FIRST MEET YOU

FIRST MEET YOU
KHAWATIR


__ADS_3

Sean mengantar Filia ke kantor penerbit dan Filia segera ke ruang meeting. Filia mengetuk pintu.


"THOK, THOK,THOK"


Filia mencoba membuka Pintu perlahan


Memperlihatkan kepalanya lalu masuk ke ruang rapat. Melihat Jeko sedang menjelaskan di depan tiba-tiba Jeko memberi perintah Filia untuk duduk di Kursi kosong.


Tanpa berfikir Filia langsung menurut dengan perintah Jeko.


Dalam rapat itu banyak membahas tentang sebuah kerja sama dengan seorang sutradara terkenal yang sedang mencari sebuah Novel yang bisa di angkat kisahnya untuk menjadi sebuah drama. Jeko memperkenalkan beberapa penulis yang sudah duduk di kursi termasuk Filia. 


"Bagaimana? Apakah mungkin sudah menentukan pilihan siapa penulis yang cocok dalam kerjasama ini?" tanya Jeko kepada seluruh dewan direksi dan sutradara itu yang masih membaca contoh Novel mereka.


"Dari cerita Novel ini, sepertinya sangat menarik. Sepertinya penulis pandai untuk membawa perasaan semua pembacanya, Jika kita membuat drama dari Novel ini pasti bagus!" pendapat sutradara itu yang sedang membaca Novel Filia.


"Bukankah kita akan membuat Novel terbaru lagi?" Jeko bertanya kepada sutradara itu.


"Tidak harus Je, awalnya memang begitu tapi sebenarnya aku hanya membutuhkan referensi Novel dari penulis untuk di angkat menjadi drama. Karena waktuku hanya lima bulan untuk menggarap Novel ini. Jadi aku harus cepat memilih Novel!" jawab Sutradara itu masih membolak-balik halaman Novel.


"Jadi begitu? Baiklah apa sekarang sudah memutuskan untuk memilih?" tanya Jeko penasaran.


"Aku ambil Novel karya Filia. Aku janji akan memberikan royalti cukup besar ketika Drama ini sukses menarik hati pecinta drama." jelas Sutradara itu.


'Wah punyaku terpilih? Royalti besar? Sangat menggiurkan.' Filia tersenyum mendengar hal itu.


Jeko melirik Filia yang tersenyum begitu bahagia.


'Sudah kuduga dia akan sangat senang mendengar hal ini.' batin Jeko.


"Baiklah, kita sudah selesai memutuskan untuk mengambil Novel karya Filia. Untuk itu selain  Filia, penulis yang lain boleh keluar dari ruangan ini!" perintah Jeko.


Semua penulis menurut dan keluar dari ruangan itu.


Di dalam ruang meeting mereka serius membahas isi Novel dan menandatangani kontrak kerjasama. 


"Terimakasih sudah memilih Novel dari kantor kami!" kata Jeko menjabat tangan sutradara itu.


"Tidak perlu berterimakasih Je, aku tahu kantor penerbit yang kamu pimpin pasti memiliki penulis berkualitas. Aku tunggu Filia untuk datang ke kantorku dan kita bisa membahas lebih lanjut mengenai Novel ini dan kamu wajib membantuku untuk menyelesaikan drama ini!" ungkap Sutradara itu sambil menjabat tangan Jeko juga.


"Aku akan berusaha yang terbaik!" Ungkap Jeko tersenyum sambil membungkukkan badan untuk memberi hormat.


Filia ikut membungkukkan badan.


"Baiklah, aku pergi!" Sutradara itu berpamitan.


Sekarang di dalam ruangan itu hanya tinggal mereka berdua.


"Pak Jeko. Saya Permisi!" Filia berbalik dan berjalan menuju ke pintu.


Jeko tiba-tiba memanggilnya.


"Fil! Bisa kita bicara sebentar!" Jeko berhasil menghentikan langkah Filia.


Filia masih belum berbalik dia hanya berhenti.


'Kenapa Jeko tidak membiarkan aku pergi saja? Aku malas untuk berbicara dengannya.' Filia terus menggerutu dalam hati.


Filia masih mematung di tempat. Jeko melangkahkan kakinya untuk mendekati Filia yang hanya berhenti tanpa berbalik.


'Oh Tuhan. Kenapa kakiku membeku?' Filia gagal memindahkan langkahnya.


Jeko berhasil berdiri di depan Filia dan menepuk tangannya untuk sekedar menutup tirai di ruangan itu.


Tirai diruangan itu tertutup membuat Filia bingung harus berbuat apa?


"Maaf pak, saya harus pulang! Sepertinya pembicaraan mengenai pekerjaan sudah selesai." Filia mencoba menghindari Jeko dan melewati Jeko yang ada di hadapanya.


Jeko berhasil meraih tangan Filia lalu menariknya lagi untuk berada di hadapanya.


Jeko memegang kedua pundak Filia.

__ADS_1


"Kenapa sepertinya kamu menghindariku?Kamu tidak ceria seperti biasanya. Sudah kubilang jangan memanggil aku pak cukup sebut dengan Jeko. Kamu sangat aneh hari-hari ini?" tanya Jeko sedikit emosi.


"Sepertinya hari ini, saya ada acara pak!" Filia mencoba melewati Jeko lagi dan menyingkirkan kedua tangan Jeko dari pundaknya.


Jeko berhasil lagi menarik Filia untuk kembali ke hadapannya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Jeko menarik Filia ke dalam pelukannya.


Membelai rambut Filia perlahan.


Filia meronta tanpa berkata kemudian ketika berhasil Filia menampar Jeko. 


Jeko sangat terkejut dengan perlakuan Filia.


'Kenapa aku menamparnya?' Filia merasa bersalah karena dia tidak sadar dengan yang dilakukannya.


Jeko masih bingung dengan yang dilakukan Filia.


'Kenapa dia menamparku?' Jeko terpaku merasakan sakit di pipi kanannya.


Tanpa berkata apapun, Filia pergi melewati Jeko.


Setelah berhasil keluar dari ruangan itu. Filia terus memandang tangannya yang baru saja menampar Jeko.


Kali ini Jeko terlihat sedikit Frustasi.


'Apa seburuk itu yang aku lakukan? Hingga dia membenciku dan terus menjauh dariku? Kenapa aku selalu gagal dengan dunia percintaan?' Jeko memukul meja diruangan meeting.


Jeko keluar ruangan dengan sangat marah dan bagitu emosi. Pintu yang tertutup membuat terkejut seluruh karyawan di depan ruangan meeting.


"BLARR!!"


Jeko kembali keruangannya dan menutup ruangan itu dengan sikap yang sama. Karyawan dibuat terkejut lagi karena kebetulan ruang meeting bersebelahan dengan ruangan Jeko.


"Astaga! Apa yang terjadi dengan pak Jeko ya? Tadi terakhir kulihat Filia keluar ruangan dengan tergesa-gesa kemudian Pak Jeko keluar dengan marah. Apa jangan-jangan memang terjadi sesuatu di antara mereka berdua?" tanya Yerin salah satu karyawan di depan ruangan Jeko.


"Aku sudah curiga sepertinya jika hal ini hanya urusan Direktur dan seorang penulis saja. Tidak akan membuat pak Jeko semarah itu? Lagian mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar." ungkap Bon-hwa


Semua menurut dan kembali bekerja.


Jeko menutup tirai ruangannya dan menyelesaikan pekerjaannya. Ketika bekerja berulang kali bayangan Filia menampar Jeko terus menghantuinya. Sampai dengan malam hari tiba, Jeko masih berusaha menyelesaikan pekerjaannya. Semua karyawan telah pulang tinggal dirinya sendiri yang berada disana. Jeko frustasi dengan keadaannya saat ini, bayangan Filia menampar dirinya selalu terbayang di otaknya. Dia merasa benci dengan dirinya sendiri. 


Jeko mengambil sebotol anggur yang disimpan didalam almari di dalam kantornya. Benar-benar merasa tidak ada solusi lagi, Jeko berusaha meminum sebanyak-banyaknya alkohol yang bisa dia teguk. Kali ini Jeko telah menghabiskan sebotol dan sudah terlihat mabuk tapi masih mengambil sebotol anggur dari almari kantornya lagi. Meminumnya lagi dan lagi sampai dia sudah benar-benar sempoyongan.


Berusaha sadar mengambil hanphonenya dan menelpon Yul.


"Halo Je."jawab Yul yang tidak mendengar suara apapun disana.


"Je!!" Panggil Yul semakin khawatir.


Yul sudah tahu jika Jeko menelponnya lalu tidak bersuara kemungkinan besar Jeko mabuk berat. Yul melacak keberadaan Jeko kemudian sampai di depan kantor Jeko.


"Apa dia benar-benar mabuk di kantor? Je yang benar saja!" Yul berlari menuju kedalam ruangan Jeko.


 Melihat Jeko masih menegak minuman dari gelas, Yul langsung menghentikannya dan mengambil gelas dari tangan Jeko.


"Yul jangan ambil gelasnya!! Aku tidak bisa minum." Jeko tertawa tidak jelas.


"Sudah ku duga dia mabuk. Memang seharusnya aku tidak menyetujui ketika dia menyiapkan beberapa botol anggur di kantornya. Pasti dia akan menghabiskan sendirian ketika stres." Jelas Yul memapah Jeko menuju ke mobilnya.


"Aku mau kemana Yul? Kita ke bar ya? Aku masih mau minum!" Jeko terus mengucap kata-kata itu berkali-kali tapi seperti biasa Yul tidak menggubris.


Jeko mulai tidak sadar lalu tertidur.


"Je, kamu sebenarnya kenapa?" tanya Yul sambil menyetir untuk mengantar Jeko pulang kerumah.


Tiba-tiba Jeko mengigau.


"Fil, kenapa kamu menamparku? Kenapa kamu sangat membenciku?kenapa?"Jeko meneteskan air mata dalam tidurnya.


'Dia sudah lama tidak mabuk karena seorang wanita. Dia hanya mabuk ketika mamanya meninggal dunia saat Jeko masih SMA. Setelah itu dia jarang meneguk alkohol lagi hanya untuk seorang wanita bahkan putus cinta pun tidak akan pernah mabuk. Paling hanya marah besar dan mengajakku bermain panahan. Ketika aku ajak ke bar saja paling dia hanya meminum satu sloki. Sepertinya Jeko benar-benar jatuh cinta dengan Filia.' gumam Yul menambah kecepatan saat menyetir.

__ADS_1


Sampai di rumah Jeko.


Yul di bantu satpam untuk memapah Jeko sampai ke kamarnya. Seperti biasa Jeko langsung memeluk guling dan tidur. Yul menyelimutinya kemudian duduk di sebelah Jeko.


'Sepertinya aku harus melakukan sesuatu untuk Jeko. Aku tahu dia pasti terlalu banyak pikiran sampai seperti ini. Tapi apa yang harus aku lakukan?' Yul menghela nafas.


Yul membuka handphonenya dan tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk menyalin nomor telpon Filia di hanphone Jeko. Diam-diam Yul membuka handphone Jeko dengan meminjam jari telunjuk Jeko untuk membuka kunci.


Yul mencarinya perlahan dan menemukan nama Filia.


Kemudian nomor berhasil disimpan dan Yul meninggalkan Jeko.


***


Sudah hampir seminggu Jeko tidak masuk kerja, seluruh pekerjaannya di limpahkan ke kepala sekretarisnya. Kemudian Filia tiba-tiba melenggang ke ruangan Jeko untuk menyerahkan materi Novelnya. Saat membuka pintu Filia terkejut.


'Kenapa ruangannya kosong!'


Dari belakang Filia, kepala sekretaris itu menepuk pundaknya yang membuat Filia terkejut.


"Astaga!" Filia berbalik masih memegang dadanya yang berdebar karena terkejut.


"Maaf Fil, mengejutkanmu! Semenjak rapat di hari itu keesokan harinya Pak Jeko mengambil cuti dan tidak masuk kerja sampai hari ini, sudah hampir seminggu." jelas kepala Sekretaris itu.


'Jeko kenapa ya? Apa dia kambuh?' Filia sedikit khawatir.


"Menurut keterangan OB keesokan paginya diruangan ini. Berserakan minuman beralkohol sepertinya pak Jeko meminumnya sebelum dia mengambil cuti.Apa kamu mau menitipkan Materinya kepadaku?" tambah kepala sekretaris itu.


Filia semakin khawatir, dia memikirkan saat dia menampar wajah Jeko.


"Tidak, Makasih infonya." kata Filia masih terpaku di tempat.


Kepala sekretaris itu meninggalkan Filia. Berulang kali Filia menelpon Jeko tapi hanphonenya tidak aktif.


'Kenapa dia membuatku tambah khawatir?' Filia berjalan keluar dari ruangan itu lalu berjalan menuju ke mobilnya.


Didalam perjalanan, Filia bingung harus pulang atau pergi kerumah Jeko?


'Kenapa rasanya aku ingin ke rumah Jeko tapi aku juga ingin pulang?' Filia kebingungan sendiri.


Sampai akhirnya Filia ke supermarket untuk membeli beberapa sayuran, daging dan buah.


'Kenapa aku jadi ingin belanja? Apa Jeko sakit ya? Kenapa aku khawatir? Ah, sudahlah aku ikuti saja kata hatiku mau kemana? Dari pada aku nggak bisa tidur!' Filia bingung sendiri walaupun akhirnya tetap memilih untuk belanja.


Setelah selesai belanja begitu banyak.Filia langsung tancap gas untuk pergi kerumah Jeko.


Pagi itu suasana rumah Jeko sangat sepi, hanya beberapa pelayan yang ada dirumah.


"Maaf ada yang bisa dibantu?" kata salah seorang pelayan di rumah itu.


"Saya Filia, saya penulis. Ku dengar Pak Jeko tidak masuk kantor, sebenarnya ada apa dengan pak Jeko?" tanya Filia masih berada di depan pintu.


"Oh Nona Filia? Pak Jeko selalu mengigau nama anda hari-hari ini. Sebenarnya Tujuh hari yang lalu Tuan Jeko sampai rumah dalam keadaan mabuk di antar oleh Tuan Yul. Sudah lama sekali Tuan Jeko tidak mabuk berat seperti waktu itu, keesokan harinya Tuan masih merasakan pengar tapi sama sekali tidak mau makan dan terlihat sangat tidak bersemangat. Lalu mengajukan cuti, tapi setelah tiga hari badannya panas dan kulitnya melepuh sepertinya alergi Tuan kambuh. " jelas pelayan itu kepada Filia.


"Bolehkah aku menjenguknya? Aku membawakan banyak bahan makanan bisakah kamu membawanya ke dapur? aku akan mencoba merawatnya!" jelas Filia yang sebenarnya sangat khawatir.


Filia meletakkan semua bawaannya itu begitu saja di lantai dan segera menuju ke kamar Jeko yang sudah di tunjukkan oleh pelayan itu.


'Kenapa dia kambuh sedangkan aku tidak? Kenapa reaksinya parah seperti ini?Benar firasatku kalau dia sakit.'


Filia membuka pintu kamar Jeko. Melihatnya terbaring lemas dengan infus melekat ditanganya. Filia terkejut ketika disampingnya terpasang juga alat deteksi jantung. Dentuman alat itu semakin membuat Filia khawatir. Jeko masih terpejam dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya. Pelan-pelan langkah kaki Filia mendekati Jeko, memandangnya sejenak lalu menyentuh dahinya yang sangat panas. Filia menggenggam tangan Jeko lalu duduk di lantai.


'Aku sudah menduganya kamu pasti sakit. Entah apa yang kulakukan ini benar atau tidak tapi hatiku ingin selalu bersamamu dan khawatir. Jeko bertahanlah aku yakin kamu pasti sembuh!' Filia melepas genggamanya dan mengambil kompres di dapur.


Ketika berada di dapur pelayan itu menemui Filia lagi.


"Nona barusan dokter pribadi Jeko menelpon untuk memastikan keadaan Tuan dan saya memberitahukan kalau nona berada disini. Dokter itu berpesan tinggalah disini sampai Jeko sembuh, katanya nona tidak perlu khawatir. Jeko lebih cepat dan parah kambuh alerginya juga karena alkohol, jeko tidak bisa banyak minum karena itu memicu phobianya. Kata dokter sudah di berikan antibiotik seperti biasanya tapi tidak mempan, jika nona berkenan sering-seringlah menyentuh tangannya mungkin itu akan meredakan demamnya. Dokter juga bilang kemungkinan nona juga akan demam tapi jika sering menyentuh tangan Jeko kemungkinan kecil untuk kambuh dalam waktu dekat." jelas Pelayan itu menyampaikan pesan dokter yang begitu panjang.


"Maaf aku bingung harus memanggilmu apa?" tanya Filia sambil menyiapkan handuk dan air panas di dalam baskom.


"Panggil aku bibi Yen. Aku pelayan Tuan Jeko sejak kecil." 

__ADS_1


"Terimakasih bi, atas pesan dari dokter tadi. Aku akan melakukannya!" kata Filia yang sudah siap dengan baskom dan handuk untuk mengompres Jeko.


__ADS_2