FIRST MEET YOU

FIRST MEET YOU
SALING PERCAYA DAN MENJAGA 1


__ADS_3

Hari sudah malam dan Filia mulai tersadar, matanya mulai terbuka pelan dan tangannya mulai bisa di gerakkan walaupun masih terasa perih karena bintik bernanah itu. Badannya sudah kembali ke suhu normal dan warnanya sudah tidak memerah lagi. Filia melihat Jeko tertidur disampingnya, Filia membelai pelan rambutnya. Dalam hati dia merasa bersalah tentang kejadian di malam itu, mungkin jika dirinya tidak keluar maka dia tidak akan berada di rumah sakit.


'Jeko maafkan aku! Seharusnya malam itu aku tidak keluar. Aku sama sekali tidak menciumnya mungkin aku kambuh karena sentuhan hidung itu.' gumam Filia yang masih menggunakan oksigen yang menutup mulut dan hidungnya.


Dokter tahu Filia sudah sadar, dokter itu beranjak dari sofa dan menemui Filia.


"Bagaimana keadaanmu?apakah sudah lebih baik?"tanya Dokter itu.


Filia hanya menganggukkan kepala.


"Jeko aku beri obat penenang dan suplemen. Aku tahu ketika dia cemas dan stres pasti akan pucat dan seperti itu, makanya dia harus dibuat tidur jika tidak nanti kalian  berdua bisa bertukar tempat." Dokter itu menjelaskan sambil tersenyum.


Filia menoleh ke arah Jeko dan mengelus lagi rambut Jeko dengan tatapan penuh kasih sayang.


'Aku tahu kamu pasti sangat khawatir. Tidurlah yang nyenyak Je!' gumam Filia.


Malam itu Filia kembali tidur dan dokter itu menjaga mereka berdua. 


Keesokan harinya 


Filia bangun lebih pagi, Filia mencoba untuk membangunkan Jeko. Membelai rambutnya lagi.


Jeko mulai membuka matanya karena dia sadar ada yang membelai rambutnya. Betapa terkejutnya Jeko ketika melihat Filia sadar.


"Sayang kamu sudah sadar? Bagaimana keadaan hari ini?Apa masih terasa sakit?" Jeko benar-benar merasa bahagia melihat Filia sadar.


Dokter itu terbangun dari tidurnya. Melihat mereka berdua sudah bangun membuat dokter itu lega.


"Apa kamu ingin sarapan Je? Aku akan belikan bubur diluar, sepertinya aku lapar."Dokter itu  keluar dari ruang ICU.


"Baiklah belikan aku satu!" jawab Jeko masih di samping Filia.


Beberapa menit kemudian ada suster dan dokter lain datang untuk memindahkan Filia ke ruang rawat biasa karena melihat keadaan Filia sudah membaik.


Mereka memindahkan Filia dan Jeko mengikuti dari belakang. Setelah sampai di ruangan yang di tuju suster melepaskan alat dan oksigen yang ada dimulutnya kemudian mengganti Infus Filia. Saat Proses selesai mereka pergi dari ruangan itu.


Filia memanggil Jeko dan menyuruhnya untuk duduk. Filia meggenggam tangan Jeko dengan tangan kanannya.


"Je, maafkan aku. Aku tidak mencium siapapun. Aku kambuh kemungkinan besar karena bersentuhan hidung dan aku hanya membantu Ha-Joon belajar naskah. Aku menyesal karena keluar..." penjelasan Filia terputus ketika Jeko menghentikannya.


"Aku sudah tahu, jangan khawatir. Seharusnya aku percaya padamu, aku sempat menyalahkanmu sayang tapi aku tahu kamu pasti punya alasan keluar di malam itu." jelas Jeko membelai pipi Filia.


"Setelah kita berciuman, aku tidak bisa tidur. Aku keluar hanya ingin menghirup udara segar, tapi di taman Ha-Joon tiba-tiba datang." tambah Filia dengan wajah masih merasa bersalah.


"Aku mengerti sayang. Kata dokter Pribadiku, kita tidak boleh bersentuhan fisik dengan lawan jenis selain kita berdua. Kemungkinan besar reaksi akan lebih parah dari sebelumnya kita tetap bisa bersalaman dengan lawan jenis yang lain sementara waktu ini tapi bisa jadi bersalaman saja bisa kambuh karena intensitas kita berdua bersentuhan yang cukup lama. Proses penyembuhan dalam waktu satu tahun memang seperti ini. Aku tahu pasti banyak yang ingin menggodamu dan mendekatimu karena kamu cantik. Mulai sekarang kita berdua harus menggunakan sarung tangan. Apa kamu mengerti?" Jeko menjelaskan dan mengecup kening Filia.


"Aku mengerti, kamu juga harus menjaga dari semua wanita yang ada di sekelilingmu Je. Mereka lebih ganas dari penggemar priaku." kata Filia membelai pipi kekasihnya itu.


"Baiklah, aku menurut tuan putri." ucap Jeko tersenyum memandang Filia.


Dari arah pintu suster datang membawa makanan untuk Filia bersamaan dengan itu Dokter Pribadi Jeko membawa bungkusan berisi bubur untuk Jeko.


Mereka berdua makan dengan lahap.


***


Dua hari kemudian 


Filia sudah di perbolehkan pulang dari Rumah sakit. Keadaannya sekarang sudah benar-benar sehat dan luka di tangan kanannya sudah mengering. Obat dari dokter pribadi Jeko memang sangat membantu proses pemulihan. Hari itu juga mereka merapel semua jadwal pemotretan yang tertunda selama empat hari di Rumah sakit. Tangan Filia lukanya memang belum sepenuhnya hilang, itu sangat mengganggu proses pemotretan sehingga Filia terpaksa mengganti kostum dengan lengan panjang untuk menutupi lukanya.


Lima pemotretan mereka selesaikan dalam sehari sehingga mereka lembur hingga sore hari berarti tinggal besok untuk syuting iklan. Sutradara itu datang ke lokasi mereka untuk pemotretan karena mendengar selama di Jepang Filia masuk rumah sakit dibelakang sutradara itu ada Ha-Joon dan Sun-Ye yang berbasa-basi membawakan buah dan bunga untuk melihat keadaan Filia. Jeko dan Filia terlihat waspada dengan mereka berdua karena kemungkinan besar mereka bisa menyentuh mereka kapan saja. Mereka berdua sudah menggunakan sarung tangan pelindung.


"Pak kenapa repot-repot datang kemari? Aku sudah baik-baik saja pak." kata Filia menyapa duluan.

__ADS_1


"Maaf harusnya kemarin aku datang tapi syuting tidak bisa di tunda. Bagaimana keadaanmu sekarang? Sebenarnya kamu sakit apa?" tanya Sutradara itu penasaran.


"Hanya demam karena mungkin aku sedikit kelelahan. Sudah lebih baik pak." Filia sengaja tidak memberitahukan keadaan sebenarnya karena hal itu harus dirahasiakan dari publik.


Sun-Ye merasa heran kenapa dengan tangan Filia dan Jeko yang sama-sama memakai sarung tangan.


"Ternyata kalian begitu serasi, memakai sarung tangan." Sun-Ye mencoba menggali alasan mereka.


"Ah, aku dan Jeko ada sedikit luka karena kemarin menumpahkan air panas di rumah sakit." Filia mencari alasan yang membuat mereka semua tidak curiga.


'Untung aku dapat jawabannya' Filia menghela nafas.


"Ohh begitu."tanggapan sinis dilontarkan Sun-Ye.


"Fil bisakah kita bicara ini berhubungan dengan naskah. Aku juga akan membahas kesalahan Ha-Joon saat memerankan peran ini. Je aku pinjam Filia sebentar." Sutradara itu mengajak Ha-Joon dan Filia untuk berbincang di taman.


"Baik pak." jawab Filia


Sutradara berjalan duluan lalu di ikuti.Ha-Joon dan Filia. Sebelum pergi Filia menoleh memberi isyarat kepada Jeko bahwa dia akan segera kembali


'Aku berharap wanita penyihir itu tidak berbuat macam-macam terhadap Jeko. Aku sedikit khawatir.' batin Filia sambil berjalan mengikuti sutradara itu.


'Kamu harus bisa menjaga jarak dengan Pria itu Filia. Sampai dia menggodamu lagi dan membuatmu seperti kemarin. Habis sudah hidupnya di tanganku!' Jeko memberi peringatan lewat pikirannya sendiri.


Sekarang di ruangan itu tinggal kru pemotretan, Jeko dan Sun-Ye.


'Ini kesempatan emas. Aku akan mendekati Jeko.' pikir Sun-ye


"Je maukah kamu minum kopi bersamaku di cafe sebelah? Maksudku sambil menunggu mereka selesai." tanya Sun-Ye mencari kesempatan untuk berdua dengan Jeko.


"Baiklah kebetulan aku lapar." Jeko sama sekali tidak berfikir alasan lain di balik ajakan Sun-Ye karena perutnya juga memintanya untuk diisi sesegera mungkin.


Mereka berdua pergi ke Cafe untuk minum Kopi banyak hal yang mereka bicarakan termasuk bernostalgia saat mereka berdua bertemu di Sanghai pertama kali. Mereka berdua tertawa dengan ceria. 


"Ahh, Bajuku! Kamu tidak punya mata ya? Basah kan bajuku." Sun-Ye berdiri dan memaki pelayan itu.


"Maafkan saya nona saya tidak hati-hati. Saya ambilkan tisu nona." Pelayan itu mengambilkan tisu disebelah meja.


"Baiklah, Aku tidak apa-apa kamu bisa pergi!" kata Sun-Ye membersihkan dirinya dengan Tisu.


Sun-Ye menunggu reaksi Jeko melihat keadaanya.


Jeko melihat Sun-Ye bajunya basah dan sangat terlihat transparan. Jeko terganggu dengan pemandangan itu, melepas jasnya dan memberikan ke Sun-Ye untuk menutupi baju basahnya.


"Pakailah ini! Sangat memalukan jika seorang artis sepertimu berjalan dengan pakaian basah." komentar Jeko.


'Berhasil! Dengan begini aku bisa menanyakan nomor kamar penginapannya untuk mengembalikan jas ini. Akan ku beri pelajaran wanita dekil itu.' gumam Sun-Ye yang sangat bahagia dalam hatinya.


"Ah, Terimakasih Jeko. Akan aku kembalikan nanti." Kata Sun-Ye.


"Tapi kamu bisa membuangnya tidak usah di kembalikan! Aku masih ada beberapa jaz dipenginapan." Jeko berkata dengan cukup santai maklum orang kaya pasti akan seperti itu.


"Jaz ini masih bagus jangan Je! sayang jika dibuang. Kamu bisa memberiku nomor kamarmu aku akan mengantarnya nanti." jelas Sun-Ye mencari cara untuk membuat Jeko menyerah dan memberikan nomor kamarnya.


'Nomor kamar?Aku seperti mencium aroma wanita penggoda disini. aku sudah terbiasa dengan modus wanita yang menyukaiku.' gumam Jeko yang bisa menganalisa keadaan.


"Kamu bisa menitipkan ke resepsionis penginapan. Aku ingin menemui sutradara itu. Kamu bisa kembali ke penginapan untuk mengganti bajumu!" Jeko dengan segera meninggalkan tempat itu.


'Aku tidak sebodoh itu untuk tergoda dengan seorang wanita. Tapi jika Filia yang melakukannya padaku dengan senang hati aku akan menyerangnya duluan.' pikir Jeko sambil tersenyum.


Kali ini sepertinya Jeko benar-benar ingin menghindar.


"Tapi Je!" Sun-Ye mulai kesal.

__ADS_1


'Pria ini! Diluar dugaan dia sengaja agar aku tidak mengetahui nomor kamarnya. Aku nggak boleh gagal aku bisa mencari tahu sendiri nomor kamarnya.'Sun-Ye beranjak dari tempat duduknya untuk pulang ke penginapan dengan sangat kesal menarik tasnya dari atas meja.


Jeko menghampiri mereka bertiga yang sedang asik mengobrol di taman.


"Kamu seperti tidak sabar untuk segera menjemput kekasihmu. Untung sudah selesai aku berbicara dengannya." jelas sutradara itu.


Jeko tersenyum memandang pak sutradara sambil berdiri di belakang bangku Filia.


"Sebaiknya aku pergi duluan pak, sampai jumpa di lokasi syuting besok dan untuk Filia Terimakasih atas masukkannya itu sangat membantu." Ha-Joon memberikan tatapan genitnya untuk Filia dan membuat Jeko sedikit mual.


"Baiklah sampai berjumpa besok." ucap sutradara itu.


Filia hanya tersenyum.


Ha-Joon berjalan ke arah Jeko dan tiba-tiba menepuk pundakknya dengan tangan kiri.


"Selama kalian belum menikah. Aku tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan Filia. Aku akan mengambilnya ketika kamu dengan sengaja menyakiti Filia." ucap Ha-Joon lirih di telinga Jeko.


Jeko tersenyum sinis.


"Lakukan saja jika kamu bisa!" kata Jeko sangat percaya diri.


'Tidak akan aku biarkan kamu mengambil Filia dariku. Dasar Pria sialan!' Umpat Jeko dalam hati melihat Ha-Joon pergi.


"Je, aku sudah selesai ayo kita kembali ke penginapan! pak sampai jumpa besok." Filia berdiri dan mengambil tasnya.


"Baiklah, sampai jumpa lagi besok." jawab sutradara itu.


Jeko hanya menganggukkan kepala lalu pergi meninggalkan sutradara itu.


***


Sampai di penginapan


Jeko kembali ke kamarnya dan beristirahat begitu juga Filia. Mereka berdua benar-benar lelah karena pemotretan hari ini. Mereka berdua hanya berkirim pesan sambil berbaring di tempat tidur mereka masing-masing.


"Sayang aku mandi dulu ya! Sekitar satu jam lagi kamu bisa ke kamarku untuk makan malam." kata Jeko mengakhiri pesan yang dikirim.


"Baiklah, aku juga ingin mandi." balas Filia.


Mereka berdua mandi dikamar mandi masing-masing. Malam itu suasana benar-benar dingin, tapi Sun-Ye tidak menyerah dia tetap datang dan menanyakan nomor kamar ke resepsionis penginapan itu. Alhasil tetap nihil karena resepsionis itu tidak mau membocorkan nomor kamarnya. Sampai akhirnya ada pelayan yang akan mengantar  makanan ke tempat Jeko. Sun-Ye benar-benar beruntung melihat label makanan itu ada disebelah piring dan terbaca dengan sangat jelas nama Jeko. Sun-Ye mengikutinya dan pelayan itu berhenti di salah satu kamar. Pelayan itu begitu saja masuk dan meletakkan semua hidangan ke kamar itu.


'Berarti pintu kamar itu sengaja tidak di kunci kesempatan bagus untukku masuk!' gumam Sun-Ye.


Setelah pelayan itu keluar Sun-Ye yang memakai mantel lengkap dengan kerudung mengendap-endap masuk ke kamar Jeko. Melihat ruangan itu kosong dan dengan tidak sopan duduk di ranjang Jeko kemudian Sun-Ye mendengar gemericik air dari kamar mandi.


'Sepertinya Jeko sedang mandi. Waktunya berakting. Makanan ini di pesan dua porsi ya? Apa mungkin Filia akan diundang ke sini? Wah tanpa harus ku panggil dia datang.' Sun-Ye tersenyum sinis dan terlihat sekali maksud jahat.


Sun-Ye melepas mantelnya dan hanya mengenakan kemeja putih berlengan panjang tanpa bawahan hanya menggunakan bikini di dalamnya. Kemeja itu benar-benar terlihat transparan. Jeko terkejut melihat siapa tamu yang tidak diundang itu. Dia sudah menyiapkan kewaspadaan, karena jika sampai disentuh bisa habis dan benar-benar masuk rumah sakit.


"Hai Jeko, aku datang untuk mengembalikan jazmu. Sepertinya ada dua porsi makanan disini. Apakah Filia akan datang kemari?" Sun-Ye benar-benar tidak punya malu.


"Apa yang kamu lakukan di kamarku? Sudah kubilang buang saja, Aku tidak membutuhkan jaz itu lagi!Kamu wanita licik."Jeko benar-benar menjaga jarak karena badannya sekarang masih basah dan hanya mengenakan handuk putih dibawahnya.


"Huu... Badanmu cukup oke."Sun-Ye mendekat ke Jeko.  


Jeko dengan sigap berlari ke arah lain. 


'Sebentar lagi Filia datang. Akan salah paham dengan pakaian itu, dia berakting dengan baik. Dasar Wanita murahan!Intuisi ku benar kali ini.' Jeko menggerutu memandang Sun-Ye


Jeko mengambil piyama mandinya dan segera memakainya untuk menutupi tubuhnya. Sun-Ye yang masih mengejar Jeko untuk menggodanya berhasil menarik piyama mandi Jeko yang membuat Jeko terjatuh menimpa tubuh Sun-Ye. Jeko berhasil menyangga tubuhnya dengan tangannya tidak ada sentuhan yang terjadi Jeko merasa beruntung karena handuk ada di lehernya dan piyama mandi itu cukup panjang sehingga tidak memungkinkan kulit bersentuhan. 


Tiba-Tiba Filia datang dan melihat mereka berdua masih di posisi yang sama

__ADS_1


__ADS_2