
Sebelum kejadian
Beberapa menit yang lalu disaat Siska mendapatkan penglihatan rivaldi menyuruh cazim untuk menghubungi Ja'far dan yuma namun tidak ada respon dari walki talkinya "yasudah kamu hubungi team forensik secepatnya"
"siap komandan" rivaldi memberikan ponsel miliknya pada cazim lalu dia pergi keluar untuk mencari sinyal
cazim menghubungi tim forensik setelah menelpon mereka dia terus mencoba menghubungi Ja'far dan yuma namun masih tidak ada respon, yang cazim takut kan bagaimana kalau penculik itu mencelakai mereka karena selama di tempat itu tidak ada tanda-tanda kehadiran nya.
kesal karena terus tidak ada jawaban cazim berniat kembali turun ke ruang bawah tanah namun dia merasakan sesuatu yang aneh seperti ada seseorang memantau pergerakannya, cazim mencari keberadaan orang tersebut dengan bersikap tenang tanpa menunjukkan rasa takut yang menyelimuti dirinya.
Terlihat ada suatu pergerakan di balik barang-barang yang menumpuk di sampingnya cazim berpura-pura mencari sinyal dia berjalan mendekati tempat itu, cazim bersiap mengeluarkan senjata api dari balik bajunya
"Angkat tangan"
tidak ada siapapun disana cazim cukup melegakan napas dia berniat kembali menuju tempat rivaldi, beberapa langkah berjalan tiba-tiba sebuah tangan membekam mulutnya cazim berusaha lepas dari orang itu
bruukk...
cazim membanting orang itu sekuat tenaga hingga ia terjungkal dihadapan nya, seseorang berpakaian badut yang melakukan itu seketika cazim teringat dengan ciri-ciri penjahat yang dijelaskan Siska.
"dia memakai topeng putih dengan tanda gores di pipinya sorotan mata sayu bagaikan orang insomnia, baju badut penuh darah... yang terpenting dari itu semua adalah ditangannya, sebuah benda yang bisa merenggut nyawa korban dalam satu kali tarikan... kenur atau monofilamen senar tunggal untuk memancing "
badut itu berdiri tersenyum menatap cazim perlahan dia mendekat sambil memainkan tangannya seperti bersiap, dengan sigap cazim mengeluarkan senjata api milik nya namun sayang senjata itu hanya berisikan peluru hampa.
mereka saling menatap cazim mencoba bertahan dia tidak memalingkan pandangan sedikitpun "siapa yang lengah makan dia yang kalah" ujar nya dalam hati, badut itu terus tersenyum sambil menatap cazim dia seperti girang melihat suatu mangsa.
badut itu mendekat kearah cazim dengan sigap ia menembakan senjata api itu kepadanya, karena senjata itu hanya berisikan peluru hampa jadi efek dari tembakan tidak fatal badut itu masih berdiri tanpa merasakan sakit dia malah semakin girang dan tertawa
hahahhaha....
"apakah hanya peluru kosong yang kau bawa detektif, apa kau mengira aku ini anak kecil yang takut akan itu. hahhahaha.... "
cazim menembakkan kembali namun tetap saja tidak ada pengaruh pada badut itu yang ada dia semakin marah karena merasa dipermainkan oleh cazim, badut itu mulai menyerang dia melawan cazim dengan tangan kosong tanpa bantuan alat apapun ditangan nya badut itu bisa membuat cazim kewalahan.
Pertarungan sengit antara keduanya semakin panas cazim terus bertahan kekuatan badut itu dua kali lipat darinya "kuat sekali tenaganya" ujar cazim yang terus menahan serangan itu dia tidak bisa menyerang balik.
"detektif apa hanya segini kekuatan mu, hahhaaa."
"diam kamu, " aku harus memberitahu komandan tapi bagaimana caranya. dalam kepala nya cazim terus berpikir untuk meminta bantuan tim nya.
"hahaha.. detektif sepertinya kamu sedang mencari cara untuk minta tolong pada Teman-temanmu, kamu ketakutan yah detektif.."
"siapa yang takut kepada manusia hina seperti kamu"
"hahhaa.. detektif jangan coba memprovokasi ku, atau kau akan tau akibatnya.. " badut itu menatap cazim dingin hingga membuat bulu kuduk nya berdiri
masih mencari cara cazim terus bertahan dari pukulan itu tubuhnya sudah lemah beberapa darah mengalir di hidung dan bibirnya, akhirnya muncul sebuah ide dipikirannya namun itu beresiko tapi cazim tidak mau menyerah sebelum mencoba.
di sebuah tumpukan barang yang tadi cazim melihat sebuah barang yang bisa menimbulkan suara keras bila terlempar namun hal itu belum tentu berhasil karena keberadaan rivaldi dan yang lain ada dibawah tanah. "apapun hasilnya akan aku coba" tanpa pikir panjang cazim berlari kearah tumpukan itu
dia melemparkan sebuah benda dari sana seperti kaca, dan beberapa kayu dan juga besi panjang, cazim mengambil besi itu dia terus mengayunkan besi itu memukul setiap benda disana.
__ADS_1
"hahaha.. detektif apa yang sedang kau lakukan bukannya melawan ku kau malah memukul benda yang ada, APA KAU SEDANG MAIN MAIN DENGAN KU DETEKTIF"
badut itu semakin marah dia memukul cazim sangat keras hingga dia terpental mendarat keatas tumpukan kardus,
uhuck.. uhuck.. cuuhh...
Memuntahkan darah dari mulutnya giginya patah membuat cazim kesakitan, mencoba bangun dan bertahan namun tubuhnya sudah babak belur dan tidak sanggup berdiri.
dilain tempat setelah Siska bangun dari alam sadarnya mereka bergegas pergi mencari cazim karena pirasat buruk yang Siska dapatkan, mereka bertiga naik keatas dan mencari cazim berlari kesemua sudut ruangan namun tidak ada hingga Siska menemukan ponsel rivaldi
dia kembali mencari informasi lewat tepati hingga akhirnya Siska tau keberadaan cazim tidak lama terdengar suara keras dari arah belakang.
Asalnya tepat diruang belakang "Cazim itu pasti dia" Ujar bisma tergesa-gesa pergi keasal suara itu namun Siska merasakan pirasat buruk dalam dirinya, tapi bisma tidak terhentikan dia pergi tanpa memperdulikan.
"Tunggu kak kita harus punya rencana" ujar Siska pada rivaldi
Sementara bisma terus mencari asal suara itu "cazim.. CAZIM.. , Aiss.. dimana dia, CAZIM.. "
Cazim yang mendengar suara bisma langsung tersadar dan mencoba bangun dari sana, tubuh yang lemah membuat cazim sempoyongan hingga tidak bisa berdiri tegak. badut itu juga mendengar teriakan bisma dia memprovokasi cazim "uhhh sepertinya teman mu datang"
tidak merespon apa yang badut itu bicarakan cazim hanya berfokus bagaimana caranya agar dia bisa kabur dari hadapan badut itu, namun badut itu tidak berhenti dia terus memancing kemarahan cazim "hahaha.. detektif apa kau ingin kabur menemui teman mu,... "
"Silahkan pergi lah detektif, dengan begitu aku bisa menghabisi kalian tanpa harus menunggu lama lagi. hahahaha.... "
apa yang harus aku lakukan sekarang jika aku pergi badut itu akan mengikuti dan itu bisa membahayakan keselamatan mereka, apalagi Siska ada disana.
cazim bingung dia tidak mau jika karena nya Teman-temannya terluka, "hahaha kenapa detektif ayo temui teman mu, kenapa diam saja" badut itu terus memprovokasi cazim hingga dia sulit untuk berpikir jernih
badut itu sedikit terhempas kedepan darah mengalir dari kepalanya dia merasakan pusing cukup kuat, "SIAL apa yang kau lakukan detektif" badut itu berbalik kearah cazim dan berjalan mendekati nya cazim berusaha menghindar dia memukul kembali namun badut itu menghindari setiap serangan cazim.
"CUKUP.. cukup main main nya detektif, Sekarang kita harus serius" badut itu memainkan jari-jarinya seperti bersiap akan melakukan serangan, badut itu memukul cazim tepat di hidung nya dia terus memukul tanpa berhenti.
Tubuhnya terus menerus terlempar kesana kemari berdiri lalu terjatuh kembali, badut itu memukul cazim tiada henti hingga membuat nya hampir pingsan. "jangan mati dulu detektif kesenangan baru akan dimulai, hahaha.. " badut itu melilitkan benang dileher cazim hingga membuat nya meregang kesakitan
cazim terus bertahan dia memukul tangan badut itu yang berdiri dibelakang nya, nafas yang sudah tidak teratur cazim terus bertahan dia sangat kesakitan seluruh tubuhnya tegang matanya melotot seperti akan keluar.
"CAZIM"
tiba-tiba suara terdengar bisma datang dia berdiri dihadapan mereka, bisma yang melihat temannya itu dalam bahaya mencoba mendekat untuk menolong namun badut itu mengancamnya. "ets.. tunggu apa kau ingin menyelamatkan teman mu, padahal kita sedang bersenang-senang iya tidak" badut itu membuat lelucon dengan cazim yang sedang sekarat.
"hey badut sialan lepaskan teman ku jika kau punya keberanian kesini lawan aku, kita baku hantam sampai mati"
"hahaha.. kau sombong sekali tapi aku suka keberanian itu, " badut itu melepaskan cazim dia melemparkan tubuhnya ke samping, nafasnya pelan namun cazim masih hidup.
keduanya saling berhadapan lalu meluncurkan pukulan mereka masing-masing terlihat keseimbangan diantara keduanya, bisma cukup hebat dalam bela diri dia bisa menangkis setiap serangan yang badut itu berikan bahkan terlihat dia sedikit goyah menghadapi bisma.
diluar gedung terlihat rivaldi dan Siska sedang memasang sinyal darurat disekitar rumah itu mereka mengumpulkan tumpukan ranting dan dedaunan kering, menyiram bensin ke sekitar tumpukan itu dan Siska memasang petasan di sebelah kiri rumah itu. "oke aku harap mereka melihat sinyal ini"
"dari mana kamu dapat itu" menunjuk petasan
"hahaha.. aku bawa "
__ADS_1
"hah, kepikiran bawa itu"
"Sebelum kesini ada seseorang memberitahu aku untuk bawa petasan, sudahlah tidak perlu di jelaskan"
"O.. Oke"
Mereka menyalakan pematik lalu membakar tumpukan sambah itu hingga membuat kobaran api yang cukup besar disebelah kiri Siska menyalakan kembang api hari itu masih sore namun karena daerah yang cukup dingin dan sedikit gelap jadi ledakan petasan itu membuat sekitar terang, "semoga kak yuma sama jafar melihat sinyal ini"
rivaldi dan Siska berharap semoga rencana itu berhasil mereka juga memasang beberapa tanda untuk memudahkan tim kedua datang,
heug.. deg..
Siska mendapatkan telepati masuk kedalam pikiran nya terlihat cazim sekarat dan bisma yang
dalam masalah dia kewalahan menghadapi badut itu, eug... "kak kita harus menolong mereka"
"tidak kamu tetap disini biar aku yang pergi"
"tapi.. "
"Siska turuti apa yang kakak katakan kamu disini tunggu tim dua datang, oke"
Siska menatap kakaknya lalu mengiyakan perintahnya tanpa membantah lagi rivaldi yang melihat itu tersenyum lalu mengusap Kepala adiknya dan pergi kedalam, rasa cemas terlihat diwajah Siska namun dia mempercayakan semua pada kakaknya.
Sampai disana rivaldi melihat cazim yang terbaring di bawah dengan tubuh yang babak belur sementara bisma yang terus melawan badut itu, keduanya terus melawan walaupun tubuh mereka sudah tidak sanggup.
pelan pelan rivaldi mendekati cazim tanpa membuat mereka sadar akan kedatangannya fokus utama rivaldi akan menyelamatkan cazim, "cazim kamu tidak apa-apa"
"koman.. " dihentikan rivaldi
"Shutt.. jangan bicara sekarang kamu diam dan ikuti aku saja" mereka berbicara berbisik
rivaldi memapang cazim di pangkuannya lalu membawa nya keluar dengan perlahan, tubuhnya tidak sanggup dia begitu lemas hingga mebuat rivaldi tidak ada pilihan selain menggendongnya.
"komandan.. "
"sudah diam" rivaldi menggendong tubuh cazim dan membawanya keluar ketempat aman, Siska menolong mereka dan membaringkan cazim didekat pohon
"Siska kamu jaga cazim, kakak harus kembali kedalam membantu bisma"
"tapi kak, " menatap kakaknya Siska mencoba membaca masa depan yang akan terjadi pada rivaldi namun buram tidak ada petunjuk sama sekali, hal itu membuat dia frustasi dan takut untuk membiarkan kakaknya kedalam lagi.
"kamu tidak perlu khawatir kaka akan kembali dengan selamat tanpa kehilangan apapun, kakak janji"
Dengan terpaksa Siska melepaskan pegangan itu dan membiarkan rivaldi masuk kedalam menyelamatkan bisma dan mengakhiri masalah yang terjadi, Siska tertunduk cemas cazim yang melihat itu bersimpati betapa sayang nya dia terhadap rivaldi walaupun tingkahnya nyebalkan tapi Siska sosok wanita yang care terhadap orang lain.
"Sis.. ka"
"iya kak cazim kamu perlu apa, ada yang bisa Siska bantu"
eummmm...
__ADS_1
cazim tersenyum lalu mengelus kepala Siska dengan tangannya yang kotor dengan darah, namun Siska tidak menyeka itu dia hanya diam menatap cazim yang terus mengelus rambutnya lembut.