
drett.. drettt
panggilan masuk ke ponsel milik vio kembali. hampir 20 panggilan masuk yang vio dapatkan tapi tidak satupun vio jawab.
"vi, angkat napa, brisik tau" protes eva.
"kalo engga matiin aja hp nya" tambahnya.
"iya, ini gue angkat"
ia sudah bosan mendengar suara panggilan dari arga. ya arga lah yang menelfon vio sebanyak itu. pada akhirnya vio harus menjawab panggilan tersebut dengan terpaksa.
"ganggu banget sih!" ucap vio saat menerima panggilan tersebut.
"dimana sekarang?" ucap arga di sebrang sana.
"bukan urusan lo!" balas vio ketus.
"urusan lo juga urusan gue!"
"terserah"
"pulang sekarang!"
"ga!"
"oke, gue yang kesana sekarang"
setelah itu panggilan terputus dari arga. vio merasa biasa saja. tidak ada rasa takut, khawatir dll. karena pikirnya tidak mungkin kan arga tau keberadaannya sekarang.
ya! sekarang vio berada di rumah eva. ia sengaja tidak ingin pulang ke rumahnya itu. ia sudah menduga arga akan pergi ke rumahnya.
"huft"
baru saja vio ingin merebahkan tubuhnya di kasur milik eva, vio sudah dikejutkan dengan suara klakson motor di bawah sana.
dengan hati hati vio mengintip dari jendela untuk memastikannya. dan benar saja, arga sudah berada di bawah sambil bersandar di motor ninja nya tersebut sambil melambai lambai kan tangannya ke arah vio.
mulutnya menganga tidak percaya. vio mendapat pelajaran dari sini, jangan pernah menantang sang arga. bahaya.
"EVAAAAA" teriak vio. eva yang sudah tertidur dengan pulasnya langsung terbangun karena teriakan vio tersebut.
"apaansih! udah malem juga teriak teriak kayak orang gila" balas eva.
__ADS_1
"LIAT **** SINI". dengan malas eva berjalan menuju vio.
"ituu... itu arga?" tanya eva tidak percaya. vio menganggukan kepalanya pasrah.
kini mereka berdua sangat cemas. di tambah lagi hanya ada mereka berdua di rumah ini. para pembantu eva sedang cuti, orang tuanya kerja di luar kota.
Ting..
suara ponsel milik vio berbunyi di atas meja. dengan langkah yang ter buru buru vio mengambil ponselnya yang jaraknya tidak jauh dari jendela.
"turun atau gue masuk ke dalem" pesan dari arga.
mata vio membulat seketika. jantungnya berdetak dengan cepat. apa yang harus dia lakukan sekarang.
ia sangat kebingungan saat ini. vio sempat melirik eva yang tidak kalah panik saat ini.
"gue harus turun! gue gak boleh nyusahin eva" batin vio.
"em... eva.. makasih ya, gue bakal turun sekarang." pamit vio sambil berjalan menuju pintu sambil mengambil tas nya.
tapi, langkahnya terhenti saat eva menahan lengannya.
"vi, lo gila ya. ngapain turun?! klo di apa apain gimana??!!" tanya eva protes.
.
.
.
.
vio keluar dari rumah eva dan menghampiri arga yang sudah menunggu nya disana.
bahu vio ia gunakan untuk menggendong tas nya dan tangan nya ia gunakan untuk membawa ponsel serta dompet yang serba berwarna pink.
kedatangan vio di sambut dingin oleh arga. menatapnya dari atas sampai bawah dengan tatapan yang sangat menusuk. bukannya takut, vio menatap nya tidak kalah tajam.
"apa?" tanya vio.
"naik" tanpa basa basi vio langsung naik motor hitam itu. ia sudah sangat malas berdebat dengan arga. ditambah dirinya sudah sangat ngantuk.
"jalan" perintah vio kesal karena arga tidak menjalankan motornya tersebut.
__ADS_1
"pegangan"
"ga"
"yaudah ga jalan"
" ck" akhirnya vio memeluk perut arga dengan erat. ditambah lagi bau tubuh khas milik arga saat ini sangat ia rindukan membuat nya semakin ingin tidur.
(baru aja ketemu tadi sore, udah kangen aja neng.)
arga pun menjalankan motornya dengan kecepatan di atas rata rata, membuat vio semakin erat untuk memeluknya. membelah malamnya jalan. ditemani oleh sang bulan dan bintang yang bertaburan di langit.
.
.
.
.
sesampainya dirumah vio, vio langsung turun dari motor milik arga dengan bantuan bahu arga. tidak lupa ia mengucapkan terimakasih lalu masuk ke dalam rumahnya.
baru saja vio membuka pintu pagar nya, ia langsung mendapatkan sebuah tamparan dari mamanya yang baru saja pulang dari LA.
"dasar anak gak tau diri! orang tua udah pulang bukan nya di sambut malah keliaran! bikin malu keluarga saja kamu contoh itu kaka mu! sekarang sudah sukses, banyak prestasinya!!. kamu emang gak pantes di keluarga ini! nyesel saya sudah membesarkan mu" maki mama vio, sabrina.
vio menundukan kepalanya sambil memegang pipinya yang sudah dipastikan berwarna merah karena tamparan dari sabrina. matanya sudah berkaca kaca tapi tidak menumpahkan air matanya.
untungnya saat itu, arga masih ada disana. ia masih menunggu vio masuk ke dalam rumahnya dan barulah ia menjalankan motornya. tapi apa yang ia lihat?!!. ibu yang memaki anaknya sendiri.
melihat itu arga trun dari motornya dan menghampiri vio.
"tan,,, vio anak tante sendiri loh! masa di perlakukan seperti itu. tidak layak bagi seorang anak mendapatkan perlakuan kasar dari seorang ibu." ucap arga disamping vio.
"siapa kamu?!! oohh saya tau. kamu mau jadi jagoan ternyata. sok sokan ngebela. dia itu emang salah." balas sabrina ketus.
"tapi cara nya gak begini tan.. seharusny tante....."
"alah.. basi kamu. mending kalian pergi dari sini. saya muak melihat kalian berdua yang sifat nya sama saja" usir sabrina dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
arga melihat tubuh vio yang sedang ketakutan. matanya berair. tatapan nya kosong, menyembunyikan banyak kesedihan di dalamnya. betapa menyedihkannya hidup vio. tidak seharusnya vio merasakan hal seperti ini. seharusnya hanya dirinyalah yang pernah merasakan hal seperti ini.
"ikut gue pulang ya" kata arga. vio hanya bisa menganggukan kepalanya dengan lemah.
__ADS_1