Fatrher'S Will

Fatrher'S Will
BAB 26 : Siapa yang salah


__ADS_3

Mobil hitam melaju cepat di lintasan jalan, menyalip setiap kendaraan. dia melaju dengan kecepatan diatas rata-rata hingga membuat kendaraan lain ketakutan, "komandan sebenarnya kita mau kemana" ujar Bisma


"ke kantor pusat" jawab rivaldi, dengan wajah yang kesal rivaldi terus fokus menyetir tanpa memperdulikan teman disebelahnya yang ketakutan.


Dalam perjalanan yang harusnya ditempuh 45 menit tapi mereka bisa dalam 28 menit, entah bagaimana tapi mereka telah sampai di kantor pusat. Turun dari mobil lalu bergegas masuk, terlihat dia berjalan menuju ruang pak Djoko Sudhartono, Kepala utama kantor pusat.


"komandan kenapa kita kesini, tunggu komandan kendalikan dirimu. Apa yang akan kau lakukan"


Bisma terus menahan atasannya yang sudah hilang kesabaran, "komandan, jika kau gegabah bukan hanya kau dalam masalah tapi detektif Edwin, bagaimana namanya. apa kau akan membuat nama baiknya tercoreng"


"tenang Bisma, walaupun kesal aku tidak berani untuk membuat nama ayah ku ternodai" ujar rivaldi, menarik nafas lalu masuk kedalam.


Pintu ruangan pak Djoko terkunci sepertinya dia tidak ada di kantor, rivaldi mengetuk memastikan namun tetap tidak ada jawaban. hingga seorang petugas datang dan memberi tahu bahwa Pak Djoko tidak masuk, "beliau sakit, sehingga hari ini absen"


Mendengar itu rivaldi bergegas pergi "komandan tunggu, kita mau kemana" Bisma bertanya sambil menaiki mobil, "Hati-hati komandan" ujar Bisma


rivaldi melajukan mobil dengan kecepatan seperti tadi dia melaju tanpa memikirkan orang disamping, namun di tengah jalan dia harus pelan karena ada kemacetan yang cukup panjang. "Aihs.. Bisma pasang lampu sirine" ujar rivaldi


"apa, tapi.. " tanpa bantah Bisma memasang lampu sirine diatas mobil, lalu menyalahkan nya.


"pegangan" ujar rivaldi, mendengar suara darurat tersebut hampir semua kendaraan menyingkir mempersilahkan petugas jalan lebih dulu, Sesampainya di kediaman pak Djoko rivaldi berusaha tenang mereka diam sebentar di depan pintu gerbang.


"permisi" Bisma menekankan bel masuk namun tidak ada satuan dari dalam, kedua kali Bisma menekan hingga akhirnya seorang pembantu datang dan membuka pintu.


"ada apa pak" ujar nya


"maaf ibu kami dari kepolisian, apakah komandan Djoko ada dirumah. menurut informasi beliua sakit. " ujar rivaldi


"ouh anggota nya yah, sebentar" pembantu tersebut kedalam rumah meninggalkan rivaldi dan Bisma diluar pintu, tanpa mempersilahkan masuk.


sesaat kemudian dia datang dan berpesan bahwa pak Djoko tidak ada beliau sudah pergi beberapa jam yang lalu, "kata nyonya tuan sudah pergi"


"pergi, kalau boleh tau kemana yah bi? "


"saya tidak tau, masalahnya tuan tidak bilang bahkan saya baru tau bahwa tuan tidak ada dirumah, mungkin hanya nyonya yang tau"


"kalau begitu bisa kita bicara dengan istri pak Djoko" ujar rivaldi


terlihat pembantu tersebut ragu namun mereka meyakinkan sampai akhirnya dipersilahkan, seorang wanita paruh baya dengan baju khas daerah jawanya tengah duduk di sebuah taman ditemani secangkir teh.


"permisi"

__ADS_1


wanita itu menyambut kedatangan rivaldi dan bisma dia mempersilahkan duduk dan memberikan mereka minum, disana rivaldi menjelaskan maksud dan tujuan nya datang.


"bapak sudah berangkat tadi pagi, dia ada di Singapura"


"Singapura, kenapa beliau ada disana. apakah pak Djoko sakit parah" ujar Bisma


"tidak bukan dia tapi anak kami yang sakit, karena itu bapak sedang menjenguk nya." ujar ibu Djoko


Beliau juga sedikit cerita mengenai anaknya, sudah hampir satu tahun anak mereka sakit dia terkena penile cancer, atau disebut penyakit kanker kelamin.


karena pergaulan nya yang terlalu bebas dan tidak begitu menjaga akhirnya anak mereka yang bernama dewa agantara harus mendapatkan hukuman seperti itu, ibu djoko menangis menceritakan anaknya dia merasa gagal menjadi orang tua.


"saya tau kalian kesini untuk meminta penjelasan pada suami saya mengenai mawar, kemarin pak Irjen datang dia memberitahukan semua, sebenarnya sebelum kalian datang pak djoko juga sudah siap untuk bertanggung jawab, tapi malamnya tiba-tiba pihak rumah sakit menelpon dan bilang bahwa dewa dalam kondisi kritis "


sebenarnya mereka akan pergi bersama namun pak Djoko takut rivaldi dan bisma datang jadi dia menyuruh istri nya di rumah untuk menjelaskan semuanya, "dia juga memberikan rekaman ini pada saya untuk disampaikan pada kalian"


ibu djoko memberikan sebuah flashdisk dan surat tertulis untuk pak bayu dan Ibu aulia, "saya selaku istri dan orang tua, meminta maaf atas semua perbuatan suami dan anak saya. Dia melakukan itu untuk dewa, tidak ada maksud kami menyulitkan mereka"


ibu djoko menjelaskan bahwa memang mereka sudah membuat perjanjian damai pada keluarga mawar, mereka akan bertanggung jawab atas semua tindakan dewa dengan membayar perawatan mawar sampai dia sembuh.


"saya juga tidak tau kalau akan jadi seperti ini" ternyata beberapa bulan setelah insiden mawar, dewa melakukan tindakan kekerasan sampai menghancurkan dirinya sendiri, dia selalu melakukan clubbing dan tindakan dewasa pada wanita malam hingga akhirnya dia mendapatkan dampak dari itu semua.


dewa agantara terkena penile cancer dan membuat nya harus dirawat, pada saat itu kondisi keluarga pak djoko masih stabil namun semua tidak baik ketika mereka tau bahwa dewa harus dibawa ke rumah sakit Singapura untuk perawatan lebih lanjut, di sisi lain mereka juga harus membiayai perawatan mawar yang belum sembuh malah semakin buruk.


"Suami saya tidak mau semua orang tau tentang penyakit anaknya, akhirnya dia memutuskan untuk menutup kuping dari keluarga mawar. dia juga menggunakan statusnya untuk menutup kasus itu" ujar ibu djoko


"bagaimana pun pak djoko harus mengklarifikasi semua agar kesalahpahaman ini tidak terjadi" ujar bisma


"sebenarnya waktu kasus ini ditangani detektif Edwin dia sudah tau mengenai dewa dan kondisi keluarga kami, beliau juga sudah menemukan jalan keluar untuk masalah ini, tapi sayang sebelum semuanya selesai dia sudah pergi ke rahmatullah"


semenjak kematian detektif Edwin mereka bingung harus berbuat apa, karena pak djoko tetap ingin mencegah rumor keburukan anaknya ini tersebar, "ego suami saya tinggi, menurutnya kehormatan lebih penting dari apapun"


"bukannya dengan seperti ini kalian menjatuhkan kehormatan itu, atau mentang-mentang dia miskin jadi kalian pikir tidak akan ada yang menganggap teriakan mereka" ujar bisma


"bukan seperti itu detektif"


ibu djoko menangis meminta maaf atas semua kesalahan suami nya, dia sudah sadar dan akan bertanggung jawab. tapi untuk terus membiayai perawatan mawar mereka tidak sanggup, karena semua harta mereka telah di jual untuk pengobatan anaknya.


"kalau memang tetap harus dihukum, hukum lah saya atau suami saya sebagai gantinya, jangan dewa anak kami dia sedang sakit keras. pak detektif saya siap bertanggung jawab. " ujar Ibu djoko


"tenang bu, kami disini bukan untuk menahan mu tapi kedatangan kami hanya untuk memastikan saja" ujar bisma

__ADS_1


"Kondisi ini sebaiknya kalian bicarakan dengan orang tua mawar, dan untuk surat ini lebih baik Ibu yang memberikan langsung pada mereka " ujar rivaldi


Mereka bertiga pergi menuju kantor polisi untuk menyelesaikan semua kesalahpahaman, rivaldi memutuskan menyelesaikan ini di kantor nya. kedua orang tua mawar datang terlihat mereka kesal saat diperkenalkan dengan ibu djoko, rivaldi dan cazim mencoba menenangkan.


ibu djoko bersujud menangis meminta pengampunan pada keluarga mawar, mereka tau bahwa itu kesalahan karena telah melanggar perjanjian yang mereka sepakati sendiri. namun pak Bayu bersikeras tidak akan diam saja menerima ketidak adilan yang telah keluarga dewa lakukan, bahkan dia akan menuntut dewa kepenjara.


"komandan, kenapa jadi rumit. aku pikir pak Bayu akan mengerti dan memaafkan keluarga pak Djoko" berdiri disamping, cazim berbisik di telinga rivaldi


Melihat situasi yang semakin runyam rivaldi berusaha memberi pengertian pada pak Bayu, dia juga mengatakan bahwa mereka tidak bisa bertindak seenaknya dalam hukum. butuh proses dan waktu yang dibutuhkan bahkan mereka memerlukan pengacara untuk membela, untuk semua itu memerlukan biaya yang tidak murah.


"apa kalian akan menghamburkan uang untuk membayar pengacara, dari pada untuk pengobatan mawar. Pak ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan, lagi pula kalian sudah tahu alasan dibalik keluarga dewa berhenti Menstrasfer uang untuk mawar"


"tidak detektif, saya tidak percaya dengan omong kosong mereka. orang seperti mereka hanya bisa berkata manis diluar, aslinya buruk" ujar pak Bayu, dengan nada tinggi dia menolak


Melihat tindakan pak bayu membuat semua orang terkejut, ibu djoko menangis dia sudah tidak tau harus berbuat apa. setelah beberapa menit mereka berdebat akhirnya pak djoko memutuskan melanjutkan kasus, dia akan menuntut ulang pada keluarga dewa bukan sebagai tabrak lari tapi kasus penipuan.


Rivaldi dan tim bingung, mereka berusaha agar semua nya bisa selesai secara kekeluargaan tanpa memperburuk situasi, apalagi harus masuk ke jalur hukum yang rumit. "detektif, apa mentang-mentang saya orang miskin jadi saya tidak bisa melapor, apakah suara rakyat kecil ini tidak bisa didengar" Ujar pak Bayu


"bukan seperti itu pak, tapi apalagi yang harus kalian tuntut dari keluarga dewa, mereka sekarang dalam kesulitan jadi mereka pun tidak bisa apa-apa, tolong lah pak maklumin" ujar cazim


"kalian ini sama aja yah, bisanya hanya membela orang tinggi dari pada orang miskin kaya kita. ayo ibu kita pulang, tidak ada keadilan di tempat ini untuk kita. Bahkan anak detektif Edwin pun tidak bisa apa-apa, dia hanya mementingkan uang dari pada rakyat miskin. "


mendengar hinaan tehadap rivaldi semua anggota geram namun mereka mencoba bersabar, kedua orang tua mawar keluar mereka pergi dengan kesal, sementara ibu djoko masih menangis melihat surat maaf pak djoko yang ditolak mereka.


"surat nya tidak mereka terima" ujar rivaldi, dia mengambil dan membuka surat itu, didalam surat tertulis Maaf.


isi surat itu menyatakan kebenaran mengenai keluarga pak djoko dan kondisi anaknya dewa, dia juga meminta maaf atas tindakan mereka pada keluarga mawar. Butuh waktu bagi dia untuk mengorbankan ego nya ini, tapi kecemasan selalu dia rasakan dari dulu.


Pak Djoko juga berkata dia merasa diperas oleh keluarga mawar karena orang tua mawar tau bahwa anaknya sudah tidak bisa selamat, saraf otak miliknya sudah rusak. mereka bersikeras untuk terus menahannya, mawar hidup sampai sekarang karena alat bantu medis yang terpasang ditubuhnya, tapi itu tidak berguna untuk kesadaran nya.


"itulah alasan pasti nya dia mencabut biaya tersebut" ujar rivaldi, dia paham.


Bisma pergi mengantarkan ibu djoko pulang sementara cazim dan rivaldi melanjutkan pekerjaan mereka, situasi semakin runyam orang tua mawar akan menuntut ulang dengan kasus baru, tapi rivaldi tidak bisa apa-apa karena itu hak mereka.


disaat sedang berdiskusi dengan tim tiba-tiba email masuk, terlihat pesan dari anggota pusat. dalam pesan tersebut ada sebuah video rekaman cctv yang sempat dia minta.


"cazim, tampilkan rekaman ini di layar"


dari rekaman cctv lalulintas terlihat dimana saat dewa mengendarai mobil dan menabrak mawar, sebenarnya kesalahan ada pada mawar sendiri dia berdiri di tengah jalan dengan kondisi laluntas yang banyak, "apa dia sedang nangis yah komandan, tapi kenapa dia sudah ada ditengah jalan" Ujar yuma


dalam rekaman dia melihat kejanggalan, memang rekaman itu hanya memperlihatkan mawar yang tiba-tiba ada di tengah jalan tanpa tau asal muasal dia berjalan, "ada yang gak beres, Yuma ambil rekaman cctv jalan itu lalu kau cek ke tim IT"

__ADS_1


"baik komandan"


Yuma pergi meninggalkan ruangan, "cazim, coba cek flashdisk yang dikasih ibu djoko, apa isi flashdisk itu" Ujar rivaldi, terlihat cazim menancap kan flashdisk itu di laptop saat dilihat ada sebuah video pendek, dimana itu percakapan antara dirinya dan detektif Edwin.


__ADS_2