
Akhirnya mereka makan bersama dalam satu meja sangat terlihat betapa mesranya Jeni dan Jeko di depan Filia. Kali ini Filia mencoba untuk cuek walaupun dalam hati entah mengapa terasa sangat sakit. Filia mencoba tersenyum tiba-tiba telpon berdering.
"Iya sayang. Oke aku kesana sekarang!" Filia beranjak dari meja makan dan keluar Villa.
'Sayang? Apa kekasihnya datang menjemputnya? Ini tidak bisa di biarkan! Bagaimana dengan Jeni? Aku pura-pura saja ambil sesuatu di ruangan depan agar aku bisa melihat situasi diluar dengan jelas.'
berselang beberapa menit Jeko baru meninggalkan meja makan.
"Sepertinya, ada yang ketinggalan di sofa depan. Kalian berdua di sini dulu aku akan kembali!" kata Jeko dengan langkah dibuat perlahan agar tidak ada yang curiga.
Jeni dan Yul bercengkrama tanpa kecurigaan apapun.
Jeko sampai diruangan depan dan tepat di depan jendela melihat keluar Filia bertemu dengan seorang pria.
"Sayang akhirnya kamu datang!" kata Filia tersenyum bertemu Exel.
Hari itu sedikit aneh karena Exel terlihat sangat murung.
"Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu Fil." kata Exel dengan ekspresi wajah yang serius.
'Kenapa perasaanku nggak enak ya?' tanya Filia dalam hati.
"Maafkan aku, sepertinya aku sudah tidak kuat lagi dengan hubungan kita. Aku sebenarnya sudah bisa menerima kekuranganmu yang tidak bisa mencium pria tapi aku akan segera pergi ke Amerika untuk mengambil S2 ku. Melihat berita hari ini, aku memang cemburu karena kamu begitu mesra dengan direktur itu tapi kamu pasti akan menjelaskan kalau kalian tidak ada apa-apa. Aku tidak bisa pacaran dengan seorang public figure seperti kamu, tiap detik di sisimu aku selalu takut salah dengan apa yang aku lakukan dan itu membuatku tidak nyaman. Sepertinya kita harus Putus!" jelas Exel langsung to the Point.
Filia kebingungan kenapa selalu dia yang di putuskan. Air matanya mencair.
'Bukankah ini yang aku mau untuk Putus? Tapi kenapa aku menangis?' Filia merasakan bingung.
"Terimakasih sudah mau bertahan tiga tahun ini bersamaku. Bolehkah aku minta satu permintaan terakhir?" tanya Filia sambil mengusap air matanya.
"Iya boleh." jawab Exel.
Filia tiba-tiba mencium bibir Exel cukup lama walaupun Exel tidak aktif seperti biasanya tapi Filia cukup puas dengan hal itu.
Beberapa menit kemudian Filia melepasnya.
"Kamu bisa pergi! Terimakasih. Mungkin sudah nasipku selalu ditinggalkan kekasih."
Ungkap Filia.
"Kenapa kamu tidak memerah?" tanya Exel.
"Mungkin nanti akan kambuh lagi. Kamu tidak perlu heran! Aku akan selalu seperti itu!" Filia mengusap air matanya dan mencoba untuk tersenyum.
Exel berbalik tanpa mengucapkan selamat tinggal dan Exel kembali ke mobilnya. Betapa terkejutnya Filia ketika Exel sudah bersama seorang wanita di dalam mobil itu.
'Kenapa selalu aku yang di selingkuhi?Aku yang ingin putus kenapa aku yang merasa sakit?Jeko juga memiliki wanita disampingnya. Jika aku memiliki perasaan kepadanya. Akupun harus membuang perasaan itu jauh-jauh! Mungkin memang nasibku seperti ini.' jelas Filia memandang jauh ke depan melihat mobil Exel pergi sambil terus meneteskan air mata.
Jeko hanya melihat ciuman itu, tanpa tahu kalau itu adalah ciuman terakhir sebelum putus. Jeko merasa sangat cemburu.
'Sial! Kenapa dia membalasku?Hal ini sangat menyebalkan!' gerutu Jeko
Jeko mendekati Filia dan dengan tiba-tiba menarik tangannya.
"Hei apa yang kamu lakukan! Jeko! Lepaskan aku!" Filia tetap tidak bisa melepaskan tangannya.
__ADS_1
Jeko tetap diam dengan perasaan emosi yang bergejolak di dadanya. Jeko membawa Filia ke kamarnya, menariknya masuk menutup pintu dan menguncinya.
Jeko dengan tiba-tiba mendorong Filia ke tembok.
Jeko menghela nafas berkali-kali sebelum akhirnya berbicara.
"Apa pria tadi kekasihmu?" tanya Jeko masih dengan nada emosi.
Filia melihat Jeko dengan tatapan tajam seperti itu membuatnya sedikit takut. Perasaanya masih tidak karuan, Filia tiba-tiba menangis. Jeko tiba-tiba bingung.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Jeko yang tiba-tiba emosinya berubah menjadi tidak tega.
"Kenapa selalu seperti ini? Kenapa selalu aku yang merasakan sakit?" Filia tiba-tiba memukuli dada Jeko.
Jeko meraih punggungnya dan memeluknya perlahan. Membelai rambut Filia dan mencoba menenangkanya.
'Apa aku begitu mengerikan sampai dia menangis sekeras ini?' batin Jeko.
Tangisan Filia masih begitu keras.
"Sudah jangan menangis lagi! Sebenarnya ada apa?" tanya Jeko.
Filia tiba-tiba berhenti menangis dan melepas pelukan Jeko.
"Sepertinya nasibku memang selalu buruk dengan percintaan. Aku tak selalu memiliki hubungan yang mulus, kamu masih punya kekasih yang cantik perhatian dan sayang sama kamu kan? Aku selalu ditinggalkan bahkan diduakan." Filia menangis lagi sambil menunduk.
"Lalu tadi kenapa kalian berciuman?" tanya Jeko penasaran.
"Aku menciumnya untuk terakhir kali. Sekaligus ingin melihat reaksi di tubuhku bertahan berapa lama terhadap alergi ini." Filia masih sesenggukan.
Jeko memeluknya lagi untuk menenangkannya.
'Apakah aku harus putus dengan Jeni juga? Entah kenapa? Aku ingin menyayangi wanita ini.' gumam Jeko dalam hati.
'Kenapa Jeko memelukku seperti ini? Kenapa dia menghiburku? Jika Jeni datang maka aku akan merusak hubungan mereka berdua?" Filia melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku, aku nggak mau kamu kehilangan kekasihmu juga gara-gara aku! Aku permisi!" Filia melepas pelukanya lalu berjalan menuju ke pintu tapi tangannya di tarik Jeko lagi dan Filia kembali ke pelukannya.
"Aku nggak peduli dengan dia! Biarkan aku memelukmu seperti ini!" kata Jeko masih memeluknya dengan erat.
Filia melepaskan pelukan itu.
"Nggak bisa Jeko! hatimu masih milik Jeni. Aku melihat tatapan matamu memeluk dan menciumnya tadi. Sepertinya kamu sangat mencintainya, kali ini kamu hanya menghiburku. Lagian aku sudah tidak punya kekasih lagi dan aku juga tidak akan kambuh karena aku tidak akan mencium siapapun lagi. Sepertinya alergimu juga tidak akan kambuh dalam waktu dekat, kamu bisa menikmati berciuman lama dengan kekasihmu dan barusan kita sudah berpelukan dan bersentuhan lagi. Itu juga akan memperlama waktu reaksi alergimu untuk kambuh. Aku cuma sebagai alat penyembuh bagimu kan? Aku juga hanya aset di perusahaan? Kamu juga tidak akan pernah tertarik padaku? Aku mengerti! Aku akan menjaga jarak mulai sekarang! jika kamu kambuh. Aku hanya akan menggenggam tanganmu saja itu sudah cukup untuk menyembuhkanmu. Maaf aku harus pulang! Kamu nggak perlu khawatir. Para Wartawan akan tenang karena aku akan bilang pada mereka kita hanya rekan kerja. Itu hanya salah paham." jelas Filia masih menangis.
Jeko menggenggam kedua tangan Filia.
"Fil, bukan begitu maksudku?" Jeko kehilangan akal.
Filia melepaskan kedua tanganya membuka pintu dan berlari keluar. Jeko mengikutinya tapi Filia lari dengan sangat cepat sampai ke jalan raya dan mendapatkan taksi. Filia pulang kerumah.
"Aarrgghh kenapa aku begitu bodoh! Dia juga wanita! Dia punya perasaan kenapa aku juga menyakitinya dengan perkataan itu?" Jeko menyesal dan berjalan kembali menemui Jeni dan Yul.
"Bro kenapa wajahmu tidak bersemangat?" kata Yul sambil meminum teh di depannya.
"Dimana Jeni?" spontan Jeko mencari Jeni yang sudah tidak ada di meja makan.
__ADS_1
"Dia menerima telpon dari seseorang. Katanya client." jelas Yul.
Jeko melihat Jeni berdiri di sebelah kolam renang sambil tertawa sendiri. Jeko mengaktifkan alat penyadap di dekat kolam renang dan mendengarkan pembicaraan Jeni melalui handphonenya. Dia curiga.
'Sejak kapan Jeni punya Client. Setahuku dia tidak bekerja.' batin Jeko.
Mendengarkan pembicaraan.
"Sayang aku janji setelah aku mendapatkan hartanya kita akan menikah dan kabur ke luar negeri. Dia kaya raya tapi sangat bodoh!Siapa yang mau dengan pria yang tidak bisa berciuman. Kan lebih mending bersamamu sayang!" kata Jeni dengan senyuman manjanya.
"I love you honey. Besok kita jalan ke Pantai ya! Jangan lupa minta dia uang yang banyak biar kita bisa bersenang-senang." kata Do yun kekasih Jeni yang lain.
"Pasti sayangku!" Jeni menutup telponnya.
'Dasar Wanita Sialan! Ternyata yang dia bilang ******* adalah dirinya sendiri. Baguslah! Aku juga sudah lelah dengan segala hubungan yang aku jalani. Bukan hanya kamu Fil yang merasakan penderitaan itu, aku juga sama. Aku juga akan putuskan kekasihku. Sepertinya aku mulai jatuh cinta padamu Fil. Kenapa disaat aku menyadari hal ini kamu malah memutuskan untuk menjauh?' Jeko terlihat sedikit Frustasi.
Jeko kembali ke meja makan dan duduk bersama dengan Yul.
"Je, ada apa? Tidak biasanya kamu semurung itu? Sudah berhenti! Jangan mengacak-acak makanan lagi!" Yul mencoba mengingatkan Jeko yang tidak selera makan.
"Kamu akan melihatnya sebentar lagi!" jawab Jeko yang hatinya sedang tidak bersahabat.
Jeni kembali ke meja makan dan duduk di sebelah Jeko.
"Kamu sudah kembali sayang! Loh dimana Filia? Dia sudah pulang ya dengan kekasihnya?"tanya Jeni sambil menyerutup jus jeruk.
Jeko membuka handphonenya dan mengeraskan suara rekaman di handphonenya itu. Betapa terkejutnya Yul dan Jeni mendengar rekaman itu.
"Apakah sudah puas untuk membodohiku! Suasana hatiku sedang buruk Jen. Aku harap kita putus dan kamu bisa segera pergi dari sini!" Jeko masih bersikap lembut tapi sudah malas untuk menatap Jeni.
"Je, it-itu salah paham. Mak-maksudku bukan begitu. Tapi?" Jeni sudah merasa terpojok dia bingung mencari alasan.
"Sudah cukup sandiwara yang kamu buat. Kamu sudah tahu aku punya phobia, kukira kamu bisa mengerti dan lagi aku sudah hambar ketika bersamamu. Aku juga sudah ingin putus sejak lama. Aku merasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengakhirinya." jelas Jeko sambil menyantap makanan yang sudah di cacahnya.
"Sayang, maafkan aku! Itu tadi tidak benar aku hanya akting. Yang kucintai itu kamu!" Jeni memegang lengan Jeko..
Jeko sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
"PERGI DARI SINI!! Sebelum aku lempar kamu ke jalanan!" Jeko benar-benar marah.
Tangan Jeni terhempas. Jeni sangat paham ketika Jeko marah tidak akan ada yang berani mendekatinya dan dia selalu serius dengan perkataannya. Jeni dengan segera meninggalkan Vila itu dan hubungan mereka berakhir.
Yul mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Je, duduklah! Minum dulu!" Yul menuangkan air putih kedalam gelas Jeko.
"Aku muak, kenapa phobia ini selalu menjadi kendala?"Umpat Jeko sangat kesal.
"Sekarang kamu kembali menjomblo. Masih banyak Je wanita yang mengantri di luar sana! Kamu nggak perlu khawatir! nggak usah sefrustasi itu. Hari ini kita main panahan atau main bilyard yuk untuk menenangkan hatimu Je!" pendapat Yul sambil meminum air putih di depannya.
"Aku hanya ingin Filia, Yul! Tapi dia memutuskan untuk menjauh. Setelah barusan dia juga di putusin kekasihnya." komentar Jeko agak sedikit frustasi.
"Sepertinya semua wanita yang tidak bisa kamu cium. Akan menghianatimu, Je. Aku ikut prihatin dengan kondisimu ini." kata Yul mencoba berempati.
"Aku bisa mencium Filia dan cuma dia yang bisa aku cium tanpa alergi karena Filia punya phobia yang sama denganku dan dokter menyarankan kita untuk bersama. Makanya aku mengajaknya ke resort itu, kita menghabiskan waktu seharian dan berciuman untuk ketiga kalinya.Mungkin hanya dengan Filia aku tidak akan kambuh. Kata dokter memang bisa seperti itu. Tapi masalahnya Filia marah padaku karena kata-kataku tadi padahal aku cuma ingin mmebuatnya cemburu. Aku frustasi sekarang karena aku mulai jatuh cinta padanya." Jeko menempelkan kepalanya di meja.
__ADS_1
"Pantas saja aku dilarang mengganggunya! Oh jadi begitu, Filia memang wanita yang menarik jika bukan karena sahabatku ini. Aku tidak akan melepaskan dia. Sudah jangan frustasi lagi! Aku akan membantumu untuk mendapatkan dia. Wanita akan luluh dengan perjuangan pria." Yul berbicara sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
"Baru kali ini aku berambisi untuk mendapatkan seorang wanita." kata Jeko.