
"Bagaimana ini?" Filia cemas.
"Kuharap bukan wartawan yang datang kali ini. Fil bersembunyilah di lemari!" kata Jeko masih tidak mau melihat Filia.
Filia menuruti perkataan Jeko dan pergi ke lemari besar di kamar itu.
'Wow bajunya banyak sekali!' Filia masuk ke lemari dan menutup pintunya.
Jeko menuju ke pintu dan membukanya.
"Hei sahabatku yang ganteng!" tiba-tiba Yul muncul.
"Kenapa kamu menyusul kesini?" Jeko sangat terkejut melihat Yul.
"Biarkan aku masuk ke kamarmu! Untung-untung aku bisa irit biaya sewa penginapan jika bersamamu." Yul mendorong Jeko untuk memaksa masuk.
'Dasar Anak ini! Aku lega yang yang datang bukan wartawan.' Jeko menutup pintu dan menguncinya.
Yul duduk di tempat tidur.
"Ada apa kamu menyusul kesini?" tanya Jeko sambil merapikan tempat tidurnya.
"Aku kesepian dan Sean juga ada pemotretan di sini. Aku mengikutinya diam-diam." jelas Jeko sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Filia terkejut mendengar nama Sean, Langsung terjatuh keluar dari lemari.
"Sean ada disini?"
Jeko dan Yul menoleh.
"Apa yang kamu lakukan di dalam lemari?" Yul masih heran melihat Filia.
Yul tiba-tiba sadar sesuatu.
"Kalian berdua habis berduaan ya?habis melakukan sesuatu pasti? Takut ketahuan makanya Filia bersembunyi di lemari kan?Iya kan Je?" Yul mulai meledek.
Jeko langsung melempar Yul dengan bantal.
"Jaga ucapanmu! Siapa yang berduaan? Air keran di kamarnya mati makanya dia kesini untuk mandi. Dia kusuruh sembunyi karena yang kutakuti adalah wartawan, bisa gawat jika sampai ketahuan." Jelas Jeko menghela nafas.
"Yul, kamu pasti tahu kan Sean dimana?" tanya Filia penasaran.
"Kenapa kamu tidak menghubunginya? Aku kesini mengikutinya diam-diam, lagian jika kamu tahu sesuatu tentang lokasinya beritahu aku ya!" kata Yul yang sebenarnya belum tahu Sean dimana.
'Dasar Anak ini!' Jeko memukul Yul lagi degan bantal.
'Aku tahu tujuannya ke sini untuk menemui Filia, mengetahui keberadaan Sean dimana? Karena aku yakin dia sama sekali nggak punya nomor handphone Sean.' gumam Jeko.
"Kenapa kamu memukulku lagi Je?" tanya Yul yang tidak sadar dengan kesalahannya.
"Pikir saja sendiri!" jawab Jeko sedikit kesal.
"Baiklah, nanti akan aku telpon Sean. Je, aku siap-siap dulu ya? Nanti kita berangkat setengah jam lagi!" kata Filia meninggalkan mereka berdua di dalam kamar itu.
"Baiklah." jawab Jeko.
***
Setengah jam kemudian
Jeko dan Filia berangkat bersama dengan setelan casual untuk pemotretan iklan buku komik di sebuah studio terkenal di Jepang.
Hari ini sekalian bertemu beberapa penulis internasional untuk bekerja sama dengan perusahaan Jeko.
Sampai di tempat pemotretan. Sesi pertama dilakukan Jeko untuk befoto dengan beberapa buku komik.
"Pak Jeko, memang memiliki paras yang memukau. Lihat saja! dengan komik ditanganya mungkin orang akan menganggap dia tokoh dalam komik itu." kata salah seorang fotografer kepada asistenya.
"Sepertinya penjualan buku akan laku keras jika dia jadi brand ambasador peluncuran komik ini." tanggapan asisten fotografer itu.
__ADS_1
Filia yang mendengar hal itu sangat antusias melihat Jeko berpose di depan kamera. Seperti ada kebanggaan tersendiri punya pasangan yang ganteng seperti dia. Tiba-tiba dari samping ada seorang wanita yang tidak asing mendekati Filia lalu berisik.
"Jangan terlalu senang! Jeko itu sebentar lagi akan menjadi milikku. Kamu tinggal melihat saja betapa bahagianya kami berdua nanti." ternyata yang datang adalah Sun-Ye.
'Wanita ini mulutnya minta ditampar! Kamu pikir aku terpengaruh dengan ucapanmu? Sepertinya wanita ini tidak tahu kalau Jeko sama sekali tidak bisa bersentuhan dengan wanita lain. Sombong sekali! Perlu diketahui apa yang menjadi milikku juga tidak akan di miliki orang lain!' Filia sedikit kesal tapi ditahan dan mempertahankan senyum manis untuk menyapa Sun-Ye.
"Halo Sun-Ye apa kabar? Artis sibuk seperti kamu masih sempat ya mengganggu privasi orang lain." Filia tiba-tiba berdiri untuk bercipika-cipiki dengan Sun-Ye.
Ekspresi Sun-Ye sedikit terkejut melihat tingkah laku Filia diluar dugaannya.
"Kebetulan sekali, lokasi syuting dan pemotretan tidak terlalu jauh. Jadi tidak ada salahnya aku melihat pemotretan Jeko sebentar. Oh! Itu hal privasi?" Sun-Ye bertingkah genit dan menjengkelkan.
Tiba-tiba tangan kanan Filia mencengkeram bahu Sun-Ye dengan sedikit bertenaga yang membuat Sun-Ye sedikit mengerang.
Ditelinga Sun-Ye, Filia berbisik, "Jangan terlalu percaya diri, berkacalah dulu! Kamu sudah membangunkan singa tidur, jangan sampai singa itu menerkammu tanpa ampun aku takut kamu hanya akan tersisa tulang untuk berjalan." Filia memang Wanita yang pemberani dan pintar untuk menggertak.
'Kurang ajar! Wanita ini benar-benar membuatku marah, lihat saja siapa yang akan menang berada di samping Jeko dan menikahinya.' Sun-Ye tetap memperlihatkan senyumannya walaupun dalam hatinya kesal. Sun-Ye melepaskan tangan Filia yang mencengkeram bahunya dengan sangat keras.
"Lepaskan! Aku laporkan kamu, jika kamu berani melukaiku!" Sun-Ye terlihat sangat kesal.
"Uhh, Aku takut banget dengan gertakanmu, Laporkan saja! Aku tinggal bilang kamu mengganggu kekasihku." Filia mulai tersenyum jahat.
"Kamu!" Sun-Ye geram dan pergi meninggalkan Filia.
'Akhirnya nyamuk itu pergi.' Filia kembali duduk dan bersantai menunggu giliran pemotretan.
Lima belas menit kemudian Jeko selesai untuk pemotretan tapi dia buru-buru pergi karena ada pertemuan dengan clien penting di sebuah hotel di ujung barat tokyo.
"Fil, aku tinggal dulu ya! Aku ada urusan dengan clien. Mungkin sekitar satu jam lagi aku akan selesai. Kamu tunggu di cafe dekat sini! Setelah itu kita akan kembali ke lokasi syuting untung menemui sutradara itu. Karena sejak tadi dia sudah menelponku. Oh ya Pertemuan dengan penulis Internasional di undur besok malam." jelas Jeko sambil merapikan Jasnya.
"Baiklah, aku akan menunggu di cafe." Filia mengiyakan kekasihnya yang memang super sibuk itu.
Filia sudah berada di Cafe dan memesan beberapa makanan dan minuman.
"Untung aku membawa i-pad. Aku bisa serius mengerjakan Novel sambil menunggu Jeko selesai." ujar Filia mengambil i-pad dari dalam tasnya.
Filia mulai asik menulis dan benar-benar tidak memperdulikan sekelilingnya. Banyak ide yang di tuangkan bahkan saat membayangkan kekasihnya Jeko.
'Bukankah itu Filia?' gumam pria itu.
Pelan-pelan pria itu membawa makanannya mendekat dan memastikan bahwa wanita itu benar-benar Filia. Pria itu sudah yakin dan dengan tiba-tiba duduk di depan Filia.
Filia yang sedang menulis mengangkat wajahnya.
"Hai Fil. Bolehkah aku duduk sini?" tanya pria itu yang ternyata adalah Ha-Joon.
"Hai Joon. Kamu disini? Iya boleh." Filia lumayan terkejut
"Iya aku tidak sengaja jalan-jalan menemukan Cafe ini. Kamu kok sendirian? Dimana Jeko?" tanya Ha-Joon.
"Dia ada pertemuan dengan Clien. Sori, aku harus meneruskan novelku. Kalau kamu mau makan silahkan saja!" kata Filia yang sudah serius memandang i-padnya.
"Baiklah." Ha-Joon memandang Filia yang serius dengan dunia menulisnya.
'Dia masih sama, selalu cuek saat menulis dan tetap cantik.' Puji Ha-Joon dalam hati sambil tersenyum melihat Filia.
Filia masih terus asik dengan i-padnya. Ha-Joon menutup telinganya dengan headseat lalu menyerutup sedikit demi sedikit kopinya sambil menikmati pemandangan wajah cantik Filia.
Dengan gusar Jeko bergegas menuju cafe. Secepat kilat dengan mobil itu untuk sampai ketempat tujuan. Jeko berlari ke pintu masuk cafe dan melihat sekeliling.
'Dimana ya Filia?' Jeko masih berkeliling.
Dia terkejut ketika Filia bersama seorang Pria.
'Kurang ajar! Ha-Joon. Pria itu, mau apa dia mendekati Filia?' Jeko mendekati Ha-Joon dan Filia, Jeko terlihat sangat emosi.
Jeko sedikit lega melihat Filia sedang menulis. Karena dia pasti akan cuek dengan sekelilingnya. Jeko mencoba mengontrol emosinya.
"Sayang, apa kamu sudah selesai?" Jeko mencoba sedikit ramah.
__ADS_1
"Sebentar lagi. Sayang?" Filia menoleh sedikit heran Jeko tiba-tiba memanggilnya sayang.
Filia melihat Jeko menatap Ha-Joon dengan tatapan yang tidak biasa.
'Apa dia sedang cemburu?' Filia tersenyum penuh arti.
"Hai Je, apa kabar? Aku barusan lewat sini dan melihat Filia sendirian." Ha-Joon mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Jeko.
Dengan senyum yang di paksakan Jeko mengulurkan tangannya dan menjawab dengan nada yang sedikit dipaksakan, " Aku baik."
"Sayang, bukankah kamu mau pergi membeli gaun? Kan tadi kamu bilang minta aku belikan gaun?"Jeko mencoba memaksa Filia pergi dari tempat itu.
Tangan Jeko tiba-tiba membantu Filia merapikan tasnya dan memasukkan i-padnya. Lalu merangkul Filia untuk beranjak dari tempat duduknya.
'Jeko makan apa sih? Siapa yang minta di belikan Gaun?' gumam Filia bingung dengan kata-kata Jeko.
Filia hanya bisa tersenyum dan menurut.
"Ha-Joon, kita pergi dulu!" Jeko merangkul Filia setengah menyeretnya pergi.
"Tapi Je?" Filia menoleh dan melambaikan tangan untuk mengucapkan sampai jumpa pada Ha-Joon.
"Sudah jangan lambaikan tangan lagi!" Jeko masih membuat Filia keluar dari Cafe itu.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Filia mengira membeli gaun adalah alasannya saja untuk menghindari Ha-Joon tapi ternyata Jeko benar-benar akan membelikannya. Dalam perjalanan Jeko terus melihat peta letak karena mungkin Jeko sama sekali tidak tahu tempat di Tokyo untuk membeli gaun.
Jeko tiba-tiba menghentikan mobilnya lalu turun mengandeng Filia untuk menyusuri perlahan area pertokoan. Lalu berhenti di sebuah Toko Pakaian wanita yang cukup besar.
"Ayo masuk!" perintah Jeko sambil menggandeng tangannya.
"Kamu benar-benar ingin memberiku gaun?" tanya Filia heran.
Jeko berhenti berjalan.
"Gaun ini dibutuhkan untuk besok malam karena semua penulis internasional ada disana, terlebih banyak sutradara dan artis akan datang kesana. Ini kesempatan bagus bagimu. Untuk menarik para sutradara mengangkat novelmu yang lain menjadi drama bahkan Film. Aku ingin kamu berpenampilan luar biasa." jelas Jeko terlihat sangat serius dengan ucapannya.
"Aku kan masih banyak gaun Je di koper. Aku membawanya cukup banyak jadi kamu tidak ..." kata-kata Filia terputus.
"Tolong kali ini saja Fil! Kamu dengarkan kekasihmu! Aku hanya ingin membuat kamu bahagia bersamaku biarkan aku memberimu hadiah spesial selama di Jepang dan kamu tidak berhak menolak!" jelas Jeko benar-benar menunjukkan rasa sayang ke Filia sambil membelai rambut Filia dan menatap matanya dengan lembut.
'Aku hanya berharap kamu tetap melihatku saja, tidak melihat ke pria lain dan aku berharap hanya bersamaku saja kamu bisa bahagia. Aku sangat takut kehilangan kamu Fil.' Batin Jeko sambil menariknya ke dalam toko.
'Ada apa dengannya? Dia bisa berubah jadi begitu otoriter, begitu positif, begitu cemburuan bahkan begitu perhatian. Ku harap jantungku tidak meledak kali ini. Karena dia selalu melakukan hal di luar dugaanku.' gumam Filia yang akhirnya menuruti semua yang Jeko katakan.
Filia mulai mencoba satu persatu baju yang di pilihkan Jeko. Keluar masuk kamar ganti untuk mendapatkan persetujuan Jeko. Sudah dua belas gaun dicoba dan akhirnya di pilih dua gaun.
Filia keluar dari kamar ganti dengan lelah.
"Baiklah yang itu kamu pakai saja! Gaunnya cocok untuk bersantai dan tidak panjang jadi kita bisa memakainya ke lokasi syuting. sedangkan gaun putih perak itu kamu bisa pakai besok saat pertemuan dengan penulis internasional." Jeko pergi ke Kasir dan membayar kedua gaun itu.
Filia yang kelelahan duduk di bangku untuk mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Jeko menghampirinya lalu memberikan tas belanja yang berisi gaun itu kepada Filia.
"Ayo pergi! Kita sudah di tunggu sutradara!" Jeko mengulurkan tangannya untuk Filia.
Filia tersenyum dan meraih tangan Jeko lalu pergi meninggalkan toko itu.
Dalam perjalanan.
"Terimakasih Je." Filia melihat-lihat gaunnya.
"Sama-sama sayang." Jeko tersenyum sambil terus menyetir.
"Sekarang kamu sangat frontal selalu memanggilku sayang?" Filia memang sedikit tidak nyaman dengan panggilan itu tapi entah mengapa hatinya cukup senang.
"Aku hanya ingin semua orang tahu, kalau kamu adalah kekasihku. Jadi jangan larang aku untuk tidak memanggilmu sayang! Kamu harus terbiasa!" Jeko lagi-lagi membuat Filia berdebar dengan membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.
Filia spontan tersenyum dan wajahnya sedikit memerah.
__ADS_1
'Sepertinya aku luluh. Jika kamu terus seperti ini Jeko. Kamu selalu membuatku merasa disayangi.'gumam Filia sambil memperhatikan Jeko