ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 26


__ADS_3

"Jangan bercanda terus, Afnan!" Erika menekan luka Afnan di lutut itu sebagai efek jera. Ia masih mengira Afnan hanya bermain main kata padanya. Untung ia bukan tipe wanita yang mudah baper.


"Aww... Kamu kasar sekali!" Afnan pura pura merajuk agar wajah kecewa atas ajakannya yang hanya dianggap omong kosong oleh Erika itu, tidak terlihat.


Hem... Tak apa hari ini tidak digubris, toh Erika juga belum janda tiga bulan bin masa iddanya itu belum terlewat. Perlahan tapi pasti, ia akan mendekati pujaan hatinya ini.


"Jadi, Erika. Kamu sekarang suka bermesraan di depan khayalak umum? Ck... Ck... Ck..."


Erika dan Afnan kompak mendongak ke arah Aldo yang entah kapan keberadaan pria itu di sekitarnya?


"Ayo, Afnan. Kita pergi. Bukannya kamu mau mengantarku bukan? Dan sekarang aku mau ke pengadilan agama untuk mendaftar gugatan resmi perceraian."


Erika malas berdebat atau melayani kata kata penuh ejekan Aldo. Oleh sebab itu, Ia pun berbalik ke arah mobil Afnan setelah menekan ujung kalimatnya, untuk memperingatkan secara halus ke Aldo kalau hubungan di antara mereka sudah selasai dan itu tandanya tidak ada lagi gunanya untuk saling mengurusi hal pribadi di antara mereka.


"Dengan senang hati, Calon istri ku!" Afnan menjawab antusias. Lutut yang sebenarnya cuma lecet biasa itu sudah tidak berefek. Ia senang melihat Aldo seperti kebakaran jenggot mendengar kalimatnya yang singkat tetapi mendayu dayu mesra.


"Aaarggh...!" Aldo mengerang tertahan sembari menatap sengit mobil Afnan yang sudah melaju. Tangannya mengepal kuat tidak suka melihat Erika berdekatan dengan pria lain.


"Kenapa aku harus cemburu? Bukannya Erika itu penghianat dan ternyata murahan juga!" Demi menghibur diri sendiri, Aldo terus membohongi sudut hatinya yang barkata, jikalau Erika itu adalah wanita dan isteri yang baik.


Sedang di dalam mobil, Erika dan Afnan terjebak kecanggunan. Afnan sadar diri, kalau Erika sedang mengontrol diri untuk meredahkan hati panasnya setelah mendapat penghinaan barusan dari Aldo. Oleh sebab itu, ia memberi ruang Erika dengan cara menjaga sikap tengil nya yang suka suasana ceria daripada kebisuan.


Ckiiit...

__ADS_1


Lamunan Erika tersadar tatkala Afnan tetiba menepikan mobilnya yang mereka sudah berada di pinggir jalan dengan tepi trotoar ada banyak pedagang kaki lima.


"Apa mobilmu bermasalah?" Bingung Erika. Tetapi Afnan tidaklah menjawab. Pria itu malahan turun. Dari balik jendela, Erika melihat Afnan menghampiri penjual eskrim keliling.


Setelah mendapat yang ia inginkan, Afnan pun kembali ke mobilnya.


"Eskrim salah satu makanan yang katanya dipercayai bisa mengembalikan mood bagus. Ambillah!" Satu cup coklat terulur ke arah Erika. Wanita itu meraihnya pelan dengan netra terus menatap wajah Afnan yang tersenyum tulus padanya.


"Terimakasih," sambut Erika. Ujung tangannya tidak sengaja saling bersentuhan kulit dengan Afnan membuat Erika tersadar dan segera memalingkan tatapan matanya yang sempat saling mengunci satu sama lain.


Afnan tersenyum kecil. Iya yakin, lambat laun si guru ngajinya ini pun akan mengagumi sosok dirinya yang memang apa adanya.


***


Sampai di meja Sinta, istrinya itu tidak ada di meja kerjanya. Kemana dia? Aldo memutar matanya. Kebetulan ada OB yang lewat di hadapannya.


"Mas, apa kamu tau kemana pemilik meja ini?"


"Ibu Sinta?"


"Hem..."


"Biasanya kalau ibu Sinta tidak ada berarti di ruang meeting atau di dalam ruangan Pak Ridwan." OB itu menjelaskan sembari menunjuk dua ruangan yang ia sebut tadi. Jempolnya menunjuk takzim ke arah ruangan Bos besarnya.

__ADS_1


"Terimakasih," kata Aldo. Lalu ia memutuskan untuk menunggu saja. Capek berdiri, Aldo sedikit lancang duduk di meja kerja Sinta.


Tadinya hanya sekedar menumpang duduk, tetapi ia penasaran pada amplop yang berada di samping laptop istrinya itu.


"Ini seperti amplop khusus," gumamnya karena melihat ada cap logo rumah sakit 'Kasih Bunda.'


Tunggu dulu, bukannya nama rumah sakit tersebut adalah khusus pemeriksaan ibu hamil?


Tidak sabar lagi, Aldo pun meraih amplop panjang putih tersebut. Membukanya cepat dan membaca seksama pada tulisan demi tulisan tanpa ada satu pun yang terlewat.


Deg...


"Sinta hamil sudah tiga bulan?"


Dada Aldo kian memburu dua kali lebih marah daripada melihat Erika makan siang bersama Pria yang ada di restoran kala itu.


"Dia hamil sebelum kami melakukan perzinaan itu?" Aldo bergumam kesal di meja itu dengan kaki serasa tidak bertulang. Damn it! Sinta membohonginya.


Sudah merasa berang, Aldo melupakan dirinya kalau ia hanyalah orang luar di kantor itu, Aldo mengeprak meja membuat pekerja yang kebetulan lewat di depan meja itu terjengkit kaget. Segera, pekerja itu melangkah cepat saat melihat kemurkaan di wajah Aldo begitu terbaca seperti buku yang dibuka lebar lebar.


Aldo berdiri dari kursi tersebut, lalu membuka pintu yang tak jauh dari meja kerja istrinya.


Ceklek...

__ADS_1


Kesalahan kedua Pak Ridwan dan Sinta adalah terciduk dua kali. Nafs* besar keduanya melupakan mengunci pintu, padahal pezina itu sedang nanggung di sudut sofa panjang yang tadinya sempat ribut karena Erika, tetapi Sinta yang begitu hijau dengan uang dan kemewahan berujung luluh membuka lebar lebar kakinya.


__ADS_2