
Tanpa basa basi, Erika langsung mengeluarkan sebuah Al-qur'an untuk Afnan dan satu Iqro untuk Icha yang juga mau belajar bersama. Kata Icha tadi, ia bosan belajar seorang diri di rumah tanpa teman. Dan mengetahui Afnan mau belajar mengaji di Ibunya, lantas saja Icha antusias.
"Ck..." Afnan berdecak. Erika tentu saja melihat air muka Afnan yang aneh tetiba.
"Kenapa lagi?" tanya Erika tidak mengerti. Afnan ini melebihi dari tingkah Icha. Seperti bocah yang suasana hatinya cepat berubah ubah.
"Afnan masih buta huruf hijaiyah, Erika." Ibu Melati berjalan mengikis jarak untuk bergabung yang baru keluar dari pintu samping, sembari berkata menjelaskannya. "Dari kecil, ia memang susah di atur. Tidak mau mengaji dan hal agama lainnya. Maaf, mungkin karena Ibu juga yang kurang tegas mendidiknya." Ibu Melati tertunduk menyesal. Harusnya, ia dulu benar-benar mengekang anaknya agar pelajaran yang menyangkut pintu surga harus ia utamakan.
"Ouh," respon Erika sembari menatap Afnan yang duduk bersebelahan dengan Icha. Berondong itu menopang dagunya karena malu sendiri.
"Mama...!" Atensi semua orang teralihkan pada suara Pak Ridwan- suami Ibu Melati yang memanggil tersebut.
Afnan dalam diam mendengus kesal, kedua orang tuanya kenapa pula datang ke gazebo taman belakang rumahnya? Ganggu saja dirinya yang mau belajar sembari ehem modus pedekate ke Erika.
"Papa harus berangkat bekerja sekarang."
Baguslah! Batin Afnan menunggu kedua orangtuanya pergi dari area tempat belajarnya.
"Ayo, Pa. Mama antar keluar."
Erika memalingkan wajah tatkala melihat Ibu Melati mencium punggung tangan suaminya. Meski sadar kalau Aldo bukan siapa siapanya lagi, namun memori tetaplah memori yang kapan saja datang mengingatkan dirinya. Dua hari lalu, ia masih mencium punggung tangan Aldo saat izin mau berangkat bekerja.
"Erika...!"
"Eh... I-iya." Erika tersentak kaget mendapati pundaknya di tepuk pelan oleh Afnan.
"Apa?" Karena tidak suka disentuh oleh Pria yang bukan mahramnya, Erika tanpa sadar bertanya dengan nada sedikit ketus, tanpa peduli ada orang tua Afnan sekalipun.
"Papa mengajakmu berbicara." terang Afnan cepat karena sadar oleh tatapan peringatan Erika seolah - olah, 'jangan sentuh sentuh.'
"Ah... Benarkah?" Erika yang tadinya melamun, jadi tidak enak hati. Ia pun mengabaikan Afnan yang sudah memasang wajah merajuk.
"Iya, Pak. Maaf, saya tadi __"
"Kalau hari ini ada waktu senggang, datanglah ke kantor ku," serga Pak Ridwan karena merasa waktu telah memburunya.
Kening Erika berkerut dalam. Ia tidak paham perkataan Pak Ridwan. "Maksud, Pak Ridwan?"
__ADS_1
Bukan hanya Erika yang merasa bingung, Ibu Melati pun sama. Kecuali Afnan yang sudah tau arah pembicaraan papanya yang mungkin menjurus pekerjaan.
"Kamu kan E-Cha itu?"
Meski bingung, kenapa Pak Ridwan tau nama penanya, Erika tetap mengangguk.
"Kamu dan saya sudah menjalin kontrak bersama, Erika. Salah satu naskahmu sudah kami persunting."
Mata Erika berbinar, jadi Pak Ridwan adalah pemilik kantor itu. Alhamdulilah, ternyata orang yang sudah memberinya rejeki lumayan besar adalah tetangga jauhnya sendiri. Kenapa ia baru tau kalau suami Ibu Melati itu adalah pengusaha hebat. Mungkin karena ia terlalu sibuk mengurus rumah tangganya yang tau taunya berujung gagal. Erika seketika menyesal karena kekurangannya bersosialisasi membuatnya sedikit kudet.
" Insyaallah, saya akan ke kantor, Pak Ridwan." Erika tersenyum takzim. Dan Pak Ridwan pun berlenggang pergi membawa wajah datarnya, tanpa sedikit pun membalas senyum ramah Erika.
Ibu Melati jelas mengantar suaminya keluar rumah, jadi tersisalah Erika, Icha dan Afnan.
" Ayo kita mulai mengajinya, Afnan."
Afnan hanya diam dan masih menopang dagunya dengan sikutnya tertahan di meja lipat khusus buat mengaji.
"Kamu cemberut begini sudah seperti bocah. Icha saja kalah olehmu," ejek Erika sengaja membandingkan.
"Aku lagi ngambek tau," katanya dengan nada penuh manja. Manatau Erika mengelus kepalanya.
"Ngambek kenapa?"
"Kamu tadi berkata jutek padaku."
Icha yang tidak mengerti, hanya menjadi pendengar setia dengan kepala kecil itu menoleh ke Erika dan Afnan yang bergantian bersuara.
"Salahmu! Aku tidak suka disentuh."
"Kenapa?" Giliran Afnan bertanya bingung.
"Kita bukan mahram, Afnan. Haram hukumnya untuk kita bersentuhan meski hanya berniat berjabat tangan sekalipun." Erika sengaja berkata pelan pelan agar Afnan bisa mencerna ucapannya. Namun entah kenapa, Afnan malah tersenyum padanya. Adakah yang lucu dari kata kata penuh keseriusannya?
"Kalau begitu, mari kita menikah! Baru halal deh." Afnan tersenyum tanpa beban.
Uhuk...
__ADS_1
Erika sendiri langsung terbatuk batuk mendengar ajakan enteng Afnan. Sepertinya, menjadi guru ngaji berondong tengil ini tidaklah mudah.
"Ibu cakit?" tanya Icha polos. Erika menggeleng.
"Icha, Paman Afnan kasih pinjam Iqro mu, boleh ya, Nak?" Dari pada meladeni kata kata Afnan yang menurut Erika cuma becanda saja, lebih baik ia memulai tugasnya di rumah itu.
"Boleh dong, Bu." sahut Icha bermurah hati menyodorkan Iqronya ke Afnan yang duduk bersila di samping kirinya.
"Terimakasih calon anakku!" Afnan sampai menekan kalimatnya. Dan berhasil membuat Erika menatapnya tajam. Tetapi bukan Afnan namanya kalau begitu saja takut. Ia malah mengedipkan mata genitnya, membuat Erika beristigfar dalam hati. Pemuda ini benar-benar kurang akhlak. Ampun!
"Kalau tidak ada niatan mengaji, maka jangan buang buang waktuku, Tuan Muda!"
"Eh, aku niat kok. Sumpah!" Afnan tau batasan kalau cukup disini godaannya, karena Erika sudah mulai kehilangan kesabarannya.
Dan Afnan pun membuka Iqro milik Icha. Karena ia hanya muslim KTP saja, seketika kepalanya lier melihat huruf - huruf dasar hijaiyah di depan matanya.
"Icha, ini huruf apa?" tanya Afnan penuh keseriusan. Alih alih bertanya pada Erika, ia lebih memilih mengetes Icha terlebih dahulu.
"Itu Alif, Paman."
"Atau dibaca 'a' kalau diberi harakat fathah seperti ini..." Sambung Erika sembari menulis tanda baca khusus di sebuah buku kosong yang memang sudah ia siapkan di meja lipat itu.
Afnan menggut manggut paham, tidak ada tampang tengil atau bermain-main lagi. Ia memang bersungguh-sungguh ingin belajar mengaji. Bukan karena alasannya itu Erika lagi seperti awal rencananya yang ingin dekat dengan janda cantik itu, tetapi hatinya lah yang sekarang sudah terketuk. Meski terlambat, terpenting ia punya kesadaran dan tekad kuat bukan.
"Kenapa alif atau a ini berdiri tegak dan ditaruh paling depan. Kenapa bukan huruf yang berbentuk seperti bebek ini saja." Afnan menunjuk huruf hijaiyah 'Ya'.
Erika menarik nafas pelan terlebih dahulu. Murid bangkotannya ini sudah mengusik jiwa pengetahuannya yang sebenarnya juga tidaklah seberapa, karena ia pun memang juga masih perlu belajar dari para ahlinya, tetapi demi membunuh rasa keinginan tahuan Afnan yang sepertinya bersungguh-sungguh. Erika pun lebih dahulu menjawabnya baru akan memulai sesi mengajinya lebih dalam lagi.
"Alif itu punya makna bagus dan banyak. Tetapi ada filosofi yang paling luar biasa di antaranya. Kenapa ditulis paling awal pertanyaanmu, bukan?" Afnan mengangguk yang memang mendengarkan seksama.
Erika pun lanjut menjelaskan, "Huruf hijaiyah awal yang berdiri tegak dan kokoh ini adalah pertanda segalanya. Dan segalanya itu hanya milik Allah, Tuhan kita yang maha awal. Sebagaimana firman-Nya yang berbunyi, 'huwa awwalu wal akhiru.' berarti, 'Allah lah yang pertama dan tidak ada sesuatu apapun sebelum-Nya. Kalau kamu mau mempelajarinya lebih lengkap, maka surah Al-Hadid ayat tiga ini akan menyita waktu kita. Seharian penuh kita tidak akan mengaji."
Afnan tercengir yang sempat terpana oleh ringkasan singkat Erika tetapi langsung mengena di otaknya langsung.
"Ajari aku mengaji, sampai bisa."
Erika mengangkat jempol kanannya. Sudut bibirnya tersenyum tipis.
__ADS_1