
Filia berjalan ke kamar Jeko membawa baskom dan handuk untuk mengompres. Karena panas yang begitu tinggi membuat Jeko jadi sering mengigau, Filia mengambil handuk dan mengusap kening Jeko yang cukup panas itu. Kemudian menempelkan handuk itu ke kening Jeko.
Dalam mimpi Jeko terus terbayang semua mantan yang meninggalkan dirinya karena phobia yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Sampai suatu ketika dia menemui Filia dan lagi-lagi kejadian dia di tampar hadir lagi di dalam ingatannya. Dalam tidur dia selalu mengigau dan terus mengigau.
"Fil, kenapa kamu menamparku? Kenapa kamu begitu benci kepadaku? Bisakah berikan sedikit kesempatan padaku? Aku juga ingin dicintai!" Jeko mengeluarkan peluh yang membuat Filia terkejut.
Filia mengusap peluhnya lalu menggenggam tangan Jeko sambil duduk di lantai dan memandang Jeko dari samping.
'Apakah tamparan itu membuatnya sangat terpukul?Jika saja kamu tidak punya kekasih Je, aku akan mengikuti perasaanku untuk mencintaimu. Aku tetap akan selalu berada disisimu walaupun tidak terlihat, setelah kamu sembuh aku akan pergi, sampai kapanpun aku tidak akan merusak hubungan siapapun! walaupun karena hal itu aku harus menyakiti perasaanku sendiri.' gumam Filia dalam hati meneteskan air matanya sambil mencium tangan Jeko.
Matanya belum juga terbuka sampai sore hari. Filia terus membuat sentuhan dengan menyentuh wajahnya, menggenggam tangannya dan mencium keningnya berharap Jeko bisa cepat sadarkan diri. Filia terus merawat Jeko mengusap keringatnya perlahan dan menyeka kedua tangannya.
Saat hari sudah malam Jeko membuka matanya tapi masih setengah kabur dia menangkap bayangan Filia tapi selalu dia anggap itu halusinasi. Dia hanya tersenyum tapi tak mampu membuka mata sepenuhnya. Filia sedikit khawatir.
"Jeko kamu sudah sadar? Jeko! Apa kamu lapar?" Filia terus mengajak Jeko bicara.
Tapi gema suara itu selalu di kesampingkan Jeko.
"Saat sakit saja bayangannya muncul!" Jeko masih belum sadar kalau bayangan itu nyata.
Filia membuatkan sup lalu menyuapi Jeko perlahan walaupun dia masih belum bisa membuka mata sepenuhnya. Sampai akhirnya bibi Yan memberinya resep obat untuk di berikan ke Jeko. Filia menggerus obat itu dan menyuapi Jeko lalu memberinya minum. Filia juga kelelahan karena bergerak terus untuk merawat Jeko, akhirnya Filia ketiduran disamping Jeko masih menggenggam tangannya.
Demam Jeko berangsur membaik dan pagi harinya demamnya mulai turun. Filia sudah bangun untuk menyiapkan bubur ayam yang dimasaknya sendiri. Mengantar bubur itu dengan nampan setelah Filia selesai mandi, Jeko perlahan mulai membuka matanya masih belum sadar sepenuhnya. Dari pintu Filia masuk dengan sebuah nampan yang berisi bubur ayam, Jeko masih berfikir itu halusinasi sampai matanya tidak berpindah menatap Filia untuk memastikan itu nyata atau hanya bayangan saja.
Filia menyuapi Jeko perlahan, semakin lama membuat Jeko semakin heran.
'Kenapa bayangan itu seperti nyata?' Jeko masih terus menatap Filia.
Filia tahu Jeko belum menyadari dirinya disana, dia terus diam sepanjang Jeko menatapnya dengan begitu intens. Tangannya terus bergerak dan bubur itu akhirnya habis.
Filia keluar dari kamar itu.
'Mungkin tadi bibi Yan. Karena aku berhalusinasi jadi bibi Yan bisa berbentuk Filia.' Jeko mencoba mengartikan apa yang dilihatnya.
Filia masuk keruangan itu lagi tapi menggunakan seragam pelayan dan menutup wajahnya memakai cadar.
"Maaf Tuan, ini obat dan air minumnya!" Filia menyamar menjadi pelayan untuk membuat Jeko merasa Filia tidak ada disana.
Jeko meminum obatnya dan kembali ke posisi instirahatnya.
"Sudah kuduga, wanita itu cuma khayalanku saja. Mana mungkin dia datang ke sini! Ya sudah bawa pergi nampannya!" Jeko berbalik dan membelakangi Filia.
'Maaf Jeko, aku harus bersembunyi. Jadilah Pria yang setia dengan begini aku tidak akan membuat dosa apapun.Karena aku tidak mengganggu hubungan orang lain.' gumam Filia membawa nampannya pergi.
Jeko kembali tertidur. Filia yang masih menggunakan seragam pelayan mengintip saat membuka pintu kamar Jeko. Mengendap- endap memastikan Jeko sudah tidur. Posisi Jeko kembali terlentang dan Filia membetulkan selimutnya. Filia kembali menjaganya seharian, sampai akhirnya Filia ketiduran sambil menggenggam tangan Jeko.
Keesokan harinya
Matahari sudah segar menyapa hari itu. Jeko merasakan badannya lebih enak dari biasanya. Jeko seperti mengingat sesuatu kalau ada sesuatu yang mendarat di keningnya. Setelah membuka mata yang terlihat adalah Yul.
"Yul?" Jeko terbelalak begitu terkejut.
"Hei, kamu mengejutkanku! Ada apa ?" Yul bingung menatap Jeko.
"Kamu tidak mencium keningku kan?" Jeko mengusap keningnya serasa jijik jika itu benar.
"Wah ternyata demam juga bisa membuat seorang pria menjadi tidak waras! Sori bro aku masih normal. Kamu Halu ya?" Yul sedikit kesal dan heran.
"Rasanya masih basah, aku yakin sekali ada yang menciumku!" Jeko masih penasaran.
"Mungkin hanya mimpi. Sudah, sekarang makanlah! Ini bibi Yan membuatNya khusus untukmu." Yul menyiapkan meja kecil di hadapan Jeko.dan menata makanan di atas meja.
'Aku merasa aneh, kemarin benar-benar berkhayal ada Filia disini! Sekarang sepertinya ada yang mencium? Benar kata Yul? Aku sedikit halu." batin Jeko sambil mengunyah sarapan dimulutnya.
***
__ADS_1
Filia sampai di rumah. Wajahnya terlihat sangat lelah. Mata dan badanya sudah tidak bisa berkompromi lagi. Setelah selesai mandi langsung saja dia rebahkan tubuhnya diranjang dan tertidur.
Mama Filia memanggil anaknya untuk makan tapi tidak ada satu pun jawaban akhirnya dia naik ke atas untuk ke kamar Filia kemudian mendapati anaknya sudah tidur dengan posisi yang sangat berantakan.
Mama Filia mendekati anak itu dan membetulkan selimutnya.
"Fil, kebiasaan tidurmu yang buruk kenapa masih tidak berubah? Kantung matamu juga terlihat sangat tebal, apa kamu tidak pulang selama dua hari ini untuk lembur mengerjakan Novel lagi? Aku hanya takut kamu semakin kurus dan mudah terserang penyakit jika begini. Baiklah tidur yang nyenyak! Aku akan turun!" Mama Filia bergumam sendiri sambil membelai rambut anaknya.
Filia benar-benar tidur dengan waktu yang cukup lama. Hari sudah malam dan Filia baru saja terbangun dari tidurnya.
"Huaaammmnn, jam berapa ini?" Filia melihat jam di meja.
Betapa terkejutnya Filia ketika melihat jam sudah menunjukkan jam tujuh malam.
"Kenapa lama sekali aku tidur?"
Filia yang memakai celana pendek dengan kaos berwarna pink berjalan sempoyongan ke luar dari kamarnya menuju ke dapur untuk menemui mamanya yang sedang memasak. Wangi masakan mamanya itu membuat perutnya semakin bernyanyi dengan riang.
Dari belakang, Filia memeluk mamanya yang masih membolak-mbalik tofu.
"Ma, aku lapar!" pinta Filia dengan manja.
"Apakah kamu sudah puas untuk tidur? Kemana saja kamu dua hari ini kenapa tidak pulang?" tanya mama Filia penasaran.
Filia terkejut dengan pertanyaan itu.
"E-Aku di kantor ma, Novelku akan segera di angkat ke dalam drama jadi aku harus segera menyelesaikannya." jelas Filia yang terpaksa berbohong.
Mama Filia berbalik dan memeluk anaknya itu.
"Benarkah? Berarti aku bisa menonton drama yang ceritanya di ciptakan putriku sendiri? Ini kabar baik sayang. Kamu memang anak mama yang hebat. Baiklah! Sekarang tunggu di meja mama akan siapkan makanan untukmu!" mama Filia terlihat amat bersemangat.
Filia melihat senyum tersungging di wajah mamanya membuatnya senang.
***
Disisi yang lain keadaan Jeko semakin membaik. Jeko sedikit heran kemarin antibiotik sama sekali tidak mempan mengobati alerginya dan demamnya gagal turun. Kata dokter kemungkinan akan lama untuk sembuh karena Jeko sudah keluar batas meminum alkohol.
'Kenapa aku merasa aneh sudah empat hari aku sakit dan antibiotik juga tidak mempan mengobatiku tapi kenapa hari kelima dan keenam aku sudah membaik? Apa jangan-jangan dokter itu membohongiku? Perkiraan dua minggu mana mungkin secepat ini?' Jeko masih terus bengong di tempat tidur.
"Je!! Ya Tuhan kenapa bengong? Kamu jadi semakin aneh ketika sakit." ujar Yul yang
Masih bermain game di tangannya.
"Kenapa demamku dan keadaanku cepat membaik ya? Padahal kata dokter akan lama?" Jeko masih terus merasa tidak percaya dengan keadaan ini.
"Justru kamu harus bersyukur Je. Malah kamu bertanya? Dikasih sembuh dengan waktu cepat kan Bagus Je." Yul menjawab Jeko masih asik bermain game di handphonenya.
"Ya iya sih, apa Filia nggak datang ke sini?" Jeko masih terus penasaran.
"Nggak ada yang mengunjungimu selain aku Je. Jadi jangan berfikir terlalu jauh! Terakhir kali saja Filia menamparmu mana mungkin dia ke sini?" jelas Yul menyelesaikan gamenya di handphone.
'Semakin membuatku penasaran. Firasatku bilang dia benar-benar datang!'
"Bibi!!bi!" panggil Jeko dengan sangat lantang.
"Teriakanmu seperti orang sehat." komentar Yul menggoyangkan telinganya sedikit berdenging karena teriakan Jeko.
"Iya Tuan, aduh maaf Tuan bibi terkejut. Bibi kira tuan kesakitan lagi." ucap Bibi yen yang baru saja berlari terengah-engah menghampiri Jeko.
"Nggak papa bi, bi apakah ada seorang wanita datang kesini?" Tanya Jeko penasaran.
Bibi Yen terkejut.
'Bagaimana ini? Nona Filia bilang jangan beritahu Tuan Jeko keberadaannya di sini! tapi nanti kalau aku bohong dan ketahuan pasti akan di pecat.' gumam bibi Yen dalam hati.
__ADS_1
"Bi kenapa diam?" Jeko semakin bingung.
Tiba-tiba dari belakang dokter itu datang.
"Filia yang merawatmu sampai kamu sembuh! Maaf bi, sekarang bibi bisa kembali!" dokter itu mencoba menyelamatkan bibi.
"Serius?Apa aku tidak salah dengar?" Yul tiba-tiba terkejut.
'Dugaanku benar. Dia memang datang!' Jeko terdiam sejenak.
"Aku kira kamu berbohong padaku dok? Karena kamu bilang mungkin sembuhnya akan lama dan paling cepat dua minggu. Aku heran kenapa aku bisa sembuh secepat ini?" jelas Jeko.
"Cuma dia yang bisa menyembuhkan phobiamu Je. Aku sudah pernah bilang resiko kalian sangat besar ketika melakukan hal di luar batas. Filia menceritakan semuanya padaku sebelum dia pulang. Kamu mencium kekasihmu dengan sangat lama, ditambah kamu meneguk alkohol. Sepertinya kamu sudah bosan hidup ya Je? Phobiamu bisa membunuhmu!" jelas dokter itu.
Jeko menyimpulkan sepertinya Filia datang karena perintah dokter.
"Kenapa raut wajahmu malah kecewa Je?" dokter itu penasaran.
"Apakah kamu yang menyuruhnya datang?" Jeko memperlihatkan wajah yang kecewa.
"Nggak kok, bibi bilang Filia datang sendiri membawa banyak bahan makanan lalu waktu aku telpon dia bersedia disampingmu sampai sembuh, sepertinya dia benar-benar khawatir. Bibi Yen yang bilang." jelas Dokter itu.
Ekspresi Jeko tiba-tiba berubah ceria dan tiba-tiba memerah.
"Ada apa dengan wajahmu Je?" Yul heran melihat Jeko tersenyum dan memerah.
Jeko memalingkan wajahnya menghadap ke Jendela dan masih terus tersenyum.
"Nggak! Aku nggak papa!" Jeko mencoba mengelak perasaannya sendiri.
'Apakah berarti Dia yang mencium keningku?berarti dia juga yang menyuapiku waktu itu?Sekarang aku tahu perasaan Filia.' gumam Jeko dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
"Yul, dia sedang Jatuh Cinta. Dia cukup bahagia. Bukan aku yang menyuruh Filia datang kesini! Dia merasa mendapat perhatian lebih dari Filia. Kenapa aku jadi sedikit iri?Andai saja aku punya pasangan!" Dokter benar-benar menggambarkan perasaan Jeko.
"Aaaarrrrgghhh!!dokter kamu membuatku geram. Dasar menjengkelkan!" Jeko melempar dokter itu dengan guling.
'Dokter ini selalu tahu apa yang kurasakan!' gumam Jeko sedikit kesal.
"Kalau kamu marah berarti tandanya memang benar dan ini pertanda kamu sudah semakin sehat." ucap dokter itu sambil memberi antibiotik dan obat ke infus Jeko.
"Kamu curang dok!" kata Jeko mulai mengantuk dan tertidur.
Obat itu perlahan membuat Jeko beristirahat lagi karena memang mengandung obat tidur.
***
Dua hari kemudian Jeko sembuh dari sakitnya dan Jeko berangkat ke kampus. Perasaannya begitu bahagia, karena sebenarnya dia tahu perasaan Filia sebenarnya.
Filia sedang memperhatikan papan pengumuman kampus. Jeko perlahan mendatanginya dari samping lalu berdiri tepat di samping Filia. Filia sadar ada seorang pria sedang berdiri mendekatinya dia menoleh matanya terbelalak wajahnya terpaku melihat Jeko berdiri di hadapannya.
'Syukurlah dia sudah sembuh.' gumam Filia.
Filia terlihat cuek dan pandangan mata itu kembali melihat ke papan pengumuman.
'Wanita ini benar-benar membuatku kesal! Masih bisa bersikap cuek setelah apa yang dilakukanya padaku?' Jeko menarik tangan Filia lalu membawanya seperti kayu di letakkan di pundaknya.
"Jeko!! Apa yang kamu lakukan! Lepaskan aku! Kenapa kamu menggendongku seperti ini? Dasar tidak sopan!" Filia sangat kesal tangannya terus meronta memukul punggung Jeko.
Sean yang melihat kejadian itu hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.
'Aku sudah menduga, mereka memang pasangan serasi di masa depan.' gumam Sean sambil kembali ke kelas.
Jeko membawa Filia ke sebuah ruangan tata usaha. Ruangan itu kosong dan tidak ada seorang pun disana. Filia sudah kebingungan melihat sekeliling yang begitu sepi. Jeko menurunkan Filia pada sebuah meja. Tangan Jeko bertumpu pada permukaan meja disamping kiri dan kanan Filia. Tubuhnya membungkuk kemudian wajahnya berada tepat sepuluh sentimeter dari wajah Filia. Pandangan mata mereka berdua terjadi begitu lama.
'Sebenarnya apa yang akan Jeko lakukan?' tanya Filia dalam hati masih terus memandang mata Jeko
__ADS_1