Fatrher'S Will

Fatrher'S Will
BAB 23 : Kenapa Dengan Kasusnya


__ADS_3

Takut akan kericuhan terjadi rivaldi membawa Siska kedalam mobil, di sana Siska berteriak meminta seseorang pergi. mereka tidak tau siapa yang dimaksud, shabira yang merasa ketakutan mencoba untuk turun namun Siska menyuruhnya diam.


"ikuti saja" ujar rivaldi


Siska memberi aura tajam pada arwah tersebut terlihat arwah itu tertunduk ketakutan, arwah wanita itu hanya diam dia tidak melakukan apapun namun seperti nya dia menempel pada seseorang.


"kak maaf yah"


Plakkkk...


Siska menampar shabira dengan keras, rivaldi yang melihat tindakan siska membuat nya terkejut. "Siska apa yang kamu lakukan" rivaldi membentak Siska


shabira memegang pipinya kesakitan, terlihat merah dengan cap tangan yang begitu jelas. "ehh ehh.. sorry tadi aku hanya sedang mengusir arwah" mata shabira berkeca-caka terlihat dia begitu kesal, baru kali ini dirinya ditampar orang lain.


"Sudah, dia pergi" ujar Siska


"pergi apa siapa yang pergi, kamu kenapa si tiba-tiba nampar shabira seperti itu. Kakak aja tidak pernah memukul dia sekali pun"


rivaldi memarahi Siska hingga membuat hatinya menciut ketakutan, shabira yang takut akan prilaku Siska dia memutuskan keluar dan pergi dari mobil. "shabira tunggu" rivaldi mengejar


Disana dia meminta maaf atas perlakuan adiknya pada shabira, rivaldi juga tidak tau apa yang membuat nya seperti itu. "aku pernah cerita kan bahwa Siska itu..." Shabira mengerti tapi dia butuh waktu untuk memahami semua, dia pergi kerumah sakit meninggalkan rivaldi dan Siska.


terlihat rivaldi masuk kedalam mobil dia menatap adiknya meminta penjelasan, disana aura Siska berubah entah siapa yang ada dalam tubuhnya. "KU NAON MANEH JEUNG NGAMEK, PUNRAYI MAH KUR NOLONGAN" suara Siska berubah menjadi berat dan seram, seperti seorang lelaki tua.


Untuk pertama kalinya Arwah leluhur berbicara dengan rivaldi, dia begitu marah ketika rivaldi membentak adiknya. Arwah Aki yang selalu menjaga Siska mulai mengatakan bahwa jangan sekali kali rivaldi membuat nya menangis, jika sampai ada rasa kebencian atau kemarahan yang dituju pada rivaldi maka itu akan berbahaya untuk keluarga dan dirinya sendiri.


"MANEH NYAHO KUMAHA MAOT NA ALMARHUM BAPAK, CIK INGET WASIAT NA. JAGA ADI MANEH NU BENAR, LOBA NU NEANGAN MANEHNA"


Arwah Aki memarahinya dia meminta rivaldi mengingat wasiat Edwin ayahnya, dan jangan pernah mengutamakan orang lain selain adiknya. Banyak sekali orang yang menginginkan khodam yang ada pada tubuhnya, "muhun abah rivaldi pasti jaga Siska" ujar rivaldi


heuuug... ahhh..


Arwah Aki pergi, Siska kembali ke dalam tubuhnya. terlihat dia tidak sadarkan diri, "maafin kakak yah dek" rivaldi mengelus rambut adiknya dia begitu menyayangi Siska, "kenapa kamu harus mengalami ini semua, kakak hanya berharap kamu bisa hidup normal seperti yang lain"


Kesedihan rivaldi terdengar Siska namun dirinya pura-pura tertidur, mobil melaju membawa mereka berdua pulang.


keesokan paginya dikantor semua orang bertanya, karena rivaldi tidak ada di ruang sidang. "kau tidak tau kemarin komandan pergi berdua naik mobil sama dokter cantik itu" ujar Yuma


"saya hanya mengantarkan dia kerumah sakit" ujar rivaldi


semua orang tersenyum melihat tingkah komandan nya, disela obrolan rivaldi teringat dengan prihal mawar "cazim apakah tim kita menangani laporan tabrak lari" tanya rivaldi


"iya komandan, memangnya kenapa, apakah ada laporan baru" ujar cazim


"tidak, cazim coba kamu cari tahu mengenai kasus tabrak lari atas nama mawar, kejadiannya sekitar dua tahun yang lalu"


cazim menyalakan komputer dia memeriksa data laporan dua tahun yang lalu, terlihat banyak sekali laporan tabrak lari yang telah mereka tangani.


"ada tiga orang atas nama mawar komandan" ujar cazim

__ADS_1


Rivaldi mengecek dan melihat teringat dirumah sakit dia sempat melihat wajah mawar, klick. Muncul data sang korban terlihat kasus tersebut sudah memiliki tanda Resolved case


"udah beres komandan, kasusnya udah selesai di tangani" ujar cazim


"selesai, coba saya lihat"


Terlihat dilayar data kasus tersebut yang sudah memiliki tanda tangan atasan dan juga tanda Resolved case, yang artinya kasus terselesaikan pelaku sudah bertanggung jawab atas perbuatan nya.


"cazim coba liat siapa yang bertanggung jawab"


cazim menunjukkan ke slide berikutnya tertulis Detektif Edwin yang bertanggung jawab, disana juga ada nama gurdiman sebagai orang yang menyelidiki kasus tersebut.


"ayah yang bertanggung jawab" ujar rivaldi dalam hati. untuk mengetahui kebenarannya rivaldi mencoba bertanya pada gurdiman, dia pergi keruangan tim empat.


terlihat gurdiman yang sedang duduk di kantor nya, melihat kedatangan rivaldi membuat semua anggota tim empat terkejut bahkan dia datang dengan rombongan nya. "detektif gurdiman"


rivaldi mencoba memanggilnya keluar, terlihat dia berjalan ke arah tamunya itu. "ada apa kau datang, mau minta sumbangan kasus, maaf kita tidak punya" ujar gurdiman bercanda


"detektif bisa kita bicara sebentar"


tampak serius gurdiman mempersilahkan rivaldi masuk ke ruangan miliknya, mereka berdua bicara didalam. rivaldi menanyakan mengenai kasus mawar yang detektif gurdiman tangani dua tahun lalu dengan ayahnya, "apakah kasus itu benar-benar selesai"


"apa maksud mu rivaldi, kau mencurigai kami melakukan pemalsuan. rivaldi pertanyaan mu ini secara tidak langsung menuduh Ayahmu melakukan kejahatan" ujar gurdiman


"bukan seperti itu, tapi kemarin aku mendengar bahwa kasus mawar ini tidak pernah selesai, sampai saat ini mereka belum mendapatkan kabar tentang laporan nya"


"rivaldi kau liat" menunjukkan selembaran kertas, disana tertulis bahwa orang tua mawar telah memaafkan sang pelaku dan dia berani membayar kebutuhan perawatan mawar.


"buat apa, dia sudah mendapatkan hukuman. lagi pula kenapa kau menanyakan kasus yang sudah lama berlalu" tanya gurdiman


"kemarin aku melihat korban tabrak lari itu masih terbujur lemas di rumah sakit"


"dan kau mau menyalahkan pelaku tersebut karena menabrak nya, rivaldi itu kecelakaan dia juga tidak ada niatan untuk mencelakai anak itu. lagi pula itu kesalahannya yang diam di tengah jalan. "


rivaldi tau pasti tidak akan mudah meminta bantuan gurdiman, bahkan dia tidak mau menyebutkan nama sang pelaku. "yasudah terimakasih atas waktu nya" rivaldi pergi dia akan meminta bantuan ketempat lain, gurdiman merasa curiga pada rivaldi.


"hey detektif, jangan pernah melampaui batas atau kau akan mendapatkan balasannya"


"maksud mu"


"haaahhh... kau sudah tau dengan menangani kasus zoe, bahkan aku yakin kakak ku memperingati mu saat proses interogasi. sudah menyerah saja ikutin perintah nya jika kau ingin selamat, walaupun aku membencimu masih ada sifat kemanusiaan dalam diriku beda dari mereka"


rivaldi menatap gurdiman kenapa dirinya memberi pringatan sampai seperti itu, tidak peduli rivaldi pergi dengan mengatakan dirinya tidak takut dan tidak akan mundur apapun yang terjadi.


"Menyerah, kau akan bosan jika menunggu ku menyerah." ujar rivaldi, dia tersenyum sambil berjalan keluar. quotes yang pernah dia dengar dari film yang Siska tonton berguna juga untuk nya.


semua anggota tersenyum mendengar perkataan rivaldi, bahkan bisma yang tau kata-kata itu bertindak heran. "dari mana dia dengar kata itu" ujar nya dalam hati.


hari ini semua tim satu kembali menjalankan tugas mereka, sekarang Ja'far tidak masuk kantor karena mendapatkan tugas keluar kota. sementara cazim akan mengawasi persidangan menemani Jaksa Agustinus, kasus letnan jazakli masih terus berjalan semua tidak akan tenang sebelum dia mendapatkan hukum yang setimpal.

__ADS_1


"Yuma kau jaga kantor, hari ini saya dan bisma akan pergi ke kantor pusat untuk melihat barang bukti penyimpanan. mungkin kita akan mendapatkan petunjuk mengenai kasus mawar"


"baik komandan" ujar Yuma


semua anggota pergi menyisakan Yuma yang bekerja sendiri di sana, takut ada laporan masuk jadi rivaldi menyuruh Yuma menjaga kantor. Terlihat di kantor dia cukup sibuk dengan kasus-kasus ringan yang memang harus tetap mereka kerjakan, seperti kehilangan barang dan lain sebagainya.


Waktu menunjukkan pukul 12.00 ini saat nya untuk istirahat, "makan dulu ahh.. lapar, AAAAA.. " Yuma teriak ada seorang wanita yang berdiri didepan pintu, wanita itu tersenyum sambil menatapnya


"Siska, ngagetin aja"


"hahahaha... kak Yuma, kak rivaldi mana? ko sepi banget disini. " tanya Siska


"rivaldi gak ada, semua orang punya tugas diluar jadi tinggal aku sendiri disini"


"ohh terus ini gimana, padahal mamah nyuruh aku bawa makan siang buat kak rivaldi. sayang kalau harus dibawa pulang lagi"


"nahh.. kebetulan karena kakak Yuma sedang laper jadi ini makanan untuk aku aja gimana" mengambil kotak makan itu dari Siska


"ehh gak bisa"


Siska menolak memberikan makanan itu dia berkata makanan itu dia buat untuk kakanya bukan orang lain, karena lapar Yuma berusa meminta pada Siska dia terus membujuk nya.


Yuma tau kalau Siska menyukai anime dia merayunya dengan nobar, namun Siska sudah mengetahui semua film tersebut jadi itu tidak pengaruh. "ayolah Siska kak Yuma laper, pingsan ni..pingsan"


"ahh yaudah, telpon kak rivaldi dulu kalau dia mengizinkan maka akan Siska kasih makanannya"


"akhirnya.. tunggu" Yuma menelpon rivaldi, terdengar dia sedang sibuk disebrang sana.


"ada apa Yuma"


"komandan Siska datang ke kantor terus dia bawa makanan untuk mu,... " Siska merebut ponsel milik Yuma, lalu dia mengadukan semuanya pada rivaldi.


"hahaha.. iya gak apa Siska kasih aja, nanti kaka makan disini. " ujar rivaldi


" aihhh.. gak menghargai banget si, yaudah nih kak Yuma" sambil memberikan makanan terdengar Siska merajuk, rivaldi yang tau mencoba merayunya agar tidak marah.


Siska menutup telpon secara sepihak terlihat rivaldi menghubungi kembali namun Siska mengancam Yuma untuk tidak mengangkat nya, karena takut akhirnya dia mendiamkan telpon tersebut.


Yuma memakan makan itu terlihat dia begitu puas dengan masakan Siska bahkan dia terus memuji-muji kehebatan nya, Siska senang dia tersenyum malu sambil melihat Yuma makan Siska terus menanyakan kesibukan kakanya akhir-akhir ini.


mereka berdua bercerita terlihat tidak ada kecanggungan dari keduanya, "Siska kamu itu anak Indigo yah, berarti kamu bisa liat hantu dong"


Yuma bertanya hal sensitif namun Siska tidak merasa keberatan akan itu.


"iya, Siska bisa melihat hal-hal yang tidak bisa kalian lihat. oh yah tadi kak Yuma bilang kaka sendirian, sebenarnya banyak orang ko yang nemenin kakak diruangan ini."


uhukk.... uhukk..


Yuma terkejut dengan perkataan Siska dia sampai tersedak dibuat nya, ketakutan dirasakannya "jangan ngomong kaya gitu" dia melirik melihat sekitar yang memang sepi.

__ADS_1


Siska tersenyum melihat tingkah Yuma yang ketakutan, dia bahkan terus menakut-nakuti nya. merasa di ejek yuma menatap Siska lalu menggelitik tubuhnya seperti anak kecil, "ahh geli...kak Yuma awas ya, hahahaha.." tawa Siska membuat hangatnya ruangan itu, mereka berdua begitu terlihat senang.


__ADS_2