
Filia berangkat ke kantor penerbit sambil membawa laptopnya. Hari ini dia ingin mencetak materinya di kantor karena print di rumah sedang bermasalah. Pagi yang cerah itu membuatnya terlihat sangat bersamangat.
"Ma, aku berangkat ke kantor ya hari ini kuliahku kosong." Filia mencium tangan mamanya dan bersalaman dengan papanya.
"Fi kamu nggak mau sarapan dulu?" tanya mamanya masih membuat kudapan.
"Nggak ma Filia makan di luar aja hari ini. Da ma, pah." Seperti biasa Filia berlari ke mobilnya dan berangkat ke kantor penerbit.
Hari itu kantor penerbit masih berjalan begitu biasa dan sangat sibuk. Para penulis Novel ada disana untuk menyelesaikan beberapa Novelnya. Para Novelis senior juga sedang mencetak materi hari ini karena ada beberapa dari mereka yang sudah selesai.
Jeko masih berada di kampus untuk menyerahkan tugas ke dosen pembimbing lalu baru setelah itu dia pergi ke kantor untuk menyeleksi beberapa Novel lagi.
Filia sampai ke Kantor penerbit
Dengan perasaan bahagia dia melenggang kesebuah ruangan para Novelis dan mencetak karyanya disana. Belum selesai mencetak materinya, datanglah seorang gadis cantik berkulit putih ke ruangan itu untuk mencari Jeko, Filia penasaran siapa wanita itu? Tapi wajahnya di halangi pintu.
'Siapa wanita itu kenapa dia mencari Jeko?' Filia semakin penasaran.
Sekretaris Jeko mengantar wanita itu ke ruang kerja Jeko dan menyuruhnya menunggu sebentar.
Filia mengikuti sekretaris itu dari belakang dan meninggalkan materinya di meja.
Di lain kesempatan salah seorang Novelis mendapatkan telpon dari seseorang dan seperti ingin berbuat jahat dengan Filia. Kali ini dia berjalan clingak clinguk untuk mengambil file dari laptop Filia.
Filia yang masih fokus mencari tahu tentang wanita itu, lupa dengan pekerjaannya sebagai penulis, dia meninggalkan pekerjaannya begitu saja di meja
Filia masih berada di sebelah ruangan Jeko. Beberapa menit kemudian Jeko datang dan menuju keruangannya. Filia semakin penasaran dan mencoba mendengar sekaligus mengintip.
Banyak Karyawan melihat tingkah Filia mulai bergunjing.
"Kekasih pak Jeko lagi penasaran sekali tuh, kalau kita sudah hafal karena pak Jeko juga lumayan populer kan. Wajar jika banyak wanita berada disekitarnya." kata salah seorang karyawan.
"Iya tuh, sepertinya dia khawatir." tanggapan karyawan lain sedikit tertawa kecil.
Filia mulai terasa ada yang membicarakan dirinya dan semua mata seperti tertuju padanya.
'Huhh, kenapa aku jadi kesal sendiri sih? Kenapa mereka melihatku begitu?Ya sudahlah biarkan saja! Lebih baik aku kembali mencetak Novelku saja. Awas Je kalau kamu macam-macam dengan wanita itu.' jelas Filia sambil berjalan meninggalkan tempat itu.
Ketika sampai di mejanya, Filia sangat terkejut karena laptopnay tiba-tiba mati.
"Tidak! Bagaimana ini? Gawat! Yang terakhir belum aku simpan. Jika hilang? Ahh tidak!" Filia bersungut dengan panik di mejanya.
Penulis itu melihatnya dengan jahat sambil tertawa sinis melihat Filia kebingungan.
'Tidak semua hal bisa kamu raih dengan mudah Filia, aku tidak akan pernah membiarkanmu bersinar lagi. Setelah mendapatkan hati pak Direktur, menjilatnya hingga membuatmu setenar ini. Itu menjijikkan buatku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan. Ini jadi pelajaran berharga untukmu.' kata penulis itu berjalan ke sebuah printer untuk mencetak karyanya.
"Semoga masih ada! Jangan Hilang!" Filia menyalakan Laptopnya lagi.
__ADS_1
Setelah menyala barulah dia menangis.
"Apa yang terjadi kenapa malah seluruh bab Novelku yang ini menghilang? Aku belum mem-back up datanya ke tapku. Aku harus bagaimana ? Oh Tuhan, itu Novel aku buat dengan penuh perasaan terhadap Jeko." Filia mengusap air matanya.
Dia masih berusaha mencari dan berharap menemukan sesuatu.
Penulis itu sudah siap dengan materinya dan bergegas ke ruangan direktur. Penulis itu mengetuk pintu ruangan Jeko.
"Thok,thok,thok"
"Masuk!" jawab Jeko masih ada di ruang tamunya bersama wanita itu.
"Maaf pak, materinya sudah selesai." jawab penulis yang memiliki nama pena Yuri itu.
"Letakkan di meja kamu bisa kembali!" tanggapan Jeko singkat.
Jeko kembali mengobrol dengan wanita itu, melihat hal ini terlihat Yuri begitu senang karena ini juga sangat bisa menyakiti Filia.
Ternyata wanita itu adalah mantan pacarnya, dia juga seorang penulis Novel tapi masih kalah populer dengan Filia namanya adalah Zeti. Entah angin apa yang membuat Zeti kembali menemui Jeko, Jeko dan Zeti berpisah bukan karena phobia Jeko tapi karena kesibukan yang membuat mereka tidak bisa bertemu dan akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah.
"Je, aku dengar kamu jadian dengan Filia ya?" tanya Zeti begitu spontan.
"Iya, kamu sudah tahu ya? Aku berencana untuk menikah dengannya dua bulan lagi. Bukannya kamu juga akan menikah dengan pengusaha minyak itu?" tanya Jeko.
"Iya memang aku ingin menikah dengannya, tapi sekarang pengusaha itu meninggalkan aku Je. Aku juga kehilangan penerbit untuk Novelku, entah mengapa aku memiliki nasib seburuk ini."Jelas Zeti mencoba mengambil simpati Jeko.
"Jika kamu mau, kamu bisa masuk ke perusahaan untuk menjadi penulis Novel dan aku pasti akan menerbitkannya karena karya-karyamu juga menakjubkan." Tanpa Pikir panjang Jeko langsung menawarkan bantuan.
"Apakah yang kamu katakan itu benar Je? Aku sangat berterimakasih padamu." Zeti melihat Filia sedang berjalan ke kantor Jeko dengan sigap dia berdiri dan memeluk Jeko sambil terus mengucapkan Terimakasih.
Jeko sangat terkejut
'Untung aku menggunakan sarung tangan dan kaos yang menutupi leher jika tidak aku pasti kambuh.' tanpa sadar Jeko memeluknya juga.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras dan Filia menjatuhkan Laptopnya setelah dia mengangkat wajahnya yang sedang kebingungan melihat mereka berdua berpelukan.
Jeko salah tingkah, dia melepas pelukan Zeti begitu saja dan mencoba untuk menguasai keadaan.
"Ahh... Sepertinya aku datang di waktu yang salah." Filia terlihat sangat berkaca-kaca, suasana hatinya sedang buruk bahkan dia tak mampu menguasai emosinya sendiri. Sangat berharap kekasihnya itu bisa membantunya saat ini, tapi yang dia lihat justru membuatnya sakit.
'Sudah kuduga ada sesuatu di antara mereka berdua. Syukurlah Jeko tidak kambuh, aku benar-benar salah menilainya.' Filia mencoba untuk tersenyum dan menahan air matanya.
"Oh, Ada client Je, lanjutkan saja! Aku tidak akan mengganggu." Filia mengambil laptop yang jatuh kemudian pergi dengan langkah kaki yang begitu cepat.
"Fil! Jangan pergi! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" Jeko mengejar Filia tapi Filia sudah sangat jauh dan masuk ke mobilnya lalu pergi.
Jeko terlihat sangat menyesal karena kejadian itu dia marah terhadap dirinya sendiri.
__ADS_1
Disisi lain Zeti tersenyum sangat bahagia
'Sepertinya berhasil.' dia kembali duduk di sofa.
Jeko kembali keruangannya dengan wajah yang sangat tidak karuan.
"Maaf Zet, sepertinya pertemuan kita sampai disini dulu. Kamu bisa pergi! Maaf bukan aku mengusirmu tapi emosiku sedang tidak baik."
Zeti tidak menolak permintaannya dengan spontan langsung mengiyakannya.
"Maafkan aku soal tadi, aku terlalu ekspresif memperlihatkan kebahagiaan. Besok aku akan kembali lagi untuk memberikan materi Novelku, mungkin kamu mau melihatnya!" jelas Zeti sambil mengambil tasnya untuk bersiap pulang.
"Baiklah." Jeko benar-benar tidak karuan.
Setelah Zeti keluar dari kantornya, Jeko terus menelpon Filia tapi sama sekali tidak di angkat. Hari itu Filia tidak pulang ke rumah seharian dia pergi ke sebuah hotel berbintang untuk menikmati pemandangan pantai, perasaan Jeko sangat khawatir dia pergi mencari Filia ke tempat yang biasa Filia kunjungi tapi hasilnya Nihil.
Filia duduk sendirian pada sebuah restoran di pinggir pantai sambil meminum bergelas-gelas alkohol dengan tatapan kosong. Hari itu emosinya sangat tidak terkontrol, kali ini dia sudah benar-benar mabuk tapi terus memesan alkohol sampai suatu ketika Ha-Joon lewat di pinggir pantai dan matanya tidak sengaja melihat Filia mabuk di meja taman.
"Apa itu benar Filia?" Ha-Joon mengusap matanya berkali-kali.
"Sepertinya memang dia." Ha-Joon segera mendekati Filia.
Ha-Joon menepuk punggung Filia pelan. Tapi Filia tak kunjung terbangun, tiba-tiba dia bangun sambil tersenyum.
"Kamu siapa? Ahh Ha-Joon. Ayo minum!" Filia menjatuhkan air tidak tepat pada gelas kosong.
Ha-Joon menghentikannya.
"Ada apa denganmu Fil? Kenapa kamu semabuk ini? Aku antar kamu ke kamar!" kata Ha-Joon yang memapah tubuh Filia.
"Aku mau dibawa kemana? Minumanku masih, aku harus menghabiskannya." sepanjang jalan Filia terus merengek dengan tidak sadar.
Kala itu Ha-Joon tidak menyentuh kulit Filia sama sekali, dalam keadaan Filia yang semabuk itu Ha-Joon juga sama sekali tidak mengambil kesempatan.
Setelah sampai di kamar, Filia di letakkan di ranjang lalu Ha-Joon menyelimutinya.
Sebentar Ha-Joon memandang Filia yang sudah tertidur pulas.
"Sebenarnya kamu kenapa Fil?" tanya Ha-Joon penasaran.
Filia meneteskan air mata dalam keadaan tidur.
Ha-Joon mengambil tisu di meja dan mengusap wajah Filia perlahan.
"Kamu bisa berbagi keluh kesahmu padaku Fil, walaupun aku tidak bisa memiliki hatimu setidaknya kamu masih bisa menganggapku sahabat. Aku sangat terluka ketika kamu seperti ini."
Ha-Joon meninggalkan Filia dan kembali ke penginapannya.
__ADS_1