Fatrher'S Will

Fatrher'S Will
BAB 4 : Kasus Penc*lik*n anak


__ADS_3

Dilokasi kejadian terlihat para forensik sudah ada disana mereka mengamankan semua bukti yang ada, Cazim menjelaskan perkara yang sebenarnya kepada rivaldi.


Terlihat beberapa bercikan darah di lantai dan juga buku-buku, seseorang menyeret anak tersebut dengan paksa "berapa usia anak tersebut"


"usianya sekitar 9/10 tahun, menurut laporan dia sedang sendirian dirumah orang tuanya sedang melakukan pekerjaan keluar kota"


"apakah orang tuanya tau"


"kami sudah menghubungi Ibu dari anak itu, tapi dia tidak bisa datang sekarang karena terhambat macet"


"siapa yang membuat laporan"


"tetangga sebelah, dia mendapatkan amanat dari ibu korban untuk menjaganya tapi waktu itu dia sempat meninggalkan korban untuk pergi belanja ke pasar dan saat pulang rumah ini sudah berantakan dan anak itu sudah tidak ada"


rivaldi mengecek setiap sudut ruangan mencoba mencari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk untuk nya, menurut perkiraan nya anak itu sempat melawan penjahat dengan pensil yang dipegangnya


terlihat ujung pensil itu patah dengan sedikit noda darah dipinggir nya, anak itu cukup pintar untuk mempertahankan diri namun penjahat itu terlalu kuat untuk nya dia kewalahan. rivaldi memeriksa kebawah tempat tidur terlihat ada sebuah benda terletak disana, sebuah liontin kalung dengan lambang S ditemukannya.


rivaldi mengamankan liontin itu dan langsung bergegas pergi menuju kantor "ayo kita pergi" semua anggota team satu kembali kekantor polisi.

__ADS_1


diruang rapat terlihat cazim menjelaskan tentang kasus yang sedang dihadapi mereka, beberapa hari yang lalu memang sudah banyak laporan mengenai penculikan anak.


dari setiap laporan terlihat permasalahan yang sama penculikan itu selalu terjadi kepada anak yang jauh dari pengawasan orang tua, hampir semua korban adalah anak broken home.


untuk motif nya para detektif belum bisa memutuskan pasti, tapi bisa terlihat bahwa pelaku juga korban broken home karena cara dia menculik semua anak selalu dengan iming-iming benda yang mewah, bukan permen atau coklat.


"menurut ku dia berpikir bahwa cenderung anak broken home itu pikiran nya sudah selangkah lebih dewasa dari anak biasa" ujar yuma


"ya kayane pelaku wis mikir ati-ati, tapi kok ora diculik anak orang kaya bukannya dia akan mendapatkan bathi gedhe. " ujar ja'far


"aku ora tau.. aku ora tau.. aku ora tau.. " yuma menjawab pertanyaan ja'far dengan lagu Jawa yang lagi tren, semua tersenyum melihat ja'far mukanya menciut kesal pada yuma.


"lagian udah dibilang jangan pake bahasa Jawa masih aja, kita semua tidak paham dengan ucapan medok mu itu"


rivaldi terus mencari petunjuk yang bisa dia dapatkan dari setiap bukti yang ada, dia teringat dengan kalung yang ditemukannya "cazim, kamu cari tau siapa pemilik liontin ini"


melihat lion cantik itu sepertinya bukan barang yang bisa di beli di pasaran melainkan pesanan, dan itu juga khusus barang yang dipesan khusus biasa hanya dimiliki satu orang.


"kita bisa menemukan pelaku jika kita tau siapa pembuat liontin ini" ujar yuma

__ADS_1


"ja'far dan yuma kalian cari tau siapa pembuat liontin ini, dan cazim kamu pergi ke klinik sekarang cari tau apa yang telah mereka temukan dari darah yang ada di pensil itu."


"siap"


semua pergi dengan tugas masing-masing mereka berangkat dengan penuh semangat, dikantor rivaldi masih memikirkan rencana untuk mengetahui penjahat itu mencoba menghubungi Siska adiknya namun tidak diangkat. beberapa hari yang lalu setelah pemakaman ayah Siska pergi ke Yogyakarta untuk menenangkan dirinya, "kenapa gak diangkat si, kemana dia sebenarnya"


***


Siska sedang asik melakukan pemotretan di sebuah keraton kota gede beberapa hari ini dia selalu mengunjungi tempat bersejarah di Yogyakarta, selain kesukaannya itu juga sebagai tugai kampus.


disana dia belajar banyak hal mengenai sejarah dan juga adat istiadat, suara dering handphone berbunyi namun dia terus mengabaikan nya dan melanjutkan perjalanannya.


"aduhh... "


seseorang menyenggol tubuh Siska pria itu pergi begitu saja tanpa meminta maaf semua barangnya jatuh, "yah pecah" handphone nya terjatuh dan mati.


"nyebelin banget si" membereskan barang nya yang terjatuh disamping buku Siska melihat sebuah liontin berbentuk mahkota, saat memegang liontin itu sebuah ingatan muncul dalam penglihatannya.


Siska melihat sebuah tragedi kejam dalam penglihatannya itu dimana seorang pria memnyeret anak kecil kesebuah rumah tua di tengah hutan, Anak-anak itu ketakutan mereka menangis ingin pulang bahkan ada yang mati tergeletak begitu saja.

__ADS_1


"Aahh... fuuuu.. fuuhhhh.., glup! " Siska keluar dari penglihatannya dia menelan ludah kasar karena ketakutan yang amat kuat dirasakan nya.


Siska bergegas pergi dari tempat tersebut dia menyimpan liontin itu di sakunya, datang ke sebuah cafe Siska mencoba menenangkan pikiran nya disana, berusaha untuk tidak memikirkan penglihatan yang menyeramkan tadi.


__ADS_2