
"Apakah kamu menyukainya?" Jeko perlahan berbisik di telinga Filia.
Tempat itu sengaja dipesan Jeko dan terlihat sepi tanpa siapapun hanya mereka berdua disana. Makanan sudah terhidang di meja dan pelayan sudah tidak ada yang mondar-mandir untuk mengantarkan makanan. Filia seperti berada dalam sebuah dongeng atau mungkin menjadi tokoh dalam Novel yang membuatnya terlihat seperti Putri yang sangat di cintai Pangeran.
Filia tersenyum tanpa sadar air matanya menetes begitu terharu.
"Je!" hanya itu yang bisa dia katakan.
Air mata Filia tanpa sadar menetes di tangan Jeko yang masih memeluknya.
Jeko membalik tubuh Filia yang ramping itu untuk menghadap ke arahnya. Jeko terkejut melihat Filia menangis sekaligus tersenyum. Jeko mengusap air mata Filia.
"Kenapa kamu menangis? Apakah ini begitu jelek?" tanya Jeko memandangnya dalam.
"Tidak! Ini sangat bagus dan begitu indah. Aku belum pernah di perlakukan seperti ini. Aku hanya bisa membayangkan dan menulisnya di dalam Novel. Mungkin itu seperti sebuah harapan. Entah mengapa ..." penjelasan Filia terhenti.
Jeko memeluk Filia dan mendekapnya begitu erat.
"Aku juga tidak pernah memperlakukan wanita dengan cara seperti ini. Ini pertama kalinya aku bisa membuat hal romantis. Aku membacanya di internet karena aku tidak tahu caranya untuk membuat wanita bahagia. Selama ini hatiku rasanya beku karena terus di khianati, entah bersamamu aku ingin melakukannya!" Jeko perlahan melepaskan Filia dan memandang wajahnya.
Dengan tatapan yang begitu polos Filia berkata, "Terimakasih."
Jeko mencium kening Filia dan memeluknya lagi.
Hari itu mereka benar-benar menghabiskan malam dengan penuh kebahagiaan dengan canda tawa mereka menikmati makan malam yang begitu romantis itu.
Kejutan yang kedua. Tiba-tiba Jeko menepuk tangannya tiga kali dan suara musik mulai terdengar perlahan, Jeko berdiri dari tempatnya dan mengajak Filia berdansa.
"Apa kamu serius je? Benar-benar kamu melakukan semua yang ada di dalam dongeng." komentar Filia cukup geli.
"Sudah jangan tertawa!Jangan-jangan kamu tidak bisa berdansa?" Jeko meraih pinggang Filia dan menatap matanya.
Filia meletakkan kedua tangan di pundak Jeko.
"Jangan meremehkan aku Jeko!" Filia tersenyum menggoda.
Musik yang mengalun pelan berubah menjadi musik tanggo. Jeko tidak menyangka seorang penulis seperti dia bisa menari dengan begitu baik. Menggoda Jeko di setiap sentuhan dan lirikan mata Filia membuat Jeko semakin tergoda. Sampai akhirnya Musik berhenti dan mereka kembali ke posisi semula saling mendekap dengan nafas yang terengah-engah mendekatkan kepala mereka untuk saling bersentuhan lalu tersenyum.
"Kamu Hebat Fil." Puji Jeko.
"Kamu memang layak disebut pangeran." Filia ikut memuji.
Jeko sekali lagi mencium kening Filia.
Jeko melepaskan pelukanya lalu mengeluarkan kotak dari dalam sakunya, terlihat sebuah kalung berlian kecil bertuliskan J dan F.
Filia terkejut melihat yang di bawa Jeko.
'Rasanya aku masih di dalam negeri dongeng. Jangan-jangan memang benar begitu?' tanya Filia masih bengong melihat kalung dihadapanya.
Jeko mengambil kalung itu lalu menyematkannya di leher Filia.
'Aku berharap dia menyukainya!' gumam Jeko dalam hati.
'Aku tak pernah membayangkan akan di perlakukan seperti ini. Jika tidak bertemu dengannya.' Filia menatap Jeko dengan berkaca-kaca.
Jeko menatap mata Filia, mengusap perlahan wajahnya. Ibu Jarinya berhenti di ranumnya bibir pink yang lembut itu, menyentuhnya perlahan membuat aliran darah Jeko tak kuasa berdesir. Mata Jeko menatap bibir itu, sontak membuat Filia merasa tidak karuan. Entah kemana pikirannya pergi mata yang masih berkaca-kaca karena terharu rasanya tidak bisa di bendung lagi. Debaran itu, nafas itu membuatnya terbius sejenak, sampai pada bibir yang menyentuh bibirnya dengan lembut hanya sekedar mengecup tanpa bermain. Mata mereka terpejam, Jeko menariknya lagi dan masih memandang Filia dengan jarak yang begitu dekat. Air mata Filia sudah jatuh karena terharu, mereka sudah masuk terlalu dalam hingga hasrat itu tak bisa menahan mereka lagi. Jeko mendapatkannya, kembali menarik pinggang Filia yang begitu ramping dan ******* bibir itu perlahan. Mata Filia terpejam mencoba mengatur ritme jantung yang sebenarnya tidak bisa di prediksi. Tangan Filia bergelayut seolah memerintahnya untuk mengerti Jeko di hadapannya saat ini adalah pasangan di takdirkan untuknya. Jeko memainkan bibir itu perlahan rasanya sudah tidak khawatir dan masa bodoh dengan phobia mereka itu.
Masih seperti di dalam dongeng yang selalu Filia bayangkan dalam novelnya. Malam itu juga Kembang Api bergema di langit mereka, tak membuat mereka cepat berpindah karena terkejut dengan dentumanya. Jeko sudah membuka matanya dan melepas sentuhannya itu.
"Aku mencintaimu Fil." Jeko lirih mengatakan itu. Tangannya mengusap sebagian rambut Filia yang terbang tertiup angin
Filia tersenyum memandang Jeko.
__ADS_1
'Dia Pangeranku.' batin Filia.
Filia berbalik dan menatap kembang api itu.
"Kenapa kamu tidak membalasnya?" tanya Jeko mendekap tubuh Filia lagi dari belakang.
"Haruskah aku membalas pernyataan yang kamu sudah tahu jawabannya apa?" jawab Filia masih menikmati Kembang api di depan matanya.
Jeko tersenyum
"Baiklah tuan Putri." Jeko berkata dengan manis.
Dagu Jeko sudah menempel di pundaknya lagi.
"Sepertinya aku ingin secepatnya menikah denganmu." Ucap Jeko spontan.
"Aku tidak akan menolak." Filia tersenyum menyentuh tangan Jeko yang melingkar di pinggangnya.
Malam itu benar-benar romantis yang membuat mereka semakin Jatuh cinta.
Waktu hampir tengah malam. Jeko dan Filia kembali masuk ke dalam mobil untuk bergegas pulang. Dalam perjalanan pulang, tak pernah mereka bayangkan jika dalam perjalanan badai hujan itu datang, mobil itu seperti terombang-ambing tidak jelas di tengah jalan banyak mobil berhenti sejenak lalu berjalan lagi ketika badai mereda. Sudah setengah perjalanan hujan masih terus mengguyur walaupun badai sudah mereda, betapa terkejutnya mereka ketika jembatan satu-satunya itu ambles dan membuat semua mobil yang akan melewatinya berhenti ada mobil yang terperangkap tapi untung belum terjatuh. Di dalam mobil itu ada seorang Ibu yang menyetir dengan bayinya di belakang. Teriakan histeris dari dalam mobil karena jalan yang ambles itu terus bergerak. Tidak ada yang berani menolong mereka.
"Bagaimana ini Jeko ada suara tangisan sangat keras dari mobil itu?" Filia terlihat panik.
Mobil mereka tepat di belakang mobil yang terperangkap. Jeko juga panik dan bingung jika tidak menolong mobil itu akan jatuh tapi jika mereka menolong kemungkinan akan meregang nyawa karena ikut terjatuh.
"Kamu tunggu di mobil, telpon nomer ini. Mereka akan segera datang mengirimkan bantuan." Jelas Jeko yang bersiap untuk keluar dari mobil.
"Je berbahaya! Jangan!" Filia menarik lengan Jeko.
"Masih sempat, aku akan baik-baik saja!" Jeko bergegas keluar dari mobil.
Pintu berhasil terbuka, tapi jalan itu terus bergerak. Balita yang ada di belakang berhasil turun, Filia berinisiatif untuk turun dari mobil untuk mengamankan balita itu. Ibu itu berhasil keluar dari mobil lalu pelan-pelan berlari dan segera memeluk putrinya yang sudah aman. Mobil itu terus bergerak, Jeko menutup pintunya dan ingin kembali naas lengan kemejanya terjepit pintu dan terpaksa merobek paksa kemejanya. Ternyata waktunya terlambat jalan itu runtuh dan mobil itu terjatuh Jeko sudah berhasil melepas lengan kemejanya yang terjepit tapi ikut terjatuh.
Teriakan histeris Filia terdengar sangat keras. Melihat Jeko ikut terjatuh.
"Jangan! Kumohon Je! jangan Pergi!" Filia masih terus menangis melihat Jeko sudah tidak terlihat lagi.
Tapi Jeko yang terjatuh masih bergelantungan di bibir jalan yang runtuh, dia belum jatuh. Dia masih Selamat. kedua tangannya terluka, Jeko terus mendengar tangisan Filia.
'Aku harus selamat.' ujarnya dalam hati.
Menahan tangannya yang tinggal satu bergelayut mencoba meraih bibir jalan itu dengan tangan yang satunya lagi. Kali ini berhasil. Tidak ada yang berani mendekat ketempat itu terpaksa Jeko berusaha sendiri, tangan yang berotot itu terus mengeluarkan darah dan sangat memerah. Kemeja putihnya sudah berubah warna darah dan sobek. Dengan sekuat tenaga Jeko mempraktikkan gerakan saat Fitnes untuk mengangkat tubuhnya ke atas walaupun terasa sakit dia tidak peduli.
"Arrrgggggg!!" teriakan itu terdengar oleh Filia.
Kaki Jeko berhasil memanjat bibir jalan yang runtuh. Kemudian mengangkat tubuhnya pelan dan beguling. Mengatur nafasnya perlahan saat berhasil keatas dan terlentang. Jalan itu masih bergerak Jeko berlari dan melompat untuk ke pinggir jalan yang aman. Hujan masih terus mengguyur mereka basah kuyup dibawah hujan yang begitu deras. Jalanan itu akhirnya runtuh.
Filia terkejut dan berdiri menghampiri Jeko, dengan rasa khawatir yang sangat tergambar di wajahnya.
"Je, kamu terluka." Filia mengusap air matanya sedikit merasa bersyukur dan memapah kepala Jeko lalu membaringkan di kedua pahanya.
Jeko sama sekali tidak bisa berkata-kata lengannya terasa sakit darah terus mengucur. Filia merobek blouse panjangnya dengan segera membalut kedua lengan Jeko yang mengeluarkan darah. Ibu yang mereka selamatkan ternyata adalah seorang dokter.
Ibu itu mencolek Filia
"Ambulan masih jauh, dia bisa kehilangan banyak darah. Aku akan mencari bantuan untuk membawanya ke penginapan terdekat dan aku akan mengobatinya. Aku adalah seorang Dokter." Kata Ibu itu.
"Baiklah, Terimakasih." jawab Filia tanpa berfikir panjang.
"Bertahanlah sebentar Je!" tambah Filia.
Dokter itu berlari menghampiri mobil yang lain di belakang untuk meminta bantuan. Beberapa turun dan mengangkat tubuh Jeko untuk masuk ke dalam salah satu mobil mereka. Lalu mereka bergegas masuk ke dalam mobil dan segera mencari penginapan.
__ADS_1
Sampai di sebuah penginapan
Dokter itu sibuk mencari alat P3K yang ada di penginapan itu. Kemudian berlari ke salah satu kamar dimana Jeko di baringkan. Banyak orang keluar dari kamar itu ketika dokter itu datang. Filia masih menemani Jeko dengan setia, dokter itu merobek kemejanya dan membersihkan luka yang dalam di kedua lengan Jeko, Jeko masih merintih.
"Gawat! Tidak ada jarum untuk menjahit lukanya." Dokter itu kebingungan.
Filia ikut bingung, dia mencari cara. Filia berlari keluar dan meminta orang-orang yang berada di luar untuk mencari jarum. Mungkin ada yang membawanya. Salah satu petugas penginapan memberikan Jarum jahit baju tapi ukurannya ada berbagi macam. Segera Filia berlari ke kamar itu lagi dan memberikan jarum itu.
"Hanya ini yang aku temukan dok." kata Filia mencobaengatur nafasnya.
"Baiklah ini bisa membantu, aku hanya membawa benang. Terimakasih."
Dokter itu mencelupkan Jarum ke dalam alkohol kemudian tanpa bantuan obat bius terpaksa menjahit luka Jeko dengan hati-hati alhasil Jeko menjerit sangat kesakitan. lengan kanannya itu mati rasa setelah selesai di jahit sedangkan tangan kirinya robeknya tidak dalam jadi tidak perlu untuk di jahit. Dokter selesai menjahit dan membalut luka. Jeko mulai bisa berbicara.
"Terimakasih Dok." jawab Jeko masih menahan sakit.
Tangan kanan Jeko perlahan bisa di gerakkan.
"Aku yang berterimakasih. Jika tidak ada kamu. Aku sudah mati dengan anakku tadi, hanya ini yang bisa aku berikan padamu."jelas Dokter itu.
"Dokter, Terimakasih." Filia ikut mengucapkan kepada dokter itu.
"Sama-sama. Aku tahu kamu pasti sangat mencintainya, kamu tidak perlu menjerit lagi dan menagis histeris seperti tadi itu membuatku sedikit takut. Kamu bisa melihatnya selamat." dokter itu tersenyum menggoda Filia.
Filia tersipu malu. Jeko terus menatap Filia.
'Aku tahu dia terlihat sangat khawatir.' gumam Jeko
"Aku akan pergi, kemungkinan hari ini aku juga akan menginap di penginapan ini. Aku tinggalkan kalian disini. Selamat beristirahat."
Dokter itu pergi meninggalkan mereka berdua di dalam kamar lalu menutup pintunya.
Filia dan Jeko masih memakai pakaian yang sama dan basah kuyup. Beberapa menit kemudian ada suara ketukan pintu.
Filia membuka pintu dan mendapati seorang pelayan kamar.
"Nona, ada dua baju ganti dari dokter itu." pelayan itu memberikannya kepada Filia.
'Dokter itu sangat memikirkan kita disini.' batin Filia sambil menutup pintu.
"Apa yang kamu bawa Fil ?" tanya Jeko mencoba duduk dan bersandar.
"Dokter itu memberi kita baju ganti. Kita bertemu dengan dokter yang sangat baik." jawab Filia berjalan ke tempat tidur dan melihat kedua baju itu.
"Je, Aku bantu kamu ganti baju ya?" Filia segera mendekat ke arah Jeko sedikit terkejut dengan perkataan Filia.
'Tidak! Ganti baju? Apa dia tidak ada rasa canggung sedikitpun dengan seorang pria? ' gumam Jeko melihat celananya yang basah.
"Ahh Stop! Jangan mendekat!" Jeko membuat Filia mematung sejenak.
Jeko berpindah dan terduduk di samping ranjang menghadap ke jendela membelakangi Filia.
Filia bingung dia tersadar sesuatu. Mungkin Jeko memikirkan hal yang tidak-tidak. Filia turun dari tempat tidur itu menuju ke hadapan Jeko. Filia membungkuk sedikit lalui meletakkan pandangan matanya tepat di wajah Jeko.
"Kamu pikir aku akan mengganti celanamu juga? Kamu tidak perlu khawatir dan jangan berfikiran kotor disaat seperti ini!" Filia turun menatap kancing kemeja Jeko.
Jeko terbelalak. Jantungnya sudah pasti tidak bisa di kontrol.
'Wanita ini benar-benar di luar dugaan? Walaupun hanya baju kamu pikir tidak akan terjadi apapun ?' Jeko menggerutu sangat heran.
Filia tanpa aba-aba fokus melepas kancing Jeko. Berkali-kali Filia menyadarkan dirinya sendiri untuk tidak menelan ludah melihat sedikit demi sedikit dada bidang yang masih tersisa air yang menetes.
'Astaga, Ya Tuhan. Tahan segala godaan ini!' gerutu Filia dengan ekspresi sedikit memaksa untuk melihat.
__ADS_1
Setiap sentuhan kancing demi kancing. Membuat Jeko sedikit merinding. Debar jantungnya sudah melewati batas.