
"Kamu adalah wanita yang waktu itu menciumku kan?" tanya Jeko.
"I-iya pak, i-itu tidak sengaja, Maaf pak!" kata Filia sambil tersenyum dan mencoba melarikan diri dari tubuh mereka yang semakin dekat itu. Gawat! Aku sudah melakukan dua kesalahan fatal yang pertama mencium direktur dan kedua menyiramnya dengan air, ku harap naskahku tidak benar-benar di tolak kali ini, kata Filia masih sedikit tegang.
Tiba-tiba tangan Jeko menghalanginya dan Filia kembali ke Posisi semula. Mati aku! gumam Filia dalam hati sambil tersenyum melihat Jeko.
"Kamu tidak akan bertanggung jawab dengan yang kamu lakukan? yang pertama menciumku dan yang kedua menyiramku, atau kamu lebih memilih, materimu disana aku tolak sekarang juga?"
Sudah kuduga, dia akan melakukan hal ini! Seharusnya tadi aku biarkan saja ketika ada orang yang dimarahi, gumam Filia kesal dengan dirinya sendiri. "Jangan Pak, anda belum membacanya kan? Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku, tapi kumohon baca naskahku dulu sebelum menolaknya!" kata Filia sudah tidak ada jalan keluar dan mengatupkan kedua tangannya sambil memohon.
Aku masih penasaran dengan wanita ini kenapa tubuhku tidak merespon apapun ketika kita berciuman waktu itu? Jeko menarik dirinya dan berdiri tegap Membelakangi Filia. "Kita satu Universitas, kamu bisa panggil aku Jeko. Siapa namamu?"kata Jeko.
"Saya Filia." jawab Filia. Oh Jeko, Dia yang ada di majalah kampus itu kan? Aku baru ingat. Pantas saja Familiar, gumam Filia.
"Filia, penulis terkenal itu kamu?" kata Jeko sedikit tersenyum seolah tak percaya.
"I-iya." jawab Filia singkat. Sial, dia tersenyum seakan meremehkanku! batin Filia sambil mengikuti Jeko dari belakang.
Tiba-tiba Jeko berhenti.
"Apa kamu yakin, kamu akan melakukan apapun untuk bertanggung jawab?"
Kali ini apa yang dia rencanakan? kata Filia dalam hati. "Iya, Aku akan berusaha melakukannya!" jawab Filia dengan sangat terpaksa.
"Baiklah," kata Jeko
Tiba-tiba Jeko berbalik dan mendekati Filia, Filia merasa ada yang aneh dengan pergerakan ini. Lagi-lagi membuat Filia mundur dan akhirnya cipratan air yang ditumpahkannya tadi membuat Filia tergelincir, Filia meraih tangan Jeko yang akan menolongnya tapi Jeko malah menimpa Filia dan mereka terjatuh di sofa, kali ini Bibir Jeko mendarat di bibir Filia, mereka berdua terpaku sejenak. Aku penasaran kenapa kemarin saat berciuman dengan dia aku tidak demam. Bolehkah aku mencobanya lagi? kata Filia dalam hati.
Aku ingin mencobanya sekali lagi. Apakah benar aku tidak akan kambuh jika berciuman dengannya? gumam Jeko. Mata Filia dan Jeko perlahan tertutup. Mereka merasakan debaran yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Bibir Jeko mengecup lembut bibir Filia. Hingga membuat keringat membasahi sekujur tubuh mereka. Filia mulai memainkan setiap garis bibirnya untuk mengikuti ritme kelembutan bibir pria itu. Tangan Jeko meraih telinga Filia dan Filia melingkarkan tangannya ke rambut dan tengkuk leher Jeko. Mereka menikmatinya cukup lama. Sampai suatu ketika ada orang yang mengetuk Pintu.
"THOK,THOK,THOK"
Mereka sama-sama membuka mata, kemudian, beranjak dari sofa untuk merapikan penampilan mereka.
"Silahkan masuk!" mereka berdua terlihat sangat canggung.
"Saya pergi dulu, Pak Jeko." Filia tak mampu memandang wajahnya.
Jeko hanya menganggukkan kepala dan Filia berlari kecil menemui Sali di loby depan.
Apa yang kulakukan barusan? Jantungku berdebar untuk pertama kalinya saat berciuman dan pertama kalinya aku merasakan ciuman yang begitu nikmat. Apakah ini benar? Apakah Tubuhku tidak merespon? Filia meraba wajahnya sambil terus-menerus tersenyum sendiri. Jika hal itu benar, apakah aku sudah bisa dibilang sembuh? Dan apakah ini artinya aku bisa berciuman dengan Exel? Filia berfikir terlalu banyak.
Sampai di Loby kantor.
"Kamu sakit? Wajahmu merah sekali?"kata Sali melihat Filia.
__ADS_1
"Benarkah?" Filia terkejut. Jangan bilang aku kambuh? kata Filia sambil mengambil kaca di dalam tasnya.
'Kurasa aku tidak kambuh, suhu badanku normal dan aku sama sekali tidak panas ataupun gatal. Tapi Wajahku, kenapa memerah di pipi, apa aku malu?'kata Filia meraba wajahnya.
"Fil, kamu nggak papa kan? Apa yang terjadi di ruang direktur? Apa kamu di tampar kanan dan kiri sampai merah begitu? Sudah ku bilang jangan ke sana! kamu tidak mendengarkanku,"kata Sali sambil memegang Pipi Filia.
"Ti-tidak, tidak ada yang terjadi! Aku tidak di tampar, sepertinya aku harus pulang. Bye, Sali!" Filia keluar dari kantor itu dengan terburu-buru dan masuk ke mobilnya lalu segera pulang.
Aku rasa ada sesuatu yang terjadi ? Ah Sudahlah! Lebih baik aku kembali bekerja. Baru akan kembali bekerja Pak Jeko keluar dari kantornya dan berjalan menghampiri Sali yang terpaku melihatnya keluar. Kenapa wajahnya juga merah? Apa mereka berkelahi di dalam kantor tadi? gumam Sali.
"Apa yang kamu lihat?" kata Jeko membuyarkan lamunan Sali.
"Ah-ah tidak pak, saya hanya melihat wajah anda sangat merah, apakah anda sakit?" kata Sali.
Jeko tiba-tiba panik dan meraba wajahnya. Apa penyakitku kambuh? Jeko segera berlari kecil ke kamar mandi.
Mereka berdua terlihat aneh. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di Antara mereka?Ah sudahlah, aku tidak akan ikut campur masalah mereka. Pekerjaanku masih menumpuk di dalam. Kata Sali berjalan menuju ke ruangannya.
Jeko memandang wajahnya di depan kaca kamar mandi.Tidak terjadi apapun, telingaku tidak melepuh, wajahku tidak terasa panas. Tapi kenapa pipiku memerah?Kenapa jantungku berdebar setiap membayangkan wanita itu? gumam Jeko masih membayangkan kejadian tadi. Tidak, tidak, tidak, Aku tidak boleh memikirkan macam-macam tentang dia! Aku memiliki kekasih dan itu hanya Jeni, Iya, itu hanya Jeni. Jeko membasuh mukanya di wastafel.
Tiba-tiba telponnya berdering.
"Kring, kring, kring,"
"Halo, Dok."
"Apakah kamu bisa datang ke kantorku hari ini? Ada kabar baik mengenai penyakitmu itu,"
"Benarkah? Aku akan segera ke sana!" Jeko menutup telponnya dan bergegas berangkat menemui dokter itu.
Sesampainya di Kantor Dokter pribadi Jeko.
"Sepertinya penyakitmu menemui titik terang Je, aku menerima kabar dari Prancis mengenai pertanyaanmu tentang kali terakhir kamu berciuman dengan wanita itu tapi tubuhmu tidak merespon bahkan tidak terjadi alergi, kemungkinan besar wanita itu memiliki alergi yang sama denganmu, Je." jelas Dokter.
"Alergi yang sama? Bagaimana mungkin? Ada orang punya alergi yang sama denganku? Bukankah penyakit ini langka?" tanya Jeko semakin penasaran.
"Banyak penelitian di Prancis mengatakan, memang penyakit ini langka tapi tidak menutup kemungkinan, di dunia ada segelintir orang yang sama terkena penyakit ini dan mereka bilang kamu cukup beruntung menemukan orang yang memiliki phobia yang sama denganmu terlebih lagi dia lawan jenis, karena jalan satu-satunya untuk sembuh hanya berdekatan dengan orang itu dan melakukan kontak fisik seperti bersentuhan kulit, berciuman dan berpelukan pokoknya ada kulit yang menyentuh satu sama lain dengan orang yang memiliki phobia yang sama denganmu. Efeknya, belum diketahui pasti, setelah kamu melakukan sentuhan fisik dengan orang yang sama itu atau bahkan berciuman dengannya, apakah kamu bisa juga mencium orang lain tanpa alergi? Tapi, kemungkinan besar jika dalam setahun kamu bisa melakukan dengannya. Maka, kamu bisa sembuh."
"Itu Gila dokter, bagaimana aku bisa percaya dia memiliki alergi yang sama denganku?Solusi itu rasanya tidak masuk akal, kata-katamu seperti menganjurkan aku dan dia pacaran atau menikah! Bersentuhan fisik, berciuman dan berpelukan itu hanya bisa dilakukan pasangan, aku tidak bisa, jika harus melakukan lagi untuk kesekian kalinya. Lagian, aku sudah punya kekasih," Jeko terlihat sangat kesal.
"Melakukan lagi, untuk kesekian kalinya? Tunggu! Berapa kali kamu menciumnya?" dokter itu terkikih geli.Sial! Kenapa aku keceplosan batin Jeko.
"Sudah, tidak usah malu lagi! kamu bilang 'memiliki kekasih, tapi kamu mencium wanita lain' dan kamu bilang 'kesekian kalinya aku tidak bisa menciumnya lagi?' Bukankah terjadi lebih dari satu kali? Aku mulai ragu,"dokter itu masih terkikih geli sambil terus menyindirnya.
"Dokter, sepertinya kamu ingin aku marah besar? Jangan memojokkanku dengan sindiranmu yang nggak masuk akal!" kata Jeko mulai emosi.
__ADS_1
"Masuk akal kok, kan kamu sendiri yang bilang! aku hanya mengartikan," kata dokter itu bersikap santai sambil terus tersenyum. Dasar dokter menyebalkan! gumam Jeko kesal.
"Sudah jangan cemberut, wajahmu semakin jelek. Bawa wanita itu ke sini! jika kamu ingin bukti dia memiliki phobia yang sama atau tidak denganmu. Aku akan melakukan tes, ketika hasilnya positif, maka, pilihan ada di tanganmu," kata Dokter itu.
"Baiklah, akan kubawa wanita itu ke sini!Terimakasih dokter, Aku pergi!" kata Jeko berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Anak itu."dokter itu menggelengkan kepalanya.
***
Filia sampai di rumahnya dan bergegas ke kamar untuk merebahkan tubuhnya yang cukup lelah hari ini.
"Ciuman itu ternyata nikmat sekali, Jantungku bisa berdebar dan kenapa Jeko terlihat cukup ganteng?"tanpa sadar Filia senyum-senyum sendiri.
"Tidak, tidak, tidak. Aku sudah punya kekasih kenapa aku membayangkan pria lain?" Filia menutup wajahnya dengan bantal.
"Aku harus pergi dengan Exel hari ini, aku harus mengingat kebersamaan dengannya. Biar aku tidak berfikiran yang tidak-tidak. Aku juga akan mencoba memastikan bahwa aku sudah mulai sembuh."
Filia mengirimkan pesan singkat ke Exel untuk mengajaknya pergi nonton hari ini.
"Sayang, hari ini kita nonton yukk!!"
"Boleh sayang, kuliahku juga sudah selesai."
"Nanti malam aja aku sudah membeli tiket film romantis 2020. kamu jemput aku ya di rumah jam 7."
"Oke sayang."
Filia mempersiapkan baju yang terbaik untuk nonton malam ini.
***
Jeko masih terus memikirkan cara untuk membawa Filia ke kantor dokter itu. Banyak bayangan terlintas di pikirannya. Dia juga penasaran apakah benar Filia memiliki phobia yang sama denganya?
Jeko sampai ke kantor penerbit.
Melihat hasil pendapatan perusahaan itu dan menganalisa, dia cukup terkejut ketika hasilnya paling banyak dari novel karya Filia. Jeko penasaran dengan novel yang dibuat oleh Filia, dia mengingat materi waktu itu dan segera mengambil materi itu dari dalam lacinya.
Dua jam kemudian. Jeko selesai membaca materi milik Filia, dia mengakui Filia benar-benar penulis yang berbakat, kemampuannya yang liar dalam memgekspresikan sebuah hubungan percintaan, terlihat sukses untuk membuat pembaca terobrak-abrik perasaannya, dari gaya mengatur emosi sampai penyelesaian masalah, bisa membuat pembaca terjun sebagai tokoh di dalam novel. Pantas saja dia berani menyiramku dengan air, sampai sekarang aku masih belum tahu alasannya apa, dia melakukan hal itu?lagian, gosip tentangnya memang benar. Jika dia itu penulis wanita satu-satunya yang berani kepada atasan, tapi, tidak akan ada yang berani mengeluarkannya. Ternyata, anak itu sangat berpengaruh di perusahaan ini. gumam Jeko. Aku juga tidak akan mungkin mengancam akan mengeluarkannya, jika karyanya begitu bagus tapi, dia pernah bilang akan melakukan apapun untuk bertanggung jawab padaku kan? Aku baru ingat, dia punya sedikit rasa takut denganku, sepertinya aku bisa memanfaatkan hal ini, kata Jeko seperti mendapatkan ide brilian.
***
Filia di jemput oleh kekasihnya Exel dan berangkat nonton film, saat itu, film yang sangat ditunggu banyak orang adalah film romantis alhasil, ramai di bioskop itu pun tidak terelakkan.
Mereka berdua memasuki ruangan di bioskop itu dengan membawa dua buah popcorn hangat ditangan mereka. Adegan demi adegan romantis membuat penonton riuh dan sangat antusian untuk menonton. Filia sedari tadi mencari momen, dimana dia bisa mencium kekasihnya itu untuk sekedar membuktikan bahwa, dia benar-benar sudah sembuh.Tiba-tiba mereka tegang karena adegan ciuman di Film itu, Filia yang terbawa suasana menarik kemeja Exel dan mencium bibirnya, Tuhan kumohon, jangan memerah dan melepuh lagi! Filia bergumam dalam hati.
__ADS_1