
Sampai di depan rumah Filia.
"Sampai jumpa Fil." Jeko tersenyum setelah Filia turun dari mobil.
Filia hanya melambaikan tangan dengan wajah cerianya.
Setelah Filia masuk rumah, Jeko baru berjalan pergi.
Mama dan papa Filia memperhatikan putrinya dari Jendela.
Kemudian Filia masuk, mereka berdua langsung memanggil Filia untuk duduk bersama di ruang keluarga.
"Fil, kesini sebentar! Papa sama mama mau bicara." perintah mama Filia
Filia tanpa berfikir langsung menuju ke sofa di ruang keluarga itu dan duduk.
"Kenapa wajah kalian serius sekali?" Filia penasaran.
"Kapan kamu akan menikah?" tanya mama Filia dengan serius sambil melihat anak perempuanya itu.
Filia sejenak berfikir dan terdiam.
"Bagaimana dengan phobiamu? Apakah dia sudah tahu?" tambah mama Filia lagi.
Papa Filia tetap diam sambil menikmati kopi di tangannya.
"Huhh, sepertinya sudah waktunya aku cerita. Jeko punya phobia yang sama denganku ma, menurut reset di prancis jika kita berdua bersama dan saling bersentuhan entah apapun itu, akan menyembuhkan kita berdua dari phobia ini. Hanya dengan dia aku bisa melakukan itu. Seperti yang Jeko katakan setelah wisuda dia akan melamarku. Apa kalian keberatan?" Filia menjelaskan semuanya dengan hati-hati.
"Besok ajaklah Jeko makan malam di rumah kita, Papa ingin bicara dengannya! " papa Filia berkata dengan ekspresi wajah yang serius.
"Wah, berarti ini berita bagus kan pah. Sebentar lagi anak kita akan menikah. Akhirnya phobianya tidak membawa bencana." Mama Filia terlihat begitu lega.
"Baiklah aku akan ajak Jeko ke rumah besok. Ya udah Filia mau mandi dulu. Panas sekali."kata Filia beranjak dari sofa menuju kamarnya di ruang atas.
Diam-diam papa dan mama Filia tersenyum sangat bahagia dan saling berpelukan.
"Akhirnya kita akan secepatnya punya cucu pah." kata mama Filia.
"Betul ma, aku bisa menjadi kakek dan kamu bisa jadi nenek. Usia kita memang sudah saatnya menimang cucu." jelas Papa Filia.
***
Filia selesai mandi.
Seperti biasa membaringkan tubuhnya ke tempat tidur kesayangannya. Banyak sekali bayangan dibenaknya tentang pertemuannya dengan papa Jeko dan hubungan dirinya dengan Jeko di masa depan.
Hari ini managernya menghubungi untuk mempersiapkan keberangkatannya besok ke Jepang selama satu minggu bersama dengan Jeko untuk urusan syuting yang di bicarakan sutradara. Drama ini memang benar-benar membutuhkan arahan dari penulis karena akan di buat sama persis seperti di dalam novel selain itu Filia dan Jeko di paksa untuk menjadi bintang iklan sebuah buku dan majalah. dengan sangat terpaksa Filia harus menunda acara makan malam besok dengan keluarganya. Filia memberitahukan kabar ini kepada kedua orang tuanya dan mereka berdua cukup mengerti karena memang urusan pekerjaan tidak bisa di tinggalkan.
Malam itu juga Filia mempersiapkan koper besarnya dan membawa beberapa pakaian, sepatu, alat mandi, alat-alat make up, laptop, i-pad, buku novelnya dan berbagai macam barang untuk keperluan syuting.
"Bawaanku banyak sekali, kenapa lagi-lagi ke luar negeri? Ya Tuhan. Inilah konsekuensi pekerjaan. Sudah jangan mengeluh!" Filia menggerutu sambil membereskan semuanya.
Disisi lain Jeko juga mempersiapkan semuanya untuk perjalanan ke Jepang besok, jujur Jeko terlihat sangat senang karena di Jepang pasti mereka berdua bisa berduaan.
Jeko memesan beberapa hadiah untuk Filia. Sambil menata di dalam kamar. Papa Jeko tiba-tiba muncul dan bersandar di pintu kamar Jeko yang terbuka.
"Je, jangan berbuat macam-macam di Jepang! Dia baru calon istri dan kamu tetap harus menjaga Filia baik-baik sebelum kalian berdua menikah!" Nasihat papa Jeko tersenyum melihat hadiah yang begitu banyak di masukkan dalam kedua kopernya.
Jeko tersenyum dengan nasihat papanya itu.
"Iya pah, Jeko mengerti. Aku yakin papa juga mengalami hal romantis dengan mama dan aku juga yakin aku melakukan seperti yang papa lakukan untuk mama. Walaupun aku tidak pernah tahu detailnya seperti apa? Tapi sifatku pasti tidak jauh dari sifat papa dan mama." Jeko selesai mengepak satu koper.
"Aku tahu, kamu pasti jadi pria idaman setiap wanita sepertiku di masa muda."papa Jeko tersenyum.
Dan akhirnya mereka berdua sama-sama tertawa.
__ADS_1
***
Keesokan harinya.
Filia mencium tangan mamanya lalu mencium pipinya sedangkan dengan papanya dia hanya bisa berjabat tangan tanpa memeluk ataupun mencium karena phobianya tak bisa memberinya pengecualian.
"Fil, hati-hati dijalan ya!" kata mama Filia yang melambaikan tangan ke arah Filia yang sudah menyetir mobilnya keluar dari bagasi.
"Oke ma, pah. Filia berangkat!" Filia langsung tancap gas dan pergi meninggalkan rumah.
"Pah, aku baru sadar anak kita sudah dewasa." Mama Filia masih terpaku di depan Pintu.
"Ya, aku sedikit menyesal Filia bertumbuh dengan cepat rasanya aku takut kehilangan dia. Sudah ma Ayo masuk!" Ajak papa Filia merangkul bahu istrinya itu.
Mereka berdua akhirnya masuk ke rumah.
Ketika sampai di bandara Filia menitipkan mobilnya untuk parkir menginap. Jeko sudah menunggu Filia bersama managernya di loby bandara. Manager Filia yang bernama Kak malby itu juga sudah siap disana. Seperti biasa wartawan dan fans sudah mengelilingi mereka berdua bak seorang artis. Kru untuk iklan dan drama disana juga sudah siap. Mereka menuju ke ruang ke berangkatan dan akhirnya naik ke pesawat kelas VIP.
Jeko dan Filia duduk sejajar. Tempat yang nyaman itu membuat Filia mendapatkan ide untuk menulis novelnya.
"Aku yakin jika kamu sudah mengeluarkan laptopmu, kamu akan mengabaikanku." jelas Jeko yang masih duduk bersantai melihat pemandangan di luar pesawat melalui jendela.
Filia menoleh.
"Je, jika aku tidak menulis bukankah direktur itu akan marah-marah bahkan mungkin mencekikku karena tidak menulis novel terbaru?" Filia menyindir Jeko.
"Kamu melihatku seperti direktur yang sangat kejam." Jeko mengernyitkan dahinya.
"Kamu kira kamu baik Je, kalau urusan pekerjaan kamu memang kejam! Tapi urusan denganku kamu manis." Filia tersenyum.
Jeko benar-benar gemes, dia mencubit pipi Filia sampai merah.
"Terimakasih pujiannya anak manis." Jeko tersenyum sedikit kesal.
Tiba-tiba Jeko mencium pipi Filia yang merah itu.
CUP
Filia terdiam lalu tersenyum.
"Aku yakin sebentar lagi juga akan sembuh." Jeko tersenyum masih melihat ke Jendela.
'Dia selalu tidak terduga' Filia masih tersenyum dan meneruskan tulisannya.
Beberapa jam kemudian mereka sampai di Tokyo Jepang.
Mereka semua menuju ke lokasi syuting.
Beberapa menit kemudian mereka sampai disana, terlihat pemeran utama wanita dan pria sedang serius melakukan sesi pemotretan. Filia dan Jeko yang sudah hadir disana langsung menyapa sutradara..
"Hai pak." sapa Filia dan Jeko.
"Hai Jeko, Hai Filia." Sutradara itu memeluk Jeko dan berjabat tangan dengan Filia.
"Lihat kesini! Bagaimana menurut kalian? Aku mencoret bagian ini karena terlalu jauh menemukan tebing curam. Jika aku ganti settingnya di pinggir gedung saja bagaimana?" kata sutradara itu begitu bersemangat.
"Itu tidak masalah, Bukankah editor video disini cukup bagus untuk mengedit lokasi?" kata Filia.
"Betul juga katamu Fil. Baiklah untuk adegan pertama mungkin akan di lakukan disini dulu." jelas Sutradara.
"Maaf Pak saya dan Filia akan ke penginapan dulu untuk meletakkan semua barang karena malam ini ada pemotretan." kata Jeko seraya berpamitan.
"Baiklah, nanti jika ada sesuatu aku akan segera menelpon kalian berdua. Karena aku tahu satu minggu ini kalian juga ada pemotretan dan syuting iklan." jelas Sutradara itu masih duduk di depan layar monitor.
"Terimakasih kami berdua pergi dulu." Kata Jeko.
__ADS_1
Pak sutradara hanya menganggukkan kepala.
Akhirnya mereka berdua sampai di penginapan. Mereka berdua tidur di kamar berbeda tapi bersebelahan. Sama-sama merebahkan tubuh mereka ke atas ranjang. Mereka berdua sama-sama mandi di kamar mandi mereka masing-masing yang membuat beda kali ini adalah ....
Filia yang sudah berlumuran sabun sampai ujung kepalanya melihat kenyataan bahwa shower di kamar itu mati.
"Tidak! Aku harus bagaimana? Disini yang perempuan juga hanya aku. Managerku seorang pria? Jeko juga seorang pria? Aku harus bagaimana?lalu aku harus minta tolong siapa? Aku harus membilas tubuhku. Aku harus menelpon layanan kamar." Filia memakai handuknya dan keluar kamar mandi.
Mencoba menelpon layanan kamar untuk memperbaiki keran dan showernya yang mati. Ternyata satu jam lagi mereka baru bisa datang, sedangkan syuting iklan juga satu jam lagi. Filia benar-benar panik, sepertinya dia hanya memiliki satu cara.
***
Jeko baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya memakai celana pendek tanpa kaos. Tiba-tiba dari luar kamar ada suara ketukan pintu.
"Thok,Thok, Thok"
Jeko langsung membukakan pintu. Jeko terkejut melihat Filia yang penuh sabun memakai handuk yang hanya menutupi dadanya sampai setengah pahanya ada di depan pintu kamarnya. Begitu juga Filia yang melihat Jeko bertelanjang dada.
Filia clingak-clinguk ke kanan dan kekiri berharap tidak ada yang melihatnya. Jeko sadar jika wartawan sampai melihat kejadian ini akan sangat berbahaya untuk reputasi Filia. Jeko menarik Filia masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
Jeko terlihat sangat marah ketika melihat Filia seperti ini. Dia mendorong Filia ke arah Pintu dan sedikit memarahinya.
"Apa yang kamu lakukan mengetuk pintu kamar seorang pria dengan tubuh penuh sabun dan berpenampilan seperti ini?" Jeko tiba-tiba berbalik karena melihat belahan dada Filia.
Filia sama sekali belum bisa menjelaskan apapun. Melihat Jeko terus emosi.
"Jika aku bukan pria baik-baik. Bagaimana? Jika di lihat banyak orang di luar bagaimana?"Jeko masih terus bersungut dan melontarkan pertanyaan ke Filia.
"Maafkan aku. Jika tidak terdesak mungkin tidak akan terjadi seperti ini. Air keran dan showerku mati disaat aku belum selesai mandi. Disini yang perempuan hanya aku yang terdekat, haruskah aku kekamar managerku untuk meminta bantuan? Aku hanya ingin membilas tubuhku dan kembali ke kamar." Filia dengan rasa penyesalannya ingin membuka pintu kamar Jeko untuk keluar.
'Ternyata begitu? Kalau dia ketempat manager pasti akan lebih berbahaya.' batin Jeko.
Jeko menarik tangan Filia dengan tangan kanan sambil menutup matanya dengan tangan kiri.
"Jangan! Disini saja! Kamu bisa pakai kamar mandiku. Maaf Aku salah paham, aku nggak tahu kesulitanmu Fil."
Filia tertawa ketika kekasihnya itu benar-benar menjaga dirinya sendiri untuk tidak tergoda melihatnya berpenampilan seperti itu.
"Terimakasih." Filia.langsung menuju ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya.
'Ya Tuhan, kenapa aku selalu di uji. Kenapa lagi-lagi aku harus melihat pemandangan ini?' gumam Jeko melepaskan pandangan matanya dan segera ganti baju.
Filia sudah selesai mandi.
Jeko menghadap ke arah jendela seolah menghindari untuk menatap Filia setelah mandi. Ketakutanya adalah Filia memakai handuk lagi dan terbuka karena tangan kanan Jeko sudah sembuh dan itu akan membuat Jeko tidak bisa menahannya.
"Je aku sudah selesai."
Tanpa berbalik Jeko mempersilahkan Filia untuk keluar dari kamarnya.
"Baiklah kembalilah ke kamar!"
'Jeko kok nggak menoleh?kenapa ya?apa dia masih marah?' gumam Filia dalam hati.
"Je apa kamu masih marah?" Tanya Filia penasaran.
"Aku nggak marah. Aku hanya menjaga diriku untuk tidak tergoda ketika melihatmu selesai mandi. Pakai ini sebelum kamu keluar kamar!" jawab Jeko sambil melemparkan kaosnya ke arah Filia.
Filia tersenyum
'Mungkin dia pikir aku belum pake baju masih pakai handuk. makanya dia takut tergoda. Jeko, Jeko.' gumam Filia melihat Jeko yang membelakanginya.
Tiba-tiba dari luar ada suara ketukan pintu yang membuat Jeko dan Filia panik karena mereka di dalam kamar yang sama.
"Thok,Thok,Thok"
__ADS_1