FIRST MEET YOU

FIRST MEET YOU
BUKAN KESALAHANNYA


__ADS_3

Jeko tersadar hampir keluar batas dia membanting tubuhnya ke samping. Mereka berdua masih terengah-engah. Jeko menoleh ke arah Filia.


"Sepertinya kamu harus kembali ke kamarmu sayang!" kata Jeko


Filia masih melongo menghadap ke langit-langit karena jantungnya hampir copot karena keadaan ini.


"Ah-iya aku memang harus kembali."tanpa menoleh ke Jeko Filia bangun dari ranjang dan pergi ke kamarnya.


Jeko yang melihat Filia berlari kecil akhirnya tersenyum.


Filia membuka pintu kamarnya dan terduduk di balik pintu.


'Dia benar-benar. Membuatku susah bernafas.' Filia mengatur nafasnya perlahan walaupun sebenarnya dalam hatinya begitu bahagia.


***


Malam itu Filia membersihkan diri dan bergegas tidur. Jeko mengirimkan pesan.


"Selamat malam sayang."


"Selamat malam" jawab Filia lalu meletakkan handphonenya.


Filia senyum-senyum sendiri di atas ranjang. 


Malam itu terasa panjang, Filia sama sekali belum bisa memejamkan mata. Sudah hampir tengah malam tapi tetap tidak bisa. Filia memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar penginapan.


Filia melihat kolam besar dengan air mancur yang dikelilingi banyak lampu dan menyala seperti aurora. Filia begitu terpana dengan keindahan itu.


Tiba-tiba dari belakang ada pijakan kaki yang mendekat kemudian mencolek Filia. Saat itu Filia terpaku dan berbalik pelan-pelan perasaannya penuh dengan rasa takut tapi tidak mampu berteriak sama sekali.


"Ha-Joon?" Filia mulai membuang nafas yang hampir saja mencekiknya.


"Kamu melihatku seperti melihat hantu?" Ha-Joon berjalan ke samping Filia.


"Kenapa kamu ke sini malam-malam begini?" tanya Filia yang begitu heran.


"Yang harusnya bertanya itu aku. Bukankah berbahaya jika berjalan-jalan sendirian ditengah malam? Aku imsomnia,  jadi aku mencari udara segar agar aku benar-benar lelah lalu tidur. Cuma itu cara biar aku bisa istirahat." Jelas Ha-Joon.


"Oh jadi begitu, aku juga tidak bisa tidur malam ini. Entah kenapa? Makanya aku jalan-jalan dan akhirnya sampai ke sini." Filia kembali menatap ke kolam.


"Ternyata begitu, aku jadi ingat saat kita berdua ada di Paris. Kita juga bertemu di depan kolam kan?" Ha-Joon mulai mengenang masa lalu.


"Iya juga ya? Sepertinya moment ini hampir sama. Yang beda dulu aku jomblo sekarang sudah punya kekasih." Jawab Filia dengan begitu polosnya.


'Seandainya saja kamu tahu Fil, aku benar-benar menyukaimu tapi kenapa kamu sudah bersama dengan orang lain?' Ha-Joon masih memandang Filia.


"Hemm, iya seandainya kamu masih jomblo sampai detik ini?" Ha-Joon menjawab dengan suara yang benar-benar lirih.


"Barusan kamu bilang apa Joon? Kenapa kamu berkata lirih sekali?" pinta Filia.


"Ahh tidak! Tidak! Aku tidak bilang apa-apa kok. Kamu mau bantu aku nggak untuk latihan satu adegan?" tanya Ha-Joon spontan.


'Setidaknya malam ini aku punya kesempatan untuk berdua denganmu Fil.' Ha-Joon mengantongi kertas yang berisi sepenggal dialog yang akan dibawakan dalam syuting besok.


"Apa kamu bercanda? Aku bukan artis, aku hanya penulis bagaimana bisa aku berakting?" Filia dengan halus seperti menolak ajakan Ha-Joon.


Tapi Ha-Joon sepertinya tidak peduli. Ha-Joon menggenggam tangan Filia lalu menarik Filia kepelukannya.


"Jika waktu semakin habis, aku ingin terbang bersamamu walaupun hanya satu menit. Apakah kamu mau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?" sepertinya Ha-Joon mengucapkan dialognya dengan baik.


Filia masih terpaku karena yang dia takutkan kali ini adalah phobianya. 


Ha-Joon mengajaknya berdansa dan mereka berputar-putar. Filia memang tidak bisa memungkiri jika dia bisa menari kemudian Filia sadar dan melepaskan pelukan dan genggaman itu.

__ADS_1


'Aku harap tidak akan kambuh karena aku sering bersentuhan dengan Jeko hari-hari ini mungkin aku akan lebih aman sekarang.'batin Filia menampik sendiri ketakutannya.


Ha-Joon kembali menarik Filia dengan irama dansa dan mendekatkan ke hidung Filia. Sentuhan hidung itu membuat merinding, karena biasanya jika itu terjadi dengan lawan jenis jelas akan kambuh. Tatapan mata itu benar-benar penuh dengan perasaan, Ha-Joon tidak menghentikan nalurinya sebagai Pria bibirnya menuju bibir Filia. Filia dengan sigap melepaskan Ha-Joon sebelum Ha-Joon berhasil menciumnya.


"Kamu terlalu keren sebagai aktor." Filia berbalik arah menatap kolam dan menggosokkan kedua lengannya karena terlalu gugup.


"Ah maaf aku terbawa suasana. Adegan besok memang seperti itu." Ha-Joon mencoba menutupi bahwa itu sebenarnya adalah ungkapan perasaannya.


"Sepertinya malam ini semakin dingin. Aku kembali ke kamar dulu Joon." Filia berpamitan lalu segera kembali ke kamarnya.


Setelah sampai di kamarnya Filia mencoba untuk tidur dan akhirnya terlelap.


Keesokan harinya 


Filia yang lupa menutup Tirai kamar itu dari semalam, membuat matahari langsung menyapa dan menyilaukan mata Filia di pagi itu. Filia terbangun dengan rasa panas di tubuhnya dan sedikit gatal. Filia belum benar-benar membuka mata dia belum sadar jika tubuhnya sudah berubah warna. Setelah mengusap matanya barulah Filia sadar tangannya membesar dan kembali merah. Filia loncat dari rancang menuju ke kamar mandi untuk melihat di cermin apa yang sedang terjadi padanya saat itu. Filia panik badannya terasa sangat sakit dan keringat bercucuran membasahi wajah dan sekujur tubuhnya. Filia bergegas mencari obat di dalam kopernya tapi tidak kunjung menemukannya. 


"Gawat! Apakah aku tidak membawa obat?Aku sudah terbiasa tidak kambuh. Pasti aku melupakannya. Aku harus bagaimana?" Filia semakin bingung tapi badannya semakin melemah beberapa menit kemudian Filia pingsan.


Pagi itu Jeko menerima telpon dari Yul 


"Je, Baca Artikel pagi ini? Kamu pasti terkejut melihat beritanya." 


tiba-tiba Yul menutup telpon.


Jeko melihat berita hari ini matanya terbelalak melihat Filia berpelukan dengan Ha-Joon dan bersentuhan hidung seperti akan berciuman.


'Dasar! Wanita ini sedang apa semalam keluar? Apa dia benar-benar ingin berselingkuh? Jika kita berciuman tadi malam itu sangat bisa membuat Filia berciuman dengan siapapun dan tidak akan kambuh.'Jeko terlihat sangat marah dan begitu emosi.


Jeko bergegas ke kamar Filia dan menggedor pintunya dengan cukup keras. 


"Fil buka pintunya!" panggil Jeko.


Tapi belum juga ada jawaban.


Jeko mengulang kembali panggilan itu beberapa kali tapi tidak juga mendapat jawaban. Perasaan Jeko berubah menjadi cemas.


'Tidak! Kenapa perasaanku buruk? Filia tidak akan kambuh kan? Filia pasti hanya menghindar karena dia ketahuan selingkuh?' gumam Jeko yang sebenarnya gelisah.


Jeko berlari menuju ke ruang layanan kamar dan meminta kunci cadangan.


Ketika Pintu berhasil di buka. Jeko sangat terkejut melihat Filia tergeletak di lantai dengan keadaan melepuh begitu parah dan berubah warna sangat merah. Ada bintik-bintik sedikit bernanah dari tangannya dan kakinya.


"Fil, Apa yang terjadi? Bangun Fil?" Jeko menggoyang-nggoyangkan tubuhnya tapi tidak ada respon sama sekali.


Dalam keadaan panik Jeko menutupi tubuh Filia dengan selimut lalu menggendongnya menuju ke Rumah sakit.


Jeko mengesampingkan rasa cemburunya, Dia mengerti Filia sedang meregang nyawa. Jeko meletakkan Filia di kursi belakang lalu segera membawa Filia ke Rumah sakit.


Filia segera dibawa ke IGD tapi keadaan jantungnya lemah. Pasien sempat tidak bernafas para dokter segera melakukan penanganan darurat.


Tiba-tiba handphone Jeko berdering.


"Kring,kring,kring" 


Jeko mengangkat telponnya.


"Je, maaf aku lupa memberitahukan hal ini. ada resiko juga setelah kalian bersama. Aku tahu kalian pasti akan jauh lebih sering bersentuhan secara Fisik. Menurut penelitian proses penyembuhan ini juga membuat kalian sementara waktu tidak bisa bersentuhan dengan lawan jenis. Walaupun kalian tidak bereaksi detik itu juga ketika menyentuh orang lain selain kalian berdua tapi akan ada efek yang fatal yaitu kematian atau koma. Karena kondisinya akan lebih parah dari biasanya." Jelas Dokter itu.


"Kenapa kamu baru bilang sekarang dok? Filia sudah di IGD sekarang dan masih belum sadar." Jeko benar-benar panik.


"Apa? Tunggu aku disana aku akan membawakan obat khusus. Hari ini aku akan langsung terbang ke Jepang." 


Jeko menutup telponnya, perasaannya berkecambuk dia sangat emosi dengan Filia tapi dia juga tidak ingin kehilangan Filia.

__ADS_1


'Kenapa kamu lakukan ini padaku? Apa masih kurang kasih sayang yang aku berikan kepadamu? atau jangan-jangan Pria itu yang menggodamu? Aku harus tahu kejadian sebenarnya.' Jeko meninggalkan rumah sakit dan menuju ke lokasi syuting.


Jeko sampai di Lokasi syuting. 


Melihat Ha-Joon sedang beristirahat di ruang artis dengan Geram Jeko menarik kerahnya dan meninju pipinya. Jeko benar-benar tidak terkontrol. Staff artis yang masih ada di ruangan itu pelan-pelan menyingkir.


"Jelaskan padaku masalah ini!"Jeko memperlihatkan berita itu.


Ha-Joon sudah tahu jika kejadiannya akan seperti ini.


"Seandainya kamu bukan kekasihnya mungkin aku sudah menyatakan cintaku padanya. Filia gadis yang baik, dia hanya membantuku untuk berlatih adegan drama. Namun, sayangnya adegan terakhir ketika aku ingin menciumnya dia menolak." Ha-Joon menjelaskan dengan senyum sinis seolah sangat membenci Jeko.


Jeko mendengar hal itu tiba-tiba matanya memerah terlihat sangat mengerikan tapi air matanya menetes.


'Berarti Filia tidak selingkuh. Pasti ada alasan yang membuat dia keluar malam itu. Pria ini memang ********!' batin Jeko dan sekali lagi menarik kerahnya dan memukulnya. 


Manager Ha-Joon yang baru saja datang langsung berlari menolong Ha-Joon yang tergeletak dilantai dan mengeluarkan darah dari ujung bibirnya.


Dalam perjalanan ke rumah sakit. Jeko merasa bersalah karena menyalahkan Filia, kenapa dirinya tidak percaya dengan kekasihnya sendiri? Jeko merasakan sedih yang teramat sangat karena disaat Filia sakit seperti ini Jeko malah mencari kebenaran.


'Bodoh! Harusnya aku percaya dengan Filia, dia tidak akan mungkin melakukannya!' Jeko menambah kecepatan mobilnya.


Sampai di rumah sakit Jeko tidak menemukan Filia di Ruang tindakan ternyata sudah di pindahkan ke ruang ICU.


Seorang Dokter keluar dari ruang ICU.


"Apakah anda keluarganya?" dokter itu bertanya kepada Jeko.


"Iya Dok, bagaimana keadaan Filia?"Jeko masih terlihat cemas.


"Keadaannya sudah membaik, jika terlambat sedikit saja mungkin dia tidak bisa selamat. Kasus ini baru pertama kali kami temui, dia memiliki phobia yang tergolong parah. Phobia ini bisa membuat denyut jantung melemah, hanya saja Entah mengapa sampai detik ini belum sadar? Karena alerginya sudah mereda kemungkinan satu sampai dua hari ini dia bisa cepat sadar. Anda bisa masuk ke dalam untuk menemaninya." jelas dokter itu yang akhirnya berjalan meninggalkan Jeko.


"Terimakasih Dok."ucap Jeko.


Jeko masuk keruang ICU dengan perasaan khawatir yang luar biasa. Tergambar bayangan buruk di kepalanya jika suatu hari benar-benar membuatnya kehilangan Filia. Kali ini tidak ada pilihan jika mereka terus bersama lalu ada yang menggoda mereka berdua maka mereka bisa meregang nyawa tapi jika mereka berpisah pun kontak fisik mereka yang sudah lama tetap akan berpengaruh di saat dekat dengan orang lain lagi. Inilah resiko yang harus mereka ambil, lebih baik bersama dan mencoba menjaga jarak dari orang lain. Walaupun mereka tidak bisa memprediksi siapa saja nanti yang akan menggoda dan mendekati mereka.


Jeko duduk di samping Filia. Melihat Filia dengan tatapan sayu lalu Menggenggam tangannya dan terus menciumi tangan Filia. Air mata Jeko menetes.


"Sayang, bangun ya!masih banyak kejutan yang aku siapkan. Malam ini kita tidak bisa menghadiri acara itu, aku juga tidak berselera untuk datang ke pesta. Aku akan terus disampingmu sampai kamu sadar. Aku harus bagaimana jika kamu masih belum sadar juga?" Jeko benar-benar merasa putus asa, hatinya diliputi rasa cemas yang tidak bisa di tahan lagi.


Beberapa kali Jeko mengusap keringat di kening Filia. Memberikan sentuhan yang bisa membantunya meredakan rasa sakit, sembari menunggu dokter itu datang untuk membawa obat khusus yang dia janjikan.


"Sayang bertahanlah sebentar. Dokter itu akan membawakan obat khusus yang membuatmu cepat sadar." Jeko mencium tangan Filia lagi.


Beberapa Jam kemudian Dokter pribadi Jeko datang dan masuk ke ruangan Filia.


"Je!" panggil dokter itu membuat Jeko menoleh.


"Akhirnya kamu datang juga dok. Berikan obat itu kepada Filia!" Jeko seperti sangat terburu-buru.


"Iya Je, barusan aku lapor ke Rumah sakit dulu karena aku juga harus memberi obat sesuai prosedur." Dokter itu berjalan mendekati infus Filia di sebelah kanan.


"Aku hanya ingin secepatnya Filia sadar." kata Jeko terus menggenggam tangan Filia.


Dokter itu menyuntikkan obat di infus Filia lalu berdiri menatap Jeko.


"Apa kamu sudah makan? Jika kamu semakin kurus wajahmu jadi jelek Je." Dokter itu mencoba menghiburnya.


"Biarlah aku jelek, yang penting Filia bisa kembali sadar."Jeko terlihat sangat terpukul ketika melihat Filia sakit.


"Sudah kuduga kamu sangat mencintainya Je. Terpaksa aku harus menyuntikkan ini kepadamu Je. Karena wajahmu sudah semakin pucat, aku yakin kamu belum makan dan istirahat."Dokter itu dengan gerakan cepat meraih tangan Jeko dan menyuntikkan suplemen dan sedikit penenang agar Jeko bisa beristirahat.


"Apa yang kamu suntikkan Dok?" Jeko mulai terlelap sambil duduk di samping Filia.

__ADS_1


"Kamu harus istirahat Je." Dokter itu duduk di sofa dan membaca Koran sambil menunggu Filia sadar dan Jeko bangun.


__ADS_2