FIRST MEET YOU

FIRST MEET YOU
PROLOG


__ADS_3

Filia adalah mahasiswi unggulan di sebuah universitas di Korea. Pintar dalam bidang sastra bahkan sudah menjadi penulis Novel yang karyanya terkenal di seluruh dunia. Punya kekayaan yang di dapatkan dari hasil jerih payahnya menulis membuat hidupnya sedikit mentereng karena royalty yang di dapat dari novelnya menghasilkan puluhan juta bahkan ratusan juta dalam sebulan. Hanya saja kehidupan percintaannya tidak berjalan mulus karena phobianya yang tidak bisa berciuman dengan lawan jenis.


Kemudian seorang pria bernama Jeko. Cowok ganteng dan pekerja keras. Kuliah di Universitas yang sama dengan Filia. Dia juga seorang pria yang sukses karena bekerja sebagai direktur dalam sebuah perusahaan Penerbit di korea. Kekayaannya tidak bisa diragukan lagi mungkin jika disuruh membeli ribuan pesawat terbang dia akan mampu membelinya. Hanya saja, Jeko punya Phobia yang sama dengan Filia yaitu tidak bisa berciuman dengan lawan jenis cuma bedanya dengan filia karena wajahnya yang cukup ganteng dan terkenal. Wanita tetap akan mengantri untuk sekedar berfoto dan rela mempertahankan hubungan karena Jeko cukup tajir.


Mereka berdua sama-sama memiliki seorang pasangan. Namun, karena phobia itu pasangan mereka harus mengerti keadaan mereka. alhasil, tak jarang pasangan mereka selingkuh diam-diam hanya demi memuaskan hasrat mereka untuk berciuman.


***


Hari libur yang menyenangkan bagi Filia karena dia bisa jalan-jalan keliling kota untuk sekedar mencari ide kreatif untuk novelnya.


Tiba-tiba kekasihnya menelpon.


"Sayang, kamu dimana?" tanya Exel kekasih Filia.


" Aku lagi di taman sayang, sambil makan cemilan. Ada apa?" ucap Filia masih terus memakan cemilanya.


"Jalan-jalan yuk!Aku ajak ke sebuah Taman bermain, ada wahana baru di sana!" ajak Exel.


"Oke sayang, jemput aku di depan taman ya!" Filia membuang bungkus cemilannya lalu bersiap untuk di jemput Exel.


"Baiklah, aku segera meluncur kesana!" ucap Exel mematikan telpon.


Sepertinya liburan gini pergi ke taman bermain ramai banget, gumam Filia dalam hati.


Mobil Exel sudah parkir di depan taman dan mereka bergegas untuk pergi ke taman itu. Suasana di taman itu seperti dugaan Filia sangat ramai. Setiap tiket habis di beli hanya tersisa bianglala.


"Maaf ya sayang, kita kehabisan tiket hari ini. Jadi nggak bisa ngrasain deh!" kata Exel sedikit kecewa.


"Iya sayang, nggak papa kok. Kita masih bisa naik bianglala," hibur Filia menutupi rasa kecewa.


Mereka naik ke bianglala, Filia selalu menulis setiap hal yang dilihatnya dan itu sudah kebiasaannya sebagai penulis novel. Mereka duduk bersebelahan di bianglala, tangan Exel merangkul kekasihnya itu.


"Sayang!" panggil Exel


Filia yang masih serius dengan tulisannya menoleh.


"CUP"

__ADS_1


Bibir exel menciumnya dengan lembut, Filia sempat terpaku sesaat setelah itu Filia berteriak dan menarik dirinya.


"Aaaaaaaarrrrrhhhh!Apa yang kamu lakukan? Besok aku ada ujian, Kamu bisa membuatku demam sayang!"Filia menjadi sangat panik mukanya sudah memerah dan telinganya sudah mulai gatal.


"Maaf sayang, aku tidak bisa menahannya lagi! Sudah tiga tahun kita pacaran tapi aku sama sekali belum pernah menciummu,"jelas Exel.


Filia mendengar hal itu hatinya sangat sedih lalu tanpa sadar meneteskan air mata. Kenapa aku nggak pernah bisa berciuman? Oh Tuhan, kesalahan apa yang aku lakukan, sampai aku memiliki penyakit seperti ini? batin Filia.


Exel mengusap air mata Filia


"Maaf sayang, jika ini sangat keterlaluan." Jika terus seperti ini, bagaimana bisa aku melamarnya ? Apakah setelah menikah, dia sama sekali tidak bisa berciuman?Bahkan cuma pipi saja alergi, gumam Exel dalam hati.


"Maafkan aku, aku yang nggak bisa mengerti kamu!" kata Filia masih terus menerus meneteskan air matanya.


Putaran bianglala itu selesai, mereka turun dan bergegas pulang karena wajah Filia dan lehernya semakin memerah dan mulai demam.


Mereka sampai di depan rumah Filia.


"Da, sayang." Filia melambaikan tangannya setelah turun dari mobil Exel.


Filia masuk ke dalam rumah.


Langkah Filia terhenti dan menurut perkataan mamanya.


"Iya ma, Filia makan dulu," jawab Filia mengambil piring dan sendok di dapurnya.


"Kamu berciuman hari ini?" tanya mama Filia.


"Jangan tanyakan itu terlalu jujur ma!" kata Filia merasa malu.


"Gimana mama nggak tanya? itu mukamu sudah kaya kepiting rebus telingamu juga melepuh, mama ikut prihatin harusnya, kamu menikmati masa mudamu dengan baik." gerutu mama Filia sambil mengambilkan perkedel untuk Filia.


"Sudah nasibku dalam percintaan tidak pernah mulus, ciuman saja tidak bisa, deg-degan melakukannya juga tidak pernah, apa aku sudah mulai mati rasa untuk mencintai ya, ma?" Filia seperti sudah putus asa.


"Jangan berfikir terlalu jauh sayang, pasti ada cara menyembuhkan phobiamu itu. Mama yakin pasti ada cara. Ya sudah, cepat minum obatmu sana! Bawa makanan itu keatas sebelum demam dan merahnya semakin parah," kata mama Filia menasihati anaknya itu.


"Baik, ma."jawab Filia.

__ADS_1


Filia menyelesaikan makannya dan meminum obat yang sudah di resepkan rutin oleh dokter lalu bersiap istirahat.


"Aku sangat benci jika aku seperti ini! Masih terang tapi aku harus bergelut dengan selimut." kata Filia sudah bersiap untuk tidur.


Di samping itu Jeko juga sedang menikmati waktu dengan kekasihnya. Jeko dan kekasihnya Jeni berada di mercusuar. Pemandangan saat itu sangat indah dan mereka menghabiskan waktu sampai malam.


"Sayang!"Panggil Jeni yang bersandar di pundak Jeko.


"Hmm ... kapan kamu bisa melamarku?" tanya Jeni.


"Mungkin dua tahun lagi sayang. Aku pasti akan melamarmu!" kata Jeko dengan mantap menjawab.


"Kalau begitu ... " tiba-tiba Jeni beranjak dari sandarannya dan mencium kekasihnya itu.


Jeko tiba-tiba memerah dan mukanya mulai terasa gatal telinganya mulai seperti telinga gajah yang tiba-tiba melepuh sendiri. Jeko sangat terpaksa menarik ciuman itu. Sial! Kenapa selalu gagal? Bibirnya sangat lembut, rasanya aku ingin mengulanginya lagi, kata Jeko dalam hati merasa sangat kesal sambil menutupi wajahnya.


"Sayang, maafkan aku! Aku sangat ingin menciummu, maaf aku tidak bisa menahannya!" Jeni menenangkan Jeko dan memegang lengannya.


"Tolong lepaskan aku! Sepertinya aku memang tidak akan pernah bisa berciuman. Jika kamu minta putus, aku akan mengiyakannya." kata Jeko masih emosi dengan dirinya sendiri sambil mengirim pesan kepada supirnya untuk menjemputnya.


"Jangan begitu sayang, Aku nggak mau putus! Aku akan sangat setia menunggumu sembuh sayang," kata Jeni sambil memegang lengan kekasihnya itu. Aku tetap harus mempertahankan kamu Jeko karena kamu sumber mata uangku, masalah ciuman ya ... sedikit berbasa-basi seperti ini tidak apalah, kamu mati perlahan itu juga tidak masalah!Yang pasti jika aku sudah jadi istrimu otomatis semua hartamu juga akan jatuh ke tanganku sayang, kata Jeni menaikan alisnya dan tersenyum sinis dibelakang Jeko.


"Malam ini kamu naik taxi dulu ya, Jen? Aku tidak bisa menyetir karena tanganku melepuh," Ucap Jeko.


"Baiklah sayang, Jangan lupa beri kabar jika sudah sampai rumah!" Ucap Jeni.


"Sopirku sudah dibawah Jen, Aku harus segera pulang!" kata Jeko bergegas untuk segera pulang.


"Hati-hati sayang!" Jeni hanya melambaikan tangannya.


Jeni membuka ponselnya dan menelpon seseorang, "Sayang kamu bisa jemput aku di mercusuar sekarang? Kita jalan yuk!"


"Oke, aku segera meluncur kesana sayang." kata Do-yun kekasih Jeni yang lain.


Sesampainya dirumah. Jeko bergegas menuju kekamarnya dan segera meminum obatnya.


"Lagi-lagi seperti ini! Kapan aku bisa merasakan suasana yang seru bersama pasangan? Aku mulai muak dengan keadaan ini!" Umpat Jeko sambil melepas satu persatu kancing bajunya.

__ADS_1


Jeko mengganti pakaiannya dengan Piama tidur dan bergegas beristirahat.


__ADS_2