
Filia terkejut ketika
tangan Jeko menggenggam tangannya. Entah kemana Jeko akan membawa Filia Pergi.
Tiga jam kemudian mereka
sampai di sebuah resort yang sangat indah di dekat sebuah laut biru. Filia
membawa kopernya dan Jeko juga membawa barangnya-barangnya turun dari mobil.
Mereka berdua masuk ke loby resort itu dan menuju ke kamar yang mereka pesan.
Kali ini yang di pesan adalah kamar yang sangat besar seperti sebuah
apartement.
"Dimana kamar
tidurku?" tanya Filia sambil melihat-lihat dapur dan kolam renang.
" Di sebelah
sana!" kata Jeko menunjukan kamarnya.
Filia meletakkan isi koper
ke dalam lemari. Tiba-tiba Jeko masuk ke kamar itu juga dan berbaring di
ranjang.
"Lalu kenapa kamu ada
di sini?" tanya Filia heran.
"Resort yang kita
pesan hanya tersedia satu kamar besar ini. Jangan khawatir aku tidak akan
berbuat macam-macam." Jeko masih berbaring di ranjang itu.
"Jeko nanti malam
kamu akan tidur di sofa kan?"kata Filia sedikit khawatir.
"Yang membayar
liburan ini kan aku. Jadi lebih baik kamu yang tidur di sofa." Jeko
menjawab tanpa rasa berdosa.
Pria yang satu ini sudah kuduga memang tidak punya
perasaan,Filia menggerutu.
"Baiklah, aku tahu
kamu sangat suka menindasku." kata Filia masih terduduk di pinggir ranjang
sambil melipat bajunya.
Entah apa yag terpikirkan
Jeko saat itu. Jeko menarik perut Filia dan membiarkan Filia berbaring di
pangkuanya. Jantung Filia semakin berlabuh dan berlari kencang.
"Ada tiga hal yang
dokter bilang kepadaku kemaren untuk memulai terapi." kata Jeko.
"Apa?" Filia
mulai penasaran.
" Yang pertama saling
memijat kepala, yang kedua saling memegang wajah dan yang ketiga bersandar atau
berpelukan. Saat kita pulang nanti kita akan melakukan tes untuk mencium anak
kecil bagaimana reaksi yang terjadi dengan tubuh kita." jelas Jeko.
"Begitu ya."
kata Filia.
Kemudian Jeko mulai
memijat kepala Filia dengan begitu nyaman. Filia cukup dibuat heran hari ini.
Sikap Jeko bisa berbeda seratus delapan puluh derajat. Jadi sangat baik padahal
biasanya sikapnya selalu membuatnya marah.
"Pijatanmu enak
juga." komentar Filia sambil memejamkan matanya.
"Hafalkan gerakanya!
Setelah ini kamu harus memijat kepalaku." kata Jeko dengan sikap Juteknya.
"Baiklah,"jawab
Filia.
"Aku sudah selesai.
Cepat bangun!" Jeko sedikit membentak.
"Ya Tuhan kamu ini
galak sekali." komentar Filia.
Jeko bersandar di kaki
Filia dan tanpa sadar Jeko memandang matanya. Mereka saling menatap beberapa
saat. Kenapa dia terlihat begitu cantik?
Jantungku berdebar lagi.Tidak aku harus fokus! gumam Jeko dalam hati. Lalu
Jeko menutup matanya.
"Jangan bengong ayo
__ADS_1
mulai!" Jeko membuyarkan pandangan Filia.
Orang ini selalu bisa merubah suasana. Tapi Kenapa aku
sungguh menikmati hari ini?tangan Filia memijat kepala
Jeko.
Jeko terdiam sangat
menikmati pijatan Filia. Sampai-sampai dia tertidur di pangkuan Filia. Filia
mencoba memindahkan kepalanya dan menyandarkan di sebuah bantal. Kemudian dia
mengambil selimut dan menyelimuti tubuhnya.
Sejenak matanya tertuju
melihat wajah Jeko yang terlihat menawan disamping ranjang. Pantas saja kamu menjadi Idola di Kampus.
Wajahmu begitu tampa,. tanpa sadar jari telunjuknya menyentuh hidung Jeko.
Tiba-tiba Jeko membuka
mata lalu meraih tangan kanan yang sedang menyentuh hidungnya itu. Filia
terkejut dia jadi salah tingkah. Bagaimana
ini? Dia bangun! gumam Filia tidak bisa berkutik
Debaran jantung mereka
seperti beriringan sudah tidak bisa tertahan dan mereka saling menatap.
"E-e ini, a-aku
..." Filia tidak begitu jelas mau bicara apa.
Jeko menarik tangan itu
dan wajah Filia jadi semakin dekat. Dia
cantik, gumam Jeko.
"Jika mau menciumku,
aku tidak akan keberatan. Itu bisa menjadi terapi ..." kata-kata Jeko
terhenti. Ketika Filia mencium pipinya dengan lembut. Dia benar-benar melakukannya! Nafasku, dadaku sesak. Jeko kembali
menggerutu dan masih melongo di tempat.
Filia melepas ciumannya dan berdiri Meninggalkan Jeko. Dasar! Naluriku
sangat buruk, siapa yang bisa menolak untuk tidak menyentuhnya? gumam Filia
pergi ke arah dapur dan memasak beberapa makanan.
Jeko terpaku di tempatnya,
jantungnya berdebar begitu cepat membuatnya sulit untuk mengatur nafas. Ini pertama kalinya aku di cium pipi oleh
seorang wanita. Setelah sekian tahun. Jeko bangun dari ranjangnya lalu
cukup gugup berada di samping Jeko terlebih apa yang baru saja dia lakukan
ketika mencium pipi Jeko, dia berusaha fokus dengan masakanya dan tidak
menghiarukan Jeko disisinya.
Jeko memandangnya
sesekali. Melihatny cekatan untuk memasak makanan membuat senyumnya tersungging
di wajahnya. Filia tahu Jeko memperhatikan dia sambil mengupas bawang.
Tiba-tiba tangan Filia menyenggol panci yang panas.
"Aww..." Filia
merintih dan terus memegangi tangannya yang sepertinya melepuh.
Jeko terkejut dan
menggenggam tangan Filia lalu menariknya ke kamar mandi. Filia terpaku dengan
yang dilakukan Jeko.
Jeko mengambil pasta gigi
dan mengoleskan ke tangan Filia.
"Bisakah kamu
berhenti menatapku!" Jeko menyadarkan Filia.
"Si-siapa yang
menatapmu?" Filia menampik sendiri yang dia lakukan.
'Jantungku berdebar lagi.'
batin Filia.
"Biar aku yang
menyelesaikan masakannya dan kamu bisa menunggu di meja makan!" Jeko pergi
meninggalkan Filia. Oh Tuhan, kenapa
jantungku semakin berdebar. Jangan bilang aku terpesona dengannya? Sepertinya
aku melupakan rasa sakit di tanganku, Filia segera menuju ke meja makan.
Filia terkejut dengan
semua masakan yang disiapkan Jeko. Sepertinya
aku hanya memasak sup, kenapa ada daging dan kepiting asap disini?tangan
Filia tidak sabar untuk mengambil makanan-makanan lezat itu.
Jeko menarik tangan Filia.
"Jangan menyentuh
__ADS_1
satupun makanan di meja!Tanganmu sedang melepuh." kata Jeko sambil
mengambilkan satu piring untuk Filia.
Filia terpaku ketika Jeko
menyodorkan sendok berisi nasi dan lauk ke mulutnya.
"Suasana hatiku
sedang baik, jangan banyak tanya. Ayo makan!" Jeko menyuapi Filia.
Sepertinya dia salah makan, kenapa jadi super perhatian? Filia
masih terus memandang Jeko sambil ******* makanan di mulutnya. Setelah Filia
******* makanan di mulutnya. Dia sadar pria yang satu ini sangat pandai
memasak. Ternyata dibalik sifatnya yang menyebalkan dia punya keahlian lain.
"Kenapa kamu masih
memperhatikan aku? Kamu baru sadar, aku aku seorang pria tampan?" tanya
Jeko dengan sifat sombongnya.
"Rasanya aku ingin
muntah, ketika kamu terlalu percaya diri."Filia mengernyitkan dahinya.
"Kalau sudah selesai,
berikan piringnya padaku, aku akan mencucinya!" Filia mencoba menawarkan
bantuan.
"Kamu sudah Gila?
Tanganmu melepuh begitu mau cuci piring. Biar aku saja yang mencucinya. Ini
pekerjaan mudah untukku." jelas Jeko sambil mengemasi semua hidangan di
meja.
Orang ini sangat aneh, tiba-tiba galak, tiba-tiba baik,
tiba-tiba lembut. Sebenarnya dia itu orang yang seperti apa? Tunggu! Kenapa aku
jadi penasaran?gumam Filia sambil melihat Jeko sibuk di dapur. Filia
menuju ke sofa depan tv sambil menunggu Jeko. Filia merebahkan badannya ke sofa
yang super empuk itu. Seraya melihat ke langit-langit. Membayangkan novel apa
yang akan di buatnya kali ini? Tak terasa Filia tertidur.
Jeko selesai membereskan
dapur. Melihat Filia tertidur dengan sangat berantakan, bajunya tersingkap,
kakinya diatas badan sofa dan tangan kanannya menengadah melewati sofa.
"Wanita seperti ini,
seorang penulis novel terkenal? Begitu ceroboh dan ..." Ucap Jeko sambil membetulkan tangan Filia dan
menurunkan kakinya. Kata-katanya terhenti ketika baju itu tersingkap naik
sampai terlihat perut utuh Filia.
Jeko menelan ludah,
memandang perut ramping yang putih di depan matanya Itu. Tangannya tidak bisa
diam begitu saja seraya ingin menyentuhnya. Perutnya
begitu mulus.Tidak!tidak! gumam Jeko menghentikan tanganya sendiri untuk
menyentuh lalu meraih baju Filia yang tersingkap dan menutup perut Filia dengan
kasar, lalu berbalik duduk dibawah menghadap ke Tv. Filia terbangun sambil
menyeka matanya, dia cukup terkejut ketika Jeko ada disampingnya sedang
menonton tv.
"Sudah puas
tidurnya?" kata Jeko masih menahan gejolak di dadanya.
"Maaf aku ketiduran,
sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Filia sambil menyusul Jeko
duduk dibawah.
Tiba-tiba Jeko menoleh dan
memandang Filia dengan jarak yang begitu dekat. Kedua tangan Jeko meraih wajah
Filia yang begitu tirus.
Desiran di tubuhnya tidak
bisa dijelaskan lagi. Detak jantungnya terpompa cukup keras. Hingga Filia dapat
mendengarnya sendiri. Apa yang akan dia
lakukan sekarang? Selalu bergerak spontan tanpa aba-aba, gumam Filia masih
memandang Jeko yang ada di hadapanya.
Jantungku berdebar begitu cepat, berbeda saat aku Bersama
dengan Jeni. Fila, kenapa selalu menarik di mataku? Apa arti perasaan ini?gumam Jeko memperhatikan Filia.
"Apa yang kamu
lakukan?" Filia membuyarkan pandangan Jeko.
"A-aku mengikuti
saran dokter untuk memegang wajah" Jeko terbata-bata.
Sial! Kenapa aku jadi gugup?
__ADS_1