
Filia tahu tidak mungkin Jeko mengundang wanita lain selain dirinya. Bagaimana tidak? Apakah dia sendiri berani mengambil resiko untuk meregang nyawa di rumah sakit. Filia melihat pemandangan itu malah tersenyum tapi sedikit mengernyitkan dahinya tanpa perasaan cemburu ataupun sakit hati. Jeko yang sudah ketakutan karena Filia bisa tiba-tiba saja menghantam wajahnya.
Jeko ingin menarik tubuhnya tapi Sun-Ye menahannya.
'Filia terlihat menyeramkan dengan senyuman itu. Terakhir kali melihat senyuman itu ketika melabrak Jeni dan menumpahkan air putih ke wajahnya. Kali ini habislah aku!' gumam Jeko yang terus berusaha mengangkat tubuhnya tapi jika salah bergerak kulitnya pasti akan tersentuh Sun-Ye.
Jeko Dilema.
Filia tiba-tiba bertepuk tangan.
"Tidak kusangka artis sepertimu ternyata cukup murahan. Berapa bayaran yang kamu minta untuk sekali tidur dengan seorang direktur atau pengusaha?" Filia menarik Jeko dengan lembut kemudian Jeko bisa selamat dan kembali di posisi berdiri.
'Sepertinya dia tidak marah padaku. Aku selamat.' Jeko menghela nafas panjang.
Sun-Ye hampir saja menyentuh kulit Jeko dan tangannya di tahan Filia.
Wajah Sun-Ye terlihat kesal.
'Wanita ini, tidak ada cemburu sedikitpun tapi kenapa terlihat kejam?' Sun-Ye cukup heran
Masih di posisi yang sama tidur terlentang.
"Dasar wanita kurang ajar! Berani-beraninya kamu menyebutku wanita murahan. Aku yang lebih pantas bersanding dengan Jeko dari pada wanita dekil seperti kamu. Tubuhmu juga tidak sebagus diriku kan?"Sun-Ye mulai duduk di pinggir ranjang.
"Wow masih bisa membela diri? Baiklah kamu bukan wanita murahan tapi wanita panggilan. Sepertinya lebih sopan nyonya Sun-Ye. Cukup kamu tahu yang bisa menyentuh Jeko hanya aku saja, apa kamu mau melihat pemandangan ini?"
Filia berjalan ke arah Jeko sampai Jeko mundur dan badannya terbentur dinding.
Jeko merasakan aura jahat di diri Filia yang membuatnya sedikit merinding.
"Kamu mau melakukan ini bukan?"
Filia mencium bibir Jeko yang membuat Jeko terbelalak tidak bergerak.
"Hal ini cuma aku yang bisa melakukannya. Atau bahkan menyentuhnya seperti ini. " Filia dengan tiba-tiba membuka piyama Jeko dan meraba dada Jeko pelan dengan tanganya. "Dan itu yang bisa melakukannya hanya aku!"
'Apa yang kamu lakukan? Dia benar-benar bisa menjadi wanita seperti ini? Dia seperti nyonya Jeko yang sebenarnya. Ciumannya dan sentuhanya sepertinya aku suka.' Jeko tersenyum.
Sun-Ye terlihat sangat Emosi.
"Kamu kira aku tidak bisa melakukannya?"
Sun-Ye beranjak dari tempat tidur dan seperti akan menyerang Jeko.
Filia melihat hal itu sangat geram dengan spontan Filia menghalagi Sun-Ye yang akan mencuri sentuhan Jeko. Filia mencengkeram lengannya dengan sangat kuat kemudian menariknya dan membuat Sun-Ye terlempar ke lantai.
"Aww, Berani-beraninya kamu menarikku dengan kasar!" Sun-Ye berdiri dan ingin meraih rambut Filia untuk menjambaknya.
Filia wanita yang berbeda dia sangat mahir untuk bela diri. Sebelum Sun-Ye mendapatkan rambutnya, Filia mengambil tangan itu dan memutarnya kebelakang badan Sun-Ye.
"Aww, Lepaskan aku! Kamu benar-benar wanita yang sangat mengerikan." Sun-Ye merintih dan meronta tapi Filia tidak menggubris.
Filia yang masih mencengkeram tangan Sun-Ye mengambil mantel, syal dan tas yang ada di ranjang lalu mendorong Sun-Ye keluar dengan tangan yang masih di cengkeram Filia di belakang tubuhnya. Sampai di depan kamar Jeko, Filia melempar tubuh Sun-Ye ke lantai di ikuti tas, mantel dan syal yang menjadi kerudungnya itu.
"Pergi dari sini! Sebelum wartawan melihatmu dengan pakaian yang tidak bermoral ini di depan kamar penginapan seorang Pria." Dengan segera Filia menutup pintu.
BLAR!
"Aku benar-benar kesal, aarrrrhhhh!!! Awas kamu Filia Aku akan membalasmu karena sudah mempermalukan aku hari ini." Sun-Ye benar-benar sangat marah dia memakai mantelnya dan meninggalkan tempat itu dengan menghentak-hentakkan kakinya kelantai berkali-kali.
Jeko masih mematung melihat Filia begitu hebat menggunakan keterampilan bela dirinya sekaligus terpesona dengan sikap ganasnya tadi.
Jeko melihat Filia masuk.
"Apa yang kamu lihat Je?" Filia menuju ke meja dan melahap kentang goreng di atas piring.
"Aku hanya heran, kamu bisa seganas itu menggodaku. Jujur aku ingin memintanya lagi. Itu membuatku sangat bergairah dan lagi kamu cukup lihai untuk bela diri. Seperti melihat di Film-film action." Jeko duduk di kursi yang ada disamping Filia dan merangkul Filia dengan mesra.
"Minta lagi? Tidak! Coba kamu tidak punya phobia dan bisa menyentuh wanita itu. Aku yakin kamu sudah menciumnya dan kalian sudah selingkuh di belakangku. Benar kan? Contoh tadi bisa terjadi kapan saja jika kamu melakukannya tidak hanya aku lempar, kamu bisa mendapatkan siksaan berat dariku." Filia masih memakan Kentang goreng yang ada di hadapannya dengan ekspresi wajah datar.
__ADS_1
"Sepertinya kamu sangat galak kepadaku. sebelumnya saja ketika kamu putus dengan mantanmu. kamu hanya ..." penjelasan Jeko terputus ketika Filia mengambil delapan buah kentang goreng dan memasukkan ke mulut Jeko agar Jeko berhenti bicara dengan kata-kata yang membuatnya sedikit malu karena dia tahu kelanjutannya.
Jeko mengunyah kentang goreng yang sangat penuh berada di mulutnya.
"Uamnnymmmnym Dasar kamu ini aku belum selesai bicara!tapi ini enak baiklah kita makan saja sayangku! Nanti kita bisa melanjutkan lagi. " Jeko mengambil lagi makanan lain di atas meja dengan sangat bersemangat.
"Lihat! Ternyata seorang Jeko bisa terlihat kelaparan." komentar Filia
"Jangan hanya menatapku! Makan saja sayang! Aku melihatmu marah ternyata membuatku lapar. Tapi aku suka kalau kamu lagi marah." Perintah Jeko yang masih menikmati makanan di meja.
Filia memukul lengan Jeko berkali-kali
"Aww, cukup-cukup. Aku hanya bercanda sayang tidak usah semarah itu. Ayo makan sini aku suapin!" Jeko mencoba menghibur Filia yang sedikit jengkel kepadanya sambil menyuapinya makanan.
Filia membuka mulutnya dengan ekspresi minta di perhatikan Jeko.
"Kenapa kamu begitu jahat? Aku benci disaat aku marah kenapa kamu menyukainya? Jadi kamu lebih ingin aku marah tiap hari Je?Awas saja jika kamu berani selingkuh!" Filia melipat tangannya masih sedikit emosi.
"Nggak kok sayang, aku kan sudah bilang aku hanya bercanda. Uhh Filia cantik jangan marah lagi ya?Aku janji nggak akan selingkuh. Lagian kamu tahu sendiri aku tidak bisa menyentuh wanita lain selain kamu sayang." Jeko memegang dagu Filia sedikit menggodanya untuk membuatnya tersenyum.
Wajah Filia berubah merah.
"Ayo makan! Keburu dingin!" emosi Filia sedikit mereda.
Jeko hanya tersenyum melihat ekspresi Filia.
Akhirnya mereka berdua menikmati makan di malam itu.
***
Ternyata perjuangan Yul mendapatkan hati Sean memiliki titik terang walaupun dia harus menembus dingin seharian diluar. Sampai akhirnya dia di perbolehkan masuk ke penginapan Sean di Jepang.
Waktu itu setelah Jeko memberi isyarat kepada Yul dimana tempat menginap Sean Yul sempat menginap semalaman di luar pintu penginapan Sean. Udara saat itu sangat dingin tapi Yul tetap bertahan sampai Sean akhirnya mengintip melalui Jendela karena Sean mengira ada pencuri yang mengincar kamarnya. Sean hanya tersenyum ketika yang dilihatnya adalah Yul, Sean sama sekali tidak membuka pintu dan membiarkannya sampai pagi. Barulah di pagi itu Yul terus meminta Sean keluar dan ingin masuk ke penginapan tapi lagi-lagi Sean tidak menggubris. Yul tidak makan masih menunggu di depan pintu hingga akhirnya dia lemas dan batuk kemudian sering bersin karena udara yang sangat dingin di Jepang. Mendengar hal ini Sean membuka pintu dan menghampiri Yul yang kedinginan di depan pintu.
ketika mendengar suara pintu terbuka Yul langsung berdiri, Sean melihat Yul yang sangat Pucat akhirnya memperbolehkan Yul masuk.
Yul yang masih terus menggigil masih terdiam karena bibirnya yang kelu dan terasa kaku.
Sean menyiapkan segelas Teh hangat dan memberikan kepada Yul yang sudah duduk di sofa ruang tamunya. Kamar itu lebih luas dari kamar Jeko dan Filia. Karena memang fasilitas dari Agensinya. kamar itu terdiri dari ruang tamu dan tempat tidur juga dapur kecil yang hampir mirip seperti apartemen. Mereka sempat diam tanpa kata saling berhadapan, keduanya merasa canggung untuk bicara.
Yul memulai pembicaraan setelah meneguk teh ditanganya.
"Terimakasih untuk tehnya. Maafkan aku Sean, sejak kejadian itu aku terus merasa bersalah." Yul mulai bisa menjaga kesopanannya di depan seorang wanita.
"Ternyata kamu bisa bersikap seperti ini?Ku kira kamu benar-benar pria arogan yang tidak tahu Terimakasih dan kata maaf." komentar Sean.
"Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri untuk berubah mulai sekarang. Entah mengapa aku ingin mengejarmu sampai sini." Yul spontan dan membuat ruangan itu seperti dipenuhi lambang hati karena keduanya sebenarnya sudah saling jatuh cinta.
Lirikan mata Yul membuat Sean merasa malu dan terus memutar bola matanya kearah yang lain dan berinisiatif untuk menghindar.
"Nikmati tehnya, aku akan mengambil cemilan dilemari!" Sean pergi ke dapurnya.
'Dia benar-benar membuatku berdebar. Tapi kenapa aku terus tersenyum?' Sean menyiapkan dua cemilan yang ada di lemarinya.
'Kenapa dia terlihat cantik mengenakan celana pendek dan kaos yang sangat sederhana itu? Apa begini rasanya jatuh cinta? Sepertinya aku mulai buta tidak bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk tentang Sean.' komentar Yul dalam hati yang terus berbunga-bunga.
Satu menit kemudian Sean datang membawakan cemilan dan juga selimut untuk menghangatkan Yul yang masih terus menggigil. Sean meletakkan cemilan diatas meja dan menghampiri Yul yang kedinginan, dia membuka selimut itu lalu bergegas untuk menyelimuti Yul. Seketika itu Yul terpaku melihat Sean menghamprinya, tapi kejadian tidak terduga itu datang selimut itu membuat Sean tersandung. Sean telah berhasil menyelimuti tubuh Yul tapi dia juga berhasil membuatnya terjatuh di sofa dalam posisi berbaring dan Sean menimpa tubuhnya. Alhasil Yul seperti posisi menangkap tubuh Sean dan pandangan mata itu terjadi begitu dekat.
'Aku tidak bisa berfikir dan tidak bisa berbicara. Dadaku terasa begitu sesak sekaligus berdebar. Tapi kenapa tatapan matanya begitu dalam?' gumam Sean
'Apa wanita ini yang akan aku nikahi? Apakah dia orang yang akan menemaniku seumur hidup?Perasaan apa ini? Bukan sekedar jatuh cinta, ini seperti sebuah firasat. Sejak kapan aku bisa percaya dengan Firasat?' gumam Yul menatap Sean begitu intens.
Mereka tidak sadar hanyut dengan suasana dan saling menatap dalam waktu yang begitu lama. Sean mulai sadar keadaan ini, Sean beranjak dari tempatnya dan berdiri. Begitu juga Yul yang merasakan debaran di dadanya. Yul kembali duduk di sofa dan menarik selimut untuk menghangatkan Tubuhnya.
"Maaf, a-aku tidak sengaja."Sean menjadi gemetar karena debaran di dadanya yang begitu cepat.
"Iya, bolehkah dua jam saja aku tidur disini! Setelah itu aku akan kembali ke penginapan Jeko. Aku tidak nyenyak semalaman di luar." pinta Yul.
"Baiklah."Sean menjawabnya singkat.
__ADS_1
Pagi itu udara masih terasa dingin dan menusuk. Yul langsung tertidur di sofa karena dia terlihat begitu lelah, hari ini Sean libur dari pemotretan karena cuaca hari ini buruk dan besok adalah hari terakhir Sean di Jepang begitu juga Filia dan Jeko.
Sean membaringkan dirinya di ranjang mencoba untuk tertidur lagi. tapi yang terbayang wajah Yul tadi, Sean tersenyum membayangankan kejadian tadi.
'Kenapa aku suka dengan kejadian itu? Dulu dia sangat menyebalkan tapi aku akui dia memang cukup ganteng. Melihat dirinya juga seorang tuan muda.' Sean berkali-kali berguling tapi matanya tidak ingin terpejam juga.
Akhirnya dia bangun dan melihat bahan makanan di dapurnya dia mencoba memasak sesuatu yang ada di kulkas masih tersedia sayuran, daging dan ramen.
"Setidaknya aku bisa memasak dua porsi untuk berdua makan bersamanya, masih ada sedikit daging." celoteh Sean
Tangan Sean lumayan lihai untuk memasak dengan cekatan memotong bahan makanan lalu memasaknya bersama ramen rebus.
Beberapa menit kemudian masakan ramen yang Sean buat sudah jadi. Sean menyiapkan dua mangkuk dan membawanya ke meh ruang tamu. Pelan-pelan Sean membangunkan Yul.
"Yul, makanlah dulu! Aku yakin kamu belum makan kan?"Sean menggoyang-nggoyangkan tubuh Yul tapi tidak ada respon.
Tiba-tiba Sean melihat keringat dinginkeluar dari dahi dan bagian wajah Yul. Sean merabanya pelan dan memeriksa suhu badan Yul.
"Dia demam?" Sean mengambil air hangat dan handuk kecil lalu mengompres Yul sebentar sambil menyeka sebagian keringatnya.
"Yul, bangun!" Sean memapah Yul untuk bersandar di sofa dan duduk.
Yul merasakan kepalanya sedikit pusing. Dia tersadar badannya sangat lemas.
Sean mencoba untuk menyuapi Yul, ketika ingin membuka mulutnya Yul melihat Sean sebentar kemudian membuka mulutnya yang terasa kelu.
'Aku nggak tahu jika dia wanita yang sangat perhatian.' batin Yul yang masih mengunyah ramen di mulutnya.
Sean menyuapi Yul sampai habis. Baru setelahnya Sean menghabiskan ramennya sendiri, Yul masih terus memandang Sean yang duduk di sampingnya.
"Jangan terus-menerus menatapku! Aku sedang makan, kamu bisa membuatku tersedak Yul." kata Sean masih menyantap dengan lahap ramen buatannya itu.
Yul mengubah pandangan ke arah yang lain.
"Terimakasih untuk ramennya." Yul menaikkam selimutnya sampai ke dadanya.
Sean hanya menjawab dengan singkat karena masih penuh dengan makanan di mulutnya.
"Hemm."
'Aku yang biasanya mudah menyatakan cinta kepada seseorang. Tapi sekarang rasanya seperti tertahan di tenggorokan. Ternyata Cinta yang sebenarnya memang akan lebih gugup untuk dikatakan.' batin Yul yang tiba-tiba bersin.
Sean selesai menyantap ramennya.
"Cuaca di luar sangat buruk, sepertinya kamu demam dan Flu. Kamu bisa menginap disini!" Ucap Sean membereskan mangkuk untuk dijadikan satu kemudian akan di bawanya ke dapur untuk di cuci.
Baru akan membawanya dan beranjak berdiri Yul menarik tangan Sean yang membuatnya duduk. Sean melihat Yul begitu lemas dengan tatapan yang begitu sayu akhirnya mengurungkan niatnya untuk membawa mangkuk itu. Satu menit kemudian Yul pingsan.
"Yul? Yul?" Sean panik
Tubuh Yul dibaringkannya lagi ke sofa kemudian membetulkan selimutnya.
"Tidak! Badan Yul panas sekali, Bagaimana ini? Apa aku mebawa obat penurun panas ya di tas?" Sean memeriksa di dalam tasnya dan mencari obat penurun panas dan akhirnya ketemu obat itu di haluskannya menggunakan sendok lalu meminumkan ke Yul. Dia juga menyiapkan air hangat dan handuk tadi untuk mengompres Yul lagi.
Sean sangat cemas dia menunggu Yul sadar dan menunggu Yul di sampingnya sambil menyeka keringat dan berulang kali mengganti kompres di dahi Yul.
"Aku harap kamu cepat sadar Yul." kata Sean.
Hari sudah sore, Sean tidak sengaja tertidur di samping Yul sambil terduduk di lantai. Yul bangun dari tidurnya dan merasa badannya sudah agak membaik. Melihat Sean ada disampingnya dia hanya menoleh dan tersenyum. Sean tidur dengan sangat lelap Yul berinisiatif untuk menggendong Sean dan dipindahkan ke ranjangnya.
Setelah itu Yul Membetulkan selimutnya dan membiarkan Sean tidur. Sebelum Yul memutuskan untuk pergi Yul duduk disamping ranjang dan memandang wajah Sean ketika tertidur. Tangan Yul mulai membelai rambut Sean.
"Entah mengapa aku jatuh cinta padamu. Aku belum bisa mengungkapkan perasaanku untuk kedua kalinya, mungkin aku takut atau mungkin juga aku terlalu gugup. Hal ini sangat aneh bagiku sebagai seorang playboy. Tapi aku bisa serius menjadi pria yang setia aku berjanji dengan diriku sendiri untuk sembuh dari playboy, maaf Se jika aku pernah menyakiti perasaanmu. Terimakasih sudah merawatku."
Sean sudah sadar tapi matanya masih terpejam, dia mendengarkan semua kata-kata Yul.
'Kamu sepertinya benar-benar sangat serius Yul. Aku memaafkanmu' batin Sean.
Yul berdiri dan akan meninggalkan Sean. Tangan Sean mendapatkan tangan Yul sebelum pergi. Yul menoleh. Tangan Sean menariknya cukup kuat hingga wajah Yul mendekat dan kakinya berlutut.
__ADS_1