FIRST MEET YOU

FIRST MEET YOU
PENYEMBUH PHOBIA


__ADS_3

Exel terkejut dengan ciuman dadakan itu, Exel tanpa berfikir panjang menikmati ciuman itu perlahan, sampai akhirnya tangan Filia mulai melingkar di tengkuk Exel, semakin lama mata Filia mulai terpejam, tapi betapa terbelalaknya Filia ketika yang dilihatnya adalah bayangan ketika berciuman dengan Jeko.


Filia menarik ciumannya dan kembali duduk untuk menonton film, dia heran sekaligus merasa aneh dengan bayangan itu, jantungnya sama sekali tidak berdebar ketika bersama dengan Exel tapi setelah bayangan Jeko muncul, dia semakin berdebar. Anehnya lagi, tubuhnya tidak melepuh ataupun membengkak. Bahkan, dia juga tidak demam.


Exel bingung, ketika melihat Filia tiba-tiba tidak demam, tidak memerah bahkan tidak melepuh saat berciuman. 


"Sayang, apa kamu sudah sembuh? Kamu tidak demam ataupun memerah lagi?" Exel begitu bahagia melihat keadaan Filia.


Kenapa aku hambar berciuman dengannya?tidak ada gejolak apa-apa? Tapi bukankah harusnya aku senang ketika aku sembuh? Kenapa rasanya aku merasa bersalah menciumnya? gumam Filia.


"Sayang, Kok kamu malah diem? Ada apa?" tanya Exel penasaran.


"E-enggak papa kok sayang." kata Filia singkat.


Exel jadi semakin bingung.


Sampai satu jam kemudian Filia mulai merasa gatal dan panas dengan semua kulitnya dan memerah lagi bahkan, jari tangannya mulai melepuh, wajahnya terlihat membengkak. Loh Kok aku masih kambuh?tapi kambuhnya tidak langsung, berselang satu jam kemudian. Gawat! ini di tempat umum, Bagaimana aku bisa menyembunyikan wajahku?!gumam Filia sangat terkejut.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Exel lagi.


"Maafkan aku, aku tetap tidak bisa berciuman, aku demam dan memerah lagi, badanku gatal sekali, aku bingung. Bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini?"


Exel memberikan jampernya untuk menutupi kepala dan wajah Filia. 


"Makasih sayang, maaf kita harus pulang sekarang, sebelum filmnya selesai!" kata Filia yang sudah merasakan sakit sekali dibadannya.


Exel bingung dengan keadaan yang di alami kekasihnya itu, Ternyata dia memaksakan diri untuk berciuman denganku, aku sangat mengerti dia sangat menderita, gumam Exel yang akhirnya mengantar Filia Pulang.


***


Keesokan harinya 


Filia berangkat ke kampus dengan menggunakan syal untuk menutupi lehernya yang masih memerah karena semalam.


Begitu terperanjatnya Filia, ketika Jeko sudah berdiri di depan Pintu kelasnya, Fans wanita sudah mengelilingi Jeko disekitarnya. Apa dia mau pamer karena banyak penggemar? Aku pura-pura tidak peduli saja lah! Filia berbelok untuk masuk ke kelas tanpa menghiraukan Jeko.


Tiba-tiba, tangan Filia di pegang Jeko seolah mencegah Filia masuk kelas, Filia berbalik kemudian, Jeko berbisik.


"Kamu masih harus bertanggung jawab dengan dua hal, tapi kamu mau kabur?Apakah aku harus memberitahu mereka semua yang ada disini jika kamu sudah menciumku di Perpustakaan waktu itu?Walaupun, aku cuma berbicara tanpa bukti, mereka akan dengan mudah percaya dan kamu tahu, mereka kejam jika tidak menyukai seseorang. Lagian, kamu sudah berjanji untuk melakukan apapun kan untuk bertanggung jawab? Selain itu, aku bisa melaporkan ke dewan direksi tentang kelakuan seorang penulis terkenal yang menyiram air seorang direktur dengan alasan yang tidak jelas, jelas Jeko panjang lebar sambil tersenyum menyindir.


Ternyata Pria ini begitu licik, berani-beraninya dia mengancamku? Tapi dari awal memang salahku, kenapa aku bilang mau melakukan apapun?Siapa bilang masalah menyiram air itu tidak jelas, batin Filia mulai kesal.


"Dia malah melamun dan terdiam." Jeko langsung menarik tangan Filia di depan semua orang.


"Lepaskan Jeko! Mereka melihat kita!Lepaskan aku!" kata Filia berkali-kali mencoba melepaskan tangannya.


"Menurut saja!" jawab Jeko singkat.


Wajah para penggemar menjadi lebih ganas dari biasanya, mereka membicarakan Filia satu sama lain dan menggunjingnya. Sean ikut bengong, ketika sahabatnya itu di tarik Jeko dengan paksa. Ada apa dengan Filia? Lalu, kenapa tangannya di tarik Jeko? tanya Sean dalam hati.


***


Filia dipaksa masuk ke mobil Jeko dan Jeko membawanya pergi, banyak pasang mata yang melihat mereka berdua saat itu. Dasar orang aneh, berbuat seenaknya, Filia melipat tangannya dengan kesal.


"Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Filia Penasaran.


"Kamu bilang, apapun akan kamu lakukan demi bertanggung jawab kan? Aku punya dua permintaan, tapi tolong sekarang kabulkan satu permintaanku dulu!" jelas Jeko sambil menyetir.


Aku jadi penasaran apa permintaanya?gumam Filia."Baiklah aku akan mengabulkan satu permintaanmu hari ini." kata Filia pasrah.


"Turuti apa kata dokter yang berbicara padamu hari ini, apapun yang dia katakan turutilah!" Jeko menjelaskan.


"Kamu aneh, untuk apa aku menemui dokter? Aku tidak sakit," kata Filia bingung.


"Kamu tidak mau?" tanya Jeko melirik tajam ke Filia.


"Baiklah, aku menurut!" jawab Filia.

__ADS_1


Jeko tancap gas untuk segera menuju ke tempat dokter pribadinya.


Lima belas menit kemudian. Filia turun dari mobil dan terkejut ketika sebuah klinik dengan dekorasi mewah ada dihadapannya. Sepertinya klinik mahal, batin Filia.


Lagi-lagi Jeko menarik tanganya dengan kasar. "Kenapa kamu tidak bisa pelan Jeko?" tanya Filia sambil menaiki anak tangga.


Sampai di Ruang dokter.


"Dok, ini wanita itu!" kata Jeko membuat Filia duduk di sofa.


"Apa kamu tidak bisa lembut dengan wanita?" kata dokter itu melihat tingkah Jeko yang membuatnya heran.


Filia bingung, untuk apa aku dibawa ketempat ini? gumam Filia dalam hati.


"Nona tidak usah bingung. Aku yakin pria ini tidak menjelaskan padamu apa tujuannya membawamu kemari, perkenalkan aku Dokter pribadi Jeko." jelas dokter itu kepada Filia.


"Kenapa dia membutuhkan dokter pribadi?" Filia semakin bingung.


"Nona, apa kamu ada pertanyaan juga tentang ciuman yang kamu lakukan dengan Jeko yang tidak membuatmu kambuh?" dokter itu memancing pembicaraan.


Bagaimana dia tahu aku punya pertanyaan itu? Filia penasaran."Apa maksudmu dokter?" tanya Filia.


Tiba-tiba seorang anak kecil berjenis kelamin laki-laki masuk ke ruangan itu."Hai chen, Kemarilah!" dokter itu menyapa anak kecil yang datang.


Anak kecil itu menurut dan duduk di sebelah Filia.


"Aku hanya ingin, kamu mencium pipi anak kecil ini!" perintah dokter itu.


Gawat! Sepertinya dokter itu tahu penyakitku, Apa maksudnya ini? Filia terdiam sejenak.


"Kamu sudah berjanji, akan melakukan semua yang dokter perintahkan dan sekarang lakukan!" kata Jeko setengah memaksa.


Filia dengan rasa takut mencium anak kecil itu.


"CUP"


Perlahan Filia merunduk dan meneteskan air mata.


"Nona, apa kamu baik-baik saja?" tanya dokter itu sedikit khawatir.


Jeko terkejut ketika telapak tangan Filia mulai berubah merah dan membengkak.


"Tolong angkat wajahmu? Aku akan menyembuhkanmu!" Dokter itu mengambilkan suntikan pereda demam dan alergi. Saat Filia mengangkat wajahnya, Jeko terkejut dia berubah sangat merah. Filia menangis karena terasa sangat sakit ketika kambuh.


"Apa ini tujuanmu membawaku kemari? Apa kamu sudah puas?" kata Filia sedikit merintih.


"Ini semua ideku nona, maaf! Membuatmu sesakit ini, dia tidak percaya jika kamu memiliki phobia yang sama dengannya?" jelas dokter itu menyiapkan suntikan di tangannya.


Apa maksud dokter ini? Apa Jeko punya penyakit yang sama denganku? Filia sedikit terkejut.


"Kamu tidak usah bingung, Jeko juga punya phobia berciuman dengan lawan jenis dan menurut reset dari prancis, yang bisa menyembuhkan penyakit itu adalah ketika kalian melakukan sentuhan fisik, berciuman bahkan berpelukan dengan orang yang sama-sama memiliki phobia itu, di dunia ini untuk mencari orang yang seperti itu sangat sulit, tapi, kalian ditakdirkan untuk bertemu,"Jelas dokter itu sambil menyuntikkan cairan di tangan Filia.


"Aww...."


Berangsur warna merah dikulit Filia mereda dan demamnya juga turun. Apa ini berarti aku harus melakukan semua itu dengan Jeko untuk sembuh? pikir Filia.


"Apa kamu sudah punya kekasih?" tanya dokter itu.


"Punya dok." jawab Filia jujur.


"Sepertinya, kita tidak ada kesempatan Jeko?" dokter itu memancing Jeko berbicara.


"Aku juga sudah punya kekasih dok." kata Jeko sedikit ketus.


"Apa kamu akan menyia-nyiakan kesempatan untuk sembuh?" tanya dokter.


Kenapa kamu mendesakku? Sangat menyebalkan! gumam Jeko sangat geram dalam hatinya.Tiba-tiba Jeko mendekati Filia lalu dia meraih kedua tangan Filia dan menggenggamnya. 

__ADS_1


"Apa kamu mau menikah denganku?" Tatapan Jeko penuh dengan keseriusan.


Dari sofa dokter itu tersenyum, dia bisa romantis juga,


Filia tertegun, otaknya rasanya membeku, dan benar-benar terkejut melihat situasi itu.


"Apa kamu sedang melamarku? Apa kamu bercanda ? Kita sama-sama memiliki kekasih? Apa kamu menganggap pernikahan itu lelucon?" Filia bertanya semua yang terbersit di kepalanya.


"Apa kamu lebih suka aku menyentuhmu tanpa status? Jika bukan karena penyakit ini, aku juga tidak akan memilih wanita sepertimu?"Jeko melepaskan tangannya.


"Aku juga tidak akan memilih pria sepertimu!" Filia ikut kesal.


"Sudah, sudah, kalian ini seperti kucing dan tikus, tapi lebih mirip pasangan kekasih yang sedang bertengkar, pikirkan baik-baik yang kukatakan, kesempatan untuk sembuh sudah ada di depan mata kalian, aku juga sudah di telpon papamu Jeko, jika memang Jeko harus menikah dia tidak akan keberatan karena itu demi kesembuhan kalian berdua. Terserah! kalian mau melakukan pernikahan kontrak, atau hanya sekedar pacaran, aku sudah menyampaikan informasi yang aku punya, setelah itu pilihan ditangan kalian," jelas Dokter mencoba menengahi mereka berdua.


***


Mereka akhirnya pulang.


Sesampainya mereka di rumah masing-masing. Mereka sama-sama terbayang perkataan dokter itu. Jeko juga terbayang wajah Filia saat berciuman dengannya di kantor waktu itu, debaran jantungnya kembali lagi. Kenapa aku merasa aneh dengan perasaan ini? Setiap aku membayangkan wajahnya, jantungku berdebar sangat kencang, apakah aku harus melakukan pernikahan ini? dia juga bisa menyembuhkan aku dan aku juga bisa menyembuhkannya. gumam Jeko.


Jeko minum segelas air sambil keluar menuju balkon rumahnya. 


***


Filia juga menatap ke langit-langit mencoba memikirkan perkataan dokter tadi."Aku harus bagaimana?" kata Filia menutup wajahnya dengan bantal.


Filia kembali kebayangan ketika Jeko mencium bibirnya dengan lembut, kali ini dia tidak menampiknya dan terus mengikuti kata hatinya untuk menikmati bayangan itu.


"Kenapa Dia terlihat ganteng disana? Tapi dia terlihat menjengkelkan tadi," Filia menhela nafas.


Dan mereka berdua mencoba untuk tidur.


***


Keesokan harinya. Filia terkejut saat ada mobil parkir di depan rumahnya.


"Jeko?" mata Filia terkejut dan segera menghampirinya.


"Kenapa kamu ada disini?" Filia clingak clinguk berharap tidak ada yang melihat.


"Kenapa kamu melihat ke segala sudut, kamu pikir aku pencuri?" kata Jeko membetulkan kaca mata hitamnya.


" Baiklah, ada apa kamu datang kesini?" tanya Filia penasaran.


"Aku beri waktu sepuluh menit, bawa perlengkapan untuk pergi perjalanan bisnis selama tiga hari di Kota M!" jelas Jeko.


" Apa?Tiga hari?" Filia benar-benar terkejut.


"Jangan banyak tanya, akan aku jelaskan di mobil!" Jeko berdiri di depan rumahnya.


Bodohnya aku, Kenapa aku menurut? batin Filia."Ma, aku berangkat dulu ya ma!" Filia perlahan menggeret kopernya.


"Siapa dia Fil?" mama Filia penasaran.


"Direktur perusahaan penerbit, ma."


Filia langsung naik ke mobil Jeko.


Nafas Filia masih terengah-engah, dia tidak habis pikir dengan orang disampingnya."Sekarang kenapa kamu diam, katanya mau menjelaskan padaku?" Filia masih penasaran.


"Kita tidak akan melakukan perjalanan bisnis, aku ingin mengajakmu liburan, kuliahmu sudah aku bereskan tadi dan mereka tidak masalah," Jeko menjawab dengan tersenyum.


"Apa kamu Gila? Sepertinya kamu mulai tidak waras Jeko? lalu, kenapa kamu membohongiku?" kata Filia.


"Jika aku jujur, kamu pasti akan menolak ajakanku, tujuanku karena aku ingin tahu perasaanku, aku mulai penasaran denganmu,"jelas Jeko.


Filia terkejut dengan pernyataan Jeko, dia penasaran denganku? Kenapa jantungku .

__ADS_1


__ADS_2