
Hari Peragaan busana.
Kebetulan Sean menjadi salah satu peserta untuk memakai baju adat dan tampil di atas panggung. Sedangkan di akhir acara Youra akan menjadi bintang tamu untuk menutup peragaan busana kampus.
Yul dan Jeko sudah ada di kursi VIP penonton dan Filia pun sudah ada dengan setia di samping Jeko.
"Aku benar-benar berdebar. Bagaimana jika hari ini kamu akan di atas panggung itu menggunakan bikini?" Jeko benar-benar khawatir dengan Filia.
"Apakah kamu tidak percaya padaku?" Filia mengernyitkan dahinya.
"Bukan begitu..." Jeko benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa?
"Sudah Je! kita nikmati saja peragaan busana siang ini." kata Filia memutus pembicaraan.
Para peserta sudah siap dan mereka mulai berlenggak-lenggok di atas panggung. Tibalah model terakhir adalah Sean, Yul ingin tahu ketika Sean di dandani seperti apa?
Ternyata Sean tetap menggunakan kaca mata dan memakai baju adat korea dengan rambut dikepang panjang kebawah.
"Lihat Filia! Aku benar-benar ingin tertawa, dia tetap dekil walaupun sudah di dandani. Aku sebentar lagi punya pacar Fil dan kamu harus siap untuk memakai bikini di akhir acara ini." Yul tertawa dan terus mencemooh Sean.
Filia mulai kesal dengan tingkah Yul. Filia tiba-tiba memukul kepala Yul.
"Sekali lagi kamu menghina sahabatku. Aku habisi kamu Yul!" Filia terlihat sangat geram.
"Kamu memang mengerikan Fil. Jahat sekali memukulku!" Yul akhirnya tidak tertawa lagi dan mengelus-elus kepalanya yang lumayan nyut-nyutan.
Hal mengejutkan terjadi di atas panggung. Aula itu tiba-tiba menjadi gelap dan lampu sorot menuju ke arah Sean. Musik berhenti dan tatapan mata Sean berubah. Sean berjalan kedepan dengan gerakan luwes bak seorang model, seluruh penonton terdiam sebentar, Sean membuka baju adatnya dengan begitu liar kemudian tiba-tiba menggunakan busana seksi yang menampilkan belahan dada dan panjangnya hanya setengah paha. Semua orang kembali bersorak, mereka bingung sebenarnya apa yang akan Sean lakukan.
"Ini Gila! Sean punya tubuh seperti itu?" Yul terkejut.
"Apa itu benar-benar Sean?" Jeko tidak percaya dengan yang dilihatnya saat ini.
Penonton semakin bersorak ketika Sean membuang kacamatanya dan melepaskan kepangan rambutnya. Terlihat rambut tergerai begitu saja. Sepatu heels sudah terlihat mengkilap kemudian penampilannya berubah menjadi begitu mempesona. Bibirnya di poles lagi dengan lipstik berwarna merah.
Semua orang terkejut dan tersadar dengan yang dilihatnya hari ini.
"Youra?"
Musik rancak berkumandang. Youra atau Sean membuat semua orang bingung, berjalan di catwalk dengan begitu mempesona membuat teriakan tidak terelakkan lagi.
Sampai akhirnya Youra berhenti di tengah panggung dan meminta sebuah microfon.
"Selamat siang semuanya." Youra menjawab dengan senyuman ramah.
Semua menjawab
"Selamat siang."
Yul benar-benar menelan ludah.
"Siang ini mungkin kalian bingung melihat penampilanku tadi. Tapi Sean adalah Youra yang kalian cintai, aku minta maaf bukan bermaksud untuk menipu kalian selama ini tapi aku ingin serius belajar tanpa di kerumuni banyak penggemar. Mungkin kalian semua bisa menghargai privasiku di kampus, karena hari ini sudah terbongkar aku harap ketika aku berpenampilan biasa. Kalian akan tetap menganggapku orang biasa. Siang ini perkenalkan nama asliku Seane Youra."
Riuh penonton terdengar dan mereka semua bertepuk tangan.
Jeko terbelalak dia mencolek Filia.
"Taruhanmu menang Fil." Jeko merangkul kekasihnya itu.
Yul masih melongo melihat Sean atau Youra itu.
"Sepertinya aku harus mengambil mobil sportmu Yul dan kamu bersiap untuk sembuh dari playboy." Filia menepuk pundak Yul disebelahnya.
"Fil, kamu jahat sekali. Kamu pasti sudah tahu hal ini kan? Aku sudah menembaknya dan aku mulai menyukainya. Berarti aku menyukai Sean? Mau di letakkan dimana wajahku Fil. Je tolong aku!" Yul benar-benar sudah tidak bisa menolak kekalahanya saat ini.
Jeko mengangkat tangan pertanda dia menyerah.
Sean tiba-tiba turun dari panggung lalu mendekati Yul. Yul sangat terkejut dengan perubahan itu. Sean menjawab pertanyaan Yul waktu itu.
Sean menyimpan microfon dan berbisik di telinga Yul.
__ADS_1
"Aku menolakmu Yul. Jika kamu bisa mendapatkan hatiku aku akan mempertimbangkanya, ini pembalasan penghinaanmu waktu itu di depan kelas. Bagaimana apakah kamu menyukainya?Akan menjadi berita bagus besok ketika Yul sang Playboy di tolak oleh wanita. Aku akan dengan senang hati menulisnya di papan pengumuman." jelas Sean meninggalkan Yul dan kembali ke belakang panggung sambil tersenyum sinis.
'Dasar Sial! Wanita ini benar-benar menjengkelkan. Tapi ku akui dia memang menarik, rekor pertamaku pecah sudah aku di tolak wanita hari ini. Tapi sial aku sudah terlanjur menyukainya. Apa yang harus ku lakukan?' Yul menggerutu di dalam hatinya.
"Berikan kunci mobil sportmu!" Filia menagih hadiah dari Yul.
Dengan berat hati menyerahkan kunci mobil kesayangannya itu. Walaupun mobil itu harga untuk seorang Yul tidak seberapa tapi rasanya juga sedikit perih ketika harus diserahkan ke orang lain dengan cuma-cuma.
"Awas kamu Fil! Kalian berdua memang licik. Maksudku kamu dan sahabatmu. Aku nggak ngerti ternyata kalian berdua memang dua wanita cantik." Yul merasa sangat menyesal.
"Sean itu baik Yul, jangan menghinanya lagi ya! Saranku jika kamu menyukainya kejar dia dan buktikan kepadanya kalau kamu bukan Yul seorang playboy. Karena aku menang kali ini kamu harus tepati janjimu untuk sembuh dari playboy. Jika kamu melanggar dan aku lihat kamu menyakiti Sean, habislah kamu di tanganku! Aku dan Jeko harus pergi Yul. Bye!" Filia menggandeng tangan Jeko dan pergi meninggalkan Yul.
***
Mereka sampai di rumah Jeko.
Hari masih sore Filia dan Jeko semakin mesra. Mereka berdua menikmati waktu berdua di rumah Jeko karena lengan Jeko masih sakit.
"Fil, kenapa sih kamu nggak mau di panggil sayang?" tanya Jeko yang merebahkan dirinya di sofa.
"Geli aja dengernya, lagian lebih nyaman kan panggil nama kita?" Filia duduk sambil membolak-balik halaman Novelnya sendiri disamping Jeko.
"Fil, sepertinya beberapa kali kamu juga mengatakan sayang! Tapi aku sekalipun nggak boleh?"Jeko sedikit iri dengan Filia.
Filia meletakkan novelnya. Lalu memegang wajah Jeko dengan kedua tangannya.
"Kamu masih kurang apa sih Jeko? Jangan cemberut gitu sih! kamu terlihat jelek kalau ekspresimu begitu." Filia mencoba menghibur Jeko.
Tangan kiri Jeko dengan sigap meraih punggung Filia lalu mendekatkan wajahnya sekitar sepuluh centimeter dengan wajahnya.
"Masih kurang banyak. Kalau aku minta sesuatu yang lebih boleh?" tanya Jeko memandang Filia begitu intens.
Filia sadar Jeko mulai menggodanya.
"Tidak boleh." Filia ingin menjauh tapi tidak bisa.
CUP
Jeko membungkam mulut Filia dengan ciumannya yang membuat Filia semakin luluh, semakin menurut dan memejamkan matanya.
Tiba-tiba ada yang datang dari belakang.
"EEHEM."
Mereka berdua terkejut spontan melepas ciuman itu. Jeko dan Filia bebarengan menoleh.
"PAPA?" Jeko terbelalak.
Mereka berdua berdiri, Filia memberi hormat dengan membungkuk lalu tersenyum.
'Ya Tuhan, wajah papa Jeko terlihat galak. Bagaimana ini?' gumam Filia dalam hati.
Tiba-tiba papa Jeko yang terlihat gagah dan tampan itu tersenyum melihat tingkah anaknya.
"Je, pergi ke ruangan papa! Ada yang perlu papa bicarakan." kata Papa Jeko yang terkenal dengan nama Pak Jo itu.
"Baik pah." jawab Jeko dengan patuh.
Filia kembali terduduk di sofa.
'Kira-kira apa ya yang mau mereka bicarakan?ah sudahlah.' tanya Filia dalam hati.
Filia terduduk dan mencoba asik dengan handphonenya sambil menunggu mereka berdua selesai berbincang.
***
Diruangan papa Jeko.
"Ternyata anak papa sudah Dewasa, kemari duduklah! Aku dengar kamu mengalami cedera karena menolong orang Je?" papa Jeko terlihat sangat merindukan anak semata wayangnya itu.
__ADS_1
Jeko hanya menurut lalu duduk di sebelah papanya.
"Papa kenapa bisa tiba-tiba pulang! Kenapa nggak memberi kabar Jeko dulu? sebenarnya ada apa?Iya hanya kecelakaan kecil Jeko nggak pa-pa." Jeko mulai penasaran.
Papa Jeko itu tersenyum lalu tertawa.
"Apa kamu malu, papa tiba-tiba muncul saat kalian berciuman?" papanya mulai menggoda.
"Terserah papa mau bilang apa, aku juga tidak ada niat menyembunyikan hal ini." Jeko menjawab dengan mantap.
"Hemm, dia wanita yang menyembuhkan phobiamu itu ya? Sebenarnya papa juga menonton semua kabar tentang kalian berdua. Makanya papa cepat pulang, papa tahu kamu menderita karena phobiamu itu. Makanya selama ini papa nggak bisa memaksamu untuk menikah, mau papa jodohkan juga kamu tidak bisa menyentuhnya juga kan Jeko. Setelah dokter pribadimu atau pamanmu memberitahukan padaku sudah menemukan penyembuh, papa sangat bahagia. Mungkin ini saatnya papa pensiun, papa lelah sangat ingin beristirahat. Perusahaan papa yang di luar negeri ingin papa jual kemudian papa ingin pulang ke korea dan menikmati masa pensiun bersama cucu papa." jelas papa Jeko.
"Rencana Jeko memang ingin menikah tapi tunggu Jeko wisuda dulu ya pah! Tinggal dua bulan lagi Jeko selesai sidang dan wisuda. Papa belum ada usia enam puluh tahun tapi sudah ingin pensiun apa tidak salah?" jeko sedikit heran dengan yang diungkapkan papanya.
'Kenapa firasatku tidak enak papa bilang begini ya? Karena dia adalah orang yang paling bersemangat jika bekerja bahkan dulu dokter itu menyuruhnya berhenti juga papa tidak menurut?' gumam Jeko dalam hati masih heran.
Papa Jeko hanya tersenyum
"Ternyata anak papa benar-benar sudah dewasa. Baiklah papa tunggu kamu selesai wisuda dan kalian harus segera menikah! Aku ingin menyapa calon istrimu dulu di depan." Papa Jeko meninggalkan Jeko yang masih terduduk di sofa tanpa menjawab pertanyaan terakhir Jeko.
Papa Jeko membuka pintu dan keluar dari ruangan itu. Wajahnya kembali menjadi ramah ketika melihat Filia atau calon menantunya itu terlihat sangat cantik duduk di sofa. Mendengar suara langkah kaki, Filia menoleh.
Filia dengan spontan berdiri dan memberi hormat dengan membungkuk.
"Duduklah! Apakah benar namamu Filia?" tanya Papa Jeko yang kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Filia."
"I-iya." Filia menjawab dengan sedikit gugup.
"Jangan takut dan jangan gugup di hadapanku! Sudah lama rumah ini tidak ada seorang wanita kecuali para pelayan itu. Mama Jeko meninggal karena kecelakaan kimia di perusahaan waktu Jeko masih SMA. Aku sudah renta dan aku hanya memiliki Jeko seorang, Aku lega Jeko bisa memiliki seorang calon istri sekarang." jelas papa Jeko.
'Kecelakaan Kimia? Calon Istri?' Filia menampilkan ekspresi terkejut.
"Kamu seperti terkejut begitu. Bukannya kamu juga tahu suatu hari akan menjadi nyonya besar di keluarga ini? Aku hanya berharap kamu bisa membuat Jeko bahagia." tambah papa Jeko.
"Apakah aku boleh menanyakan sesuatu padamu paman e maksudku pak?" Filia jadi bingung sendiri.
"Kamu bisa memanggilku papa mulai sekarang." dengan spontan Papa Jeko menjawab.
"Tidak! Jangan! Itu hanya pantas untuk panggilan yang sudah benar-benar menikah dan sudah menjadi menantu dalam keluarga ini. Biarkan aku memanggilmu paman saja." jelas Filia.
Papa Jeko tersenyum melihat Filia salah tingkah.
"Baiklah. Bukannya tadi kamu mau bertanya sesuatu?" tanya papa Jeko.
"Apa profesi mama Jeko, apakah dia seorang ilmuan?" Filia sangat penasaran.
Papa Jeko tersenyum lagi.
"Iya dia memang seorang ilmuan. Dia adalah seorang wanita satu-satunya yang menciptakan penangkal virus di dunia, tapi sayang diusianya yang ke empat puluh tahun. Kecelakaan kimia terbesar terjadi di Korea karena waktu itu ada kecerobohan dari salah satu juniornya yang membuat mama Jeko meregang nyawa di laboraturiumnya sendiri." jelas papa Jeko terlihat sangat sedih menjelaskan hal ini.
"Maaf paman jika pertanyaan ini membuat paman sangat sedih." hibur Filia.
"Tidak! Karena cepat atau lambat kamu pasti akan mengetahuinya juga." kata papa Jeko.
Jeko keluar dari ruangan itu lalu berjalan untuk bergabung bersama mereka berdua di ruang tamu. Mereka bercanda bersama dan menikmati kebersamaan di hari itu.
Hari sudah sore, Filia memutuskan untuk pulang kerumah.
"Paman, kapan-kapan aku pasti akan berkunjung lagi. Terimakasih untuk hari ini." kata Filia tersenyum.
"Tidak usah sungkan. Datanglah lagi kemari Filia! Aku benar-benar merasa memiliki seorang anak perempuan." papa Jeko terlihat ceria mendengar hal ini.
Filia hanya tersenyum lalu menganggukkan kepala.
"Pah, Jeko pergi mengantar Filia pulang dulu ya!" Jeko berpamitan.
"Baiklah, Hati-hati dijalan!" kata papa Jeko.
Mereka berdua naik ke mobil dan berangkat
__ADS_1