Fatrher'S Will

Fatrher'S Will
BAB 19 : Siapa dia??


__ADS_3

Proses interogasi dihentikan sementara karena amarah rivaldi yang membuat semua orang cemas akan keselamatan tersangka, setelah meninggalkan kantor terlihat rivaldi datang kesebuah rumah besar dengan bendera kuning didepannya.


Shabira dan Ratih pun terlihat ikut bersama rivaldi mereka bertiga memasuki rumah tersebut terlihat seorang ibu menangis di teras rumah, "permisi" melihat kedatangan mereka ibu itu langsung mengusap air matanya dan menyambut kedatangan mereka.


"silahkan masuk"


rumah yang besar namun hanya satu penghuni membuat suasana disana cukup sepi dan sedikit seram, "ibu saya rivaldi detektif yang menangani kasus kematian Zoe" rivaldi menjelaskan maksud kedatangan nya dan juga perkembangan kasus itu berjalan dia meminta maaf karena sampai hari ini belum ada titik terang atas kasus tersebut.


ibu zoe hanya bisa menangis dan memaklumi semuanya dia tahu tidak mudah bagi detektif untuk menangkap tersangka butuh proses dan usaha yang dilakukan. "tidak apa-apa pak detektif saya mengerti"


"maafkan saya juga karena menunda pemakaman anak ibu, saya tau ini tidak mudah tapi kita masih harus memeriksa jasat zoe yang mungkin bisa menjadi petunjuk dalam penyelidikan"


Rivaldi memberi penjelasan pada ibunya zoe namun dia tidak mengatakan mengenai kejahatan yang dilakukan zoe pada mantan pacarnya stefan, rivaldi takut semua itu akan menyakiti nya untuk sekarang dia akan merahasiakan terlebih dahulu sampai pelaku pembunuh zoe tertangkap.


setelah berbincang-bincang akhirnya mereka memutuskan untuk pulang Ratih akan tetap disana untuk menemani ibu zoe "gue disini dulu nemenin ibu feni kasian dia masih sedih" shabira dan rivaldi pergi meninggalkan rumah itu, diperjalanan shabira terus menatap rivaldi dari samping hingga membuat konsentrasi nya terganggu.


"kenapa kamu melihat ku terus"


"gak aku hanya berpikir ternyata jadi seorang detektif itu tidak mudah, tapi kenapa kamu meminta maaf pada keluarga korban dan mencoba menenangkan nya"


"aku ini seorang aparat keamanan dan tugas ku melindungi masyarakat itulah alasan aku melakukan nya, pasti berat bagi ibu zoe menerima kenyataan ini agar tidak terjadi pikiran buruk aku berusaha memberikan dia pehaman bahwa hukum pasti akan membantu nya mencari keadilan"


"keadilan, kamu percaya keadilan itu ada di dunia kita. tapi menurutku kamu melakukan semua itu karena bisikan hatimu, kamu seakan merasakan sakit yang sama seperti ibu zoe rasakan"


"benarkah" rivaldi menatap shabira yang duduk disamping nya terlihat kondisi mood nya kembali normal, mobil itu terus melaju hingga mereka sampai dirumah shabira.


terlihat ketakutan dan rasa bersalah di wajah rivaldi karena jika orang tua shabira tau mereka pergi bersama itu akan menjadi bencana untuk shabira dan dirinya, dengan salam perpisahan yang sedikit canggung shabira pergi masuk kedalam rumah sementara rivaldi langsung tancap gas dan pergi dari sana.


sementara dikantor semua orang masih sibuk dengan pekerjaan mereka apalagi saat mengingat komandan nya yang pergi begitu saja tanpa bicara, terlihat seseorang datang dan berjalan memasuki ruangan tim satu dia adalah Gurdiman komandan tim empat.


karena dia dicurigai berkaitan dengan kasus zoe cazim mencoba menenangkan tim agar bersikap biasa, Gurdiman datang untuk mencari rivaldi dia berkata bahwa ada hal yang harus dia katakan padanya.


tahu bahwa kondisi komandan mereka tidak baik cazim mencoba mencari alasan agar Gurdiman pergi dan mengurungkan niat itu, tapi dia memaksa dan membentak kembali cazim yang mengatakan bahwa dia tidak kompeten menjadi seorang wakil.


mendengar hinaan itu bisma geram dia mengepal tangannya namun cazim mengisyaratkan untuk tetap tenang, jafar yang baru saja tiba di kantor merasakan situasi panas disana terlihat ketegangan diantara semuanya.


komandan Gurdiman duduk di ruang tunggu dia begitu gigih walaupun harus menunggu lama tapi dia masih tetap tidak pergi, "kenapa tidak pergi juga, memang apa yang akan dibicarakan samapai dia rela menunggu berjam-jam seperti itu"


setelah sekian lama akhirnya rivaldi datang semua anggota senang namun mereka juga tegang karena tadi siang rivaldi begitu marah saat menanyakan hubungan Gurdiman dengan pak tohir, rivaldi menyapa anggota nya terlihat mereka sangat kaku saat menjawab "kenapa dia disini" rivaldi menanyakan kehadiran Gurdiman diruang tunggu.


"katanya dia ingin bertemu komandan"


Penasaran akhirnya rivaldi menemui Gurdiman dia mengajak nya untuk biaca berdua di ruangannya terlihat pembicaraan mereka cukup serius, semua anggota saling melihat satu sama lain mereka takut akan ada perang Dunia terjadi lagi.


"ada perlu apa detektif Gurdiman, apakah ada hal penting yang harus kita bicarakan"


"hehehe.. tidak usah sombong seperti itu walaupun kamu komandan tim satu tapi itu semua tidak akan terjadi jika bukan karena ayah mu rivaldi"


"apa kamu datang untuk memprovokasi ku detektif, jika seperti itu tolong keluar banyak urusan yang harus saya kerjaan"


"tidak tapi ada hal penting yang harus aku katakan, mengenai kasus kematian selebgram itu apakah sudah ada perkembangan"


"untuk apa aku menceritakan, ini kasus tim satu dan detektif Gurdiman tidak berhak tau"


"siapa tau kalian lelah dan akan menyerah kan kasus itu pada tim kami, tapi bukan itu maksud kedatangan ku. Rivaldi aku dengar kau mencurigai ku sebagai pelaku pembunuhan tersebut, benar kah. "


mendengar perkataan itu membuat rivaldi geram karena sepertinya ada seseorang yang membocorkan hal tersebut sehingga berita itu sampai ditelinga Gurdiman, "iya memang kenapa, semua bisa terjadi dalam penyelidikan dan detektif Gurdiman tidak bisa memarahiku karena semua asumsi itu terbentuk atas dasar bukti yang telah ditemukan"


"saya tidak akan marah apalagi sampai menghalangi tapi aku berani menantang apa detektif rivaldi bisa membuktikan aku pelaku nya, jika berhasil kau bisa memborgol tangan ini, tapi jika semua kecurigaan itu salah kamu harus meminta maaf dan berlutut di hadapan ku."


melihat percakapan rivaldi dan Gurdiman membuat semua anggota yang diluar cemas karena terlihat sepertinya pembicaraan mereka cukup serius, Gurdiman terlihat pergi meninggalkan ruangan mereka menatap kepergian nya "akhirnya dia pergi" ujar cazim lega

__ADS_1


rivaldi datang menghampiri rekannya lalu menyuruh mereka memasuki ruangan rapat terlihat semua hadir disana, bisma menanyakan apa yang Gurdiman bahas pada rivaldi namun dia hanya mengatakan bahwa semua itu tidak penting dia menyuruh anggota nya untuk tetap fokus pada kasus ini sebelum mereka mendapatkan titik terang.


satu hari berlalu akhirnya interogasi kedua dilakukan sekarang rivaldi dan anggota membawa bukti yang lebih kuat, pak tohir terlihat sedikit lebih baik wajahnya cukup cerah dan segar. "bagaimana kondisi mu pak tohir"


"baik pak detektif"


"jadi apa sekarang kau bisa menjawab pertanyaan dengan cepat dan jujur"


"setelah merenungi semua di balik jeruji selama dua malam saya sadar bahwa memang saya telah melakukan kesalahan, Maafkan saya pak" pak tohir menangis dia meneteskan air mata sepertinya penyesalan memang telah dirasakan nya


"minta maaf nya nanti saja, sekarang kau katakan kronologi sebenarnya"


"apalagi yang harus saya katakan semua bukti mengarah pada saya jadi sudah jelas saya pelakunya pak detektif" ujar pak tohir dia mengatakan semua itu dengan lantang namun matanya terlihat merah seperti dia menahan kesedihan.


Mendengar pengakuan itu membuat rivaldi kesal kenapa dia mengakui kesalahan yang sama sekali tidak dia lakukan, "siapa yang telah mengancammu" tanya rivaldi namun pak tohir tetap dengan jawaban nya dia mengaku bahwa dia lah yang telah membunuh Zoe.


"lalu apa kau bisa menjelaskan ini" menunjukkan sebuah rekaman dimana pria misterius itu menghampiri seorang satpam setelah dia keluar dari kamar zoe, "itu teman saya, detektif apa kau mengira satpam itu saya dan pria berjaket kulit itu orang lain"


"bukan mengira tapi saya yakin, baik jika memang kau mengakui semua itu lalu siapa orang yang kau temui di mobil Rolls-Royce, sepertinya mobil itu selalu mengikuti kemana pun zoe pergi"


pak tohir mengaku bahwa dia tidak mengerti apa yang sedang rivaldi bahas "saya hanya membeli senjata padanya" ujar pak tohir, cazim yang duduk disamping rivaldi pun ikut geram dengan semua pernyataan konyol itu.


semua menjadi tidak masuk akal rivaldi merasa bahwa pak tohir mencoba membodohi nya dengan pengakuan yang salah, pak tohir seakan menutupi fakta dibalik kasus ini seseorang mengancamnya atau memang kesetiaan nya yang tinggi.


"Jika memang pak tohir mengakui bahwa kau yang membunuh zoe lalu kenapa kau membiarkan jasad itu begitu saja, bahkan sampai beberapa hari"


"saya lupa"


Mendengar jawaban itu bukan hanya rivaldi yang geram tapi semua anggota yang sedang memperhatikan proses interogasi dibalik kaca pun ikut marah bahkan bisma sampai datang ke ruangan untuk menghajar satpam tersebut, rivaldi yang sudah tahu bahwa semua tidak akan berjalan dengan mudah mencoba berpikir tenang dia kembali bertanya


"kamu tahu siapa dia"


"Lagi-lagi itu saya sudah bilang detektif saya tidak kenal pria itu kenapa kau sepertinya memaksa sekali untuk aku mengetahui nya"


sekarang apa yang harus dilakukan rivaldi dan tim satu tersangka telah mengakui semuanya sebagai Kesalahan dia tapi dari semua pernyataan itu seperti ada yang ditutupi, interogasi dihentikan kembali rivaldi menyuruh cazim untuk membawa pak tohir ke tempatnya "tunggu komandan" cazim mengejar rivaldi yang hendak pergi


"komandan kau percaya dia pelaku nya"


"tidak aku rasa semua itu salah pernyataan nya itu tidak benar ada hal yang dia coba tutupi, cazim apakah jafar sudah mendapatkan data dari ponsel pak tohir"


"tidak komandan kita tidak mendapatkan apapun karena ponsel itu tidak memiliki kartu telpon sama sekali hanya tersimpan data biasa"


"dia menipu kita, hahah..." rivaldi begitu putus asa dengan kasus itu seseorang dibalik semua ini seperti mempunyai kuasa yang kuat untuk menutupi semua fakta.


cazim berusaha menenangkan komandan dia juga akan mencari cara agar pak tohir menceritakan kebenarannya walaupun harus bekerja dua kali lebih ekstra, cazim juga bertanya mengenai Gurdiman dia penasaran kenapa rivaldi begitu memaksa bahwa pak tohir mengenalnya.


terlihat rivaldi seakan tidak ingin mengatakan alasannya tapi dia tidak tidak punya pilihan lain "ada sebuah DNA orang lain di sela jari kuku mayat zoe"


"apakah itu milik pak Gurdiman"


"tidak pasti tapi untuk sementara memang hasil itu cocok dengan DNA nya"


"kenapa DNA komandan Gurdiman ada pada dokter wahyu, komandan memberikan nya, komandan mencurigai dia sebagai pelakunya"


"tidak awalnya hanya untuk kasus lain tapi tidak disangka itu akan berguna dalam kasus ini"


"komandan apa kamu masih menyelidiki mengenai kematian ayah mu, karena itulah kau menyimpan DNA komandan Gurdiman di rumah sakit"


mendengar semua itu rivaldi tidak memberi tanggapan dia menyuruh cazim untuk tetap fokus pada kasus zoe tidak perlu memikirkan hal lain, cazim merasakan memang ada sesuatu yang disembunyikan rivaldi jelas terlihat dari wajahnya bisma keluar membawa pak tohir dia mengantarkan nya menuju sel sementara rivaldi pergi bersama yuma.


****

__ADS_1


Malam hari tiba terlihat kantor yang sepi semua pegawai telah pulang menyisakan tiga orang yang berjaga saat itu, didalam sel pak tohir terlihat merenung dia menangis mengingat keluarganya yang di kampung


"apa yang harus aku katakan pada istri dan anak ku jika mereka tahu bahwa ayah nya adalah seorang pembunuh"


Penyesalan terlihat diwajahnya namun dia tidak bisa apa-apa selain harus melakukan semua agar keluarga nya selamat, malam yang sangat sepi hanya terdengar suara jam dinding hawa disekitar tempat pak tohir berubah di atas kesedihannya dia merasakan seseorang mengawasi.


bulu kuduk nya berdiri hal yang pernah dia rasakan di malam itu terjadi lagi pak tohir memanggil seorang petugas namun tidak ada respon, Pak tohir terus berdoa meminta perlindungan yang maha Kuasa tapi rasa takut itu semakin menghantuinya.


trekkk..


terdengar suara benda patah pak tohir mencoba mengabaikan dia tidur untuk menenangkan ketakutan nya, hawa panas di rasakan sekujur tubuh nya bahkan tercium bau amis yang sangat menyengat seperti mayat.


"pak... tohirrrr... "


suara bisikan memanggil namanya terdengar begitu dekat disamping kuping pak tohir terasa sentuhan dingin merayap di punggungnya, jantung berdegup kencang badan pak tohir kaku keringat membasahi tubuh nya dia mencoba berteriak namun suaranya hilang.


" to.. to.. long.. "


ketakutan yang dirasakan tiba-tiba hilang saat seorang penjaga datang dia menanyakan keadaannya, dengan gugup pak tohir mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja penjaga itu kembali meninggalkan pak tohir sendiri.


mengatur nafas rasanya begitu lelah pak tohir seakan sudah lari maraton ditengah malam tidak tau apa yang baru saja terjadi padanya namun hal itu selalu dia rasakan beberapa hari terakhir ini, "neng zoe apa yang kamu inginkan dari saya sekarang saya sudah dipenjara dan mengakui semua, jadi tolong pergi jangan ganggu ketenangan saya"


Pak tohir tahu bahwa semua itu adalah ulah arwah zoe yang masih gentayangan menghantui nya, sepertinya dia tidak terima atas kematian yang menimpa dirinya.


Dor...


suara tembakan terdengar jelas ketakutan kembali dirasakan pak tohir dia merasa bahwa zoe tidak akan pernah berhenti menghantui nya jika pelaku pembunuhan nya tidak mendapatkan pelajaran, "neng zoe saya tau kau disini tolong jangan terus-menerus menakuti saya, jika memang ingin balas dendam pergilah pada pelaku sebenarnya saya tidak bisa membantu mu. saya takut.. "


pak tohir menangis meminta pengampunan dari arwah zoe yang terus menerus menghantui nya dia bersujud meminta maaf tapi sepertinya arwah zoe semakin marah semua barang yang ada disana terlempar, bahkan tubuh nya sendiri seakan ada yang menarik hingga dia terjungkal keujung tembok.


pak tohir ketakut karena arwah zoe semakin marah dia berteriak meminta tolong namun tidak ada siapun yang mendengar nya, sesuatu menetes tepat di kepala pak tohir "apa ini" air kental seperti darah jatuh diwajahnya ketakutan semakin menyelimuti nya, pak tohir berbalik melihat kearah belakang terlihat ada sebuah bayangan besar muncul dari dinding.


bayangan itu semakin besar seakan akan ingin menangkap pak tohir di terus berteriak meminta zoe berhenti "baik saya akan mengakui semuanya saya akan bersaksi dengan jujur, jadi tolong berhenti menghantui saya" tetesan air mata membasahi wajah pak tohir dia menangis ketakutan hingga kencing di celana.


bayangan besar itu hilang suasana kembali sepi tidak ada barang yang terlempar "fyuuuuhhhh.. apa dia pergi" merasa lega dengan keadaan saat ini.


melihat dirinya yang kacau pak tohir mencoba memangil penjaga untuk membersihkan tempat nya yang kotor karena air kencing nya, terlihat seorang penjaga datang karena redupnya cahaya pak tohir tidak melihat jelas wajah penjaga tersebut


"pak boleh saya mengganti pakaian baju saya basah, karena kencing dicelana"


"Aduh kamu itu sudah besar tapi masih kencing dicelana malu sama umur Pak"


Pak tohir hanya tersenyum kecil mendapatkan teguran dari petugas itu pintu sel di buka terlihat petugas berjalan masuk ke dalam penjara namun anehnya dia kembali mengunci pintu tersebut dari dalam, melihat keanehan yang terjadi perasaan pak tohir tidak enak dia berjalan mundur menghindar dari penjaga tersebut.


langkah penjaga semakin dekat hingga di satu titik cahaya menerangi wajahnya terlihat orang tersebut tidak asing bagi pak tohir "Pak Jendral.... kenapa ada disini, " orang tersebut hanya tersenyum kemudian dia menodongkan sebuah pistol tepat di kearah pak tohir


"tunggu.. apa maksud nya ini pak.. , bukan kah ini diluar perjanjian kita, pak kalau kamu seperti ini semua orang akan tahu kejadian yang sebenarnya, mereka pasti tidak akan tinggal diam, pak... pak.. "


orang itu tidak mendengarkan dia hanya terus berjalan mendekati Pak tohir karena ketakutan tubuh nya lemas dia jatuh tidak kuat menahan beban, "pakk... tolong ampuni saya, saya tidak akan memberi tahu kejadian sebenarnya jadi tolong jangan bunuh saya.. pak, pak.. tolong kasiani istri dan anak saya jika saya mati siapa yang akan menafkahi mereka"


pak tohir bersujud dikaki pria itu namun dia tidak memperdulikan nya "hahaha.. kau mau mengakui pembunuhan itu sebagai perbuatan mu, kau tahu mereka akan membawa mu keneraka disana penuh dengan orang orang jahat, orang seperti mu tidak akan kuat itu yang aku takut kan bagaimana jika kau berubah pikiran lalu menceritakan semuanya"


"saya janji tidak akan mengatakan nya jadi tolong pak ampuni saya jangan bunuh saya"


pria itu menendang tubuh pak tohir dia menginjakkan kaki tepat didadanya sehingga nafas pak tohir terengah-engah, Pak tohir kesulitan bernafas dia mencoba menyingkirkan kaki itu tapi pria tersebut semakin menekan kuat pijakan nya.


"hahaha..cukup, disana kau akan sengsara pak tohir jadi lebih baik kau merasakan sakit hari ini dari pada menderita seumur hidup"


Ketakutan semakin dirasakan jantung berdegup kencang nafasnya yang tertahan membuat pak tohir semakin kesakitan, air keringat bercucuran wajahnya pucat seperti akan sekarat pistol itu sudah berada tepat di depannya.


Tanpa menunda waktu pria itu langsung menembakkan peluru tepat di dahi pak tohir, mendengar suara tembakan para polisi yang sedang berjaga diluar bergegas masuk menuju asal suara tahu akan situasi bahaya pria itu langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


Lampu kembali terang terlihat ruangan yang sudah berantakan serta terlihat genangan darah mengalir dari sel tepat milik pak tohir, "bagaimana ini bisa terjadi" penjaga tersebut kebingungan melihat pak tohir yang sudah terkapar di lantai dengan darah yang menyelimuti wajahnya.


__ADS_2