
Dikantor pusat rivaldi dan bisma sedang mencari informasi mengenai kasus mawar, mereka mendatangi ruang arsip dimana semua data tersimpan. dari dokumen digital yang sudah mereka baca bahwa kasus tersebut sudah mendapatkan tanda Resolved case, namun rivaldi penasaran dengan data aslinya.
setelah sekian lama mencari akhirnya mereka menemukan dokumen tersebut, terlihat kertasnya cukup kusut namun masih bisa dibaca. karena selalu mendapatkan perawatan setiap dokumen masih rapih dan tersusun baik, "komandan liat" ujar bisma
dalam dokumen asli tercatat bahwa kasus tabrak lari tersebut postponed case, yang artinya kasus tersebut belum seutuhnya terpecahkan sampai sekarang, dari dalam map terdapat satu catatan dari detektif Edwin. "31.71.06.1001"
sebuah angka yang mungkin memiliki arti namun mereka bingung dengan arti pesan tersebut, bisma menyimpan kertas itu dan akan mencari tahu saat mereka tiba di kantor. "detektif, ini barangnya" ujar petugas yang menjaga barang bukti.
mereka berdua pergi menuju meja panjang rivaldi memeriksa barang bukti yang telah ditemukan dalam kasus mawar, terdapat beberapa pecahan kaca lampu mobil, sepatu, dan juga tas milik mawar.
namun di dalam kotak itu mereka tidak menemukan barang milik sang pelaku yang lain, jadi kemungkinan dia lari ketika tau mobilnya menabrak seseorang, "pak adakah rekaman cctv lalulintas di tempat kejadian" ujar rivaldi
"saya tidak tau, tapi akan saya cari. namun butuh waktu karena itu rekaman yang sudah lama"
"berapa hari kalian bisa mendapatkan nya" tanya bisma
"mungkin besok"
"yasudah jika nanti kalian sudah mendapatkan rekaman nya segera hubungi saya atau bisma, Untuk barang bukti ini akan kami bawa." Ujar rivaldi, pikirnya mungkin dia bisa menemukan petunjuk dari barang milik Mawar.
Mereka pergi dari tempat itu dengan membawa satu barang milik mawar, terlihat stamina yang begitu terkuras karena berjam-jam mencari berkas, "aduh.. pinggang gue sakit" Ujar bisma pada diri sendiri
"kenapa, encok"
"hehe.. biasa komandan, laper nih kita makan dulu lah sebelum kekantor" ajak bisma
"Ayo, lagi pula makan siang aku udah dimakan sama Yuma"
sebelum kekantor mereka mencari tempat makan terlebih dahulu, mengisi kekosongan perut yang sudah keroncongan, selesai makan mereka langsung bergegas pergi menuju kantor.
Tiba di kantor terlihat Yuma sibuk dengan semua dokumen kasus jenis ringan, "dimana Siska, apa dia pulang" ujar rivaldi
"ada di ruangan komandan"
Masuk keruangan terlihat Siska yang tertidur di mejanya, dia seperti lelah menunggu kakaknya pulang. "dari tadi dia nungguin komandan, sampai tidur tuh" ujar Yuma
melihat adiknya tertidur membuat rivaldi tersenyum, Yuma yang disamping pun ikut terkesima dengan manisnya Siska. "uh manis banget kalau dia tidur" puji nya tanpa tahu kalau kakaknya menatap dia
peletakkk
"Aduh sakit komandan"
kepala Yuma dipukul, "beraninya natap adik saya kaya gitu, udah sana kerja. " rivaldi mengusir Yuma dari ruangan nya, karena tidak ingin adiknya jadi tontonan pria buaya rivaldi menutup gorden kaca, hingga tidak ada yang bisa melihat kedalam ruangan tersebut.
Ketenangan itu berubah raut wajah Siska menunjukkan ketakutan, terlihat keringat bercucuran diwajahnya Siska bermimpi buruk. "Ayah.. ayah.. " dalam tidur nya dia memanggil sang ayah
"Siska, kamu kenapa? Siska bangun, Siska"
Rivaldi berusaha membangunkan adiknya dari kembang tidur yang menakutkan itu, air mata meneteskan dikala tidurnya Siska menangis sambil memanggil nama sang ayah. "ayah, maafin Siska... AYAH, hahhhhhhhh... euhahhhh... "
Siska terbangun nafasnya tergesa-gesa, wajahnya penuh dengan keringat. "Siska, tenang kakak disini" dia mengusap punggung Siska lalu memeluk dalam kehangatan.
Siska tidak cerita tapi tangis sudah membanjirinya, air mata nya membasahi kemeja rivaldi. dia memimpikan sang ayah setelah sekian lama dia pergi, kali pertama namun bukan hal yang indah.
"sudah jangan nangis, itu cuman mimpi" rivaldi berusaha menenangkan adiknya, insak tangis yang tidak kunjung henti, rivaldi memberikan minum untuk membuat nya tenang.
"Kak, Siska liat ayah tapi saat itu dia begitu marah sama Siska, dia mendorong Siska menjauh darinya. lalu Siska melihat seorang kakek menarik tangan Siska, terus Siska... " nafas Siska berat terlihat dia tidak sanggup menceritakan mimpinya, matanya penuh kepanikan serta tubuhnya gemetar.
"Sudah jangan cerita lagi, nih minum biar tenang" rivaldi mengusap punggung sang adik, merangkul tubuhnya yang gemetar, menghangatkan nya dalam kasih sayang kakak.
Mengusap keringat yang begitu membanjiri nya, rivaldi penasaran namun dia tidak berani menanyakan kembali mengenai mimpi yang dilihat Siska. di tempat lain terlihat bisma sudah memiliki petunjuk mengenai pesan angka yang di tulis detektif Edwin, "Yuma komandan mana"
"ada di dalem"
__ADS_1
Bisma bergegas pergi menuju ruang komandan namun Yuma menahannya karena dia takut itu akan menggangu mereka, "Siska lagi tidur disana, nanti aja"
"ini lebih penting dari tidur nya Siska" ujar bisma
namun Yuma terus menahannya dia takut Siska bangun karena kebisingan dan marah, dia tau sifat Siska yang sensitif. "alah lagian ini kantor bukan hotel ngapain dia tidur disini, udah lah gue harus segera laporan ini penting"
Bisma membuka pintu tanpa mengetuk terlihat rivaldi yang tengah menenangkan adiknya dalam pelukan, melihat kedatangan Bisma cukup membuat mereka kaget namun rivaldi hanya menegurnya saja.
"kalau mau masuk ketuk dulu"
"iya komandan maaf" Bisma tertunduk salah
Mengusap Wajahnya yang kusut mata Siska merah karena menangis, dia menginsak ingus yang terus meler, rivaldi menyuruh Siska untuk pulang dan istirahat namun dia tidak mau. "Siska pulang yah, kasian mamah dirumah sendiri"
"yaudah" bersiap untuk pulang "ayo, anterin" ujar Siska meminta untuk diantar, namun rivaldi sibuk banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan.
"Bisma kamu anterin Siska dulu yah, maaf saya menyuruh hal diluar pekerjaan"
"udah tau diluar kerja, engak ah komandan"
Bisma menolak secara terang-terangan, Siska yang merasa di duakan oleh pekerjaan marah dia pergi sendiri." Siska pulang" sun tangan
"Nih" bisma menjulurkan tangannya
Siska yang dari awal tidak akur dengan Bisma menatap kesal padanya, bukannya salam tapi dia mencubit tangan bisma dengan keras hingga kesakitan. "Aaaa.. ihh cewek sialan"
mengejek dengan menjulurkan lidah kemudian Siska lari keluar saat melihat bisma dengan raut wajahnya yang kesal, "assalamu'alaikum" dia lari kabur keluar ruangan.
Yuma yang melihat Siska lari keluar bertanya pada rivaldi, "komandan gak nganterin Siska" tanya Yuma namun wajahnya sedikit panik, sambil terus melihat Siska berjalan keluar.
"gak, saya harus ngurus berkas kasus ini, Memang kenapa"
Rivaldi bertanya begitu pun dengan Bisma mereka melihat kearah Yuma yang tingkahnya sedikit aneh, "yaudah komandan" Yuma pergi namun dia kembali menanyakan lagi "tapi komandan bener gak nganterin Siska"
"bukan kaya gitu, tapi tadi siang saat kita makan Siska bilang bahwa dalam penglihatannya ada seseorang yang sedang mengawasi dia, terus dia juga bilang hodam..hokam apa gitu, saya kwatir komandan"
"alah itu pasti cuman perasaan nya saja, lagian kalian tuh kenapa si masih percaya hal seperti itu. Maaf yah komandan bukan saya jelekin adik komandan, tapi apa iya ada manusia indigo di jaman sekarang" ujar Bisma
Yuma mendengar perkataan nya yang keterlaluan mendendang kaki Bisma, terlihat cukup keras hingga membuat dia kesakitan. Rivaldi yang termakan ucapan Yuma merasa khawatir pada Siska namun dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, "komandan, saya tau kamu sibuk tapi anterin dulu Siska atau kau pesankan taksi, masalahnya ini udah cukup malam"
terlihat waktu menunjukkan pukul 20.30, walaupun disini masih banyak kendaraan yang lewat tapi rumah rivaldi masuk kedalam perumahan, dan di daerah nya cukup seram untuk dilaluin malan-malam. "komandan gimana kalau suruh Bisma aja"
"wait, kenapa harus gue"
"gimana komandan, diakan udah selesai pekerjaannya jadi biar dia saja"
Bisma menolak alasan nya dia harus melaporkan mengenai pesan angka itu pada komandan, "tapikan udah di sampaikan, nah sekarang lo nganggur. ayolah kasian masa lo sama cewek kaya gitu, itu adiknya komandan loh"
Yuma terus menekannya hingga membawa nama rivaldi, "oke, gue yang anterin" akhirnya Bisma bersedia, namun Siska sudah pergi beberapa menit yang lalu. dengan cepat Bisma keluar dan mengejar, terlihat tidak ada siapapun.
"apa dia sudah dapet taksi, yaudah lah orang udah naik taksi gue balik lagi aja" Bisma ragu untuk kembali ke dalam dia khwatir terjadi sesuatu pada Siska, pikiran nya sudah travelling dengan kejadian buruk.
"udahlah gue liat aja kerumah nya" Bisma pergi dia menaiki mobil miliknya, terlihat cukup pelan dia melajukan. sambil melihat kiri kanan takutnya dia mampir ke sebuah toko, atau tempat makan.
Cukup lama terlihat Bisma memasuki daerah yang memang minim adanya aktivitas, terlihat hanya bangunan tua dan kosong. disana Bisma sedikit di buat merinding ketika melihat seseorang di pinggir jalan, dia berjalan di kegelapan sambil bersenandung riang.
Mobil semakin mendekati sosok itu terlihat dia sepertinya seorang wanita, "hah Siska, ngapain dia jalan di daerah gelap kaya gini" Bisma menyalip nya lalu memberhentikan mobil tepat didepan Siska.
"ihh bisa nyetir gak sih, kalau bawa mobil hati-hati nabrak" ujar Siska marah
dia tidak merasa takut malah terus berteriak dan menyuruh pemilik mobil untuk turun, Bisma membuka kaca mobil dan menyuruh nya untuk masuk. "lo, gak ah.. Najis" Siska pergi dan mengabaikan panggilan Bisma, merasa di acuhkan akhirnya Bisma turun.
"ets, mau kemana"
__ADS_1
"apaansi lepas, yah gue mau balik. yang ada ngapain lo disini"
"lo gila yah malem-malem jalan sendirian, gelap lagi. kalau ada orang jahat gimana, emang kaka lo gak akan khawatir jika lo ilang"
"ihh pikiran lo yah terlalu negatif tau gak, lagian udah biasa kali gue jalan pulang sendiri"
Bisma tidak habis pikir dengan wanita satu ini, "udah aneh, makin aneh lo yah" dia menarik tangan Siska memaksa nya untuk naik mobil, namun siska terus menolak dia tidak mau masuk.
dia menginjak kaki Bisma, terlihat kesal karena tingkahnya yang kerasa kepala secara paksa dia menggendong tubuh Siska seperti akan menculiknya.
"ahhh.. aaahh.. apa-apa an si elo, turunin gue" Siska berteriak sambil memukul pundak Bisma, sakit namun dia terus menahannya.
cukup kewalahan karena Siska yang terus bergerak, akhirnya Bisma menurunkan tubuh Siska. mereka berada di dekat mobil, Siska tetap tidak mau naik matanya ketakutan saat dia melihat kearah dalam mobil.
Siska tidak menatap namun hanya melirik lalu membuang pandangannya, "kenapa loh, liat apaan si" Bisma penasaran, melihat sekitar mobil namun tidak ada apapun. "lo liat apa"
"katanya gak percaya hal mistis tapi keman-mana selalu bawa pelindung dimobil, uhh sok ideologis luh" Siska mengejek nya, lalu dia melengos pergi.
"tunggu, apa maksud elo pelindung"
"hehehe, lo gak tau atau pura-pura gak tau" Siska melirik kedalam mobil, terlihat sesosok nenek tua yang duduk dikursi depan, rambutnya putih ikal dan wajahnya pucat dengan noda darah di matanya. "sini, ikut gue"
Siska membawa Bisma kebelakang mobil dia membisikkan mengenai makhluk halus yang ada di mobilnya, Siska merasa bahwa dia sejenis khodam penjaga yang diwariskan secara turun temurun, dia hanya duduk dan mengikuti disatu tempat.
Bisma tidak percaya dia malah tertawa dan menganggap omong kosong, tapi Siska membuktikan ucapannya dengan menekankan kedua alis Bisma tepat ditengah, tubuh Bisma di balikan oleh Siska " tunduk" Siska membuat nya tertunduk tepat kearah sepion mobil
Raut wajah bisma seketika berubah dia melihat nenek tua duduk di dalam mobil, kaca sepion itu menggambarkan wajah nenek tua yang seram "Makhluk apa itu, AAA.." Bisma terjungkal karena takut, nafasnya terengah-engah, sambil melirik Siska Bisma terus mengusap kedua dahinya yang merah.
"sekarang lo percaya"
"lo apain mobil gue" Bisma menuduh Siska melakukan prank padanya, dia terus meminta siska menurunkan makhluk itu. tapi dia gak bisa karena makhluk itu ada untuk nya, siska tidak bisa mengusir begitu saja kecuali dia minta bantuan leluhurnya.
"hey, malah bengong.. kenapa katanya gak percaya sekali dikasih liat langsung ciut mental lo, makanya jangan sombong, walaupun loh gak percaya tapi menghargai itu perlu. kita itu sama-sama ciptaan tuhan, saling menghargai lah"
Disaat menasehati dan berusaha menenangkan tiba-tiba kepala siska sakit penglihatannya kabur, tubuhnya sempoyongan seperti akan jatuh "Siska lo kenapa" Bisma memegang tubuh Siska yang hampir jatuh, Siska terus merasa pusing kepalanya seakan berat.
tiba-tiba dia muntah tubuhnya merasakan hawa panas yang tidak enak, serta bau amis terus mengitari sekitar hidungnya. "Siska lo kenapa" Bisma panik melihat Siska yang terus muntah, dalam muntahan itu bukan cairan makanan yang keluar tapi seperti seekor hewan hidup yang menggeliat.
"ulat, lo makan apa bisa ada ulat dari mulut elo" khawatir dengan keanehan itu, bisma mencoba menghubungi rivaldi namun tidak ada respon.
Siska terus merasa mual tubuhnya lemas, Bisma bingung harus melakukan apa dia tidak pernah menangani hal semacam ini, "Bisma kau baca sesuatu, sepertinya nenek yang ada di mobil lo tidak suka sama gue"
"hah, tidak suka"
Bisma yang setengah takut itu mencoba menghampiri nenek tua itu, dia sudah tidak bisa melihat nya namun sesuai arahan Siska dia pergi kedepan. "nek tolong hentika, gue..aku gak tau nenek dimana, tapi jangan lakuin itu. iya walaupun dia emang kurang ajar tapi tetap dia teman Bisma jika emang kau diperintah oleh leluhur untuk menjaga ku, tolong jangan pernah sakiti temanku"
sambil membaca Ayat kursi Bisma terus mengajak bicara leluhurnya, dia meminta nenek itu berhenti menyakiti Siska.
heugg.... deg..
"Siska" ujar bisma
Aura Siska berubah arwah aki masuk kedalam tubuhnya dia mengendalikan kesadaran Siska, berjalan kearah depan dengan kaki sempoyongan, "MANEH WAWANIAN NYILAKAKEUN ANAK AING, DIE SIAH RASAKEUN"
dalam penglihatan Bisma dia tidak bisa melihat apapun namun dia hanya mendengar suara Siska yang berubah, dan aura di sekitarnya yang begitu panas mobilnya bergerak seperti ada sesuatu yang menggoyangkan.
Mencekik dengan kuat Aki melawan khodam milik bisma, keduanya saling adu kekuatan namun karena kehebatan Aki lebih unggul akhirnya nenek tua itu mengaku kalah.
"INIT SIAH, TONG DATANG DEUI"
"Ampun..ampun, moal.. moal deui" Hantu nenek tua itu pergi, dia mencabut kembali sihirnya dari tubuh Siska terlihat mobil itu kembali tenang.
Arwah Aki juga pergi, Sukma siska kembali kedalam tubuhnya namun dia terjatuh "ehh Siska" Bisma menangkap tubuhnya yang lemas terlihat Siska pingsan, dengan segala kejadian yang telah terjadi Bisma masih bingung tapi yang dia pikir kan sekarang adalah Siska.
__ADS_1
"aduh nyusahin" Tanpa pikir panjang bisma menaikan Siska kedalam mobil, kemudian mereka pergi dari tempat tersebut.