Fatrher'S Will

Fatrher'S Will
BAB 9 : Siska anak Indigo


__ADS_3

Perjalanan menuju hutan kidul setiap tempat dipenuhi pemandangan pohon jati yang begitu indah menghiasi hutan, rivaldi mengemudi dengan tenang sambil menikmati sejuknya udara.


Mood Siska lebih baik dia membuka jendela mobil dan menghirup udara dengan senang nya, mereka menyewa mobil untuk sampai ke dalam hutan, jalanan yang cukup besar bisa dimasuki kendaraan hingga tidak membuat mereka cape harus berjalan.


Sesampainya ditengah hutan rivaldi memparkirkan mobil lalu mereka berdua berjalan menuju puncak gunung dengan berjalan kaki, "kenapa kita gak bisa lewat jalan besar" ujar Siska mengeluh pada kakaknya


menatap adiknya sambil merangkul "kita kan lagi pencarian bukan travelling" mereka berdua berjalan menuju puncak gunung dengan menaiki anak tangga, di tempat lain Ja'far dan yuma masih dalam perjalanan menuju hutan mereka datang bersama beberapa anggota polisi lain terlihat kepala desa ikut bersama mereka.


sementara bisma dan cazim sudah berada di puncak gunung tengah hutan, seharusnya mereka berdua pergi bersama dengan rivaldi dan Siska tapi karena ada kendala sedikit sehingga mereka harus pergi duluan. "kemana si mereka belum nyampe juga" bisma terus mundar mandir menunggu komandan rivaldi.


disaat menunggu mereka berdua telah mengecek kebeberapa tempat disana mereka menemukan gua yang lokasi nya tidak jauh dari tempat mereka dan juga ada aliran sungai di dibawah kaki gunung itu, menurut petunjuk Siska ada sebuah rumah ditengah hutan itu dan penculik nya bersembunyi disana bersama beberapa sandra.


"tapi selama penulusuran kita belum menemukan rumah satupun"


"Emang rumah nya satu, lebih baik kita tunggu saja rivaldi dan Siska telebih dahulu. setelah itu kita pergi mencari kembali bersama mereka" ujar cazim sambil duduk dan minum.


Selama menaiki anak tangga Siska terus merasakan hal aneh yang mengikuti dirinya dia terus menatap sekitar hutan namun tidak ada apapun, rivaldi yang melihat adiknya bersikap aneh menegur dia agar tidak memikirkan apapun dan fokus melihat kedepan.


dia menggandeng Siska sambil terus mengajaknya mengobrol agar adiknya tidak memikirkan hal aneh, "kamu cape yah mau kakak gendong" mengusap keringat Siska yang begitu banyak bercucuran dari dahinya.


Siska hanya tersenyum mendapatkan perhatian dari kakak nya itu mereka berdua berjalan menuju atas gunung hingga bertemu dengan bisma dan cazim, "akhirnya sampai juga" bisma kesal menunggu


"ayo kita jalan tujuan kita masih sangat jauh ini"


Siska kecapean dia tidak sanggup berjalan lagi "aku capek bisa istrahat dulu" ujar Siska merayu kakaknya, bisma yang melihat itu geram dia mendekati Siska dan membentak nya


"Hee.. bisa kali gak usah teriak gue juga denger, lagian apa salahnya si istirahat sebentar kan gue sama kak rivaldi baru sampai"


"Lagian kenapa si kita harus bawa dia apa coba gunanya dia disini" bisma mempertanyakan keberadaan Siska yang harus ikut penyelidikan mereka, cazim yang tau akan amarah bisma mencoba menenangkan nya.


Siska menatap bisma "gue juga gak mau ikut" rivaldi mendengar perkataan Siska yang tidak sopan menegur dia untuk diam, melihat kondisi adiknya rivaldi memutuskan untuk istirahat sebentar.


mendengar keputusan itu bisma tidak bisa apa-apa dia hanya menghela nafas lalu pergi duduk jauh dari kelompok, disaat istirahat sebuah wolki tolki masuk Ja'far memberi kabar bahwa rombongan mereka telah sampai di hutan sebelum naik keatas mereka akan berkeliling di sekitar kaki gunung.


perasaan aneh yang terus Siska rasakan selama menaiki gunung makin terasa bahkan semakin kuat, terlihat bayangan hitam melintas di hadapannya Siska mencoba tenang dia berusaha mencari petunjuk.


Bisma melihat Siska bertingkah aneh "dia kenapa" dia menatap nya tanpa berpaling, rivaldi yang merasa adiknya tidak bisa diam terus bertanya tapi Siska mengabaikan dan melirik kesemua arah seperti mencari sesuatu.


Bayangkan hitam itu muncul kembali dia terus datang dan hilang berulangkali "Siska pikir..pikir" terus mengamati kedatangan dan hilangnya bayangan itu hingga Siska tersadar pohon nya memiliki petunjuk


Siska mencoba mencari pohon dengan aura yang kuat "Siska kamu sedang mencari apa" cazim, bisma dan rivaldi terus kebingungan dengan tingkah Siska "disini" ujar nya lalu memegang pohon itu


Pohon pinus yang Siska pegang memiliki keanehan ada noda mereka di sana, Heg.. deg.. rivaldi dan anggota hanya saling menatap Siska mendapatkan penglihatan beberapa jam sebelum mereka sampai ada seseorang melewati tempat itu sambil menyeret seorang anak kecil penuh luka ditubuhnya.


hegg.. hah.. huh.. fyuuh.. uhuck.. uhuck..


"Siska, apa yang kamu lihat"


"lima jam yang lalu ada seseorang datang dengan topeng badut dia begitu seram bajunya penuh dengan lumuran darah dia menyeret seorang anak, anak...oh..daffa iya aku ingat anak itu daffa"


"daffa"

__ADS_1


Bergegas mereka berempat pergi menuju rumah tua yang Siska katakan mereka tidak mengetahui dimana letak rumah itu namun bayangan hitam menuntun mereka, sesampai nya di puncak gunung terlihat kabut datang dan menutupi mereka "pegangan jangan sampai ada yang hilang"


Siska ingat dengan penglihatan yang muncul saat didalam pesawat "kakak" dengan segera dia mencari kakaknya "kak, kamu diamana" kabut itu semakin tebal membuat mereka tidak bisa melihat sama sekali


uhuck.. uhuck.. "kaka.. kakak"


"Siska kaka disini" rivaldi memegang tangan Siska


"kaka, fyuuh.. aku kira kamu hilang, ayo kak kita harus segera pergi dari disni sebelum semakin memburuk"


Mereka berjalan perlahan menghindar dari kabut itu hingga mereka melihat rumah besar yang tiba-tiba muncul dihadapannya, rumah itu mewah namun penuh dengan tanaman dinding yang kusam dan lantai retak.


mereka mencoba mendekati rumah itu sambil mengendap endap mereka masuk mencari di semua ruangan yang ada, Pendengaran yang tajam membuat Siska mengetahui bahwa ada seseorang yang datang mendekat.


"syut.. syut.. kak, shut.. " Siska menyuruh rivaldi, cazim dan bisma bersembunyi disana mereka melihat seseorang datang dia berjalan sambil memegang senjata tajam dengan wajah bertopeng yang dipakai nya.


Semua anggota tegang badut itu terus mundar mandir dia berjalan kearah Siska bersembunyi rivaldi yang tahu keamanan adiknya dalam bahaya panik dia tidak bisa berpikir jernih, "jangan.. jangan keluar" Siska menahan kakaknya agar tidak keluar untuk menjadi umpan


"hey badut sini lo kalau berani"


Bisma keluar dari persembunyian dia mencoba menantang badut itu, "aih.. ngapain coba itu anak" mereka berdua terlihat dalam perkelahian Bisma sedikit kewalahan karena badut itu membawa senjata tajam.


Semua khawatir dengan keselamatan Bisma dia terus tersudut kan rivaldi tidak diam dia membantu Bisma hingga akhirnya badut itu pingsan, mereka mengikat nya namun Siska berkata bahwa bukan badut ini yang mereka cari.


"bukan.. bukan dia, "


"lo yakin"


"umpan"


"iya umpan" Siska berbalik kearah belakang sebuah asap hitam datang dan memasuki tubuhnya "heeggg.. deg" sesosok makhluk kasat mata memasuki tubuh Siska


Bisma dan cazim terkejut mereka kaget dengan perubahan yang terjadi di mata Siska, warna matanya menjadi hitam pekat. Siska berjalan tanpa berkata dia terus menunjuk seperti mengarahkan jalan, rivaldi mengikuti adiknya dari belakang


"ikut" tanya Bisma


"udah ayo"


mereka berdua hanya mengikuti dibelakang rivaldi terlihat Siska terus berjalan mereka masuk kesebuah ruang bawah tanah, gelap dan bau cazim merasa mual dia merasakan bau amis yang sangat menyengat genangan air diatas lantai membuat Jalanan licin.


terus berjalan rivaldi memegang tangan Siska agar dia tidak hilang "Bisma kamu raba dinding itu cari tombol lampu" meraba setiap dinding akhirnya dia menemukan saklar sebelum menghidupkan rivaldi menyuruh semua orang menutup mata lalu buka mata saat lampu menyala.


trekk...


mereka membuka mata pelan-pelan saat melihat begitu terkejut nya banyak mayat bergelantung dihadapan mereka, cazim tidak kuat dia mual melihat kekejaman itu. arwah hitam yang masuk ketubuh Siska keluar dia kembali sadar "Siska bangun Siska" rivaldi memapang nya dalam pangkuan.


"eum.. kak" Siska membuka matanya dia berteriak ketika melihat begitu banyak mayat bergelantung di hadapannya, "Aaaaaa.... kak itu.. itu" bersembunyi di pelukan rivaldi


"tenang kamu tenang" rivaldi mencoba menenangkan adiknya, Deg.. heggg.. sebuah kejadian muncul dari penglihatan Siska sebuah penyiksaan yang begitu kejam terjadi di tempat itu, pembunuh itu menyeret para korban yang sekarat lalu menggantung mereka hidup hidup.


hegg... ahhh.. huhh

__ADS_1


"kak dia.. pembunuh itu menggantung semua korban disini dia membunuh mereka dengan sadis, dia menikmati kesakitan para korban dengan menonton mereka dikursi itu"


"kejam.. dia bukan penculik anak biasa tapi psikopat" ujar Bisma


mereka mencoba tenang dengan situasi itu berpikir jernih sebelum bertindak, keamanan masih diutamakan karena belum ada tanda-tanda pembunuh itu muncul. Siska yang sadar akan kehilangan seseorang mencoba bertanya "diamana kak cazim"


"dia pergi menelpon tadi komandan menyuruhnya menghubungi Ja'far dan yuma"


"itu.. ponsel siapa" menunjuk ponsel yang dipegang oleh Bisma


"cazim menelpon menggunakan ponsel kakak, walki talkinya tidak bisa terhubung jadi kakak menyuruh nya keluar mencoba menghubungi mereka memakai ponsel" rivaldi menjelaskan kepada Siska namun saat mendengar penjelasan itu raut diwajah Siska berubah dia teringat dengan kejadian masa depan yang dialihat di pesawat.


sebuah ponsel tergeletak di lantai dengan penuh darah menutupi layar ponselnya, "gawat ponsel, kak kamu ingat saat dipesawat aku nangis setelah mendapatkan petunjuk"


"iya, tapi kamu tidak cerita tentang apa"


"itu, aku melihat seorang pria menelpon lalu tiba-tiba ada seseorang yang menusuknya dari belakang, tapi aku tidak tau persis siapa dia yang aku lihat hanya ponsel penuh dengan darah dan itu ponsel mu. aku pikir itu kamu kak jadi... "


"jadi pria yang kamu lihat itu bukan rivaldi tapi cazim, cazim dia sekarang dalam bahaya" Bisma berlari lebih dulu meninggalkan mereka rivaldi mencoba membantu Siska lalu pergi menyusul Bisma.


Mereka semua mencari cazim diseluruh sudut ruangan namun tidak menemukan sama sekali Siska mencoba mengingat kejadian yang muncul dalam penglihatannya itu, dia terus memperhatikan setiap sudut tempat itu hingga akhirnya ponsel milik rivaldi ditemukan dan benar saja apa yang dikatakan Siska ponsel itu berlumuran darah sama seperti apa yang dia lihat.


"ini ponselnya tapi kemana cazim pergi" Bisma khawatir, rivaldi mencoba tenang dia yakin bahwa rekannya pasti masih hidup.


"Siska" rivaldi menyuruh Siska untuk mencari petunjuk lewat ponsel itu agar mereka tau keberadaan cazim, dengan rasa takut Siska memberanikan diri memegang ponsel itu


Deg.. hegg...


dalam penglihatan Siska


"detektif apa hanya segini kekuatan mu, hahhaaa."


"diam kamu, " aku harus memberitahu komandan tapi bagaimana caranya. dalam kepala nya cazim terus berpikir untuk meminta Bantuan tim nya.


"hahaha.. detektif sepertinya kamu sedang mencari cara untuk minta tolong pada Teman-temanmu, kamu ketakutan yah detektif.."


"siapa yang takut kepada manusia hina seperti kamu"


"hahhaa.. detektif jangan coba memprovokasi ku, atau kau akan tau akibatnya.. "


hegg... ahh.. huhh..


Siska kembali sadar dia mengetahui keberadaan cazim "Siska" rivaldi mencoba menenangkan adiknya


"gimana apa yang lo liat dimana cazim sekarang jawab... "


"sabar Bisma biarkan dia menenangkan diri terlebih dahulu, Siska pelan pelan kamu bicara apa kamu melihat kemana dia membawa cazim"


dengan napas yang tersenga-sengga Siska mencoba menjawab pertanyaan mereka "dia, dia.." heh.. fyuuhh... menarik nafas lalu melanjutkan perkataan nya " dia tidak jauh dari kita belakang"


"Treckk..bom..dumm..treng.."

__ADS_1


Suara terdengar dari arah belakang "cazim ayo" bisma berlari meninggalkan mereka kembali disaat rivaldi akan menyusul Siska menahannya "kita harus menyusun rencana" menatap kakaknya.


__ADS_2