
kemudian mendekatkan bibirnya dan menciumnya perlahan. Filia kembali tertegun.
'Dia menciumku?'gumam Filia.
Setiap ******* itu membuat mereka berdua luluh, seakan irama bibir yang bergerak membuat tangan mereka saling meraih dan seakan bertukar nafas yang tidak akan pernah tahu berapa jumlahnya. Jeko mendorongnya ke lantai perlahan memapah kepala Filia menuju kelantai, Filia tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya dan tidak bisa menolak gerakan itu. Mata mereka masih terus tertutup. Menikmati gerakan yang hampir membuat mereka tidak sadarkan diri. Jeko menahan hasratnya berlari lebih jauh dan mereka membuka mata.
Tiba-tiba Filia mendorong Jeko untuk berpindah dari posisi itu dan berlari kekamar lalu menutup pintunya.
Filia bersandar di pintu dan mengatur nafasnya perlahan.
'Apa yang harus ku lakukan? Dia membuatku sangat berdebar, ciumannya selalu terngiang di kepalaku. Maafkan aku Exel.' kata Filia terus menggerutu dalam hatinya.
Jeko masih terus terengah-engah, perasaannya tidak bisa dikendalikan. Di dalam pikirannya selalu berlarian membayangkan ciuman tadi.
'Kenapa aku terus membayangkan berciuman dengan wanita itu, apa yang harus ku lakukan sekarang? Tapi aku juga memikirkan Jeni. Sebenarnya apa yang ku inginkan?' Jeko mulai kebingungan dengan perasaannya sendiri.
Satu jam berlalu, mereka masih terdiam di tempat mereka masing-masing. Jeko memeluk bantal sambil melihat acara tv. Filia sudah didepan ipadnya dan menulis segala perasaannya disana.
Jeko mulai merasa bosan.
"Kenapa anak ini tidak juga keluar?" Jeko semakin penasaran dia beranjak dari tempat duduknya dan menyusul Filia ke kamar.
Jeko membuka Pintu.
"Krekkkkkk!!!" suara pintu.
Jeko melipat tangannya sambil berdiri melihat Filia yang asik dengan ipadnya. duduk di tempat tidur. Jeko melihat penampilan berbeda saat Filia menulis. Tatapannya serius dengan kaca mata dan tangan yang terus mengetik.
"Apa kamu hanya mau liburan di sini?" Jeko berjalan menghampiri Filia yang masih sibuk mengetik.
"Tunggu sebentar lagi!" Filia masih terus mengetik tanpa peduli Jeko menghampirinya.
Jeko melihat banyak buku berserakan di ranjang.
'Ternyata dia selalu membawa semua novelnya." gumam Jeko sambil merebahkan dirinya ke ranjang lalu mengambil salah satu novelnya.
'Anak ini kenapa sangat cuek saat menulis?'Jeko bertanya dalam hati sambil membuka bab novel ditanganya.
Filia melirik Jeko sangat serius saat membaca Novelnya. Akhirnya dia membuka suara.
"Kamu baru sadar Novelku bagus?"kata Filia masih terus mengetik.
Jeko menoleh sebentar dan kembali membaca novel lagi.
"Jangan mengganggu aku sedang membaca!" Jeko tiba-tiba serius untuk membaca perlembar dalam novel itu.
Filia melirik Jeko lagi
'Kenapa dia jadi serius begitu? aku baru tahu dia suka membaca novel ?' tanya Filia dalam hati.
Jeko perlahan menggeser tubuhnya untuk mundur dan terus mundur sampai ke pangkuan Filia. Filia terkejut melihat hal itu spontan mengangkat ipadnya dan diletakkan di depannya.
'Apa yang dia lakukan?' Filia terdiam dan memandang kepala Jeko yang sudah nyaman di pangkuanya.
Filia menghela nafas.
"Kenapa ..." kata -kata Filia terhenti.
"Sssttt ... Jangan berkata apapun!" Jeko berkata masih dengan membaca buku.
"Bagaimana aku bisa menulis Jeko!!" Filia kesal.
"Bisa diam tidak? Sekarang aku ingin tidur." Jeko tiba-tiba menutup wajahnya dengan buku.
"Ya Tuhan, Pria ini?" Filia geram dengan ekspresinya yang sedikit kesal dan akhirnya berhenti menulis.
Filia perlahan memindahkan ipadnya ke dalam tas lalu meletakkan tasnya di meja.
"Apa dia benar-benar sudah tidur?"Filia mengambil buku dari wajah Jeko.
"Ternyata dia begitu cepat tertidur."
gumam Filia.
Filia memandang wajah itu terus menerus dan membelai rambutnya.
Dua jam kemudian.
__ADS_1
Jeko terbangun dari tidurnya dan melihat hari sudah sore. Jeko menoleh ke arah Filia yang tertidur dan bersandar di dinding ranjang. Jeko beranjak untuk duduk dan membaringkan Filia agar tidurnya lebih nyaman. Jeko menyingkirkan seluruh buku yang berserakan di ranjang dan menarik selimut untuk menyelimuti Filia.
Jeko memandang wajah Filia dan membelai Filia dengan lembut.
Jeko hanya tersenyum dan keluar kamar meninggalkan Filia.
--------------- -- --------- - - --------- --
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Thok, thok, thok."
Jeko membuka pintu.
Matanya terbelalak dan cukup terkejut ketika wartawan tiba-tiba sudah berada di depan kamarnya.
"Pak apakah benar sekarang sedang dekat dengan seorang penulis?" Tanya salah seorang wartawan.
"Pak apakah benar yang dekat dengan anda adalah Filia penulis terkenal itu?" tanya wartawan yang lainya.
"Apakah kalian berdua berada dalam satu resort pak?" tanya wartawan yang lain.
Jeko masih terdiam dan tiba-tiba menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Pak Jeko jangan ditutup!jawab pertanyaan kami pak!" teriakan wartawan semakin riuh.
Jeko kebingungan berada di dalam dan mondar mandir mencari akal.
"Kenapa mereka bisa tahu aku ada disini? Aku lupa Filia juga penulis terkenal pastilah sering di ikuti wartawan."
Disisi lain wartawan tidak kunjung pergi mereka sengaja menunggu di depan pintu.
Filia tiba-tiba keluar kamar.
"Jeko kenapa diluar berisik sekali?" kata Filia merenggangkan kedua tangannya karena baru saja terbangun dari tidurnya.
Jeko tiba-tiba berlari dan menutup mulutnya lalu mengajak Filia masuk ke dalam kamar.
Pintu kamar tiba-tiba di kunci dan Filia bingung.
Jeko masih terengah-engah.
"Apa? Wartawan?" Filia tidak sengaja menjawab dengan suara keras.
Jeko mendekap Filia dan menutup mulutnya dengan tangan.
"Jangan keras-keras, mereka bisa tahu kita berdua disini. Nanti banyak gosip negatif." jelas Jeko sedikit lirih.
Filia menyingkirkan tangan Jeko
"Kenapa mereka bisa tahu?" tanya Filia sambil berfikir.
" Oh iya, Kamu ingat kenapa aku clingak-clinguk melihat kanan dan kiri waktu itu saat di depan rumah? Itu karena aku takut ada yang mengambil foto kita berdua. Bisa jadi wartawan mengikuti kita dari sana?" Jelas Filia.
Mereka berdua tersadar
"Jangan, jangan ..." mereka serentak berbicara.
Mereka berdua berjalan mengambil handphone mereka masing-masing lalu mengaktifkanya.
Mereka berdua terkejut.
Banyak pesan masuk dan berdering.
Mereka melihat di internet wajah mereka sudah terpampang di semua artikel dan menjadi topik utama berita hari ini.
Di handphone Filia sudah banyak panggilan tidak terjawab.
Begitu juga Jeko.
"Bagaimana ini Jeko? Apa yang harus kita lakukan?"Filia tiba-tiba panik.
"Kita harus kabur sebelum mereka menangkap kita berdua disini. Tapi bagaimana caranya?"Jeko juga ikut panik.
Disisi lain keadaan kampus sudah sangat kacau setelah foto mereka berdua terpampang di papan pengumuman kampus.
"FILIA!! GADIS HINA ITU BERANI-BERANINYA MENGGODA PANGERAN KITA!!" kata salah seorang penggemar Jeko yang marah besar.
__ADS_1
Sean terkejut ketika papan pengumuman ramai di penuhi orang. Sean mencoba menerobos banyak orang untuk melihat apa yang ada di papan pengumuman.
Mata Sean terbelalak hampir tidak berkedip melihat foto-foto itu.
"FILIA? JEKO? MEREKA?" banyak pertanyaan di kepala Sean
Sean langsung menelpon Filia.
"Kring ... Kring ..."
Filia mengangkat telpon.
"Kamu dimana sekarang Fi?"tanya Sean panik.
"Ada apa ?Aku ada di ..." Filia bingung menjelaskan.
"Situasi kampus sangat kacau para penggemar Jeko marah besar melihat Fotomu dan Jeko. Apakah Foto itu benar? Apa kalian berada di resort sekarang?" kata Sean menjelaskan sekaligus penasaran.
"Iya Se, kita terjebak sekarang. Aku mohon jangan beritahu siapapun. Aku dan Jeko tidak bisa keluar dari sinI karena banyak wartawan.Tutup telponnya, aku takut ada yang mendengarmu di sana. Besok aku pasti akan ceritakan semuanya." kata Filia panik langsung menutup telpon.
'Dasar anak ini selalu berbuat seenaknya. Tapi biarlah! Besok juga dia akan datang mencariku dan menceritakan semuanya. Aku sudah biasa mendengarnya di kerumuni wartawan.' Sean mencoba mengerti Filia.
Suasana dikamar itu masih terlihat panik. Jeko menghubungi sabahatnya Yul untuk menjemput mereka berdua.
"Halo Yul, segera menuju Resort dekat laut biru. Banyak sekali wartawan disini, aku butuh bantuanmu!Tunggu di dekat pantai aku akan menuju kesana!" Jelas Jeko.
Jeko menutup telponnya.
"Fil kemasi barang-barangmu, kita akan kabur lewat jendela belakang. Kamu tidak takut dengan ketinggian kan?" kata Jeko sambil mengemasi barang-barangnya juga.
"Tidak, aku tidak takut ketinggian." Filia menjawab sambil mengemasi barang-barangnya juga.
Hari itu Jeko keluar dari jendela dan merambat dari dinding ke dinding. Kali ini situasinya hampir mirip seperti di film-film action. Mereka berdua merambat menuju tangga darurat yang cukup dekat dengan Jendela diresort mereka.
"Jeko, jangan tinggalkan aku! Aku gemetar." Filia sedikit ketakutan.
"Katanya kamu tidak takut ketinggian?" tanya Jeko masih terus merambat.
"Ini bukan masalah ketinggian, aku takut jatuh. Kita berdua bisa mati kan?" jelas Filia yang masih ketakutan.
"Sudah jangan takut lagi pegang tanganku! kita hampir sampai." ucap Jeko sambil memegang tangan Filia.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di tangga darurat. Filia dah Jeko turun menyusuri tangga itu dan berlari secepat kilat untuk menuju ke pantai.
"Huhh, akhirnya kita sampai juga di pantai!" ucap Jeko masih terengah-engah.
Mereka berdua sadar tangan mereka bergandengan kemudian saling melihat dan tiba-tiba melepasnya.
Mobil Yul sudak parkir di dekat pantai dari jauh Yul melambaikan tangan.
'Siapa wanita itu? Cantik sekali.' tanya Yul dalam Hati.
Jeko dan Filia sampai ketempat Yul memarkir mobilnya.
"Siapa dia?" tanya Yul penasaran dengan wanita itu.
"Jangan banyak tanya! Sekarang kita masuk mobil dulu dan segera pergi dari sini!" kata Jeko memasukkan barang-barang Filia dan miliknya ke bagasi.
"Baiklah." jawab Yul sambil masuk ke mobil.
Suasana didalam mobil tiba-tiba hening. Filia yang di belakang menikmati indahnya perjalanan begitu juga Jeko yang berada di depan.
"Hei tidak ada yang ingin berbicara? sepi sekali." tanya Yul masih menyetir.
"Tidak" mereka serentak menjawab.
"Astaga kompak sekali. Kamu tidak ingin mengenalkanku dengan dia ?" tanya Yul kepada Jeko.
"Tidak." jawab Jeko singkat.
"Ya sudah aku tanya sendiri saja, hei gadis yang di belakang. Namamu siapa?" tanya Yul sambil melihat spion untuk melihat Filia.
"Aku Filia."jawab Filia.
"Sepertinya tidak asing nama ini, Siapa ya?" Yul terus berfikir.
"Oh aku ingat, kamu penulis novel terkenal itu kan? Ternyata kamu cantik juga ya. Pantas saja Jeko tertarik denganmu. Gimana kalau kamu sama aku aja! Lagian Jeko udah punya pacar." jelas Yul memperhatikan Filia dari spion.
__ADS_1
"Kamu boleh ambil Jeni tapi tidak dengan dia." spontan Jeko menjawab dan membuat tercengang seisi mobil.