FIRST MEET YOU

FIRST MEET YOU
MENCINTAIMU 2


__ADS_3

Mereka berdua sampai di Lokasi Syuting.


Sutradara langsung mengajak mereka berdua berdiskusi karena kemarin ada sedikit masalah karena Sun-Ye sama sekali tidak mau berakting untuk adegan lompat dari tebing karena dia phobia dengan  ketinggian dan kebetulan kedua stuntman mengalami cedera karena adegan sebelumnya. Sutradara itu bingung harus bagaimana? Apakah harus untuk mengganti jalan ceritanya? 


Filia berfikir sejenak, sepeti mencari ide untuk jalan yang terbaik agar tidak merubah isi dari novelnya. 


"Apakah mungkin jika aku jadi stuntman untuk adegan ini?" tanya Filia yang hampir membuat Jeko dan Pak sutradara tercengang.


"Apa kamu Gila? Itu adegan berbahaya dan kamu wanita sayang? Jadi stuntman? Tidak! Aku menolak. Lebih baik kamu ubah ceritanya!" Jeko terlihat sedikit emosi dan juga khawatir.


"Tapi jika aku ubah ceritanya jadi tidak menarik Je, karena disini nanti pemeran utama wanita akan di tolong oleh pemeran utama Pria lalu mereka berpelukan dan saling menyatakan perasaannya. Aneh sekali jika diganti! Jika adegan tidak di buat jatuh dari tebing sepertinya pemeran utama akan kehilangan karakternya yang mudah putus asa." Filia merasa keberatan dan mengungkapkan pertimbangannya.


Sutradara mencoba mengambil keputusan.


"Je sebenarnya gedung itu tidak terlalu tinggi dan keamanan saat syuting terjamin karena ini di perankan wanita. Hanya sebentar Je tidak begitu berbahaya. Aku akan tambah keamanannya. Bagaimana kalau kamu setuju dengan pendapatnya? Aku tahu kamu khawatir tapi Syuting waktunya sangat terbatas." Sutradara itu sangat yakin dengan ucapannya.


"Pak, tapi stuntman  sebelumnya saja bisa cedera. Bagaimana aku bisa menyetujui Filia untuk jadi stuntman?" Jeko benar-benar khawatir.


"Je, aku benar-benar tidak akan kenapa-napa? Percaya padaku!" Filia meyakinkan Jeko dengan memeluk lengannya.


"Jika kamu terjadi sesuatu. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri sayang!" Jeko memperlihatkan wajah yang sangat cemas.


"Sayang, ku mohon percaya padaku ya!" Filia melepaskan lengan Jeko dan benar-benar melakukannya.


Jeko tidak bisa melarang Filia dalam hatinya benar-benar khawatir tapi dia mencoba percaya dengan Filia.


Sun-Ye dengan senyum yang dibuat-buat melihat Filia menjadi pengganti perannya terlihat sangat senang karena dengan begitu dia bisa mendoakan Filia untuk cedera atau mungkin tidak selamat lagi dari adegan itu jadi dirinya bisa mendapatkan Jeko dengan cukup mudah.


Pemeran utama Pria sudah berada diatas gedung bersama dengan Filia karena adegan ini menceritakan mereka yang sedang bertengkar. Ha-Joon terlihat sangat khawatir dengan resiko yang akan di ambil Filia ini tapi Filia terlihat cukup tenang. Jeko benar-benar merasa cemas, dia terus mondar-mandir saat syuting berlangsung.


'Tuhan aku mohon lindungi Filia!' Jeko terus mengulang doa itu berkali-kali.


Adegan berlangsung Filia menjatuhkan dirinya dari atap gedung dan benar-benar terjun. Filia benar-benar terlihat profesional bahkan sampai adegan itu selesai. Filia mendarat di sebuah kursi tinggi yang sudah di siapkan, semua kru bahkan sutradara memuji keberaniannya. 


Riuh tepuk tangan di dengar banyak orang, Jeko merasakan kelegaan yang luar biasa bahkan dirinya sudah bisa tersenyum. Beberapa kru melepas tali yang melingkar di pinggang Filia namun, ketika Filia akan turun dari kursi itu penyangganya patah.


"Aaaaaaaaa!" Filia berteriak sambil menutup matanya.


Ketika membuka mata, Filia sangat terkejut karena Filia melihat Jeko ada dihadapannya. Filia baru sadar Jeko menangkap Filia saat terjatuh.


"Sayang, bisakah kamu mengangkat badanmu!"Jeko membuyarkan lamunan Filia yang masih terkejut dengan keadaan ini.


"I-iya bisa Jeko, maaf!" Filia berpindah lalu terduduk di sebelah Jeko.


Filia mencoba membantunta bangun.


"Aarrgghhh punggunggku!" 


Setelah berhasil duduk, Filia melihat punggung Jeko dan melihat darah di kemejanya. Segera Filia mencari alat P3K untuk mengobati lukanya.

__ADS_1


Jeko dibawa ke sebuah ruangan kosong dan terduduk di sebuah sofa besar bersama dengan Filia. Jeko membuka jas dan kaos yang di pakainya lalu Filia melihat luka goresan tapi tidak begitu dalam.


Filia meneteskan sedikit obat merah di kapas lalu mengoleskannya ke punggung Jeko.


"Awww, Pelan sedikit!" Jeko sedikit merasakan perih di punggungnya.


"Maaf Jeko, lagi-lagi karena aku kamu terluka." Filia menempelkan plester ke punggung Jeko.


Jeko menarik tangan Filia agar Filia berada di hadapannya.


"Aku lebih suka jika aku yang sakit dari pada kamu yang terluka sayang."Jeko meraih punggung telinga Filia dan mengusap pipi Filia dengan ibu jarinya.


"Tapi?" 


"Sssstttt! Aku nggak papa. Penampilanmu tadi sangat bagus dan kamu memang wanita yang hebat. Kamu memiliki banyak hal yang membuatku bangga." Jeko menarik Filia ke dalam pelukannya.


Filia bersandar manja di pelukan Jeko dan berulang kali melihat wajahnya.


'Bagaimana aku bisa tidak jatuh cinta padamu Jeko? jika setiap kali kamu selalu membuatku terpesona dengan perhatian dan kasih sayang yang selalu mengalir untukku.' Filia tersenyum di pelukan Jeko.


Beberapa menit kemudian Sutradara itu datang ke ruangan kosong dan melihat keadaan Jeko. 


Jeko melepaskan pelukannya.


"Apakah kamu baik-baik saja Je?" tanya Sutradara itu.


"Iya, baiklah. Tapi aku perlu berterimakasih dengan penulis yang sangat berbakat ini. Hasil di layar sangat bagus dan dia benar-benar memainkan peran ketika jatuh dengan sangat baik. Aku salut! selain menulis kamu memiliki keahlian lain yang tidak terduga, mungkin saat akting kamu juga bisa tampil sempurna kamu cocok Fil jadi artis." Pujian bertubi-tubi untuk Filia dari sutradara itu.


"Pak, anda terlalu memuji saya hanya membantu. Terimakasih." ucap Filia sambil tersenyum.


"Baiklah kalian berdua boleh kembali ke penginapan. Besok kalian masih ada syuting dan pemotretan kan? Kemungkinan adegan selanjutnya sepertinya bisa aku handle  jadi kalian bisa beristirahat untuk tidak ke lokasi syuting. Oh ya Je jangan lupa besok malam datang ke acara itu ya!" kata Sutradara.


"Iya, besok kita pasti datang pak. Terimakasih." Jawab Jeko sambil tersenyum.


Mereka semua meninggalkan ruangan itu. Filia dan Jeko kembali ke Penginapan.


Saat sampai di depan kamar mereka berdua.


"Filia bisakah kamu membantuku sebentar? Sepertinya badanku terasa pegal, mungkin kamu bisa memijat punggungku." kata Jeko sedikit manja meminta Filia.


"Baiklah."Filia langsung mengiyakan tanpa berfikir karena dia merasa harus bertanggung jawab.


Mereka berdua masuk ke kamar Jeko, hari itu sudah malam. Jeko melihat Yul membaca sambil terduduk di badan tempat tidur.


"Helo Bro, akhirnya kalian datang juga!" Yul beranjak dari tempat tidur.


'Aku lupa ada Yul di kamar. Hemm sepertinya aku harus menggunakan cara ini. Aku ingin berdua dengan Filia.' batin Jeko sambil melihat handphonenya.


"Ini Dibaca!" kata Jeko menyerahkan Handphonenya.

__ADS_1


Tiba-tiba Yul berteriak


"Ahh kamu benar-benar so sweet. Kamu sangat mengerti aku! Aku terharu." Yul tiba-tiba memeluk Jeko.


"Aww! Lepaskan Yul! Aku baru saja cedera." kata Jeko.


"Je emangnya kamu kenapa?" Yul jadi ikut khawatir.


"Biasalah hanya kecelakaan kecil. Tunggu apa lagi? Sana cepat pergi! Keburu Sean tidak ada di hotelnya." Jeko memperhatikan isyarat mata kepada Yul.


"Aaa..., baiklah aku mengerti. Aku duluan sahabatku yang ganteng, bye Filia. Aku tidak akan jomblo lagi aku yakin itu." Yul keluar dari pintu dengan begitu girang.


Filia menggelengkan kepala.


"Sahabatmu bisa dikategorikan pria yang sangat Lebay Je. Kamu tahu dari mana hotel Sean?" ucap Filia.


"Biarkan saja, sekarang tinggal kita berdua! Aku ingin bersamamu hari ini. Kamu seperti barusan mengenalku sayang. Di luar negeri aku juga punya orang kepercayaan, mereka sangat terpercaya untuk mencari informasi." Jeko tiba-tiba memeluk Filia dan mencium pipi kekasihnya itu berkali-kali.


"Katanya tubuhmu pegal? Atau ini hanya alasan supaya aku bisa masuk ke sini?" tanya Filia yang membaca maksud Jeko.


"Iya aku memang pegal. Ini juga karena kamu, ya kan wajar kalau aku minta berduaan denganmu. Sayang kamu mau bertanggung jawab kan?" Jeko bergelayut manja memeluk Filia.


"Baiklah, baiklah kenapa aku sedikit geli kamu bersikap seperti ini? Duduklah di ranjang! Aku akan memijat punggungmu." jelas Filia.


Jeko duduk membelakangi Filia dan Filia mulai memijit punggung Jeko. Tiba-tiba Jeko mengambil sesuatu dari dalam sakunya.


"Apakah kamu masih ingat kertas ini?"tanya Jeko sambil menyerahkan kertas itu.


Filia menerima kertas itu dan membukanya dia cukup terkejut ketika melihat kerangka Novel ada di tangan Jeko.


"Kok ini ada padamu Je? Aku meninggalkan di perpustakaan kan waktu itu?" tanya Filia heran.


"Aku tahu kamu jatuh cinta padaku dari sepenggal kalimat yang kamu buat ini. Kamu mencintaiku begitu dalam sampai kamu tidak mau menyakitiku kan?" Jeko mulai menggoda Filia.


"Kamu jadi ketularan lebaynya si Yul ya Je?" Filia melipat tangannya dengan ekspresi sedikit geli melihat Jeko menggodanya.


"Sepertinya aku kembali saja ke kamar." Filia benar-benar merasa malu karena Jeko terus tersenyum menggoda Filia.


Filia beranjak dari tempat tidur kemudian berjalan ingin keluar. baru dua langkah Filia berjalan, Jeko menariknya membuat Filia berbaring di ranjang. Jeko yang juga terjatuh disamping Filia membalikkan badan yang membuat tubuhnya berada di atas Filia, tatapan mata itu seiring dengan waktu semakin menghangat. Filia masih terpaku melihat Jeko yang berhasil membuatnya membisu sejenak.


'Jantungku sudah maksimal berdenyut dan berdebar. Apakah aku benar-benar bisa melanjutkan hal ini?' tanya Filia dalam hati.


'Dia begitu cantik, aku harus bisa menahan hasratku sendiri tapi bibirnya memanggilku. Aku harus bagaimana? Mungkin hanya bibir itu saja. Aku masih bisa mengontrol gejolak ini.' Jeko seolah berperang dingin dengan hatinya sendiri.


Tatapan Jeko semakin Fokus Jeko semakin mendekat dan terus mendekat. Filia semakin berdebar dan ketika bibir itu menempel pecah sudah. Menyentuh dengan  begitu lama sampai mata mereka perlahan terpejam, bibir itu menjepit belahan atas dan bawah memainkan ritme yang begitu manis. Air liur yang mulai menguasai lekukan bibir mereka membuat hanyut begitu saja seperti es krim yang mencair.


Tangan Jeko meraih tangan kanan Filia dengan awal yang berintonasi. Membuat suasana semakin memanas, gerakan bibir itu mampu menggerakkan tubuh mereka ke arah yang lebih sensitif.


Sampai suatu ketika ....

__ADS_1


__ADS_2