Fatrher'S Will

Fatrher'S Will
BAB 2 : Putus nya hubungan rivaldi dan shabira


__ADS_3

Rivaldi menatap kosong kearah pintu terlihat seseorang datang dan menghampiri nya, "Maaf aku telat" dia duduk didepan rivaldi namun ia masih dalam keadaan bengong.


"sayang"


"eh, kamu udah sampai"


"iya baru, kamu kenapa aku liat melamun kaya gitu, kamu masih sedih yah tentang ayah. Aku bisa ngertiin ko bagaimana sakitnya ditinggalkan orang yang kita sayangi"


Shabira memegang tangan rivaldi menenangkan kekasih nya yang masih sedih kehilangan Ayah nya, mereka berdua makan siang bersama sudah menjadi kebiasaan mereka menghabiskan waktu istirahat bersama.


Nafsu makan yang kurang terlihat jelas dari diri rivaldi dia tidak menghabiskan makanan, shabira terus menghibur agar kekasih nya tidak berlarut dalam kesedihan.


"sayang ada hal yang mau aku bicarakan" ujar rivaldi


"hal apa"


rivaldi menatap shabira dia seperti tidak ingin kehilangan, memegang kedua tangan shabira dengan tekad yang matang rivaldi mencoba berbicara.


"sayang kita putus yah.. "


mendengar kata itu shabira seakan terdiam tak bisa berkata hatinya berdetak kuat, keterkejutan itu hampir membuat shabira pingsan namun dia mencoba mencari tahu alasan nya.


"Kita putus"


"kenapa, kita sudah mau menikah rivaldi. kenapa harus putus, apa karena waktu nya tidak tepat kalu begitu kita bisa memundurkan nya, yah... sayang, jawab rivaldi? "

__ADS_1


"aku tidak tau harus berbicara dari mana tapi bukan hanya situasi, dan walaupun kita harus menunda aku takut kamu tidak akan sanggup" ujar rivaldi menatap shabira


shabira mencoba dewasa dia menenangkan pikiran nya yang kacau "sayang aku tidak akan tau apa masalah nya jika kamu tidak bicara, untuk aku bisa atau tidak itu urusan nanti sekarang kamu harus jujur sama aku apa alasan nya kita putus"


"karena ayah, karena wasiat ayah ku"


"wasiat.. wasiat apa? "


"dia ingin aku menjaga ibu dan adik ku" rivaldi menjelaskan semuanya kepada shabira bagaimana dia begitu bingung untuk menjalankan wasiat Ayah nya, di satu sisi dia ingin menjadi anak baik dan menerima semua syarat, tapi di sisi lain rivaldi tidak ingin kehilangan kekasih nya shabira.


Shabira menangis mendengar semua perkataan rivaldi dia mengerti bagaimana sulitnya posisi rivaldi saat ini, tapi shabira tidak mau kalau harus putus dari rivaldi karena dia orang yang begitu berarti baginya.


menurut nya akan sulit untuk mendapatkan pengganti rivaldi, dia terlalu sempurna untuk ditinggalkan. "aku akan menunggu" ujar shabira penuh percaya diri.


"ya aku sadar dan aku serius"


"tidak itu akan sulit, kamu yang paling tau shabira keluarga mu tidak akan setuju apalagi aku tidak tau kapan wasiat itu terpenuhi"


"lalu apa yang kamu inginkan"


"sudah cukup jelas diawal tadi, kita putus aku minta maaf" rivaldi hanya tersenyum sambil memegang tangan shabira yang menangis.


Merasa tidak terima shabira pergi dari cafe meninggalkan rivaldi disana, tanpa berbalik shabira terus pergi menaiki taksi. di mobil dia terus menangis sampai terinsak-insak, pak supir menanyakan tujuan shabira namun dia hanya menyuruh supir itu terus jalan.


sementara rivaldi tertunduk diam menutupi setiap air matanya yang keluar mencoba bersikap tergar dengan keputusan yang telah dia ambil, ayahnya pernah berkata bahwa

__ADS_1


"laki-laki harus bisa memegang janji dan juga teguh dengan setiap keputusan yang dia ambil."


Hujan turun di tengah teriknya matahari alam seakan sedih dengan keadaan mereka, namun matahari terus bersinar seperti menandakan hal baik akan terus datang.


Dikantor semua sedang menunggu kedatangan rivaldi untuk penobatan nya sebagai ketua team 1 yang baru, pak Edwin Nurdiansyah ketua team 1 yang dulu sudah tiada semua orang merasa sedih dengan kepergiannya tapi organisasi harus tetap jalan.


"saya belum pantas pak" rivaldi menolak


"kamu tau rivaldi saat saya bicara sama pak Edwin saya berkata jika dia pensiun nanti kamulah yang akan menjadi penerusnya, namun dia menolak dan malah memarahi saya"


Pak Irjen menceritakan percakapannya dengan komandan Edwin


"saya tau bapak sangat mengagumi kemampuan saya dan pak Irjen begitu menghormati saya tapi tidak baik jika bapak memperlakukan rivaldi berbeda dengan yang lain"


"kenapa saya sudah melihat kemampuan kamu dan saya yakin anak mu itu pasti sama hebat nya dengan mu"


"pak kalau orang tau bapak pilih kasih apa yang harus saya katakan, kita itu aparat negara tugasnya mengayomi masyarakat jika kita tidak bisa adil dalam bertindak bagaimana jadinya negara ini."


"iya saya tau, kamu tidak usah menasehati seperti itu lagi pula semua perlakuan saya seperti itu pada rivaldi bukan hanya karena dia anak mu, tapi memang dia layak mendapatkan nya."


"maaf atas kebodohan saya sudah mencurigai pak Irjen. dan mengenai detektif rivaldi pak Irjen tidak perlu takut jika dia berbuat salah maka dia pantas dapat hukuman, sesuai kesalahan nya."


"kamu pikir saya tidak akan melakukan nya, hahahaha.... saya tau pak Edwin kamu memiliki perinsif pada rivaldi diluar kamu anak ku di kantor kamu bawahan ku. jadi saya tidak akan merusak perinsif kalian."


Pak Irjen memasangkan satu bintang di pundaknya rivaldi menandakan sah nya dia sebagai komandan di team satu.

__ADS_1


__ADS_2