
"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, hasil otopsinya sudah ada tapi kita tidak bisa keluar karena para wartawan itu" cazim menjelaskan situasi saat ini yang begitu kacau
Semua anggota masih berdiam diri didalam kantor sudah hampir dua jam para wartawan itu menunggu diluar sana, rivaldi merasa bahwa mereka tidak bisa terus duduk dan menunggu para wartawan itu pergi. Siska dengan sangat bosan dia terus mundar mandir seperti setrikaan kakak nya tidak mengijinkan untuk pulang.
"tunggu dulu, mau kemana kamu"
"ayolah kak aku itu sibuk gak bisa kalau harus terus menunggu disini, aku pulang yah" Siska merayu rivaldi untuk membiarkan dia pulang
"masalah nya ada hal yang harus kamu liat" rivaldi menatap adiknya memberi suatu isyarat, melihat kedua saudara itu saling ber telepati semua anggota hanya bisa diam.
Menyerah dengan permintaan sang kakak Siska kembali duduk dan mencoba mencari kesibukan, dia melihat beberapa foto TKP dalam kasus penculikan itu semua bukti terlihat janggal bagi Siska.
Deg....heg,
Tubuh Siska merasakan getaran hebat sebuah ingatan masuk di dalam kepalanya rivaldi yang melihat itu segera menghampiri adiknya "Siska kamu tidak apa-apa" tidak ada jawaban tubuh siska seperti sedang kerasukan seluruh badannya tegang.
Para anggota team satu merasa ketakutan dengan peruhan yang terjadi pada Siska mereka panik namun rivaldi meminta mereka untuk tenang " bagaimana bisa tenang komandan adik mu, dia kenapa " ujar yuma
"inilah sebabnya aku tidak pernah memperkenalkan Siska pada dunia luar"
"hah maksudnya"
Semua anggota kebingungan mereka melihat Siska dengan tatapan yang takut sementara rivaldi terus memegang tubuh Siska yang meregang seperti kesakitan, Tragedi sebelum kejadian penculikan anak laki-laki usia 9/10 tahun muncul, dalam penglihatan Siska.
Seorang anak bernama daffa pulang ke rumah dari sekolah nya dia bertemu dengan tetangga nya yang bernama bu tati, orang tua daffa sedang melakukan pekerjaan keluar kota.
Daffa hanya tinggal berdua bersama ibunya namun hubungan dia bersama ayah cukup baik, "daffa Bibi kepasar dulu yah" tadi pagi bu tati mendapatkan amanat dari ibunya daffa untuk menjaganya.
"iya bi"
__ADS_1
bi tati pergi kepasar meninggal daffa dirumah sendiri makan siang sudah disiapkan bu tati, sebelum belajar daffa mandi terlebih dahulu. tepat pukul 03.00 daffa mulai membuka buku sekolah untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, dan tepat pukul 03.24 menit suara pintu terdengar diketuk
tok.. tok.. tok..
"bi apa kamu sudah pulang, kenapa tidak langsung buka saja kan bibi punya kuncinya"
daffa membuka pintu namun tidak ada siapun disana, meresa ada yang aneh daffa kembali masuk dan mengunci pintu kembali.
tepat pukul 03.35 menit tiba-tiba ada suara ketukan di jendela hal itu sontak membuat daffa terkejut dia mengecek tapi tidak ada apa-apa, tepat pukul 03.40 pintu kamar nya terbuka dengan sendiri daffa yang merasa ada hal aneh mulai ketakutan, dia bersiap untuk kabur namun disaat akan keluar kamar seseorang datang dengan pakaian serba hitam.
pria tersebut masuk sambil menyuruh daffa untuk tenang dan tidak usah takut padanya tapi daffa semakin takut, pria itu menunjukkan beberapa barang mewah yang dipegangnya seperti uang dan perhiasan.
"hey nak kamu mau ini"
*daffa berjalan mundur hingga mentok di meja belajar nya, pria itu terus Mengiming-iming daffa barang mewah itu tapi daffa menolak dan balik bertanya. "siapa kamu"
ucapan pria itu membuat daffa semakin bingung, dia mencoba kabur dan melawan namun pria itu memegang tangan daffa dan menyuruh dia memilih anatar dua pilihan itu, "aku gak mau.. lepasin"
Tolong.....
daffa berteriak meminta bantuan namun tidak ada seorang pun yang datang pria itu menyeret daffa untuk ikut bersama nya.
"tidak.. lepas, tolong... "
daffa mencoba melawan nya namun pria itu kuat dia mendorong daffa hingga dia terbentur di ujung tembok, kepalanya sedikit berdarah "aisss.. ni bocah bandel banget" pria itu akan menggendong daffa yang setengah sadar itu
crubbb...
sebuah alat tulis menancap pada leher pria itu daffa menyuntikkan pensil di lehernya tapi pria itu malah membalas nya balik dengan pukulan kuat tepat di wajah daffa hingga darahnya bercucuran, beberapa darah menyiprat lantai dan buku tugasnya daffa.
__ADS_1
"Menyusahkan saja"
Disaat dia menggendong anak itu sebuah liontin dari kalungnya terjatuh dan terpental kedalam bawah kasur, pria itu membereskan beberapa barang agar tidak ada bukti. tanpa diketahui sebuah pensil yang tadi menusuk lehernya masih dipegang daffa, pensil itu terjatuh tanpa dia ketahui.
Heugg.. ahh.. hahh..
Siska tersadar nafasnya terasa berat keringat bercucuran di sekitar wajah tubuhnya lemas dia bersandar dipangkuan rivaldi, sang kakak dengan tenang mengusap Kepala adik nya dia mencoba menengkan Siska.
cazim segere ngambil air minum dan memberikan nya pada rivaldi "minum dulu" semua anggota sekarang mulai tenang karena Siska telah siuman, "Siska sampeyan baik" ujar ja'far
dia hanya mengedipkan matanya untuk menjawab untuk menunggu Siska siuman rivaldi menyalakan perekam, "jadi apa yang kamu liat" pertanyaan rivaldi membuat semua anggota heran
"apa maksudnya komandan" ujar cazim
rivaldi hanya mengisyaratkan mereka untuk tidak bertanya terlebih dahulu "jadi kamu melihat apa" tanya rivaldi pada adiknya. Siska menatap kakaknya dan semua rekannya, "aku melihat kejadian sebelum penculikan itu, dan aku tau keberadaan nya sekarang"
Para anggota semakin bingung dengan penjelasan Siska namun tidak ada yang berani bertanya karena rivaldi sudah menyuruh mereka untuk diam dan mendengarkan, "dia membawa daffa dan anak-anak yang lain menuju sebuah hutan di Yogyakarta tepatnya gunung kidul"
Hal itu membuat semua terkejut pasalnya hutan itu adalah hutan yang penuh dengan misteri mistis sampai saat ini banyak sekali kejadian aneh yang selalu terjadi disana, dan tempat itu selalu dijadikan tempat syuting film horor.
"dari mana kamu tau" ujar cazim bertanya
"aku melihat nya sendiri" Siska paling tidak suka jika ada yang bertanya seperti itu padanya karena itu seperti dia dianggap aneh oleh orang lain, dia menatap cazim dengan marah.
rivaldi yang tau akan situasi itu mencoba mengajak team nya berkumpul di tempat lain dia menjelaskan kepada mereka tenang Siska. "komandan apa yang dikatakan adikmu itu, kalau dia mau bercanda boleh tapi kalau mengenai hal ini.. ini bukan bahan untuk candaan" cazim menjelaskan
"iya, iya saya tau tapi coba kamu tenang dan dengar dulu"
rivaldi menjelaskan kepada team nya mengenai Siska hingga mereka semua paham tapi masih ada ke ganjalan dihati mereka apakah hal seperti itu ada dan apakah itu bisa dipercaya!.
__ADS_1