
Seorang petugas datang ke kediaman pak jazakli mereka mengetuk pintu rumah besar itu, saat pintu terbuka dengan sigap petugas langsung masuk dan menyergap mencari keberadaan pak jazakli, semua keluarga khwatir apalagi istrinya yang terus berteriak "Apa ini, siapa kalian"
"tangkap dia" ujar Bisma
kedua petugas itu langsung menangkap tersangka terlihat dia begitu ketakutan begitu pun dengan anggota keluarga nya yang terus teriak meminta penjelasan, Bisma hanya menjelaskan singkat bahwa pak jazakli harus dibawa karena kasus pembunuhan berencana yang dia lakukan pada zoe dan Pak tohir.
istrinya berteriak meminta melepaskan suaminya dia bahkan mengutuk para petugas itu, "kalian akan dipecat karena menuduh seorang letnan" ujar sang istri yang tidak terima suami nya di tangkap, namun Bisma dan para rekan yang lain tidak takut dan terus menyeret pak jazakli keluar.
"tolong ibu jangan menghalangi, kita harus segera membawa pak jazakli kekantor" ujar Yuma menenangkan istri pak zakli, terlihat dia marah tangannya terus memukuli Yuma dan Ja'far yang sedang menyeret keluar suaminya.
pak jazakli terus berontak dia mencoba mencari alasan agar bisa kabur terlihat keringat dingin bercucuran di wajahnya, petugas itu terus menyeret nya bahkan mereka sampai mengangkat tubuh pak zakli.
"mas.. mas, pak tolong pak jangan bawa suami saya dia tidak bersalah, mas"
istri pak jazakli menangis dan jatuh lemas Bisma menyuruh pembantu itu menenangkan majikannya serta dia juga menelpon rumah sakit untuk mengirim dokter ke kediaman pak jazakli, akhirnya setelah susah payah Yuma dan Ja'far bisa memasukan pak jazakli kedalam mobil "maaf saya harus memborgol tangan bapak" ujar Yuma
Dikantor terlihat rivaldi dan cazim yang sudah menunggu kedatangan tersangka mereka duduk di ruang interogasi, Bisma mengetuk dia masuk dengan menyeret pak jazakli kedalam. "selamat datang pak letnan" ujar rivaldi
rivaldi sudah mengenal letnan jazakli sejak dulu saat kasus korupsi nya rivaldi sendiri lah yang menggerebek kediamannya dan membawanya ke kantor, dan sekarang semua seperti terulang kembali bedanya hari ini dia sendiri yang akan menginterograsi beliau.
Pak jazakli duduk didepan mereka tangannya ter borgol mengingatkan kembali kejadian beberapa tahun lalu, "pak letnan kita ketemu lagi tapi kenapa selalu dalam situasi seperti ini, apa kau begitu merindukan jeruji besi sehingga tidak pernah kapok" ujar rivaldi
proses interogasi berjalan dengan baik karena semua bukti sudah sangat kuat membuat nya tidak bisa mengelak, bahkan sesuatu yang sudah dia tutupi rapat akan ada kecacatan walaupun sedikit.
penyerangan yang dia lakukan pada pak tohir di penjara mungkin tidak memiliki bukti rekaman cctv tapi ada bukti lain yang mereka temukan, yaitu baju yang dia pakai saat penyerangan.
bodohnya pak jazakli tidak membakar baju itu dia hanya membungkus dan membuangnya dipinggir sungai dekat peti yang mereka temukan, dalam bajunya mereka menemukan sidik jari pak tohir dan juga noda darahnya.
"pak letnan seperti nya kau lupa bahwa tekhnologi sekarang sudah berkembang kita bisa tau lokasi yang kau temui dengan jaringan dalam ponselmu, kau membawa ponsel itu ketika penyerangan sungguh kesalahan terbesar mu"
rivaldi memprovokasi nya namun Pak jazakli hanya diam dan menatap detektif itu dengan tajam, tidak sulit untuk pak jazakli mengakui semua perbuatan nya dia bahkan mengikuti proses dengan lancar.
Yuma membawa pak jazakli pergi dari ruangan mereka telah menyelesaikan tahap awal selanjutnya tinggal menunggu keputusan hakim dipengadilan, semua sudah mereka lakukan untuk penangkapan sang pelaku hingga barang yang bisa mereka jadikan bukti kuat dalam pengadilan.
"rivaldi kau sudah melakukan kesalahan mungkin sekarang kau bahagia tapi tunggu saja, pembalasan orang-orang seperti mereka tidak pernah ringan, siapkan dirimu" ujar pak jazakli
dia mengancam rivaldi yang sudah mengganggu ketenangan orang penting seperti dirinya, rivaldi berani mengambil suara diatas kekuasaan mereka. mungkin kebanyakan bawahan akan tunduk pada atasan yang pangkat nya lebih tinggi dari dirinya, tapi bagi rivaldi siapa yang buat salah kecil atau besar, tua atau muda, raja atau budak semua harus ada balasannya.
"Setiap tindakan selalu ada konsekuensinya dan aku tidak takut untuk itu, kau mau menjatuhkan ku? jatuhkan saja, sedalam apa kau bisa membuat ku jatuh. " ujar rivaldi
Tidak salah bagi mereka mengabdikan diri dalam tim satu mempunyai komandan yang memiliki prinsip tinggi mungkin sulit tapi itu lebih keren dari pada harus hidup sederhana, cazim tersenyum disebelah rivaldi begitupun Bisma dia bangga memanggilnya komandan.
20 hari berlalu Keputusan mengenai persidangan telah ditentukan Pak jazakli akan mendapatkan beberapa kali proses sidang, karena dirinya yang sudah mengakui secara langsung atas semua tindakan nya mungkin itu akan memudahkan proses pengadilan.
Bukti, saksi, dan beberapa hal lain yang diperlukan dalam sidang sudah didapatkan semua hanya menunggu keputusan hakim untuk menentukan pidana baginya, "aku siap berjuang untuk pengadilan ini jadi do'akan semoga semuanya berjalan baik" ujar putri pada rivaldi
"aku tahu kamu pasti bisa" ujar rivaldi memberikan dukungan pada putri, keduanya terlihat saling suport setelah sekian lama mereka tidak bertemu.
Saat berbincang diluar gedung pengadilan shabira dan Ratih datang bersama dengan bu feni orang tuanya zoe terlihat juga istri dan anak dari pak tohir, semua hadir untuk menyaksikan pengadilan berlangsung harapan dari semua keluarga adalah hukum yang adil, seadil-adilnya.
__ADS_1
shabira melihat rivaldi yang sedang berbincang dengan seorang wanita cantik raut wajahnya sedikit menunjukkan kecemburuan Ratih yang tahu akan itu langsung menyolek pinggangnya, "eitss.. cemburu ya.. " menggoda temannya
"apaan si engak"
mereka menghampiri rivaldi dan wanita itu ibu feni memberikan ucapan terima kasih pada rivaldi dia terus membanggakan detektif itu, Ratih yang tahu akan temannya yang sedang kepanasan mencoba bertanya "rivaldi dia siapa"
"oh.. kenalin dia putri yang akan menjadi Jaksa dalam pengadilan hari ini, dia akan membantu ibu dan keluarga pak tohir dalam persidangan" ujar rivaldi memperkenalkan
putri memberi salam pada semuanya kesopanan nya membuat mereka kagum apalagi dirinya masih sangat muda dan cantik, bahkan rivaldi memuji kehebatan putri didepan semua orang dia melakukan semua itu tanpa memikirkan perasaan shabira yang ada dihadapan nya.
"aihh polos banget tu orang kagak tau yah disini ada yang kebakar" ujar Ratih dalam hati, dia terus mengisyaratkan memerintahkan rivaldi untuk diam.
Namun rivaldi tidak berhenti dia seperti sengaja melakukan semua itu, putri yang terus dipuji menunjukkan rasa malu pipinya merah karena rivaldi, dia bahkan menepuk tangan rivaldi untuk membuatnya berhenti.
"apa, emang bener kan kamu itu putri sikembang desanya sekolah" ujar rivaldi, dia tersenyum sambil menggoda putri
"apaan si rivaldi, udah yah. Pak Detektif"
"iya siap bu" memberi hormat
melihat mereka berdua yang bercanda membuat semua orang yang melihat tersenyum lucu "kalian ini pacaran yah, haha.. detektif" ujar ibu feni, mendengar pertanyaan itu membuat rivaldi dan putri terkejut
"ahh tidak bu dia memang suka begitu, mungkin terlalu kagum karena kehebatan ku jadi suka berlebihan" ujar putri
"oh yah bukan kah kamu yang kagum pada ku, udah bilang aja lo suka sama gue kan"
"tuhkan kalian cocok banget" ujar ibu feni
"hahahaha... " mereka berdua tertawa bersama sambil melirik satu sama lain, sementara Ratih terus merasa jengkel pada kelakuan rivaldi
shabira dari tadi hanya diam dia melihat semuanya dengan wajah datar, mungkin diluar dia tidak menunjukkan kesedihan tapi hatinya terus terbakar melihat kekasih, bukan tapi orang yang masih dia cintai dekat dengan orang lain.
"sudah lah gak ada habisnya ngomong sama kamu, ayo bu kita masuk" ajak putri pada ibu feni, mereka berdua masuk ke ruang pengadilan. Ratih yang sedari tadi menahan kekesalannya melupkan itu saat mereka pergi
"Aaaa.. sakit, kenapa si lo"
rivaldi teriak kesakitan ketika Ratih menginjak kakinya dengan keras bahkan dia memukul tubuhnya hingga membuat nya marah, "harusnya gue yang marah, dasar bego" Ratih pergi masuk kedalam menyusul mereka
"lah kenapa si tu anak" ujar rivaldi
shabira yang sedari tadi diam saja dia tidak berani menatap rivaldi karena sakit yang dirasakan, berjalan masuk ke ruang pengadilan namun tangannya tertahan. rivaldi memegang nya terjadi kontak mata diantara keduanya, "ikut aku"
rivaldi pergi membawa shabira menuju tempat lain dia menyuruh shabira memasuki mobil miliknya namun dia tidak mau dan berusaha pergi, "please, masuk" tatapan matanya membuat shabira gemetar dia tidak lagi menolak, shabira masuk kedalam mobil rivaldi.
di mobil mereka hanya duduk diam keheningan itu membuat shabira berpikir yang aneh-aneh, dia juga terus memikirkan kedekatan rivaldi dengan Jaksa itu. "sebenarnya apa yang ingin... " pertanyaan shabira terhenti ketika dia melihat rivaldi yang menangis disamping nya.
"bisa tidak kamu tetap diam disini sebentar?,.. " ujar rivaldi yang menatap kosong kedepan namun kedua matanya meneteskan air mata,
melihat dia yang tadi tertawa senang lalu berubah menjadi sedih penuh air mata membuat shabira tidak mengerti dengan perasaan nya, namun shabira bisa merasakan betapa beratnya air mata itu keluar, seperti banyak penderitaan yang sudah dia tahan selama ini.
__ADS_1
bingung harus melakukan apa, tangan shabira meraih tangan rivaldi menggenggam nya dalam kehangatan, dia mengusap punggung tangan itu " tidak apa menangis lah, aku disini" ujar shabira, kedua mata saling bertemu, menatap hangat satu sama lain.
setelah cukup baginya menangis rivaldi membereskan wajahnya yang berantakan karena air mata, shabira memberikan saputangan. "terimakasih, oh iya aku juga bawa" rivaldi menunjukkan saputangan pemberian shabira untuk nya dahulu, shabira senang karena ternyata rivaldi masih menyimpan barang pemberian nya.
DRRRR..... DRRR...
ponsel milik shabira berbunyi terlihat panggilan dari rumah sakit, "hallo" saat mendapatkan telpon tersebut wajah shabira penuh kepanikan, "baik saya akan kerumah sakit sekarang juga" ujar shabira
"ada apa" rivaldi khawatir melihat shabira yang begitu panik, dia tidak menjelaskan detail tapi sekarang dia harus pergi kerumah sakit. melihat kepanikan nya rivaldi tahu pasti itu situasi yang genting, "aku antar" dia menyalahkan mobil lalu mereka pergi menuju rumah sakit.
****
Ketika mobil berhenti didepan rumah sakit dengan cepat shabira masuk kedalam terlihat perawat yang membawakan jas putih nya, memakai lalu masuk kedalam ruangan 025 tertulis "Mawar lindasari".
Rivaldi menunggu di lorong ruangan terlihat cukup cemas, dia terus mundar-mandir lalu duduk kembali. sesekali mengintip lewat kaca pintu terlihat shabira yang sedang melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru) pada pasien, berusaha sekuat tenaga akhirnya terdengar suara dalam Elektrokardiogram terlihat jantung nya kembali berdetak.
shabira menghembuskan nafas lega dia meminta perawat untuk mengurus yang lainnya, "cari saya jika ada perubahan pada kondisi pasien" ujar shabira, dia keluar menghampiri rivaldi yang sedang menunggu nya.
"bagaimana keadaannya"
"Eumm.. semua nya baik-baik saja" terlihat keringat diatas dahinya, rivaldi memberikan saputangan miliknya pada shabira. mereka tertawa "kita seperti sedang tukeran saputangan" ujar shabira.
mereka berdua pergi ke kantin rumah sakit terlihat rivaldi memesan makanan, "terimakasih" keduanya melakukan pembicaraan ringan, penasaran rivaldi bertanya mengenai pasien yang tadi shabira tangani.
"dia Mawar, anak dari Pak Bayu dan ibu Aulia. Dulu mawar mengalami kecelakaan tabrak lari saat dia pulang dari sekolah nya, tubuhnya mati namun otak nya dipaksa hidup"
shabira menceritakan bagaimana perjuangan kedua orang tua mawar untuk anaknya selama dua tahun mawar mengalami koma, sel dalam otaknya hampir putus. seharusnya dia sudah mati namun mawar bisa bertahan sampai saat ini itu dengan bantuan alat medis.
Untuk semua perawatan itu tidak murah mereka harus mengeluarkan biaya yang sangat mahal, namun orang tua mawar terus berusaha mencari uang untuk membayar rumah sakit. mereka menitipkan anaknya pada shabira orang tua mawar juga berpesan tidak akan menyerah sebelum pelaku yang menabrak anaknya tertangkap.
"itulah alasan kenapa aku begitu cemas ketika perawat mengatakan jantung nya berhenti, ahh aku gak bisa bayangan gimana sedihnya mereka" ujar shabira
"sudah jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, sekarang dia sudah baik-baik saja bukan" rivaldi menenangkan, namun dia penasaran dengan pesan orang tua mawar pada shabira.
"kamu bilang orang tua mawar belum menemukan pelaku tabrak lari itu, bagaimana mungkin itu sudah terjadi sangat lama. Apakah dia tidak melaporkan hal tersebut? "
shabira menjelaskan bahwa kedua orang tua mawar sudah melaporkan hal tersebut pada pihak berwajib namun sampai sekarang mereka belum menemukan hasilnya, "aku sempat menyuruh mereka untuk melaporkan hal itu ke tempat kantor mu, tapi katanya laporan sudah kadaluwarsa"
"aku tidak pernah mendapatkan laporan atas nama mawar, mungkin aku lupa. nanti aku cek setelah di kantor" ujar rivaldi
"iya, tolong rivaldi bantu mereka"
rivaldi akan berusaha membantu, dia juga sempat memikirkan tim siapa yang ditugaskan untuk kasus mawar ini, karena dua tahun yang lalu dirinya belum bergabung di kantor cabang A.
Mereka bercerita kembali namun ditengah perbincangan rivaldi seperti melihat adiknya yang datang dari arah pintu masuk, semakin dekat wanita itu berjalan semakin jelas siapa dia. "Siska" ujar rivaldi
adiknya Siska berada di sana dia tersenyum ceria ketika melihat kakaknya juga ada disana, Siska sedikit berlari menuju rivaldi namun langkah nya terhenti ketika dia melihat wanita di samping nya. "Siapa kamu" ujar Siska
"Siapa yang kamu maksud Siska" rivaldi bertanya, pandangan Siska menatap kearah shabira namun tangan nya menunjuk kearah belakang. Dia menatap tajam hingga membuat shabira ketakutan, "Siska kamu liat siapa" ujar rivaldi
__ADS_1