ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 22


__ADS_3

"Aku antar pulang, ya, Erika." Afnan segera menawarkan diri saat janda muda itu selesai mengajarinya mengaji.


"Terimakasih atas tawaranmu, Afnan. Tetapi maaf, saya bisa pulang sendiri. Assalamualaikum," tolak halus Erika. Kalau orang yang paham arti pamit menggunakan salam, itu tandanya percakapan atau pertemuan apapun sudah sampai di detik itu juga. Erika juga tidak mau mendapat fitnah keji lagi.


"Waalaikumsalam...!" Jawab Afnan pelan. Susah sekali mendekati wanita yang mempunyai kepribadian khusus seperti Erika ini. Sungguh, Afnan semakin tertarik memiliki wanita yang pintar menjaga kehormatannya.


"Kenapa Aldo begitu bodoh ya? Harusnya ia lebih tau sifat Erika ketimbang percaya begitu saja sama fitnah itu." Gumam Afnan menyayangkan sikap Aldo, sembari menatap punggung Erika dan Icha yang saat ini berjalan ke arah pagar rumahnya. Afnan tau permasalahan Erika dari cerita singkat Mamanya. Ia tentu saja tidak mau bertanya langsung ke orangnya, karena tau diri batasannya yang tidak boleh ikut campur urusan orang lain.


***


"Ibu, apa Ayah uda pulang?"


Erika tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana Icha. Ia berpura-pura menulikan telinganya dan terus menuntun anaknya itu berjalan bersama di area komplek menuju ke rumahnya. Sebagai orang tua, ia pasti sedih karena sudah memberi dampak ke anaknya yang ikut menjadi korban.


"Bu--"


"Hari ini kamu mau makan apa, Sayang. Ayam, telor, ikan atau daging?" Erika segera mengalihkan pembicaraan. Mau menjelaskan ke Icha kalau Ayahnya dan dirinya tidak mungkin bersama lagi, sepertinya, anaknya itu belum memahami arti dari perceraian.


"Ayam dong, Bu." Alhamdulillah, anaknya terpancing juga. Dia menjawabnya dengan tingkah ceria.


"Kalau begitu, Icha harus bantu Ibu masak. Setuju anak manis?"


"Masak belsama-sama ?" tanya Icha memastikan. Pasalnya, ia sering mendapat omelan dari neneknya jikaulah ia mengerecoki Ibunya kalau sedang di dapur.


"Eum, kita masak bersama. Mau?"


"Mauuuu...!" Icha sudah tidak sabar memegang pisau. Sering melihat Ibunya mengiris iris bumbu dengan lincah di atas talenan membuatnya penasaran mau mencoba.


Sampai di pelataran, Erika dibuat tertegun di depan rumahnya. Ada motor Aldo terparkir di sampingnya dan pintu rumah pun terbuka. Mau apalagi mantan suaminya itu datang? Dan sepertinya, ia harus minta kunci cadangan yang dipegang oleh Aldo.


"Motol Ayah, Bu!"


"Icha__Ah." Erika mendengus kesal. Niat hati mau belok haluan menuju ke kantor Pak Ridwan saja, karena malas berargumentasi alot dengan Aldo, anaknya itu main lari masuk ke rumah. Mungkin, Icha memang merindukan sang Ayah.

__ADS_1


"Harusnya aku tidak boleh egois juga," batin Erika kasihan pada Icha. Ia pun memutuskan untuk masuk dan ingin tau juga apa lagi masalah Aldo datang ke rumah yang ia ikhlaskan untuknya bersama Icha tempati.


"Icha, Sayang. Kalau masuk ke rumah itu harus mengucapkan salam, Nak. Tidak baik menyelonong begitu saja. Kurang etittude lebih tepatnya."


Ngomong apa sih ibunya ini? Icha kurang paham. Tetapi Aldo tau, ialah yang di sindir keras oleh Erika.


"Ayah pulang, Ibu. Holeee...!" Icha malah antusias di atas gendongan Aldo. Bocah itu senang karena Sinta tidak ada lagi. Ayahnya pulang, titik!


Lain halnya Erika, ia menampilkan wajah sedih ke Icha sekaligus mimik dingin ke Aldo. Karena ujung ujungnya, anaknya itu akan dibuat kecewa oleh keadaan. Sepertinya, ia harus memberi penjelasan versi mudah ke anaknya itu kalau pernikahan mereka sudah tidak sama lagi seperti dulu. Cepat atau lambat, Icha harus menerima kepahitan korban perceraian.


"Erika, aku perlu bicara!" kata Aldo. Erika tidak langsung menjawab. Membuka pintu lebar lebar agar fitnah jauh jauh dari namanya yang memang sudah negatif sebelumnya. Ah... Kebetulan, kunci yang digunakan Aldo masuk ke rumah masih menggantung di lubang pintu. Segera saja, ia menariknya dan mengamankan masuk ke tasnya.


"Kenapa diambil?"


"Orang lain tidak berhak memegang duplikat rumah orang." Erika sampai menekan awal kalimatnya biar Aldo ini sadar diri akan posisinya yang sudah berubah status.


Aldo berdecak kesal. "Aku__" ucapan Aldo terjeda oleh Erika.


"Icha masuk kamar ya, Sayang. Ayah mau berbicara sama Ibu." bujuk Aldo menimpali.


Icha mengangguk dan Aldo pun menurunkan sosok mungil itu.


Setelah bayangan Icha lenyap masuk ke kamar. Erika langsung to the poin, "Ada apa?" tanyanya datar. Ia bahkan tidak mau duduk di sofa sederhana yang Aldo duduki sekarang.


"Jangan bilang mau ngopi di rumah mantan istri."


Jleeb... Aldo yang menceraikan, tetapi hatinyalah yang tertusuk belati tak kasat mata mendengar status mereka sudah mantan yang tercuat dari bibir mungil istrinya. Kalau hatinya itu punya mulut, maka dia sudah meneriaki kebodohan Aldo dan hatinya itu akan berucap ke Erika kalau ia tidak suka perceraian ini. Namun sayang, Aldo yang mengendalikannya. Pria itu jelas gengsi mengakuinya. Ego nya tinggi tetapi rasa api cemburu akan cerita ibunya telah berhasil memaksa kakinya berdiri di rumah Erika.


"Jauhi Afnan, Erika! Pria itu masih berondong. Dan kita juga belum resmi bercerai di mata hukum."


Erika tersenyum ejek. "Jangan bilang kamu cemburu, Mas?"


Aldo gelagapan.

__ADS_1


"Mas Mas. Apakah kamu sudah lupa kalau nama tengah ku yang kamu ciptakan itu adalah peselingkuh? Jadi aku bebas dong! Ingat loh, Mas, mantan itu sudah tidak saling mengurusi hal pribadi satu sama lain. Mas berhak bahagia bersama Sinta. Aku fine fine saja. Tetapi kamu kenapa ingin mengatur jalanku? Kamu egois, Mas!"


Fine fine saja? Oh, Ayolah. Hanya Erika dan Tuhannya lah yang tau bagaimana rasanya sakit hati diceraikan secara tidak hormat. Erika itu hanya mempercayai Tuhannya untuk mendengarkan segala curahan hatinya ketimbang curhat dengan teman, tetangga, atau menulis status galau di sosmed. Di atas ujung sajadalah Erika merajuk asa kepada-Nya.


"Pergilah, Mas. Jalan kita sudah berbeda." usir Erika dengan nada lembut, berharap Aldo mau paham. Ia juga tidak ada niatan menceritakan kalau Afnan hanyalah muridnya saat ini. Percuma, toh Aldo bukan orang istimewanya lagi.


"Kalau kamu mendekati Afnan, maka aku tidak akan segan segan mengambil Icha darimu, Erika." Aldo mengancam.


Erika berdecak kesal. Orang ini sepertinya tidak mempan diberi sindiran sindiran halus. Mungkin harus secepatnya diberi terapi kejut agar matanya terbuka lebar lebar.


" Icha masih di bawah umur. Dan aku akan mengajukan hak asuhnya ke pengadilan. Dan kalau kamu bertindak diluar nalar, maka percayalah, Mas. Taring seorang ibu lebih tajam dari binatang buas sekalipun." Kesabaran Erika terusik tatkala disinggung akan hak asuh. Icha adalah harta satu satunya, mau bagaimana lagi langkahnya berpijak tanpa ada penyemangatnya itu.


"Makanya, nurut sama aku, Erika. Jauhi Afnan!" Aldo masih tak mau kalah.


"Pergi!" Erika tidak tau lagi cara memberi ultimatum apa pada orang egois seperti Aldo yang otaknya mungkin ditaruh di dengkul kanan atau kirinya.


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu berjanji."


Astagfirullah... Erika ingin sekali meraung raung memarahi Aldo, tetapi ia takut pertengkaran mereka masuk ke kuping Icha. Anak kecil itu mudah mendapat kata trauma.


"Tidak! kamu sudah kehilangan hak apapun mengatur hidupku. Dan kalau kamu berani merebut Icha dariku, maka aku akan melempar tuduhan perzinaanmu bersama Sinta ke pengadilan. Kamu dan Sinta akan mendapat masalah besar, Mas!" Erika sampai menaruh telunjuknya ke depan wajah Aldo. Suaranya yang tertahan tahan berhasil membuat wajah mulus itu memerah marah.


" Aku juga akan melayangkan tuduhan perselingkuhan mu itu?" lawan Aldo ikut geram. Ia tidak mengenali lagi wanita yang penuh kata tegas di depannya ini. Erika yang lemah lembut tidak pernah berani menunjuknya kasar.


"Apa kamu punya bukti tentang perselingkuhan ku, Mas? Siapakah pria itu, hah?" tanya Erika ejek. Sudut bibirnya terangkat miring.


Skakmat...! Aldo gelagapan. Iya juga. Siapa pria nya dan buktinya apa? Bukankah ia hanya melihat Erika makan siang bersama Pria lain di tempat terbuka? Dan berikut gosip sana sini yang tak berdasar itu. Sedang Erika, punya bukti hidup yaitu pak RT, penghulu dan saksi nikah sirinya yang lain. Bisa saja Erika berdalih kalau ia dan Sinta menikah tanpa persetujuan yang belum ditalak waktu itu. Damn... Semuanya berat untuk Aldo kalau mengambil jalan hukum.


"Aku pergi!" Dan dia pun merasa kalah.


"Tunggu!" seru Erika. Aldo berbalik. "Siapkan dirimu jikalau ada surat panggilan dari pengadilan. Jangan memperlambat prosesnya." Erika berpikir kalau ia harus bertindak duluan. Menunggu Aldo menceraikan secara hukum itu mungkin lama atau sama sekali tidak akan mengajukannya.


Dan Aldo pun pergi dengan perasaan berkecamuk, tanpa menjawab satu patah pun.

__ADS_1


__ADS_2