Fatrher'S Will

Fatrher'S Will
BAB 20 : Tolong Perpanjang Kasusnya


__ADS_3

Hari itu hujan turun deras seperti alam merasakan kesedihan sebuah upacara pemakaman sedang dilangsungkan semua orang menangis melihat kepergian sang idola, Takdir dan maut memang tidak ada yang tahu tapi jika harus menerima kematian dengan tragis akan menyisakan kesesalan yang membuat arwah nya tidak tentang.


jasad zoe lusy akhirnya bisa di makamkan walaupun hujan tidak menghalangi orang untuk datang melayat, banyak yang mendoakan kepergiannya dan berharap sang pelaku mendapatkan balasan.


terlihat bisma dan cazim menghadiri pemakaman disana juga ada shabira dan ratih mereka sedang menemani ibu feni yang terus bersedih melihat kepergian anaknya, semua berjalan dengan baik setelah selesai bisma dan cazim mampir ke rumah zoe karena ibu feni yang memaksa.


"terimakasih ibu"


ibu feni menyuguhkan segelas air pada kedua detektif itu terlihat shabira dan Ratih juga ada disana duduk bersama, ibu feni sangat berterima kasih kepada para detektif yang sudah membantu dia dalam memecahkan kasus kematian anaknya


"tidak perlu berterimakasih bu, itu sudah jadi tugas kami" ujar cazim


"tapi bagaimana pun semua tidak akan selesai jika tidak ada usaha dan melihat tekad detektif rivaldi membuat saya yakin atas keputusan yang saya lakukan. "


mendengar semua perkataan ibu feni membuat hati kedua detektif itu sedih karena kasus yang telah mereka anggap selesai ini sebenarnya belum seutuhnya terpecahkan, bahkan saat ini komandan mereka sedang berjuang di kantor untuk memperpanjang kasus tersebut.


"Pak Irjen saya mohon lanjutkan kasus ini"


rivaldi berdiri di depan Irjen Eji Sudharmono dia memohon sambil membungkuk 30 derajat namun pak jendral tidak berkutik dia tetap dengan keputusan tersebut.


"apa yang mau kamu buktikan detektif rivaldi jika kasus ini dilanjutkan, tidak ada keuntungan semua hanya akan ada rasa lelah dan putus asa akhirnya sia-sia"


"pak yang menjadi korban itu manusia walaupun dia jahat tapi bukan berarti tidak memiliki Hak kemanusiaan nya, lagi pula pak tohir belum tentu pelakunya"


"detektif rivaldi apa yang sedang kamu cari dia sendiri mengakui bahwa dirinya yang telah menembak zoe bahkan dia berkata membeli senjata tersebut"


Rivaldi terus memohon sambil menjelaskan semuanya pada pak jenderal tapi tidak ada pengaruhnya malah itu semakin membuat pak Eji marah dan kembali memarahinya, pak Irjen mengatakan bahwa keputusan yang dia ambil itu atas perintah kepala pusat dan dia tidak bisa apa-apa.


"jika kamu ingin menentang keputusan ini pergi kekantor pusat temui pak kepala, walaupun kamu sujud sekalipun di kakinya saya yakin dia tidak akan mengubah keputusan nya"


Dengan putus asa dan penuh amarah rivaldi keluar ruangan terlihat yuma dan Ja'far yang sedang menunggu mereka tidak menanyakan hasilnya karena semua sudah terlihat jelas dari wajah rivaldi, mereka mencoba menenangkan komandan nya dengan mengajak pergi ke sebuah kafe di sebrang kantor.


di cafe mereka tetap membahas mengenai kasus zoe rivaldi menayangkan petunjuk yang bisa mereka temukan dari kematian pak tohir namun yuma mengatakan bahwa semua masih nihil mereka belum menemukan petunjuk kuat untuk mengetahui pria misterius tersebut.


semua cctv kantor telah disabotase pelaku mengganti semua card dengan yang baru untuk memasuki ruangan cctv itu sendiri memerlukan kartu identitas pekerja, rivaldi curiga bahwa ada seseorang yang membantu pria tersebut atau pria misterius tersebut adalah rekan mereka sendiri.


"musuh dalam selimut" ujar Ja'far


"komandan apa yang harus kita lakukan pak Irjen sudah memberi perintah untuk menutup kasus ini jika beliau tahu kita masih menyelidikinya diam-diam saya takut itu akan berdampak bagi keselamatan tim kita"


Yuma mengkhawatirkan konsekuensi yang harus mereka hadapi di masa mendatang tapi rivaldi tetap teguh dengan prinsip nya walaupun harus menentang sang atasan sekali pun dia akan tetap berusaha melanjutkan kasus itu, rasa empati pada keluarga pak tohir membuat nya tidak bisa berhenti apalagi saat melihat anak dan istrinya


yang syok mendengar kematian pak tohir.


"dia pergi mencari nafkah untuk keluarga dan kembali sebagai jasad dengan status narapidana, ahh.. aku tidak bisa diam saja melihat ini"


rivaldi terus terpikir akan nasib pak tohir kenapa saat itu Pak tohir tidak berkata jujur begitu bodohnya harus bekerja sama dengan penjahat mereka hanya psikopat yang mementingkan diri sendiri, setelah beberapa menit berbincang bisma dan cazim datang menghampiri mereka di cafe terlihat rivaldi mendapatkan pesan dari ibunya zoe.


Bisma memberikan amplop itu pada rivaldi namun dia tidak membacanya hanya menyimpannya dalam saku jas, mereka berlima melanjutkan diskusi mengenai kematian pak tohir dan langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya tanpa Ketahuan.


"Rivaldi"

__ADS_1


terdengar seseorang memanggil namanya dari arah pintu luar terlihat komandan gurdiman datang dengan tim empat mereka menghampiri rivaldi yang tengah minum kopi, perasaan rivaldi tidak enak sepertinya dia datang untuk menagih sebuah janji yang pernah mereka sepakati.


"kau tidak lupa bukan komandan rivaldi" ujar gurdiman berdiri tepat disebelah mejanya, rivaldi menatap pria itu hembusan nafasnya berat seperti menahan amarah.


dengan bersikap dewasa rivaldi berjalan keluar dari meja dia melewati yuma yang disamping nya terlihat dia berdiri tepat didepan gurdiman mereka saling menatap satu sama lain, bisma dan anggota lain bingung apa yang akan komandan mereka lakukan dan perjanjian apa yang dibahas


"komandan.. " cazim khawatir


tanpa basa basi rivaldi dengan perlahan turun dan berlutut di hadapan gurdiman bahkan semua anggota polisi lain yang ada disana merasa syok dengan kejadian tersebut bahkan sampai ada yang mengabadikan momen itu, bisma dan ketiga anggota tim satu berdiri mereka tidak terima melihat komandannya dipermalukan didepan semua orang bahkan harus berlutut seperti itu.


bisma marah namun rivaldi dengan tegas menyuruhnya untuk tidak bergerak "ini masalah ku dan gurdiman kalian jangan ikut campur" raut wajah gurdiman begitu bahagia orang yang selama ini selalu di banggakan semua orang akhirnya bertekuk lutut dihadapan nya


"Wahh sungguh pemandangan yang sangat luar biasa, hey apakah ini mimpi detektif songong ini akhirnya mengakui kekalahan dia berlutut didepan ku, cepat foto foto" ujar gurdiman, mengabadikan momen tersebut.


cazim tidak tahan melihat penghinaan itu dia marah dan meraih kerah baju gurdiman, "BERHENTI, saya bilang jangan ikut campur jika kalian berani bergerak satu langkah saja maka saya tidak akan menjadi komandan kalian lagi" ujar rivaldi memberi perintah pada timnya.


"hahaha.. komandan rivaldi sudah berdiri lah aku tidak tega melihat kau seperti itu, berdiri berdiri.. " ujar gurdiman


"tidak pertarungan belum selesai komandan gurdiman", rivaldi mengatakan beberapa kata yang membuat gurdiman tersinggung dan marah, bahkan dia berani bertaruh walaupun harus berlutut beberapa kali dengan tekad dia pasti bisa menangkap pelaku tersebut.


semua anggota tim empat memarahi dan memaki rivaldi namun dia tetap diam tapa mencari pembelaan, "baik saya tunggu" setelah ketegangan itu akhirnya gurdiman pergi bersama rombongan nya.


"bangun komandan" ujar bisma


Rivaldi berdiri dia menatap rekannya yang bersedih mereka begitu menghargai dirinya hingga membuat nya malu telah bersikap lemah dihadapan mereka, tanpa banyak bicara rivaldi pergi meninggalkan cafe dan menyuruh mereka untuk istirahat "pulang lah, kita ketemu lagi besok di kantor"


saat itu waktu menunjukkan pukul 20.00 malam setelah lama tidak pulang akhirnya rivaldi mempunyai waktu untuk melihat adiknya "dia marah gak yah" terlihat rivaldi membeli makanan kesukaan Siska sebagai alat penghibur kalu adiknya mengamuk karena dirinya tidak pernah pulang.


sampai didepan rumah semua baik-baik saja hingga tiba-tiba sebuah teriakan membuat rivaldi cemas dan bergegas masuk kedalam, terlihat ibunya yang sedang ketakutan sambil memanggil nama Siska "mah ada apa"


"Siska.. kamu bisa dengar kaka, Siska sadarlah kamu jangan biarkan arwah itu mengendalikan mu, Siska" rivaldi dan ibunya berdoa mereka membacakan ayat kursi dan surat pendek lainnya.


Siska menjerit kepanasan arwah didalam tubuhnya melemah jiwa Siska terus berusaha mengambil kembali tubuhnya mereka saling beradu, rivaldi yang khawatir akan keselamatan adiknya mencari kesempatan lalu membuang pisau itu dan mendekap tubuh sang adik.


ibu terus membaca Ayat Al-Quran hingga akhirnya arwah itu pergi dan jiwa siska kembali ke dalam dirinya, tubuhnya lemas dia pingsan rivaldi menggendongnya kedalam kamar.


"kakak"


mendengar suara itu membuat rivaldi lega akhirnya Siska tersadar ibu memberikan minum padanya "kamu tidak apa-apa Siska" tanya ibu


"eumm.. " mengangguk memberi jawaban


"istirahat lah" Ujar rivaldi


"ahhh.. Siska lapar"


"kamu lapar, mau mamah buatkan makanan untuk mu"


"tidak usah mah rivaldi beli makanan kesukaan Siska, kita makan bersama gimana mau"


mereka semua duduk bersama di meja makan terlihat Siska begitu senang "Wahh Ketoprak, kesukaan Siska" menikmati ketoprak bersama memberi kehangatan didalam ruangan itu, ibu juga bertanya kesibukan anaknya yang sudah lama tidak pulang "bagaimana pekerjaan mu apa semua baik-baik saja"

__ADS_1


rivaldi hanya diam dia tidak mau berbohong tapi dia juga tidak ingin membuat keluarga nya cemas, "semua tidak baik kasusnya berhenti tapi pelakunya masih di cari, iyakan kak" ujar Siska sepertinya dia membaca pikiran rivaldi saat dipeluk tadi.


kakanya tidak bisa mengelak rivaldi menceritakan semua pada ibu dan adiknya mengenai masalah yang dia alami di kantor, sang ibu terus memberikannya semangat dan dukungan "tetap pegang prinsip mu rivaldi" ujar sang ibu


"iya mah"


"apa susah nya si kalian menangkap pelaku itu padahal dia tidak jauh dari lingkungan kalian" ucapan Siska kembali diluar dugaan rivaldi menjewer telinga adiknya agar tidak bicara sembarangan.


"jangan ngaco emang kamu pikir mudah menangkap pelaku kita itu butuh bukti dan juga saksi untuk menangkap nya"


"ihh.. sakit, ya Siska kan cuma ngasih tahu aja kalau pelaku sebenarnya ada di sekeliling kalian padahal kak rivaldi juga mengenal dia"


rivaldi terdiam apa dugaan nya benar bahwa gurdiman lah yang telah membunuh zoe dan pak tohir "Kamu tahu siapa pelakunya" ujar rivaldi menanyakan


"Tahu, dia seorang TNI ehh bukan dia sudah pensiun berarti mantan TNI "


"hah TNI bukan polisi"


"bukan, kakak mencurigai gurdiman dia tidak pernah terlibat, memang sih dulu dia pernah bertemu zoe untuk menjauhi stefan tapi itu sebatas ancaman. "


"haaahh.. beberapa hari kakak harus pergi kesana kesini mengumpulkan semua bukti untuk mencari pelakunya masih saja belum bisa, kamu ketimbang kesurupan doang bisa tahu orang nya"


"hahaha.. itulah hebatnya Siska"


Akhirnya rivaldi mengetahui pelaku tersebut Siska juga menceritakan kronologi kejadian sesuai dengan telepati yang dia lihat menggunakan mata batinnya, bahkan beberapa hari ini arwah zoe selalu mendatanginya hingga membuat Siska lelah.


"padahal sebelum kematian satpam itu Siska sempat bertemu, tapi dia malah lari ketakutan saat Siska menyuruhnya waspada"


"emang kamu bilang apa"


"kamu akan mati, salah gak si.."


"bagaimana gak lari tiba-tiba orang di ancam mati, sudahlah jangan dipikirkan sekarang kita do'akan semoga arwah pak tohir tenang di alam nya"


Semua mendoakan ketenangan bagi arwah pak tohir namun ternyata arwah nya tidak tenang dia serasa di panggil arwahnya tiba-tiba hadir di sela mereka berdoa, "Aaaahh.. " Siska terkejut karena tiba-tiba wajah pak tohir tepat berada di depannya.


"Siska kenapa" tanya rivaldi dan ibu


darah bercucuran dari kening arwah itu matanya hitam dia terus mendekat kan wajahnya kehadapan Siska arwah pak tohir mencoba merasuki tubuhnya "gak.. aku tidak mau pergi kamu" Siska menolak dia tidak ingin dirasuki oleh arwah yang penuh dendam sudah cukup baginya dimasuki arwah zoe


Rivaldi yang melihat Siska ketakutan mencoba menenangkan nya dia tidak bisa melihat apa yang adiknya lihat namun dia hanya bisa berdo'a, Siska terus berteriak meminta nya pergi namun arwah pak tohir masih tetap disana "tolong... Siska.. tolong saya"


"ahhh.. kenapa si tidak pergi, apa yang pak tohir inginkan siska sudah menjelaskan semuanya pada kak rivaldi sekarang pak tohir hanya tinggal tunggu pelakunya pasti akan tertangkap, sabarlah arwah ko nyusahin sih.. "


siska lelah dengan semua yang terjadi beberapa hari terakhir ini semua arwah seakan terus berebut untuk mendatangi nya mereka ingin seseorang menolongnya agar pelaku sebenarnya tertangkap, tapi siska juga manusia dia mempunyai hidup sendiri jika harus bergulat dengan masalah orang mati bagaimana kehidupan nya.


rivaldi menenangkan siska dia menyuruhnya untuk sabar "siska tolong yah bantu pak tohir kasihan dia" siska manyun wajahnya menunjukkan tidak suka namun karena kakanya yang meminta siska tidak bisa menolak


akhirnya siska melepaskan pertahanan tubuhnya dia menukar kesadaran nya dengan arwah pak tohir "pak tohir, apa yang sebenarnya ingin bapak katakan pada kita" arwah pak tohir hanya menangis dia terus tertunduk menyesali semua perbuatannya.


"detektif... maafkan saya, saya menyesal..maafkan saya.. maafkan saya... "

__ADS_1


mendengar permintaan maaf rivaldi mengerti dan menyuruh pak tohir untuk tidak menyesali sesuatu yang sudah terjadi, dia juga mengatakan bahwa semua akan segera selesai pelaku sebenarnya akan tertangkap dan nama baik pak tohir akan dibersihkan "saya berjanji"


Arwah Pak tohir pergi dari tubuh Siska dia kembali sadar sambil memegang kepalanya yang kesakitan, tidak mudah bagi siska memberikan kesadaran nya dengan mahluk tidak kasat mata karena jika mereka merasuki tubuhnya selalu ada konsekuensi bagi dirinya.


__ADS_2