Fatrher'S Will

Fatrher'S Will
BAB 25 : Awal mula, Kasus Mawar


__ADS_3

Sinar matahari menyinari ruangan dari balik tirai, pantulan cahaya membangunkan kenyamanan tidur nya. terduduk diam mengumpulkan kesadaran, pagi hari yang sudah menyambut setelah malam yang panjang.


Siska berjalan keluar menuju ruang makan terlihat kakak dan ibunya ada disana, semua menyapa "Selamat pagi"


"pagiiii.. " sambil menguap dia berjalan duduk menuju meja.


"kamu jorok, pergi cuci muka dulu baru makan" tegur rivaldi


"ahh nanti aja"


Rivaldi menatap ancam hingga siska takut dan pergi membasuh muka, bersamaan dia juga menyikat giginya."semalam aku kenapa yah" ujar siska mengingat kejadian yang samar-samar.


Menatap cermin didepan Whastapel Siska berusaha mengingat sesuatu yang dia lupakan, tapi dia benar-benar tidak ingat. sambil terus membasuh wajah Siska memaksakan otak nya untuk ingat, "ahhh... gak bisa"


"Siska, cepetan makan. Lama banget kamu di toilet" ujar mamah memanggilnya


"iya mah"


Karena mamah dan kakaknya sudah menunggu akhirnya siska pergi tanpa mencoba mengingat kembali, Rivaldi menanyakan kesehatan adiknya namun siska yang masih tidak ingat kejadian semalam hanya menjawab biasa.


"Rivaldi teman kamu mana, cepat panggil kita sarapan bersama" ujar mamah


"ada tamu ya mah" Siska bertanya polos


Rivaldi memanggil temannya terlihat bisma datang dengan pakaian rivaldi yang dipinjamkan, semalam bisma tidak pulang karena harus menjaga Siska sebelum rivaldi tiba, apalagi kondisi Siska semalam sangat tidak logis.


tubuhnya dingin seperti es, wajahnya pucat seakan mayat. ibunya panik akhirnya bisma memutuskan menemani mereka sampai rivaldi pulang, dia juga membantu merawat Siska.


Semalaman tubuh Siska mengigil matanya merah melotot, mereka berusaha menghangatkan siska namun tubuhnya tidak kunjung panas dia malah semakin dingin dan pucat. bisma yang khawatir menyuruh ibunya untuk memanggil dokter namun malam itu terjadi hujan badai membuat tidak ada sinyal.


"Siska yaampun kamu kenapa si nak" ibu khawatir dengan anaknya, bisma berusaha menenangkan sang ibu dia terus mengusap kedua tangan Siska sambil berusaha menghangatkan tubuh nya.


ibu membawa beberapa selimut tebal untuk menutupi tubuh siska yang dingin, hingga pukul 00.56 dia masih terus mengigil dan rivaldi belum kunjung pulang, disaat akan memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit mobil rivaldi terlihat dia dengan cepat masuk kedalam rumah.


terlihat kekhawatiran di wajahnya, baju nya sedikit basah. rivaldi duduk disamping siska sambil membacakan doa, ibu dan bisma pun ikut berdo'a. perlahan Siska tenang tubuhnya mengeluarkan keringat dan suhu tubuhnya kembali hangat.


"Siska tenang, kakak disini" wajahnya tersenyum ketika rivaldi membisik ditelinga, semua merasa lega.


rivaldi mencoba bertanya kenapa semua bisa terjadi, tanpa ragu bisma menceritakan semuanya dan bagaimana awal mulanya Siska bisa sampai seperti itu. "berarti apa yang dilihat Siska adalah ini" ujar rivaldi

__ADS_1


Bisma yang tidak paham mencoba bertanya, "maksud komandan"


"kamu ingat yuma bilang saat dia bicara dengan Siska dia cerita bahwa dirinya sedang diawasi, dan dia bilang khodam" ujar rivaldi


menurut rivaldi yang diceritakan Siska pada yuma mengenai penglihatannya adalah khodam milik bisma, dan sepertinya Siska diberi tau oleh khodam miliknya sendiri mengenai tragedi yang akan menimpa Siska, namun Siska tidak tau kapan dan dimana itu terjadi.


"jadi dia bisa merasakan sesuatu yang akan terjadi padanya, tapi dia tidak bisa apa-apa"


"iya, itu seperti takdir. karena dasarnya takdir itu tidak akan bisa dirubah walaupun kau berusaha menghindari nya, kemungkinan itu yang terjadi pada Siska"


Bisma bingung otak nya tidak bisa menangkap semua dan dia masih ragu untuk percaya hal itu, malam begitu lelah tubuhnya lemas dan dia tidak sanggup untuk menyetir. Akhirnya rivaldi menawarkan bisma untuk menginap lagi pula sudah malam, dan badai belum kunjung berhenti.


Terlihat bisma berjalan menuju meja makan,


"Silahkan nak Bisma" ujar mamah, dia menyiapkan piring dan menuangkan nasi.


Siska yang masih tidak ingat terus menatap kehadiran bisma, dia merasa aneh "lo ngapain di sini" ujar nya, namun rivaldi malah menegur adiknya karena tidak sopan.


"maaf, tapi kenapa dia ada disini kak. "


"Bisma nginap kasian kalau dia pulang udah cape ngurus kamu, lagi pula semalam kan hujan lebat jadi takut ada apa-apa dijalan. "


"Siska kamu gak ingat kejadian semalam"


"eumm engak, emang ada apa? "


Perkara yang sama terjadi Siska tidak ingat dengan hal yang sudah dia alami, padahal semalaman dia membeku seperti orang sekarat. "gak, engak ada apapun" ujar rivaldi mencoba untuk tidak membahas agar siska tidak kepikiran.


Semua orang tidak lagi membahasnya mereka melanjutkan makan seperti biasa, selesai makan rivaldi dan Bisma berangkat ke kantor, sementara siska hanya sibuk seharian di rumah.


karena siska tidak bekerja jadi seharian kegiatannya hanya dikamar dan nonton anime, bukan tidak mau atau tidak ada lowongan baginya tapi karena rivaldi takut akan kondisi tubuh Siska yang sensitif.


"komandan, mengenai kode angka itu aku sudah mengetahuinya" ujar Bisma


Diperjalanan bisma menjelaskan mengenai kode angka yang ditemukan dalam secuil kertas, semua angka itu menunjukkan kode wilayah. dimana itu menunjukkan tempat desa, kecamatan, kota, dan provinsi.


Bisma belum mengetahui jelas apa yang ada di balik itu semua, yang dia tahu bahwa angka tersebut menunjukkan suatu tempat "apakah itu tempat kejadian perkara, atau tempat si penabrak itu tinggal. kita belum tau komandan" ujar Bisma


"Bisma apa ada kabar dari pihak pusat mengenai cctv itu"

__ADS_1


"belum komandan, nanti saya cari tau"


"oke, sebelum ke kantor kita pergi ke rumah sakit dahulu karena saya sudah ada janji dengan orang tua mawar"


akhirnya Bisma dan rivaldi mampir kerumah sakit, mereka melakukan wawancara ringan dengan orang tua mawar, disana mereka juga menjelaskan sedikit kronologi yang mereka ketahui dari pihak berwenang, namun sampai saat ini kasus nya belum ada kemajuan.


"Maaf Pak, ibu sebelum nya. setelah kami selidik sepertinya kalian telah melakukan pernyataan damai dengan pihak pelaku, karena itu kasus ini tidak bisa di lanjutkan"


"begini pak detektif sebenarnya, kami damai dengan perjanjian tapi dia tidak menepatinya."


Pak bayu menjelaskan bahwa mereka dipaksa menandatangani surat damai dari pihak pelaku, dengan perjanjian bahwa mereka akan menanggung semua biaya perawatan mawar dirumah sakit.


satu tahun pertama semua berjalan baik namun itu tidak selamanya, karena kondisi mawar yang terus memburuk dan terpaksa harus menggunakan alat bantu medis. mengetahui kondisi mawar pihak pelaku tiba-tiba menghentikan biaya perawatan itu, mereka tidak lagi Menstrasfer uang dan malah kabur tidak ada kabar.


pak bayu dan ibu aulia sudah berusaha mendatangi mereka ke kediaman namun selalu diusir dan dianggap pengemis, "waktu itu saya bingung harus bagaimana pak detektif, kita hanya orang miskin yang tidak punya uang. beberapa kali melakukan pelaporan selalu tidak di anggap, akhirnya waktu itu ada satu detektif yang baik sekali namanya Edwin dia membantu kita"


ibu aulia menjelaskan bahwa selama hampir satu tahun pak Edwin membantu mereka bahkan sampai memberi mereka pekerjaan, akhirnya pak bayu dan ibu aulia bisa berjualan kecil-kecilan dengan toko pemberian detektif Edwin.


"waktu itu beliau juga melaporkan bahwa kasus nya bisa ditangani kembali, namun selang beberapa bulan tiba-tiba kita mendengar bahwa detektif Edwin meninggal akibat kecelakaan" ujar pak bayu


Kedua orang tua mawar menangis sambil menceritakan nasib mereka ketika detektif Edwin meninggal, mereka bahkan sampai mencari tau pemakamannya untuk meminta maaf karena telah merepotkan detektif Edwin sampai seperti itu.


"pak bayu, dan ibu jangan merasa bersalah, karena apa yang detektif Edwin lakukan sudah benar. dia melakukan semua itu karena tugasnya sebagai aparat negara" ujar rivaldi


Terlihat rasa bersalah dan takut ditunjukkan pak bayu dan ibu aulia, mereka ragu untuk melaporkan kembali kasus tersebut ke pihak berwajib.


pak bayu berpikir apa yang terjadi pada detektif Edwin adalah salah mereka, karena dia telah mengusik sang pelaku untuk membela kasus tersebut. "pelaku itu sangat berpengaruh besar didunia detektif Edwin" ujar pak bayu


"Bisma siapa nama pelaku tersebut" ujar rivaldi


"menurut laporan dia berinisial DW atau nama aslinya Dewa Agantara Sudhartono" ujar Bisma


"Argantara Sudhartono, dia... " rivaldi melirik Bisma, tau akan maksud tersebut Bisma menyodorkan sebuah soft file yang dikirim cazim melalui e-mail nya.


jelas tertulis data sang pelaku dan seketika rivaldi paham kenapa kasus tersebut sulit untuk melakukan aju banding, tanpa berpikir lama rivaldi mengakhiri wawancara "Ibu dan bapak tenang saja, saya dan tim akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu kalian" ujar rivaldi, lalu pergi begitu saja.


Mendengar perkataan rivaldi pak bayu dan ibu aulia merasa senang namun mereka tetap khawatir akan keselamatan detektif muda itu, "saya tau kalian khawatir tapi jangan takut, dia detektif hebat, rivaldi Nurdiansyah anak detektif Edwin, penyelamat kalian" ujar shabira, yang sedari tadi duduk menemani mereka wawancara.


pak bayu dan ibu aulia terkejut, apakah ini sebuah kebetulan atau memang takdir Tuhan. walaupun detektif Edwin tidak ada tapi dia mengirimkan anaknya untuk menjadi penyelamat mereka, "semoga kalian selalu dalam perlindungan Tuhan" ujar ibu aulia sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2