
pagi yang cerah hari ini rivaldi akan pergi menemui kepala Polisi dia akan meminta pak kepala untuk melanjutkan kasus zoe walaupun dirinya harus berlutut atau bersujud dihadapan nya sekalipun rivaldi akan lakukan, cazim menemani rivaldi pergi ke kantor pusat terlihat mereka cukup berani dengan segala persiapan yang sudah mereka bawa.
"kuatkan mental, semangat" ujar cazim
melihat tekad cazim membuat rivaldi tersenyum dia juga teringat dengan kasus yang dia rahasia mengenai kebakaran rumahnya yang masih tanda tanya, sekarang rivaldi akan fokus pada kasusnya zoe saat ini tapi dia juga tidak akan menyerah untuk kasus kebakaran itu.
telah sampai dikantor pusat mereka segera bergegas pergi menuju ruang pak Kepala terlihat dia disana sedang duduk seperti menunggu kedatangan mereka, "hallo detektif rivaldi apa kabar, silahkan duduk" rivaldi dan cazim duduk di sofa yang ada disana pak kepala menuangkan teh pada gelas mereka.
"pak maaf atas kedatangan kami yang mengganggu"
"tidak santai saja, lagi pula sudah lama kita tidak bertemu setelah kematian detektif Edwin jarang sekali kamu datang ke sini"
"iya.. " mereka membuka pembicaraan dengan berbicara masa lalu dan juga kedekatan pak kepala dengan detektif Edwin, "kamu ingin saya membuka kembali kasus itu bukan rivaldi" ujar pak kepala lansung menuju topik
"sebelum kamu datang pak Irjen Eji sudah menceritakan semuanya ditelpon pada saya, kalau boleh tau apa alasan mu kenapa kamu ingin membuka kembali kasus tersebut"
rivaldi mencoba memberi alasan yang kuat pada pak kepala dia juga meminta kasus zoe ini dibuka bukan hanya sebagai kasus kematiannya tapi sebagai kasus baru juga yaitu kematian pak tohir, seseorang sengaja menjebak pak tohir untuk mengakui semua kesalahan yang tidak dia lakukan dan karena takut pak tohir berhianat orang itu akhirnya membunuhnya.
"jika memang pak tohir pelakunya kenapa dia harus dibunuh, kalau pun itu seseorang yang membencinya karena perbuatan nya pada zoe tetap saja itu tidak bisa dibenarkan karena dia telah membunuh orang walaupun dia seorang narapidana"
"saya juga tahu detektif kasus ini masih rancu dan belum clear tapi saya melakukan ini demi kita juga, demi menjaga reputasi kepolisian"
"maksud bapak"
pak kepala menjelaskan jika mereka terus melanjutkan kasus dan membeberkan semua kebenaran pada publik itu akan memicu amarah netijen, mereka akan menganggap kita polisi yang tidak kompeten karena tidak bisa memecahkan kasus kematian idola nya lagi pula dia hanya seorang narapidana yang nanti nya akan mati juga
"pak apa kita harus mengorbankan seseorang hanya untuk reputasi, pak pengadilan belum berlangsung dia hanya mengaku sebagai pelaku belum fasti dia pelakunya"
"saya tahu kamu tidak akan setuju tapi semua sudah terjadi rivaldi lagi pula tidak ada orang yang merasa keberatan dengan keputusan ini, bahkan kamu sendiri tidak bisa menemukan bukti bahwa siapa pelaku lain selain satpam itu"
"lalu kematian nya bagaimana dengan kematiannya pak, apakah kita akan diam saja melihat ketidak adilan yang dia terima. pak walaupun dia hanya seorang satpam ataupun calon narapidana tetap saja dia manusia, bagaimana perasaan keluarganya bila mereka tahu semua ini"
Amarahnya memuncak cazim mencoba menenangkan komandan nya dia harus bisa kontrol emosi apalagi saat ini dia sedang bicara dengan seorang atasan, cazim mengeluarkan beberapa berkas keatas meja dia memberikan data itu pada pak kepala "apa ini"
"saya dan tim satu sudah menemukan bukti baru pak" ujar rivaldi
"benarkah, dari mana kamu mendapatkan bukti itu" reaksi pak kepala terkejut mendengar pernyataan rivaldi dia segera membuka map tersebut terlihat data dari sang tersangka, disana juga ada sebuah foto dua anak muda yang sedang selfie bersama.
"hahaha... maaf pak kepala harusnya anda bertanya siapa pelakunya bukan dari mana buktinya, tapi bapak tidak perlu khawatir saya tidak akan membeberkan semua yang tidak penting sekarang saya hanya perlu perintah izin dari bapak"
"kamu... mengancam saya"
rivaldi hanya diam sambil menggelengkan kepalanya terlihat keringat bercucuran di wajahnya pak kepala namun semua itu masih tetap tidak mengubah keputusannya, tahu akan seperti itu rivaldi mencoba memasuki pembicaraan kehal yang lebih serius
__ADS_1
"pelaku tersebut diduga seorang mantan TNI dia dulu adalah perajurit yang sangat berpartisipasi bahkan banyak penghargaan yang telah dia dapatkan, tapi sayangnya ketika pangkatnya semakin tinggi dia harus terjerat korupsi dan akhirnya dipenjara dan pensiun dengan cepat. bukan begitu pak kepala jendral "
rivaldi menunjukkan sebuah foto dua anak muda yang ada dalam map tersebut dia juga menunjukkan foto lainnya, satu anak tersebut diduga sang pelaku yang berinisial JZ dan satu lagi adalah pak kepala sendiri.
mereka bertemu di sekolah dasar dan menjadi sahabat sampai SMK namun keduanya berpisah untuk meraih cita-cita dan pada akhirnya mereka dipertemukan kembali setelah sukses menggapai impian nya, pak kepala sukses menjadi polisi hebat sementara temannya JZ sukses menjadi seorang TNI AD.
sang pelaku juga mempunyai seorang adik yang berprofesi sebagai polisi dia adalah gurdiman komandan tim 4 cabang jaksel, hubungan pelaku dengan korban diduga adalah calon mertua karena anaknya yang bernama stefan berpacaran dengan zoe.
sementara hubungan nya dengan pak tohir hanya sebatas bawahan dia dibayar untuk memata-matai zoe kekasih anaknya, dan motif dari pelaku melakukan semua ini adalah balas dendam.
"untung siska mendapatkan petunjuk mengenai pak kepala jadi kita bisa dengan mudah melacak identitas sang pelaku" ujar rivaldi dalam hatinya
"jadi pak kepala apakah anda bisa memberikan saya izin untuk membuka kasus itu kembali"
"tidak, rivaldi... apa semua bukti ini kamu menganggap saya menghentikan kasus tersebut karena dia sahabat saya, kamu mencurigai letnan jazakli sebagai pelakunya rivaldi dia itu memang ayahnya stefan dan dia pernah melakukan kesalahan tapi bukan berarti kamu menuduhnya seperti itu, kalau kamu melakukan ini sama saja kamu mencurigai saya"
"tidak pak kepala bukan seperti itu tapi saya hanya menunjukkan informasi yang telah tim kami dapat, dan untuk menunjukkan dia pelakunya atau bukan itu bisa di buktikan dengan ponsel ini"
rivaldi menunjukkan sebuah ponsel milik stefan yang selama ini meraka cari setelah melakukan penggeledahan kedalam rumah dan kamarnya yang tidak memiliki hasil, pada akhir nya mereka bisa menemukan ponsel tersebut di sebuah peti di dekat sungai.
tim satu bisa menemukan semua barang milik stefan berkat siska yang sudah rela meminjamkan tubunya dengan para arwah korban, dia berkomunikasi melalui telepati miliknya bahkan dia juga tahu bagaimana semua nya bisa tertutupi dengan sangat baik.
"pak kepala apakah kamu membantu temanmu dalam hal ini" bisik rivaldi pada kepala Polisi mendengar hal itu dia marah dia merasa di hina oleh bawahannya sendiri.
"ada komandan karena pelaku adalah purnawirawan jadi itu masuk dalam Pasal 1 ayat (1) UU Darurat No. 12 Tahun 1951,dan masih haruskah saya jelaskan dengan undang-undang yang lain. "
"tidak usah cukup satu"
Ditengah ketegangan seseorang datang mengetuk pintu terlihat dia memakai jas keren dengan tas di tangannya semua terkejut akan kehadiran orang tersebut, Putri Agustinus seorang Jaksa terkenal yang reputasi nya tinggi dikalangan masyarakat kehebatan nya sebagai jaksa tidak diragukan.
Jaksa cantik tersebut masuk kedalam ruangan dia memberikan salam pada semua orang yang ada disana, pak kepala cukup terkejut dengan kedatangan nya yang tiba-tiba namun dia sempat melirik rivaldi terlihat wajahnya tersenyum kecil.
jelas terlihat memang sepertinya rivaldi yang telah memanggilnya untuk datang dia meminta bantuan putri agar bisa membujuk kepala Polisi untuk menyetujui perpanjangan kasus tersebut, "cukup pintar" bisik pak kepala pada rivaldi
dia berdiri menyambut kedatangan sang Jaksa dan menyuruh nya untuk duduk, rivaldi dan cazim pun ikut memberi penghormatan padanya."apa yang bisa membawa ibu Jaksa datang, sungguh itu tidak terduga Jaksa Agustinus menghampiri kantor saya. hehehe.. " Ujar pak kepala
"ah tidak harus seperti itu pak kepala saya yang seharusnya memberi hormat karena sudah diijinkan masuk ke sini, bagaiamana kondisi mu pak"
"baik sangat baik terimakasih atas perhatian nya" ujar pak kepala
Rivaldi tersenyum melihat perhatian beda yang dilakukan pak kepala pada ibu Jaksa, terlihat putri mengeluarkan beberapa berkas dari tas keatas meja.
"kalau boleh tau apa yang bisa membawa ibu Jaksa datang ke sini" ujar pak kepala
__ADS_1
Putri menjelaskan maksud dan tujuannya datang dia juga menyatakan keberatan atas kasus yang sudah ditutup sebelum sidang, "walapun di sudah meninggal tapi fakta dan kebenarannya harus diungkapkan, bukan begitu pak detektif" ujar putri melirik rivaldi yang duduk dihadapan nya.
mendengar semua permintaan dari sang Jaksa membuat pak kepala bingung dia tidak bisa mengelak mencari alasan, bahkan rivaldi sudah memiliki rekaman tentang keburukannya jika dia menyerahkan bukti itu pada pengadilan akan sangat berbahaya bagi karir dan reputasi nya.
rivaldi menatap pak kepala dia seperti mengisyaratkan untuk menyetujui hal tersebut "baik bu Jaksa saya akan memberikan izin untuk membuka kembali kasus tersebut tanpa ketentuan" ujar pak kepala
"baik pak kepala terimakasih atas keputusan nya saya tunggu surat izin tersebut, kalau begitu saya pamit masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan"
tanpa banyak waktu yang terbuang akhirnya acara negosiasi itu berjalan lancar rivaldi bisa bekerja kembali tanpa harus sembunyi, melihat bu Jaksa yang pamit meninggalkan ruangan rivaldi pun bermaksud untuk pergi "tunggu pak detektif" ujar pak kepala
dia menghentikan rivaldi pergi dan berkata bahwa ada sesuatu yang harus mereka bicarakan berdua saja "kamu duluan" ujar rivaldi pada cazim, dia pun pergi meninggalkan komandan nya dengan pak kepala dirungan itu.
di sana pak kepala menjelaskan maksud dan tujuan nya menutup kasus itu memang benar dia ingin membantu sahabatnya tapi semua itu atas tekanan jazakli sendiri, karena selama ini pak kepala banyak berhutang budi padanya itulah dia tidak bisa menolak. pak kepala terus memberikan alasannya mencoba membela diri dengan terus memojokkan sahabat nya itu.
mendengar semua omong kosong yang pak kepala ucapkan membuat rivaldi paham begitu egoisnya seseorang jika menyangkut reputasi dan harga dirinya, mereka memilih memegang kuat ego itu walaupun harus saling menghancurkan dan saling menusuk satu sama lain.
"pak saya tau maksud mu, tenang sudah saya katakan dari awal orang yang tidak berkepentingan tidak akan saya ceritakan, tapi itu tidak janji untuk mu karena semua perbuatan harus ada konsekuensi nya, hehehe... " ujar rivaldi menggoda pak kepala dengan terus menaruh api di hatinya.
rivaldi dan cazim kembali pulang terlihat putri masih ada disana dia memberi selamat "kamu berhasil" ujar nya namun rivaldi mengelak karena menurut nya semua itu tidak akan berhasil jika tidak ada bantuan dari sang Jaksa.
tim satu mendapat informasi bahwa pak kepala sangat menghormati Jaksa putri Agustinus karena itulah mereka meminta bantuan dan menyuruh nya menjadi Jaksa dipengadilan pak tohir, lagipula hubungan rivaldi dan putri sudah sangat dekat mereka berdua teman semasa sekolah dulu.
"semua akan dimulai dari awal dengan nama kasus yang berbeda tapi dengan pelaku yang sama" ujar rivaldi
"benar, semangat tangkap pelakunya kita ketemu lagi dipengadilan nanti, oke"
putri pergi meninggalkan cazim dan rivaldi di sana terlihat dia menaki sebuah mobil mewah lalu pergi melaju dengan cepat, "ayo komandan kita pergi juga" ajak cazim mengambil mobil lalu mereka pergi, dipertengahan jalan cazim bertanya pada rivaldi
"Komandan kenapa kita tidak dari awal meminta bantuan Siska, kalau tau hasilnya akan semudah ini" tanya cazim
rivaldi menjelaskan bahwa tidak mudah membujuk adiknya melakukan sesuatu yang tidak ingin dia lakukan, lagi pula rivaldi tidak ingin membuat adiknya terluka dengan ikut campur masalah seperti ini.
"kau tau saat setelah kita semua pulang dari Yogyakarta untuk kasus RK banyak sekali hal aneh yang selalu Siska rasakan, tubuhnya selalu lemas ketika dia menggunakan mata batinnya. "
"apa itu akan ada konsekuensinya yah"
"entah tapi akhir akhir ini mamah ku bilang tubuh Siska selalu panas dan dia sulit mengontrol emosi nya"
"maksudnya dia ngamuk" ujar cazim
"iya kurang lebih seperti itu, mamah bilang si sepertinya qodam milik Siska sedang berontak"
rivaldi juga cerita bahwa dirinya memerlukan cuti agar dia bisa membawa adiknya berobat mereka perlu menemui seseorang yang bisa membantu Siska dalam masalah ini.
__ADS_1