Fatrher'S Will

Fatrher'S Will
BAB 14 : Masa lalu Siska


__ADS_3

Mereka semua telah kembali ke kantor terlihat Siska ikut bersamanya selama perjalanan Siska terlihat diam saja wajahnya penuh dengan kesedihan, setelah mereka menemukan kompan yang terkubur itu wajah Siska terlihat sedih dia sama sekali tidak bicara.


"bawa saja kompan itu tapi jangan menyentuh nya akan tidak berguna jika ada sidik jarimu disana"


"komandan untuk apa kita membawa sampah, heh Siska emang ada hal penting apa mengenai kompan ini.. Siska" bisma mencoba bertanya namun Siska hanya tetap diam tanpa Jawaban


"sudah lah kita lakukan apa yang komandan perintahkan, ayo buruan" ujar yuma mencoba mengalihkan perhatian agar bisma tidak marah pada Siska


bisma membungkus kompan itu dan menaruhnya dibagasi rivaldi menyuruh mereka untuk membersihkan tempat itu kembali lalu pergi, "Siska ayo" ajak rivaldi pada adiknya


didalam mobil Siska hanya diam wajahnya terus menatap datar kesedihan menyelimuti dirinya, rivaldi tiba-tiba memberhentikan mobil hingga membuat semua orang terkejut. "Siska kaka tidak akan pulang kalau kamu seperti itu, coba katakan apa yang sebenarnya terjadi"


Siska yang tadi hanya diam mulai berinteraksi dia menatap rivaldi lalu menyuruhnya keluar mobil, kedua saudara itu pergi dan mereka melakukan percakapan berdua "apa yang ingin kamu ceritakan"


"mengenai kak cazim dan kebakaran itu mungkin kita harus merahasiakannya terlebih dahulu, karena... "


"apa, memang nya kenapa"


"mereka sengaja dibunuh"


"Siska apa yang kau katakan.. apa maksudnya sipa yang dibunuh dan kenapa"


"Siska juga gak tau tapi saat disana Siska mendapatkan penglihatan, bahkan bukan hanya sekedar telepati tapi Siska masuk dalam dimensi itu"


"maksudnya kamu masuk ke dunia lain"


"iya dan itu kejadian beberapa tahun lalu saat kak cazim usia 10 tahun"


Rivaldi cemas akan adiknya kekuatan spiritual milik Siska semakin meningkat bukan hanya bayangan tapi sekarang dia bisa memasuki ruang dimensi, "sudah kalau emang seperti itu kita tidak harus menceritakan pada semua orang, tapi kakak masih tidak mengerti maksudnya pembunuhan"


Siska menjelaskan semua pada rivaldi mengenai dirinya yang tiba-tiba masuk ruang dimensi lalu melihat semua kejadian dengan jelas seperti didepan matanya, dan kejanggalan kejanggalan yang terjadi dalam musibah tersebut "jadi ada seseorang yang sengaja mencelakai keluarga cazim tapi semua direncanakan seperti sebuah musibah"


"iya"


"kamu tahu siapa pelaku tersebut"


"engga Siska tidak melihat jelas orang nya tapi saat kebakaran itu... Siska merasa tidak asing dengan wajahnya tapi Siska tidak ingat dimana Siska melihat nya"


"sudah jangan terlalu dipikirkan nanti kamu bisa sakit, sekarang kamu tenang biarkan ini menjadi kasus rahasia terlebih dulu. kaka akan menyelidiki ini secara diam-diam jadi kamu tenang saja"


"baik kak"


"udah tenang yah" rivaldi mengelus rambut Siska lalu dia membalasnya dengan pelukan mereka berdua kembali akrab.


Sesampainya dikantor tim satu berkumpul di ruang rapat seperti perintah rivaldi waktu lalu tapi karena topik yang akan dibicarakan harus dirahasiakan terpaksa rivaldi membahas hal lain, dia memberitahukan mengenai kasus penculikan RK dan bagaimana kasusnya berjalan.


"dan mengenai cazim seperti kata dokter dia masih harus menjalani perawatan untuk beberapa hari untuk itu saya ingin semua nya bekerja lebih giat sebelum cazim kembali, mengerti"


"baik komandan"


"iya mungkin itu saja sekarang kalian boleh kembali ketempat"


semua anggota pergi menyisakan anggota utama disana Ja'far yang melihat Siska duduk diluar segera pergi menemuinya, sementara bisma pergi ke ruang penyimpanan rivaldi menyuruh nya untuk mengamankan barang bukti yang ditemukan mereka tanpa ada seorang pun yang tahu.


Yuma sempat bertanya pada rivaldi karena dia tahu tentang masalah yang harus mereka bahas hari ini tapi rivaldi malah mengganti nya dengan pembahasan lain, "komandan bukannya Siska akan menceritakan tentang penglihatan nya mengenai cazim"


"Shutt... " rivaldi mengajak Yuma keluar dan mereka pergi ketempat tidak ada CCTV melihat komandan nya yang sangat hati-hati membuat Yuma curiga, "ada apa komandan" ujar nya


"untuk permasalahan cazim itu akan ditunda untuk sementara waktu, karena itu saya meminta kamu jangan pernah membicarakan hal itu pada siapapun. Akan sangat bahaya jika seseorang tahu apalagi sampai ke telinga atasan, kamu paham"


"baik komandan, saya akan melakukan sesuai perintah"


"Saya percaya sama kamu"


Rivaldi pergi menghampiri adiknya yang sedang asik mengobrol dengan Ja'far menggunakan bahasa Jawa nya, Siska tertawa bahagia dengan semua lelucon yang Ja'far cerita kan bahkan air matanya sampai keluar saking lucunya.


"Siska" menghampiri mereka berdua, rivaldi berterimakasih pada Ja'far karena sudah menghibur adiknya lalu kemudian rivaldi berniat untuk mengantarkan Siska pulang.


"kalau ada apa-apa kamu hubungi saya"

__ADS_1


"baik komandan"


"dahh.. kak Ja'far" Siska melambaikan tangan pada Ja'far seperti anak kecil, senyuman nya begitu manis hingga membuat Ja'far ikut tersenyum melihat nya.


bisma datang menghampiri Ja'far yang terus melambaikan tangan "mana komandan" ujar bisma menanyakan, Ja'far hanya menunjukkan keberadaan mereka yang sedang berjalan menuju sebuah mobil.


"heh lo merasa aneh gak si"


"mengenai apa" Ja'far bertanya balik karena pertnyaan bisma yang cukup ambigu


"itu.. adiknya komandan"


"Siska maksudnya emang kenapa dengan Siska, menurut ku dia anaknya cantik, baik terus lucu"


"itu juga gue tau, tapi tentang hal lain merasa gak si lo kalau Siska tu seperti punya dua kepribadian. soal nya yah selama beberapa hari ini gue liat dia tuh kadang tingkahnya seperti anak kecil, kadang seperti orang dewasa"


"memang si, tapi mungkin itu pengaruh dari kelebihannya. kata komandan Siska itu anak getih anget atau bisa dibilang indigo"


"hahaha.. jaman sekarang masih percaya hal seperti itu, gue gak percaya ada anak indo.. indago apalah itu"


"indigo, tapi bener coba lo inget lagi saat kejadian penangkapan RK kita bisa memecahkan siapa pria bertopeng itu karena bantuan spiritual nya Siska, bahkan kita bisa tau lokasi penculik itu karena ikut arahan dari nya"


Bisma terdiam mendengar penjelasan Ja'far karena memang dalam kasus kemarin untuk pertama kalinya mereka buntu dalam penyelidikan tapi bisa terselesaikan dengan adanya Siska, tapi Bisma masih tetap tidak percaya dia hanya beranggapan bahwa mungkin itu hanya kebetulan.


"sudah gue gak percaya hal gituan, kita berhasil karena kerja sama tim dan juga kehebatan kita dalam tim. gak ada namanya kekuatan kekuatan kaya gitu" Bisma pergi meninggalkan Ja'far sendiri


" Lha nek ora percoyo yo terserah, Bisma nganteni to.. "


****


Satu Minggu telah berlalu akhirnya cazim diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit walaupun dia tidak bisa masuk kerja dulu karena cidera tulang yang belum pulih sepenuhnya, rivaldi datang bersama Siska terlihat Bisma sudah ada disana menjemput cazim.


karena Bisma dan cazim tinggal di apartemen yang sama untuk itu dia menjemputnya, keduanya seperti kakak adik namun perbedaan sifat diantara keduanya membuat hubungan mereka unik.


Bisma memiliki sifat yang keras egonya tinggi namun sosialisasi terhadap saudara tidak ada duanya, sementara cazim orang yang penuh logika sifatnya lembut namun dia akan keras kepala jika menyangkut orang tersayang nya.


ditengah mereka dokter datang dialah yang telah merawat cazim selama ini dan orang itu adalah dokter shabira mantan rivaldi, melihat kecanggungan rivaldi saat ketemu membuat Shabira terlihat gugup namun dia harus profesional sebagai dokter.


shabira menjelaskan tentang kesehatan cazim dan hal apa saja yang tidak boleh dia lakukan selama pemulihan, "semoga cepat sembuh yah cazim" ujar shabira lalu dia pergi meninggalkan mereka


melihat kepergian shabira rivaldi cukup sedih karena sebenarnya dia ingin sekali ngobrol berdua dengannya banyak sekali pertanyaan yang ingin rivaldi katakan untuk shabira, terlebih lagi dia ingin berterimakasih pada shabira kerena telah merawat dirinya dan juga Teman-temannya.


melihat kakaknya yang bertingkah aneh Siska mencubit


tangan rivaldi "aduh apa Siska, sakit tau"


"kakak yang kenapa, kalau rindu ajak ngobrol dong jangan hanya liatin aja. Sudah sana pergi Siska tunggu dimobil oke, sanahhh.." mendorong kakaknya supaya pergi


"jadi... mau makan gak, kebetulan ada makanan enak dekat rumah sakit" ujar Siska mengajak cazim makan siang bersamanya


"tidak usah kami akan makan di apartemen saja" bisma menolak dengan tegas namun berbeda dengan jawaban cazim dia mengiyakan ajakan Siska


"udah ayo, jarang jarang loh kita makan bareng Siska" ujar cazim merayu bisma


"iya tapi apa untung nya kita makan bareng dia"


"kalau kak bisma gak mau yasudah aku bareng kak cazim aja berdua, ayo kak" Siska menarik tangan cazim lalu pergi meninggal bisma yang masih berdiri didepan kamar.


"heh.. gue ditinggal, cazim sial.. Siska awas lo ya" bisma pergi mengejar mereka yang sudah berjalan duluan didepan nya


sementara rivaldi menghampiri shabira dia mengajaknya untuk istirahat makan siang bersama keduanya pergi menuju ruang pribadi shabira, karena Siska tidak ingin ada suruhan ayahnya yang melihat pertemuan mereka.


diruangan rivaldi bingung dengan percakapan apa yang harus dia katakan terlebih dahulu karena disana mereka hanya berdua tidak ada siapun, kecanggungan terlihat dari keduanya bahkan shabira hanya menatap makan yang rivaldi belikan untuk nya.


"bagaimana kabar mu" ujar rivaldi memulai percakapan


"aku baik, bagaimana dengan mu"


"aku juga baik"

__ADS_1


mereka kembali terdiam bingung dengan apa yang harus dibicarakan lagi, rivaldi hanya membahas tentang apa yang dia lihat disana bahkan itu tidak penting sama sekali.


Melihat tingkah rivaldi yang ambigu membuat shabira tertawa dia menutup wajahnya sambil melihat rivaldi yang bingung, "kenapa, shabira kamu tertawa kenapa"


"hahaha.. engak gak ada, ya ampun rivaldi sejak kapan kamu seperti ini"


"apa kenapa" rivaldi yang terus bingung dengan shabira yang masih tertawa sambil melihat nya sesekali


"ada yang aneh kah dengan wajahku"


"iyah hahaha.. kamu lucu sekali si rivaldi saat bingung, ya ampun air mataku sampai keluar"


shabira mengusap matanya yang berair sementara rivaldi terlihat malu, dia memalingkan wajahnya dan tersenyum kecil. melihat suasana yang mulai cair keduanya kembali mengobrol bahkan mereka melakukan nya sambil makan.


keduanya menunjukkan rasa rindu mereka dari setiap topik yang dibahas shabira menjawab nya dengan antusias bahka terlihat mereka tertawa bersama, rivaldi menatap wajah yang selalu dia rindukan selama ini senyum tawanya yang selalu ingin dia lihat tapi malah kekecewaan yang telah dia lakukan untuk nya.


sadar akan perhatian itu shabira bertanya pada rivaldi yang terus menatap nya dari tadi, "maaf atas keegoisan ku shabira" ujar rivaldi meminta maaf namun dengan baik nya shabira menyuruh rivaldi untuk tidak terlarut dalam masa lalu nya itu.


shabira mengerti walaupun dia tidak tau alasan pastinya tapi dia yakin rivaldi melakukan itu untuk kebaikannya dan kepercayaan terhadap nya masih tetap ada dan akan selalu ada, melihat kebaikan pada diri wanita itu membuat rivaldi sangat menyesal telah membuat dia menangis karena egonya, dengan pemikiran yang matang akhirnya rivaldi memberitahu kan alasan dibalik pembatalan pernikahan yang sebenarnya.


"kamu yakin akan mengatakan nya, aku sungguh tidak apa-apa jika kamu tidak memberi tahu hal itu"


"bukan yakin tapi aku percaya padamu"


mendengar itu shabira seakan mendapatkan hal besar selama ini hati mereka masih tetap terhubung walaupun keduanya berpisah, rivaldi menjelaskan kenapa Ayah-nya menyuruh dia untuk tidak menikah sebelum adik dan ibunya.


"karena penyebab kematian ayah"


"penyebab kematian, bukannya ayah kamu meninggal akibat kecelakaan mobil"


rivaldi menggelengkan kepalanya dia menatap shabira yang terkejut mendengar kebenaran itu, dengan jelas rivaldi menceritakan penyebab kematian ayahnya dan kenapa hal itu sangat berkaitan dengan adiknya Siska.


sang ayah menyuruh rivaldi untuk terus mengutamakan adiknya dari segalanya bahkan untuk dirinya sendiri, Siska memiliki keistimewaan dalam dirinya yang tidak dimiliki anak lainnya bahkan dia bisa bertingkah nekat karena kelebihan nya itu.


Siska seperti memiliki dua kepribadian dirinya kadang bertingkah seperti anak kecil yang manja dan terkadang dia bertingkah seperti orang dewasa penuh dengan kejeniusan, rivaldi sudah mengetahui keanehan pada adiknya itu semenjak dia sekolah menengah pertama


karena alasan itulah keluarga rivaldi tidak pernah mengekspos keberadaan Siska pada publik bahkan orang terdekat sekalipun, selama 25 tahun ini Siska selalu hidup sendiri tanpa teman dia hanya bisa bermain dengan mainanya.


"lalu selama ini Siska tinggal dimana"


"dia tinggal di Yogyakarta bersama kakek dan nenek, setelah mereka meninggal dan Siska usia 10 tahun ayah mengirimnya ke Amerika disana dia mulai belajar hidup normal seperti anak seumuran nya, tapi tetap saja terkadang dia bisa mengamuk dan tidak terkendali"


"selama di Amerika dia hidup dengan siapa"


"dia tinggal dengan orang-orang yang memiliki gangguan jiwa"


"apakah itu tidak terlalu kejam Siska tidak terlihat gila, emang mungkin dia punya kepribadian ganda seperti yang kamu katakan tapi bukan berarti dia gila"


"aku tau tapi ayah sengaja membiarkan Siska tinggal disana bersama dokter Christian, dia teman sekaligus sahabat ayah jadi dia mempercayakan anak nya pada dokter Christian"


selama hampir 15 tahun dokter Christian merawat Siska dengan penuh perhatian hal yang tidak bisa keluarga nya berikan selama ini, dokter juga memberikan Siska pendidikan dia menyekolahkan Siska dengan program homeschooling.


karena itu Siska tumbuh menjadi orang yang pintar dan penuh dengan pengetahuan walaupun dia terlihat aneh tapi IQ nya tinggi, banyak kelebihan yang ada pada diri Siska tapi orang hanya bisa melihat kekurangan nya selama ini hingga Siska harus mengalami semua kesulitan itu.


"dan sekarang Siska kembali"


"karena ayah ingin menebus kesalahannya selama 25 tahun ini, pada akhirnya dia harus menebus itu dengan nyawanya sendiri"


"apakah Siska tau tentang semua ini"


"tidak dia tidak memingat apapun mengenai kejadian tersebut, yang saat ini dia tahu ayah meninggal akibat kecelakaan"


"lalu bagaimana kalau ingatan nya kambali apa yang akan kamu katakan padanya"


"entah lah aku sendiri pun takut membayangkan semua itu"


rivaldi menundukkan kepadanya takut akan semua yang dia pikirkan menjadi kenyataan selama ini rivaldi belum bisa menjadi sosok kaka yang baik bagi Siska, dan sekarang dia ingin menunjukkan itu pada Siska walaupun dia harus rela meninggalkan semua miliknya demi Siska.


Melihat rivaldi yang bersedih shabira datang mendekat kehadapan nya dia menyenderkan Kepala pria itu di pundaknya memeluk dan menangkan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2