FIRST MEET YOU

FIRST MEET YOU
PERTEMUAN TAK TERDUGA 1


__ADS_3

Keesokan harinya.


Mereka berdua sama-sama bangun pagi di rumah mereka masing-masing. 


"Ma, aku berangkat dulu ya?" kata Filia sambil berlari menuju parkiran mobil di depan rumahnya.


"Hati-hati sayang! Jangan ngebut saat menyetir, kondisimu belum benar-benar pulih!" nasihat mama Filia.


"Siap, ma." kata Filia sambil masuk ke mobilnya.


Sementara itu Jeko juga bersiap untuk ke kampus karena ada jadwal kuliah dan harus mempersiapkan untuk skripsi dan sidang. Ah sial, kenapa merah di leherku belum hilang?kata Jeko sambil menghidupkan mesin mobilnya lalu berangkat.


Untuk sahabat mereka berdua sudah menjadi rahasia umum ketika wajah dan tubuh mereka berwarna merah jadi, mereka akan langsung tahu jika mereka berubah menjadi kepiting rebus artinya, mereka baru saja melewati batas untuk berciuman.


Sesampainya di Kampus.


Filia masuk ke kelas sastranya untuk mendekati sahabatnya yang bernama Sean lalu duduk disebelahnya.


"Hemm, sepertinya ada yang barusan berciuman?" kata Sean menggoda Filia yang serius membaca tugasnya di meja.


"Kamu memang selalu saja cerewet, pelankan suaramu!" kata Filia masih membaca tugas.


"Baiklah, Lebih baik aku diam," kata Sean ikut mengambil tugas didalam tas.


***


Jeko memasuki kelas ekonominya juga dan duduk disebelah sahabatnya Yul.


"Hemm, sepertinya kamu habis berciuman dengan pacarmu, ini pasti lama kan? Karena melepuhnya sedikit lebih parah," Komentar Yul untuk Jeko.


"Tutup mulutmu dan pelankan suaramu! Kamu tidak mau kan, dosen killer itu melihatmu?" kata Jeko sambil memperhatikan penjelasan dosen.


"Iya, iya siap bos!" kata Yul sambil menghadap ke dosen untuk memperhatikannya.


***


Kelas telah selesai mereka berdua dikelas yang berbeda, sama-sama diberi tugas untuk mencari referensi subject tema mereka di perpustakaan kampus.


"Aku ke perpustakaan dulu ya, Yul? Aku harus menyelesaikan tugas ini secepatnya," ujar Jeko.


"Oke, aku tunggu kamu di kantin!" kata Yul.


"Baiklah," kata Jeko.


Begitu juga Filia yang bergegas menuju ke Perpustakaan kampus.


"Se, aku ke perpus dulu, ya?" kata Filia.


"Oke, nanti aku akan menyusul, " kata Sean sambil merapikan buku di dalam tasnya.


***


Filia menuju ke Perpustakaan.


Sesampainya di perpustakaan Filia menyusuri rak buku dari sebelah kiri dan Jeko menyusuri rak buku dari sebelah kanan. Sampai akhirnya mereka berada di satu lorong yang sama, Filia menghadap ke kanan dan Jeko menghadap ke sebelah kiri.


Posisi mereka sejajar tapi berlawanan, kedua orang itu sama-sama serius dengan bukunya tanpa sadar Filia dan Jeko sama-sama berbalik, tiba-tiba ketika Filia ingin melangkah untuk berpindah, kaki Filia tersandung kakinya sendiri dan menabrak Jeko yang berdiri dihadapannya. Mereka sama-sama terkejut, buku mereka terjatuh bersamaan dan bibir Filia mendarat di bibir Jeko, mereka berdua terbelalak. Jangan kambuh disini, Ini di kampus Filia! kata Filia dalam hatinya terlihat sangat cemas.


Gawat, Jangan sampai merah disini! batin Jeko yang masih terpaku di tempat. Filia menarik ciumannya dengan cepat lalu menutup mukanya dan segera berlari ke toilet, Jeko yang terpaku ditempat melihat Filia berlari, tiba-tiba melihat hal aneh di tubuhnya yang sama sekali tidak merespon ciuman itu. Kenapa kulitku tidak terasa panas, kulitku tidak berubah merah? Rasa penasarannya juga membawa Jeko ke dalam Toilet pria di kampus.

__ADS_1


Filia berkaca di dalam toilet dan merasa aneh kenapa dia tidak demam ataupun merasakan gatal di wajah dan telinganya. Tangannya juga tidak berubah merah, Ada apa ini? Jelas-jelas aku menciumnya, kata Filia dalam hati sambil tersenyum karena merasa penyakitnya mulai ada titik terang untuk sembuh.


Filia menelpon sahabatnya itu untuk menanyakan keberadaanya.


"Halo Sean, kamu dimana?" tanya Filia dengan wajah begitu bahagia.


"Aku sudah menyusulmu ke perpus. Kamu dimana?" jawab Sean.


"Tunggu, disana! Aku baru ke Toilet sebentar," kata Filia mematikan telponnya.


Disamping itu Jeko juga merasa aneh dengan kejadian itu, Wajahku tidak memerah. Telingaku tidak melepuh? sontak membuat Jeko tersenyum dan sangat bahagia. 


Bayangannya kembali ke wanita itu, Siapa dia? Kenapa jantungku berdebar? tanya Jeko dalam hatinya. Jeko menelpon dokter Pribadinya dan segera meluncur kesana, tanpa peduli dengan sahabatnya di kantin.


***


Sampai di Perpustakaan.


"Sean!" panggil Filia begitu girang.


"Ada apa denganmu?Kenapa wajahmu ceria sekali?" tanya Sean meletakkan bukunya di meja.


"Aku tidak sengaja mencium pria," ungkap Filia masih tersenyum.


"What's? Kok kamu tidak berubah jadi kepiting rebus?" Sean terkejut melihat sahabatnya itu.


"Itu kabar baiknya, berarti ada kemungkinan aku bisa sembuh," ujar Filia.


"Tunggu! apa iya ada kemungkinan kamu sembuh? Dokter kan bilang belum ada obatnya, dokter hanya memberikan kamu obat pereda demam dan merah ketika kamu kambuh tapi kalau kesembuhanmu dokter tidak menjamin, kan? Bukannya kemarin bilang gitu?" jelas Sean masih penasaran.


"Kenapa kamu malah mematahkan semangatku?" Filia bersungut di tempat duduknya.


"Siapa ya dia? Aku juga tidak mengenalnya, tapi kenapa wajahnya sangat familiar?" Ungkap Filia membayangkan siapa Pria itu.


"Jangan-jangan yang kamu cium, cowoknya ganteng terus seperti pangeran gitu." Sean membayangkan sambil menyangga wajahnya diatas meja.


"Sudah jangan berfikiran macam-macam. Hari ini aku harus ke kantor penerbit menyerahkan materi novel terbaruku, Ayo kita pulang!" ajak Filia dan beranjak dari tempat duduknya dan menarik tangan sahabatnya itu.


"Kamu kebiasaan Fil, kenapa harus menyeretku?" Sean akhirnya mengikuti Filia pulang.


***


"Dok, kenapa bisa seperti itu? Tubuhku tidak merespon apapun saat wanita itu menciumku." jelas Jeko kepada dokter pribadinya itu di kantornya.


"Jujur Je, aku juga baru saja menemui kasus seperti ini. Beri aku waktu untuk menyelidiki penyakitmu ini!" jawab dokter itu.


"Baiklah, berapapun uang yang kamu butuhkan akan aku sediakan. Aku hanya ingin penyakit ini sembuh dan aku bisa hidup normal." Jeko berkata sambil menyerutup secangkir kopi di tangannya.


"Baiklah, aku akan mengusahakannya," ujar dokter itu.


"Sepertinya sudah waktunya aku pergi ke kantor. Terimakasih waktunya dokter aku tunggu kabar selanjutnya!" kata Jeko beranjak pergi dari tempat itu.


***


Siang itu Filia pergi ke Penerbit untuk menemui editor yang akan mengerjakan materi novelnya.


" Hai Fil, kamu selalu tepat waktu datang ke kantor, Apakah sudah selesai?" tanya Sali yang menjadi editor buku Filia.


"Iya, sudah aku selesaikan." ungkap Filia sambil terduduk di sofa.

__ADS_1


"Ada kabar buruk Fil." Sali mengucapkan kalimat itu dengan bingung.


"Aduh!apalagi ini? Sepertinya beberapa minggu ini selalu saja ada hal buruk di kantor ini," Filia heran.


"Kali ini perusahaan kita di beli sahamnya oleh kantor sebelah karena kita terjerat banyak hutang Fil." jelas Sali.


"Lalu, Kabar buruknya apa?" tanya Filia. 


"Kabar buruknya Direktur sebelah terkenal sangat galak dan begitu disiplin akan menjadi direktur disini juga dan setiap penulis akan berjuang lebih keras untuk di acc materinya," jelas Sali.


"Oh begitu, kukira itu bukan kabar buruk. Kita memang selalu berjuang untuk mendapatkan acc kan?" celetuk Filia sambil merapikan kukunya.


Tiba-tiba terdengar dari ruang paling ujung ada orang yang memarahi penulis senior, "Kamu kira perusahaan penerbit ini perusahaan murahan! Karya apa ini? Terlihat sangat kaku, pantas saja perusahaan ini dililit hutang yang sangat tinggi buku-buku seperti ini tidak akan laku dipasaran!" orang itu mengatakan sambil membanting sebuah berkas berisi materi yang begitu saja bertebaran di lantai.


"Maafkan saya pak. Saya akan mencoba membuatnya lagi." penulis Senior itu sangat ketakutan dan keluar dengan air mata.


"Apa kamu mendengarnya Filia? Itu direktur baru kita, bagaimana?" tanya Sali mengernyitkan dahinya sambil tersenyum meringis.


'Direktur macam apa itu? berani-beraninya menindas orang. Emang dia kira mampu membuat novel seperti ini? Apa tidak bisa dengan cara halus untuk menolak sebuah materi yang tidak memuaskan?' 


" Bawa kesini materiku!" Filia merebut berkas itu dari tangan Sali.


'Kenapa perasaanku jadi nggak enak?' gumam Sali dalam hati.


"Tunggu disini! Aku akan pergi menemuinya." 


Filia melenggang dengan percaya diri menuju keruangan itu.


"Eh Filia jangan!" cegah Sali 


"Sssttttt!" Filia menoleh sambil memperlihatkan mata genitnya.


"Dia mau melakukan apa lagi kali ini?" Sali memukul jidatnya.


Aku hanya penasaran siapa direktur yang sok galak itu, tidak seharusnya menghina orang sampai seperti itu kan?


"THOK,THOK,THOK"


Filia mengetuk pintu dan langsung masuk tanpa bersuara.nDisisi lain direktur itu masih menghadap ke kaca dan membelakangi Filia.


"Sudah kubilang perbaiki materinya, kenapa kamu kembali secepat ini?" Direktur itu masih membelakangi Filia dengan nada yang begitu galak.


"Saya hanya ingin menyerahkan materi ini Pak Direktur." ungkap Filia sambil meletakkan materi itu dimeja.


Direktur yang merasa suaranya berbeda dengan orang yang tadi Tiba-tiba berbalik dan Filia bersiap dengan segelas air putih yang dilihat ada di sebelah kanannya, lalu Filia dengan segera menyiram wajah direktur itu dengan air yang ada di tangannya.


"Byur!!"


Direktur itu sangat terkejut dan mengusap wajahnya, setelah wajahnya terlihat dan menatap Filia, tiba-tiba Filia berjalan mundur. Kenapa dia? Sepertinya aku melakukan kesalahan fatal kali ini, gerutu Filia dalam hati.


Direktur itu ternyata Jeko, Filia belum tahu siapa nama Pria itu, Jeko juga terkejut melihat wanita di hadapanya. Dia?


Filia berbalik


" Maaf pak, Saya pergi dulu!" Filia bergegas untuk pergi sebelum Jeko menyadarinya.


"Tunggu!" cegah Jeko sambil beranjak dari tempat duduknya. Perasaanku tidak enak, kata Filia sambil berbalik.


Filia terkejut saat Jeko sudah ada di depannya sekarang. Jaraknya sangat dekat, Jeko semakin maju dan membuat Filia semakin mundur dan terus mundur sampai terbentur dinding. Mata Filia tidak mampu fokus dan selalu merunduk, tangan kanan Jeko mengangkat wajah Filia untuk menatap matanya. 

__ADS_1


__ADS_2