FIRST MEET YOU

FIRST MEET YOU
KEMESRAAN 2


__ADS_3

Filia berhasil melepas semua kancing dan membantu melepas kemeja itu dengan hati-hati perlahan melepas dari satu lengannya yang di jahit kemudian ke lengan yang satunya. Setelah semua berhasil di tanggalkan. Filia mengambil handuk kering di sampingnya dan mengusap perlahan seluruh badan Jeko.


'Dia memang wanita yang sangat perhatian.' batin Jeko yang terus memandang wajah Filia.


Setelah tubuhnya kering. Filia mengambil piyama dan memakaikan ke tubuh Jeko yang terlihat kekar itu.


"Sudah selesai." Filia berdiri di hadapan Jeko sembari melihat hasil kerjanya.


Jeko menarik tangan Filia dengan tangan kirinya yang masih bisa bekerja. Alhasil Filia terduduk dibawah, Jeko mengambil handuk yang ada disebelah kirinya juga.


"Kamu hanya memikirkan aku dari tadi, aku minta maaf membuatmu khawatir."Jeko mencoba mengeringkan rambut Filia.


Filia terkejut dengan tingkah Jeko yang sedikit membuatnya berdebar


'Aku heran pria ini semakin membuatku seperti berada dalam dongeng yang dulu hanya menjadi harapan.'Filia menikmati usapan lembut Jeko.


"Kamu bisa ganti bajumu! kamu bisa masuk angin juga dan lagi blouse ini benar-benar kamu sobek hanya untuk membalut lukaku." kata Jeko masih mengusap rambut Filia.


Filia tiba-tiba berbalik menghadap ke arah Jeko. 


"Ada apa?" Jeko masih melanjutkan untuk mengeringkan rambut Filia.


Filia beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Jeko. Filia membungkukkan badannya perlahan dan mencium kening Jeko.


Jeko terkejut. Seperti ada setrum yang baru saja menyentuhnya.


'Apa yang dia lakukan?kenapa dia tiba-tiba menciumku?' Jeko terpaku sejenak mencerna apa sedang terjadi.


Filia menarik ciumannya dan memandangnya sebentar.


"Jangan membuatku khawatir lagi. Aku menyayangimu Jeko. Aku pergi mengganti bajuku sepertinya aku mulai kedinginan."ucap Filia dengan suara sedikit lirih,  Filia berjalan menuju ke kamar mandi begitu saja meninggalkan Jeko yang masih terpaku di tempat.


Jeko tersenyum seolah sadar Filia memang sangat mencintainya. Jeko mengganti celana Jinsnya yang basah dengan celana pendek di tempat tidurnya. Kemudian segera masuk ke dalam selimut untuk bersandar ke badan tempat tidur. 


Pintu kamar mandi terbuka 


"Krekk!!!" 


Betapa terbelalaknya Jeko ketika Filia keluar dari kamar mandi menggunakan dress tidur yang begitu seksi.


"Maaf Je, dokter itu mengira kita adalah suami istri jadi dia memberikan pakaian ini untukku. Terlihat sangat terbuka." Filia menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi belahan dada yang terlihat itu.


Jeko menelan ludah mencoba mengabaikan apa yang baru saja dia lihat.


"Malam ini aku akan tidur dibawah." Filia mencari selimut di lemari. Jeko tiba-tiba memanggilnya.


"Fil, bisakah kamu kesini sebentar!" Jeko mencoba tetap melihat layar handphonenya untuk menghindari melihat Filia yang berpakaian terbuka.


Filia masih menyilangkan tangan di dadanya. 


Tanpa melihat Filia,


"Naiklah ke tempat tidur!" kata Jeko pura-pura asik dengan handphonenya.


'Apa yang Jeko inginkan? Tidak, dia pasti tidak akan berbuat apapun? Jangan berfikir negatif.'Filia mencoba untuk tidak gugup.


Jeko menarik tangan Filia yang membuat Filia terjatuh di atas tempat tidur itu. Ketika Filia berbaring dengan tidak sengaja Jeko melihat belahan dada itu dengan segera menarik selimutnya yang masih berada di sejajar dengan kakinya lalu menutupi seluruh tubuh Filia.


"Tidurlah di sini! Aku tidak akan berbuat macam-macam. Tanganku juga sedang sakit jadi aku tidak berdaya untuk berbuat lebih." kata Jeko masih mencoba asik dengan handphonenya.


Filia memperlihatkan wajah dan kepalanya yang sudah Jeko tutup dengan selimut seperti seekor kura-kura.


"Benarkah aku boleh tidur disini?Aku harap kamu memegang kata-katamu untuk tidak berbuat macam-macam. Karena yang kulihat hanya tangan kananmu yang sakit sedangkan yang lainnya terlihat baik-baik saja." jelas Filia sambil menghadap ke kiri untuk membelakangi Jeko.


Jeko yang sebenarnya sangat menahan hasratnya sendiri demi orang yang sangat dicintainya itu dia rela untuk menampik  nalurinya. Sendiri.


"Tidurlah! Aku sangat lelah, aku juga ingin beristirahat." Jeko membaringkan tubuhnya dan menarik selimutnya juga.


Masih merasakan perih di lengan kanannya membuat Jeko hanya bisa tidur terlentang.


Filia menoleh ke arah Jeko, "Dia benar-benar sudah tidur."


'Sepertinya dia memang benar-benar memegang kata-katanya sendiri.'


Masih Dini hari, Jeko merasakan ada yang memeluk tangan kirinya. Dengan kaki yang sudah berada diatas paha Jeko. Kaki Film terasa sangat halus di kakinya yang telanjang dibawah selimut karena hanya mengenakan celana pendek. Jeko jadi sedikit berkeringat, menahan gejolak yang harus dia tahan. Jeko menyingkirkan kaki Filia perlahan dan melepaskan pelukan Filia disebelahnya.


'Aku tahu betul wanita ini punya cara tidur yang buruk.' gumam Jeko.


Tapi yang dia lakukan tidak berhasil, Filia yang masih tidur itu, memeluknya lagi bahkan kepalanya sekarang sangat dekat dengan Jeko, Jeko terpaku tidak berani menoleh. Tiba-tiba Filia mengigau dan tersenyum, kepalanya mendekat, matanya setengah sadar melihat ada Jeko di sebelahnya tapi dia menganggapnya itu mimpi. Kemudian tanpa sadar mencium bibir Jeko sampai membuat Jeko benar-benar menahan nafas.


"Mimpi ini benar-benar indah." Filia kembali tertidur memeluk lengan kiri Jeko setelah mengatakan hal itu.


Jeko mengatur nafasnya perlahan dan menahan debaran jantungnya yang terpompa begitu cepat.

__ADS_1


'Wanita ini benar-benar menyiksaku.' gumam Jeko sedikit kesal.


Keesokan harinya.


 Filia terbangun dari tidurnya dan menyadari kalau dia memeluk lengan Jeko dan tubuhnya.


'Gawat! Cara tidurku belum berubah!' Filia mundur perlahan.


Tiba-tiba melihat Jeko melongo sama sekali tidak terpejam dengan kantung mata yang sedikit menghitam.


"Je, apa kamu tidak tidur?" Filia terkejut melihat tatapan mata Jeko yang terlihat kejam.


Jeko tersenyum seraya menyindir.


"Menurutmu siapa yang bisa tidur dengan wanita yang selalu tidur dengan berantakan?Apa kamu tidak akan bertanggung jawab dengan yang kamu lakukan tadi?"Jeko memiringkan tubuhnya ke arah kiri karena tangan yang kiri baik-baik saja. Menatap Filia yang masih berbaring di sebelahnya dengan tatapan mata yang berubah menjadi pria yang liar.


Filia semakin mundur dan membuat jarak. Tatapan mata itu membuat desiran darahnya mengalir menjadi sangat panas. Dadanya selalu dia tutup rapat agar Jeko tidak melihatnya.


'Apa yang kulakukan semalam? Tapi dia bilang tadi, mungkinkah itu subuh?'banyak pertanyaan ada dibenak Filia.


Filia mengingat mimpinya.


'Oh tidak!' matanya melongo terkejut sendiri.


'Apa Jeko yang ku cium itu benar-benar aku lakukan bukan di dalam mimpi? Aku setengah sadar kenapa aku lanjutkan?' Filia sedikit menyesal.


Ekspresi Filia sudah menunjukkan wajah menyesal dan seperti sudah mengingat semuanya.


Filia tersenyum sambil mencoba ingin kabur. Jeko menarik tangan Filia dan tubuh mereka mendekat. Mereka berdua yang masih berada di bawah selimut saling menatap, debaran jantung itu membuat mereka terdiam sejenak. 


'Jeko apakah kamu masih bisa menahan?' gumam Jeko terus menatap mata Filia.


'Aku terpaku, badanku semakin kaku. Tatapan matanya menghangat. Aku harus bagaimana?' Filia masih memegangi selimut untuk menutupi belahan dadanya.


'Hanya menciumnya tidak lebih.' Jeko menarik tangan Filia yang meringkuk memegangi selimut. Walaupun hanya dengan tangan kiri Jeko cukup kuat untuk menarik wanita yang ramping itu di hadapannya.


Jeko tidak bisa menggerakkan tangan kanannya karena masih sakit dengan jahitannya itu.


"Apakah kamu bisa bertanggung jawab?" tanya Jeko sedikit mendesah.


Filia terdiam tidak mampu berkata-kata. Tubuh Jeko perlahan mendekat, gerakan itu seperti biasa membuat Filia sama sekali tidak bisa berkutik. Jeko tetap pria yang hebat dalam berciuman walaupun hanya dengan satu tangan mendekap Filia.


Entah dari mana gerakan itu Filia seperti mencoba bertanggung jawab untuk menggantikan tangan kanan Jeko yang selalu mendekapnya saat sedang berciuman. Filia mendekatkan tubuhnya itu ke arah Jeko dan meraih leher Jeko. Filia tidak peduli dengan belahan dada yang sudah terbuka karena Jeko pun tidak akan bisa menyentuh dirinya disaat seperti ini.


"Aku rasa dress itu sangat menggodaku?Ternyata tubuhmu indah ya Fil." Jeko yang begitu jujur melihat belahan dada itu dengan spontan sambil tersenyum.


"Tutup matamu Jeko! Kenapa kamu tiba-tiba mesum." Filia menutup mata Jeko dengan tanganya dengan nada yang sedikit kesal.


"Aku pria normal. Beruntung tanganku sakit jika tidak dengan bajumu yang seperti itu mungkin aku akan menyerangmu dengan mudah. Kamu tahu betapa tersiksanya aku menahan, kamu tega sekali memelukku dan menciumku seperti dini hari tadi. Kali ini aku yang merasa ternoda." Jeko berpura-pura sangat memelas.


Filia wajahnya berubah merah setelah berhasil menutup dadanya dengan selimut dia melepaskan tangan di mata Jeko.


"Maafkan aku Jeko." Filia berkata dengan nada yang sangat menyesal.


Jeko tersenyum.


"Tapi aku suka." tambah Jeko sambil tersenyum.


Filia salah tingkah lalu mencubit hidung Jeko dengan keras.


"Aawww, sakit Fil." Jeko berteriak memegangi hidungnya yang merah.


"Salah sendiri menggodaku." Filia terlihat kesal melihat Jeko.


Jeko semakin tersenyum melihat Filia marah.


Hari sudah semakin siang, baju mereka juga sudah kering, Jeko memakai celana jins dan piyama diatasnya. Karena tangan Jeko juga belum sembuh akhirnya Filia yang menyetir mobil.


Ketika di dalam mobil


"Bagaimana lenganmu Je?" tanya Filia sambil menyetir disampingnya.


"Sudah lebih baik, tapi besok aku kuliah. Apa kamu bisa membantuku?" Jeko mulai bersikap manja dihadapan Filia.


'Ini Kesempatan membuat dia  berada di kelasku dan selalu ada di sampingku.' gumam Jeko tersenyum jahil.


"Apa yang bisa kubantu Je?" tanya Filia masih konsentrasi menyetir.


"Ujianmu kan sudah selesai, bagaimana kalau kamu menemaniku di kelas?Aku butuh orang yang bisa membantuku menulis. Bisa kan Fil? kamu tahu sendiri tanganku cedera." Jeko benar-benar bisa manja sekarang.


"Apakah penggemar di kelasmu tidak akan menyiapkan jebakan untukku nanti? Mereka terkenal ganas seperti yang kamu ceritakan  Je? Lalu Yul bagaimana? Bukannya kalian sering saling membantu?" tanya Filia sedikit heran.


"Tapi kamu kan pacarku Fil. Aku ingin kamu yang menulis disampingku! Ya?" Jeko meminta dengan sangat manja.

__ADS_1


'Ternyata kamu bisa semanja ini?' Filia  menggelengkan kepalanya seperti tidak percaya.


"Baiklah Tuan Jeko." Jawab Filia dengan wajah yang dilipat empat sudut.


'Sepertinya cara ini efektif untuk menjaga Filia setiap hari. Lagian aku jadi lebih mudah untuk berdua dengannya.' ucap Jeko tersenyum sendiri menatap ke luar jendela mobil.


***


Hari yang cerah di kampus. Filia dan Jeko berangkat dari rumah mereka masing-masing. Sudah jelas semua mata akan selalu tertuju pada pasangan baru ini. Setelah Jumpa Pers kemarin. Mereka berdua banyak dibicarakan oleh penggemar dan para pengguna internet. Bahkan mereka sekarang kebanjiran job iklan, seperti seorang artis yang sedang naik daun. Bagaimana tidak?mereka memang terlahir dengan kecantikan dan ketampanan yang alami dan sangat natural, belum dengan latar belakang mereka yang terkenal smart dan juga kaya raya. Filia mungkin terlihat biasa saja tapi jangan salah tajir melintir juga dia rasakan, walaupun tidak bisa dibandingkan dengan Jeko sang Direktur muda. 


Filia berjalan ke kelasnya, saat itu untuk menemui Sean sahabat yang selalu dia rindukan. Mata penggemar hari ini lebih menghormati privasi, jadi tidak ada yang melempar kue atau jus ke tubuhnya lagi demi seorang Jeko.


Sean sudah tahu Filia pasti akan bercerita banyak padanya.


"Tanpa kamu cerita aku bisa mengartikan senyummu itu Fil." Sean bertopang dagu memandang Filia yang sudah duduk di sampingnya.


Filia membuka bukunya dan peralatan kuliahnya diatas meja.


"Kamu tahu banyak hal yang akan membuatku merasa seperti seorang tuan putri sekarang." Filia kembali tersenyum dengan sangat bahagia.


Filia menceritakan kejadian kemarin dari hal romantis dan hal yang mencekam. Sean terkejut.


"Benarkah? Secepat itu tahap hubungan kalian berdua? Apa kalian benar-benar tidak berbuat macam-macam dikamar itu? Aku curiga kalian jelas-jelas terbebas dari phobia kan? otomatis nih tidak ada sekat diantara kalian berdua karena tidak akan mungkin kambuh. Tapi kasian juga Jeko harus terluka ya? Ini seperti kisah romance di dalam Novel ya Fil?" komentar Sean mengernyitkan dahi masih bertopang dagu dihadapan Filia.


Filia bertopang dagu juga membayangkan sambil melihat kelangit-langit.


"Kamu bilang ini Novel tapi aku seperti berada di negeri dongeng. Semua yang dia lakukan benar-benar membuatku terharu, bahagia dan dimanjakan, entah itu begitu indah. Kamu boleh curiga kepadaku tapi Jeko benar-benar menjagaku dengan baik dia tidak menyentuhku. Dia hanya menciumku dan kita tidur bersama, tidak ada hal lain. Mungkin aku akan segera menikah!" Filia masih senyum-senyum sendiri tidak jelas.


"Kamu memang sedang di mabuk asmara. Baiklah aku akan selalu mendukungmu! Tapi bisakah kamu berikan tips agar aku mendapatkan pasangan yang sempurna hari ini aku putus lagi dengan pacarku. Astaga kenapa nasibku tidak pernah baik." Keluh Sean menutup wajahnya.


 Dari arah pintu Jeko dan Yul sudah berdiri. Seperti biasa di belakangnya sudah ada beberapa penggemar yang selalu menemani kedua pria populer itu.


"Bagaimana kalau kamu ku kenalkan dengan sahabat Jeko? Jika kamu berhasil menaklukan hati seorang playboy, kamu juga mendapatkan emas disana. Dia tajir juga walaupun tidak setajir pangeranku. Selain itu dia baik dan perhatian. Kurasa begitu." Filia berbisik kecil sambil melihat mereka berdua berdiri.


Sean menatap Yul.


'Oke juga, cool.' Sean melamun.


Filia lagi-lagi menarik Sean.


"Kebiasaan burukmu ini. Selalu membuatku kesal, tidak usah menyeretku!" teriakan Sean seperti biasa terdengar.


"Hai Fil. Sudah siap dengan tugasmu hari ini kan?" tanya Jeko berubah jadi pria idaman dengan gaya super cool. 


"Kamu mau ngapain Fil?" Sean penasaran berbisik di telinga Filia.


"Aku mau membantunya untuk menulis. Lihat tangannya yang di gendong itu. Oh ya kenalin ini sahabatku Sean." Filia memperkenalkan sahabatnya itu.


"Ohh jadi begitu." Sean tidak mampu berkata banyak ketika kedua pria ganteng itu mulai membiusnya.


Yul memandang seksama sahabat Filia. Dia tersenyum.


" Ya Tuhan Fil bagaimana bisa kamu punya sahabat seperti dia? Dekil begini!" Yul mulai asal bicara.


Jeko mengambil kertas di dalam tasnya lalu mengepal kertas itu seperti bola dan memasukkan kemulut sahabatnya itu untuk diam.


Yul bingung lalu mengambil kertas didalam mulutnya.


"Maafkan mulut sahabatku ini ya Sean. Dia memang terkadang perlu di sumbat mulutnya. Dia akan minta maaf kok." Jeko mengernyitkan dahi memberi isyarat lalu mencubit Yul.


"Aww, sakit Je!" Yul tiba-tiba berteriak.


"Cepat minta maaf!" Jeko masih memaksanya.


Sean tiba-tiba menyahut.


"Kamu tidak perlu minta maaf. Aku sudah biasa di hina seperti itu. Soal penampilanku di kampus memang seperti ini, aku yakin jika aku berpenampilan seperti diluar kampus. Pria ini akan berhenti menghinaku. tanya Filia aku ini siapa?" Sean menatap mata Yul dengan sinis.


"Ya Tuhan. Dia sama galaknya dengan Filia, tatapan matanya Je mengerikan!" komentar Yul.


Tubuh Sean terbilang cukup tinggi, bodynya dibilang sangat menonjol dan mungkin bisa di bilang diatas rata-rata jika untuk porsi seorang aktris. Filia dan Sean sebenarnya tidak ada bedanya, yang membedakan saat ini adalah karena Sean di kampus menyembunyikan identitasnya makanya Sean berpenampilan culun dengan rambut ikalnya yang berantakan ditambah rambut atas di buat seperti bakso. Kemudian kaca mata besar ala kodok yang membuatnya terlihat seperti kutubuku. Pakaiannya sangat tidak modis hanya memakai kaos lengan panjang dengan celana jins kemudian jaket lusuh yang sangat besar. Jadi cukup mudah bagi banyak orang untuk menghinanya.


Sean berpamitan dengan mereka bertiga.


"Sepertinya aku lapar Fil, aku ke kantin dulu ya? Bye semua! Lagian aku lupa bilang jadwal hari ini kosong." Sean berjalan meninggalkan mereka.


"Anak itu." Filia menggelengkan kepala.


"Jangan menghina sahabatku ya Yul! Aku pastikan kamu akan jatuh cinta kepadanya jika kamu tahu Dia itu siapa? Sahabatku bukan orang yang sembarangan." jelas Filia menggandeng lengan Jeko mengajaknya pergi.


"Ehh Tunggu! Baiklah, aku penasaran memangnya Sean itu siapa?" Jeko berlari kecil mengejar mereka berdua.


Mereka berdua tidak menjawab. Tetap berjalan menuju kelas Jeko.

__ADS_1


__ADS_2