ERIKA (Wanita Yang Difitnah)

ERIKA (Wanita Yang Difitnah)
Bab 13


__ADS_3

"Erika! mulai saat ini kamu bukan istri ku lagi. Aku talak kamu!"


Deg!


Katakan pada Erika, kalau Aldo sedang mengaur atau ianya hanya bermimpi? Ibu Rani saja shock-shock senang mendengar kata kata penuh penekanan anaknya. Akhirnya, ia tidak mempunyai menantu seperti Erika lagi.


"Ke-kenapa, Mas?" Bibir Erika bergetar dengan perasaan kacau. Tidak ada hujan, tidak ada angin badai, suaminya main mentalak dirinya. Apa salahnya? Tes! Dan tetes demi tetes air mata berlinang begitu saja. Tidak! Ini bukan saatnya menangis cengeng. Ia harus tau apa alasan Aldo mengambil keputusan besar dalam biduk rumah tangganya. Oleh karena itu, Erika segera menghela kasar air yang membasahi pipinya, bersiap meminta penjelasan Aldo.


"Becanda mu tidak lucu, Mas. Jangan bermain main dengan kata talak, Mas!"


"Aku tidak bermain-main!"


"Tapi kenapa?!" Intonasi nada Erika meninggi.


"Karena kamu selingkuh!" Dibalas tiga oktaf Aldo yang berteriak di depan wajah Erika yang seketika mendelik ke Ibu Rani. Ini semua awal gosip dari mulut mertuanya yang dzolim itu. Membeberkan gosip yang sangat bertolak belakang kepribadian Erika yang tidak mungkin berkhianat.


"Mas, ini hanya fitnah! Tolong percaya padaku! Ibu... Ibu, tolong bilang ke Mas Aldo kalau ini salah Ibu yang bergosip tidak tidak. Ku mohon, Ibu. Katakan padanya..." Erika sampai berlutut di depan Aldo dan Ibu Rani yang sedari tadi sudah beringsut berdiri di sisi anaknya itu. Sekuat tenaga Erika untuk tidak menangis, tetap saja buliran air mata sakit hati berdesakan membanjiri pipi mulusnya.


Aldo sama sekali tidak mau terpengaruh lagi dengan akting bermuka dua mantan istrinya tersebut.


" Jangan mencari kambing hitam dalam kesalahan mu, Erika. Mata kepala ku melihatnya sendiri, kalau kamu kemarin makan siang romantis bersama Pria tua. Aku jijik! Sangat jijik dan muak melihat diri mu saat ini!" Aldo sama sekali tidak bisa mengontrol emosinya, ia tidak tahu kalau ada Icha yang menyaksikan mulut kasarnya memaki-maki Ibu tersayangnya. Anak kecil itu beringsut bersembunyi di balik gorden, duduk meringkuk memeluk bonekanya dengan air mata ketakutan meleleh tanpa ada suara isaknya.


"Aku juga saksinya!"

__ADS_1


Erika yang ingin kembali menjelaskan, jadi tertahan akan kehadiran Sinta. Dan lebih membuat Erika sakit mata adalah tangan Sinta begitu enteng melingkar di lengan Aldo tanpa ada penolakan dari pria itu.


"Mas... Apa ini?" tanya Erika dengan delikan ke tangan Sinta. Aldo hanya diam saja. Ia juga bingung harus menjelaskannya. Tidak mungkin ia berkata gamblang kalau ia sudah meniduri Sinta.


Sedang Sinta, Wanita berpakain kurang bahan itu tersenyum sembari membuat pergerakan membenarkan rambut ke samping, dengan maksud agar Erika melihat lehernya yang penuh dengan kecupan cinta dari bibir Aldo. "Mas Aldo akan menikahi ku sore ini, Erika. Datanglah kalau kamu berkenan!"


Deg...


Inikah rasanya arti kutipan, 'Bagai petir menyambar di siang bolong?' hati Erika terenyuh sakit tidak terkira. Dadanya sesak naik turun dengan mata terpejam sesaat tatkala menyadari bekas bekas merah di leher Sinta dan Aldo pun demikian ada. Jelas itu bukan ia yang memberi tanda itu di leher Aldo. Bukan hanya Aldo saja yang bisa menatapnya jijik, ia pun bisa.


Merasa dikhianati, Erika memutuskan berbalik badan. Lalu berkata dengan hati hancur di dalam sana, "Semoga pernikahan kalian bahagia sampai ke Till Jannah!" Erika lebih memilih berdoa baik pada orang yang menyakitinya, daripada meraung raung dengan membawa sumpah serapahnya. Ia yakin kalau Tuhan-Nya itu tidak tidur. Mungkin hari ini hatinya menjerit jerit terdzolimi, tetapi hari esok nanti akan ada asa indah untuknya.


"Aku berbuat kesalahan karena diri mu, Erika. Ini salahmu!" Aldo dengan tega melimpahkan perbuatan khilafnya bersama Sinta ke Erika. Kalau Erika tidak selingkuh, mana mungkin juga ia mabuk dan berujung berbuat dosa. Erika yang salah. Titik!


Erika juga tidak ada niatan lagi untuk meluruskan benang kusut fitnah keji yang menyangkut namanya. Percuma toh, Aldo sudah mentalaknya dan lebih parahnya mantan suaminya ini sudah menodai sucinya arti sebuah tali pernikahan yang mereka rajut empat tahun lamanya, hanya karena satu malam perzinaan mereka. Cinta besarnya ke Aldo menyadarkan arti sebuah kebodohannya, kalau ia tak seharusnya menempatkan seluruh hati, dunia dan segalanya untuk suaminya yang ia kira adalah orang yang paling mencintainya.


"Ndak boleh! Ini rumah Aldo juga. Kalau ada yang harus keluar maka itu adalah kamu Erika!" Ibu Rani tidak terima kalau Erika lah yang berujung menempati rumah sederhana tapi nyaman dari rapi ini.


"Sudahlah, Ibu. Rumahku terbuka untuk Ibu yang akan menjadi mertuaku," sela Sinta. Ibu Rani tersenyum lebar di atas penderitaan Erika.


"Ibu bereskan dulu semua barang barang ku, ya!" Ibu Rani meninggalkan ruangan itu dengan langkah antusias.


Sedang Aldo, segera ditarik sedikit paksa oleh Sinta. Mata pria itu enggan sekali lepas dari Erika yang terus memberinya punggung. Sebenarnya, melihat wajah kesedihan Erika, sudut hati Aldo serasa ada yang hampa. Lebih lebih mengingat ikrar talaknya tadi, hati kecilnya berkata lain. Tetapi logikanya juga tidak terima kalau Erika berani bermain api di belakangnya.

__ADS_1


"Hiks... Hiks...!"


Merasa ruangan sudah sepi, tangis kesedihan yang ditahan tahannya, akhirnya tumpah ruah dengan dada sesak itu Erika pukul pukul beberapa kali.


Lututnya terasa lemas dan luruh ke lantai. Icha yang mengintip di balik gorden, memberanikan keluar dari persembunyiannya. Ia cemas pada ibunya yang habis di omelin Ayahnya. Icha hanya tau itu tanpa paham arti lainnya. Dan ah satu lagi, Icha tidak suka pada Wanita yang sudah membawa pergi Ayahnya.


"Ibu... Ibu...! Hikkks... " Gadis kecil itu menangis tatkala melihat Erika meringis kesakitan sembari memegang perutnya. Icha tidak tau Ibunya kenapa? Intinya, mata kecilnya kini melihat ada darah yang mengalir dari pangkal paha ibunya, membasahi gamis cream sang Ibu.


"Ibu...!" Sembari memanggil panik Erika, Icha juga beringsut mengguncang pipi yang sang Empunya sudah terpejam pingsan.


Bocah kecil itu bingung harus apa? Tangan mungilnya terus mengguncang bagian tubuh Erika yang tidak ada efek sama sekali.


Berharap masih ada ayahnya di pelataran, Icha memberanikan diri untuk keluar rumah yang berniat meminta tolong. Ia takut melihat Ibunya itu yang semakin berdarah darah saja.


Namun malang nian nasibnya, Icha sudah tidak menemukan siapa pun di pelataran rumahnya. Entah dari mana keberanian Icha, bocah itu beringsut ke jalanan untuk mencari siapa pun orang dewasa. Kemana semua orang dan tetangganya? Sepertinya, semuanya itu tutup pintu karena hari memang sangat terik. Dan apa boleh buat, Icha hanya menangis tersedu sedu di pinggir jalan gang komplek rumahnya.


Chiiit...


Satu pemotor, tiba-tiba menghentikan lajunya. Ia iba melihat si gadis kecil itu menangis seorang diri.


"Ibumu kemana dek? Kenapa menangis?" tanya pria itu yang tak lain pemotor yang pernah hampir menabrak Erika dan Icha tempo hari. "Kamu...!" Pemuda yang bernama Afnan itu tidak asing pada wajah jelita Icha.


Icha yang biasanya takut pada orang asing, saat ini mengesampingkan rasa takutnya demi sang Ibu. Ia dengan paksa dan sedikit kuat menarik ujung jaket gaul si Paman itu.

__ADS_1


"Eeh...!" Meski bingung, Afnan terus mengikuti. Ingin tau apa yang diinginkan sang Bocah. Mana tau akan dipertemukan sama kakaknya yang tak lain adalah Erika. Asyikkk... Batin Afnan.


__ADS_2