ketahuan cuma berkelakar.


"Apa tampang muka ku, ada kata bercanda?" Afnan malah bertanya balik.


Erika menggeleng-geleng pelan.


"Kalau mau bukti nyata, aku sungguh ingin langsung membawa mu ke KUA malam ini juga."


Hening sesaat sampai jeda waktu lima menit. Lalu dengan mantap, Erika mengatakan isi hatinya yang sesungguhnya. "Afnan, jujur. Untuk saat ini, aku tidak ada rasa apapun untuk mu. Jadi, jangan berharap yang tidak pasti. Lebih lebih, aku adalah janda yang lebih tua dari umurmu. Banyak perbedaan antara kita. Aku tidak mau kamu kecewa karena memilih wanita janda seperti ku. Jelas, pasti orang tua mu pun menantang keputusan mu. " Dengan lembut, Erika menjelaskannya.


" Jangan berpikir negatif, Erika. Dan satu yang harus kamu tau kalau Mamaku sudah memberi dukungannya padaku. Dia menyukai mu dan Icha secara alami tanpa ada paksaan. "


Benarkah demikian? Ibu Melati memang terlihat tulus, tetapi... "Papamu, bagaimana?"


Afnan tidak bisa menjawab. "Soal kejujuran yang belum menyukai ku. Maka bersiap siaplah dari sekarang karena cepat atau lambat pasti ada rasa untuk ku darimu. Kan katanya, ketulusan tidak akan mengkhianati hasil."


Ish, pintar sekali mengubah topik. Hem... Tapi, kalimat Afnan memang tidak sepenuhnya salah. Hati dan perasaan bisa mudah berubah kapan saja sesuai kehendak-Nya.


" Paman, mau minum!" Icha menyela. Erika sampai melongo heran, semakin hari anaknya itu semakin manja ke Afnan. Kenapa harus minta tolong sama pria itu, kan ada dirinya yang ada di dekatnya pula.


Dengan senyum manis, Afnan menuruti keinginan Icha. Ia pun melirik Erika dengan kedipan mata lucunya. Membuat wanita itu salah tingkah dan kenapa pula pipi nya terasa panas merona. Astagfirullah... batin nya menyebut.


Dari meja lain, Erika dan Afnan tidak tau saja kalau ada mata iri yang memprihatinkannya sedari tadi. Siapa lagi kalau bukan Aldo. Pria itu sangat panas hati mendengar kalimat demi kalimat manis Afnan yang ingin mengambil cinta Erika. Tidak bisa dibiarkan! Erika dari dulu adalah miliknya.

__ADS_1


__ADS_2