
Vania ikut satu mobil dengan Dave, sementara Triplets di Ambulance yang lain di depan mobil mereka.
Vania terus menggenggam tangan Dave dan membisikkan kata kata penyemangat agar Dave tetap selamat, dirinya memang mengatakan kata kata penyemangat untuk Dave, namun di dalam hatinya ia juga takut bila Dave tidak selamat.
Hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Dave langsung di larikan ke dalam untuk menjalani operasi.
Sedangkan Vania pergi ke tempat Triplets sedang di periksa, dirinya tidak peduli dengan kondisi tubuhnya yang juga memiliki banyak memar, bahkan sampai banyak darah namun sudah mulai kering.
Vania tidak di perbolehkan masuk terlebih dahulu karena mereka sedang di periksa secara keseluruhan dan di obati, akhirnya Vania pun di bawa seorang perawat untuk diperiksa lukanya dan diobati.
Saat sedang diobati, Vania hanya menatap kosong kearah pintu, di pikiran nya masih sangat penuh oleh rentetan kejadian yang tidak diinginkan, dan juga kondisi Dave serta anak anaknya.
Setelah selesai di obati, Vania pun segera menghampiri ruangan Triplets, Vania menunggu hampir satu jam hingga dokter pun keluar dari ruangan, Vania langsung menghampiri dokter itu.
"Gimana keadaan anak anak saya dok?." Tanya Vania dengan nada yang khawatir.
"Ibu tenang dulu, kondisi anak ibu saat ini sudah mulai membaik, namun ada kemungkinan setelah mereka sembuh nanti, mereka akan mengalami trauma." Jelas dokter itu dengan serius.
Vania menghela napas pasrah tahu ini akan terjadi, dirinya sudah menduga bahwa anak anaknya pasti akan mengalami trauma berat.
Setelah menjelaskan itu dokter lalu pergi meninggalkan Vania sendiri, setelah dokter pergi, Vania pun masuk kedalam ruangan untuk melihat buah hatinya.
Di dalam satu ruangan terdapat tiga ranjang, masing masing di tempati Triplets, keadaaan Triplets sekarang masih dalam pengaruh obat bius yang sengaja di suntik kan agar mereka tenang.
Vania lalu duduk di sofa yang disediakan, dirinya hanya diam dan merenung tentang nasib keluarga kecilnya itu.
'Mommy sayang kalian. Cepet bangun sayang, mommy harap kalian tidak mengalami trauma berat, karena jika iya maka mommy tidak dapat memaafkan diri mommy sendiri karena tidak bisa menjaga kalian dengan benar.' Batin Vania menangis.
Setelah itu Vania menghampiri anak anak nya satu persatu dan membisik kan mereka kata kata menenangkan, seusai membisikkan mereka semua, Vania berjalan keluar menuju ruangan samping, yaitu ruangan Dave dirawat, lalu Vania pun masuk.
Operasi telah selesai dua puluh menit yang lalu, hati Vania terasa sakit melihat kondisi pria yang dicintainya begitu parah, bahkan Dave koma untuk kedua kalinya, ditubuhnya banyak terdapat kabel infus.
__ADS_1
Vania duduk di kursi sebelah ranjang Dave, dirinya lalu mengambi tangan kiri Dave dan digenggam nya tangan itu dengan erat, Vania mengecup tangan itu berulang kali hingga akhirnya ia menempelkan tangan itu di keningnya, air matanya kembali jatuh dengan deras, tak dipungkiri hari ini Vania telah menangis dua belas kali.
'Dave, kamu harus bangun sayang, aku dan anak anak butuh kamu, aku gak bisa bayangin kalau harus jauh dari kamu lagi. aku takut kalau nantinya aku harus menjaga anak kita sendiri lagi, aku gak kuat.' Kata Vania dalam hati, lalu dirinya mencium kening Dave.
Seusai mencium kening Dave, Vania melihat mata Dave yang tertutup mengeluarkan air matanya, Vania pun mengusap air mata Dave, lalu dirinya tidur sambil memegang tangan Dave.
*/*/*/
Tiga bulan kemudian...
Hari ini adalah hari pernikahan Felix dan juga Fina, mereka seharusnya menikah dua bulan yang lalu, namun karena berita duka menimpa sahabat mereka, membuat mereka terpaksa mengundur jalan nya acara pernikahan.
"Cieee yang mau nikah wajahnya udah bersinar banget nih." Celetuk Erin yang memasuki ruangan.
Erin masuk bersama Ify dan juga Vania. Erin dan Ify saat ini sedang mengandung, usia kandungan Erin sudah tiga bulan, sementara Ify baru satu bulan.
Fina tak membalas, wajahnya sudah bersemu merah karena godaan dari sahabat nya itu, sementara Vania hanya bisa melihat teman teman nya yang sudah menikah dan akan menikah.
Sahabat Vania yang melihat ekspresi Vania langsung tau apa penyebab raut wajah Vania menjadi masam.
"Van kita ngerti kok perasaan lo, tapi lo harus inget kalo kita gak bisa tetep stay di tempat, semua berjalan sesuai perbuatan." Kata Ify yang menasihati Vania.
Vania mengusap air matanya yang menetes, dirinya lalu tersenyum pada sahabatnya agar mereka tak khawatir.
"Thanks, kalian selalu ada buat gue." Kata Vania, lalu mereka berpelukan selama beberapa detik hingga Vania melepasnya.
"Kebawah yuk, proses ijab kabul nya udah mau di mulai nih." Ajak Vania.
Mereka pun berjalan ke bawah untuk menghadiri resepsi pernikahan sahabatnya itu.
*/*/*/
__ADS_1
'Skipp'
Vania dan Triplets pergi ke makam milik seorang laki laki yang pernah ada di hidup mereka. jujur, sebenarnya di dalam hati Triplets masih ada rasa tidak suka pada laki laki yang sudah pergi itu.
Vania lalu jongkok dan mengusap batu nisan tersebut dengan lembut, dirinya sudah bisa mengikhlaskan kepergian laki laki itu, walau sempat membencinya beberapa saat.
"Aku udah maafin kamu, makasih udah pernah nemenin aku dan Triplets selama beberapa tahun, aku gak benci kamu, aku justru berterima kasih karena kamu udah buat aku jadi wanita yang kuat dan gak gampang percaya dengan orang." Kata Vania, lalu setelah itu dirinya dan anak anaknya meninggalkan makam itu.
Ketika diluar makam ternyata sudah ada seorang laki laki tampan yang menunggu mereka.
"Daddy." Teriak Triplets lalu memeluk sang ayah.
"Loh kok kamu disini? bukan nya kamu di Dubai ya?." Tanya Vania heran melihat laki laki yang dicintainya itu.
"Tentu saja Baby, hari ini kan hari pernikahan sahabat aku, masa aku gak dateng, lagian aku juga kangen kamu sama Triplets, emangnya kamu mau aku pergi terus gak bali balik lagi? ." Tanya sang laki laki itu sambil menaik turunkan alisnya menggoda Vania.
"Ih apaansi Dave, kamu mah ngomong nya gak bisa di filter." Kata Vania yang mulai kesal karena arah pembicaraan Dave.
"Sorry Baby, aku gak maksud kok. lagian kan minggu depan kita nikah, masa aku gak disini sih." Kata Dave.
"Yaudah ayok pulang, ngobrol nya di mobil aja." Ajak Vania lalu masuk kedalam mobil.
'Reyhan Galiandra Thompson' . Nama yang tertulis di batu nisan yang tadi Vania hampiri, dia meninggal karena penyakit kanker otak yang sudah di deritanya selama dua tahun itu.
Vania tidak membenci Rey karena Rey sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri, walaupun Rey pernah hampir saja mau membunuh Dave, dirinya, dan juga anaknya.
*/*/*/
Tadi siapa tuh yang mikir Dave meninggal waktu belum baca bagian akhirnya, ngaku aja deh kalo ada yang berpikiran kaya gitu.
See you :*
__ADS_1