Fatrher'S Will

Fatrher'S Will
BAB 12 : Pemulihan


__ADS_3

Siska berlari di lorong rumah sakit dengan rasa cemas dia terus berlari hingga sampai di ruang rawat, dengan nafas yang berat Siska mencoba tenang dia mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan.


terlihat seseorang berbaring didalam linangan air di matanya Siska rasa sedih begitu terlihat diwajah nya, Siska berjalan perlahan kemudian memeluk pasien itu dengan erat "sudah kakak gak apa-apa" mengelus kepala Siska mencoba menenangkan nya.


"eumm.. Hicks.. Hicks.. "


"hahhaa.. kenapa itu bibir nya manyun gitu eumm.. " mencubit hidung Siska gemas, rivaldi menatap adiknya penuh dengan kasih sayang.


"ahh sakit, ihh lagian kaka kenapa si harus terluka kaya gini"


"emang siapa yang mau terluka, namanya juga musibah kan gak ada yang tau" terus mengelus rambut Siska yang memeluk dia dari samping nya.


"kan Siska sudah bilang jangan pergi tapi kakak masih tidak mau dengar, jadinya begini kan"


"Siska kaka itu seorang polisi juga komandan jadi sudah kewajiban untuk menyelamatkan rekan yang dalam kesulitan, sudah yah jangan nangis lagi. lihat kakak baik baik saja sekarang, senyum dong biar kaka cepat sembuh"


"eumm... " memalingkan wajah nya


"ko gitu senyum dong mana senyum manisnya.. " merayu adiknya yang merajuk, Siska luluh akan rayuan kakanya itu dia tersenyum lalu mencium pipi kakak nya.


kiss..eummmahh...


Mereka berdua saling menunjukkan rasa sayang sebagai sodara ditengah percakapan dokter datang dia ingin memeriksa keadaan rivaldi, dokter itu adalah Ratih sahabat shabira dia mengecek detak jantung dan suhu tubuh rivaldi serta mengganti perban di lukanya.


setelah pemeriksaan Ratih menyuruh rivaldi untuk tetap dirumah sakit selama tiga hari dia juga harus istirahat tidak diperbolehkan melakukan aktivasi berat selama satu minggu sebelum lukanya benar-benar kering, di kala menanyakan Ratih sempat curi curi pandang melihat Siska yang tengah asik makan buah di atas sopa


rivaldi yang tau akan pikiran Ratih langsung memanggil Siska untuk mendekat, "kenalin dia Siska adik gue" disaat itu Ratih terkejut dengan apa yang dikatakan rivaldi karena yang dia tau selama ini rivaldi hanya anak tunggal dia tidak punya saudara apalagi adik.


"Siska sapa kak Ratih"


"a.. ah hallo aku Siska asmira Nurdiansyah panggil aja Siska" memberi salam perkenalan


"Ratih"


"bentar kayanya kita pernah ketemu deh... eumm oh saat di toko baju kalau gak salah kaka yang menarik tangan wanita itu, eum iya mantan kak rivaldi"


"Shutt.. Siska"


"apa emang bener kan mantan"


"rivaldi aku perlu bicara dengan mu.. berdua" Ratih menatap Siska mengisyaratkan untuk pergi "berdua, bisa" ujarnya dipertegas


rivaldi tau akan maksud itu dia menyuruh Siska untuk keluar sebentar walau sempat menolak tapi akhirnya Siska keluar dan membiarkan Ratih berbicara dengan kakaknya, Ratih menanyakan tentang Siska karena selama yang dia tau rivaldi tidak punya sodara.


"lo jangan bohong siapa wanita itu"


"ngapain gue bohong dia Siska adik gue, kenapa masih gak percaya... nih" rivaldi menunjukkan beberapa foto dirinya dengan Siska terlihat siska waktu bayi rivaldi menggendongnya dan juga ada beberapa foto bersama keluarga, dalam foto itu terlihat mereka begitu harmoni dan romantis.


"tapi bagaimana bisa, selama ini lo gak pernah bicara tentang adik lo sama sekali.. padahal kita itu sudah kenal hampir 15 tahun tapi gue baru tau sekarang bahwa lo punya adik, kenapa?"


"apa yang kenapa, aneh lo"


"itu adik lo"


"gue gak bisa jelasin secara jelas tapi yang pasti dia emang adik gue selama ini dia tinggal di Yogyakarta terus sekolah ke Amerika sampai kuliah dan baru datang kejakarta beberapa bulan lalu jadi gak ada yang tau bahwa gue punya adik"


"what.. ahhh sumpah gue gak habis pikir kenapa bisa tidak ketahuan bahwa lo punya adik, tapi bukan hanya itu yang mau gue tanyakan"


"apa.. mengenai shabira, iya seperti yang lo tau gue membatalkan pernikahan dan lari seperti seorang pengecut"

__ADS_1


"rivaldi gue tau lo.. lo pasti tidak akan pernah menyakiti shabira karena lo mencintai nya, pasti ada alasan lain sampai lo harus melakukan itu"


"tapi nyatanya gue sakitin dia kan, sudah lah Ratih gue tau lo teman lama gue tapi rivaldi yang dulu berbeda dengan yang sekarang"


"apa yang beda"


"keadaan"


"hah.. apa maksudnya"


"sudah lah jangan dibahas lagi, sudah gue mau tidur"


"tunggu dulu lo harus jelaskan semuanya, rivaldi"


"dokter saya mau istirahat untuk Wawancara nya bisa kita lanjutkan lain kali oke"


"tapi tunggu gue belum selesai ngomong"


rivaldi memalingkan pandangan dia berbalik dan tidur mengabaikan Ratih yang masih mengoceh disamping nya, Siska yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka diluar segera masuk dan menyuruh Ratih pergi


dia mendorong Ratih hingga keluar lalu menutup pintu " sudah ya dokter, terimakasih atas perawatan nya" menutup pintu didepan wajah Ratih "aihh gak sopan banget si" Ratih marah-marah hingga jadi sorotan pasien lain


Sekarang Ratih sedikit tahu kenapa rivaldi meninggalkan shabira seperti nya memang ada masalah yang terjadi hingga rivaldi melakukan semua itu, Siska duduk disamping kakaknya terus memandangi punggung rivaldi, disisi lain ternyata rivaldi masih terbangun namun dia tidak membalikkan badan walaupun tau adiknya sedang menatap nya.


Tetesan air mata mengalir di pipinya luka dihati rivaldi terbuka kembali dikala Ratih mengungkit tentang shabira, dia tau rasa sakit yang dirasakan shabira karena dia sendiri pun merasakan nya tapi rivaldi harus tetap menahan sakit itu demi wasiat ayah, ibu dan juga Siska.


***


beberapa hari berlalu hari ini rivaldi pulang dari rumah sakit selama melakukan rawat inap tidak pernah sekali pun shabira datang dan menjenguk nya, rivaldi sangat tau kalau shabira marah padanya dan tidak ingin melihat wajahnya tapi harapan akan kehadirannya terus mengganggu pikiran nya.


diruang dokter terlihat shabira yang duduk dengan perasaan cemas dia terus menggigit kukunya, Ratih yang tau apa yang dipikirkan sahabat nya itu menegurnya dan menyuruh dia untuk pergi "sudah lah temuin aja nanti nyesel lo kalau dia sudah pergi"


"alah jangan banyak alasan gue tau lo suka diam diam ngintipin dia di kamar nya lagian apa salahnya si datang kan lo dokter yah anggap aja perpisahan dokter dan pasien"


"tapi diakan pasien lu bukan gue"


"lagian lo sendiri yang minta tuker waktu itu bukan salah gue, yaudah sekarang lo ikut sama gue"


"kemana"


"menyambut kepulangan pasien ayo, ayo buruan"


"tapikan gak ada hubungannya"


"ada kan pasien lo bisma sekarang juga pulang jadi sekalian, ayo buruan nanti mereka keburu pergi"


Ratih menarik shabira mereka berdua pergi menuju kamar rivaldi terlihat di sana beberapa detektif lain datang bisma pun hadir disana, shabira masih terus menolak untuk masuk dia takut untuk ketemu namun Ratih terus bicara kalau semua akan baik baik saja.


keributan dua dokter itu terdengar yuma "dokter ada yang bisa dibantu" karena ketahuan mereka berdua berubah sikap merapikan pakaian lalu masuk keruangan, shabira yang tidak mau pun terpaksa masuk karena rivaldi telah melihat kedatangan nya.


"bagaimana keadaan kamu rivaldi, hari ini kamu pulang yah" ujar nya pura-pura


"iya dokter terimakasih atas perawatan selama beberapa hari ini"


"iya tidak masalah lagipula sudah menjadi kewajiban saya mengobati orang terluka"


shabira masih terdiam di berdiri dibelakang Ratih dia terus mencuri pandang untuk rivaldi begitu pun sebaliknya tidak ada diantara keduanya yang berani memulai pembicaraan, keheningan terjadi beberapa detik di sana sampai Siska masuk dan menjadi pusat kehangatan diruangan itu.


Siska telah menebus obat di sana dia melihat shabira yang tengah menunduk kebawah tanpa menatap nya, merasa tidak asing Siska mencoba menyapanya "eh mantan kak rivaldi, hallo, apa kamu masih ingat sama aku"

__ADS_1


rivaldi yang mendengar Ucapan Siska mencoba menegurnya tapi itu tidak membuat shabira kabur dia menjawab pertanyaan Siska hingga berkenalan satu sama lain, "hallo aku dokter shabira, siapa namamu"


"aku Siska asmira Nurdiansyah panggil aku Siska"


"Nurdiansyah... " nama marga sama dengan rivaldi


"dia adik aku" ujar rivaldi menjelaskan pada shabira, saat itu dia terkejut dengan apa yang didengar nya tapi saat melihat semua orang mengangguk mengiyakan perkataan rivaldi baru dia bisa percaya.


selama hampir 7 tahun pacaran shabira baru mengetahui bahwa selama ini rivaldi punya adik bahkan dia begitu cantik dan manis, tidak ada pembicaraan yang lebih antara shabira dan rivaldi namun mereka sudah mengobati rasa rindu satu sama lain.


rivaldi masuk menaiki mobil terlihat yuma yang menjadi supir Siska duduk dibelakang bersama sang kakak sementara jafar dan bisma di mobil yang lain, cazim rekan mereka satu lagi belum bisa pulang karena luka yang dia dapat cukup parah hingga hampir merenggut nyawanya.


tapi sekarang dia baik-baik saja berkat kerja keras dokter dan doa semua temannya, didalam mobil Siska sedang asik ngobrol bersama rivaldi dan yuma namun dia tiba-tiba teringat dengan penglihatan masa lalunya cazim.


"kak.. apa kau tau tentang masa lalu kak cazim"


"engak emang kenapa"


"kalau kak yuma"


"gak terlalu tau tapi katanya orang tua cazim sudah tidak ada sejak kecil dia sudah tinggal bersama neneknya, emang kenapa"


mereka berdua penasaran dengan apa yang dimaksud Siska, sempat ragu tapi akhirnya Siska membicarakan semua yang dia ketahui "beberapa hari lalu saat kita di gunung kidul aku tidak sengaja melihat masa lalu kak cazim"


rivaldi menatap adiknya begitu pun yuma dia melihat Siska melalui kaca depan, rasa penasaran semakin menyelimuti mereka. dalam penglihatan Siska dia melihat beberapa tragedi pertama sebuah kebakaran besar yang terjadi kedua anak kecil yang mengambang di dalam kolam.


penglihatannya tidak begitu jelas tapi Siska bisa memahami nya dengan baik, beberapa tahun lalu disaat kak cazim masih berumur 10 tahun dia mempunyai keluarga yang lengkap ayah, ibu dan adik perempuan namun semua keharmonisan itu hilang disaat Sista adik perempuan cazim meninggal.


disaat sedang main bersama cazim meninggalkan adiknya sendirian di belakang rumah dia pergi karena ibunya menyuruh dia melihat sebuah paket yang datang, beberapa menit ditinggal Sista masih bermain dengan tenang namun tanpa diketahui ternyata pintu ruangan terbuka Sista merangkak keluar dan dia mempercepat langkahnya disaat melihat air didepan nya.


sista mengayunkan tangannya dia begitu senang bermain dengan air namun karena masih kecil sista terus maju lalu terpeleset dan jatuh kedalam kolam, sista terus berusaha terlihat dia ketakutan dan mencoba teriak namun karena masih bayi dia tidak bisa apa-apa sampai tidak butuh lama nyawanya hilang.


setelah membantu ibunya cazim kembali ke ruangan namun dia terkejut karena adiknya tidak ada, cazim memangil ibu nya dan memberitahukan segalanya sang ibu panik langsung mencari sista disaat mencari ibu melihat pintu luar terbuka dengan segera dia lari dan melihat


begitu terkejut nya dia saat tau anaknya yang sudah mengambang tidak bernyawa diatas kolam.


"SISTAAAA..... " ujar ibunya turun ke dalam kolam mengambil anaknya yang sudah meninggal.


"jadi dulu cazim mempunyai seorang adik perempuan dan dia meninggal diusia balita"


"iya, tidak heran si kenapa sikapnya seperti itu saat melihat ku" ujar Siska


"apa maksud kamu Siska" rivaldi menanyakan apa yang dimaksud adiknya itu


"Iya gitu, saat aku mengobati luka kak cazim waktu itu dia mengelus Kepala ku dengan perhatian yang berbeda seperti yang selalu kaka lakukan padaku.. dan aku juga melihat kenapa dia tidak menghampiri kita ketika badut itu datang dan malah melawan nya sendiri"


"dia takut kalau badut itu melukai kamu karena kamu mengingatkan dirinya pada sista adiknya"


"iya"


Yuma sekarang sedikit paham kenapa cazim begitu beda saat melihat sista pandangannya berubah seperti selalu ingin melindungi nya, mereka empati dengan semua yang terjadi pada cazim di masa lalu walaupun itu emang kelalaian tapi tidak semua itu kesalahan nya kerena dulu dia hanya anak kecil yang tidak bisa apa-apa.


"terus apalagi.. tentang kebakaran itu apa maksudnya" ujar rivaldi menanyakan namun Siska hanya terdiam dia merasa bahwa ada yang aneh dengan tragedi kebakaran itu, Siska sedikit ragu untuk menceritakan nya


"a.. aku akan cerita tapi sepertinya semua tim satu harus tau" meminta persetujuan kakanya


"oke, lusa kita adakan pertemuan di kantor.. "


"baik komandan saya akan memberitahukan kepada semua anggota"

__ADS_1


Tragedi kebakaran yang Siska lihat dimasalalu cazim seperti sebuah petunjuk akan tragedi dimasa yang datang namun dia masih tidak mengetahui apa maksud dari semuanya.


__ADS_2