
Beberapa menit kemudian Jeko datang dan membawa dua kantung kresek besar. Filia membantu Jeko untuk mengambil obat penurun panas dan menurunkan semua belanjaan yang dibawa Jeko baru kemudian menggerus obat itu dan memberikan kepada mereka berdua.
Jeko dan Filia membiarkan mereka terlelap tidur. Karena mereka lapar akhirnya memasak bubur, nasi, sayur dan telur dadar untuk makan malam.
"Aku penasaran kok bisa mereka berdua sakit dalam waktu yang bersamaan?" tanya Filia sambil mengaduk bubur di atas kompor.
"Aku yakin mereka berciuman. Ada salah satu dari mereka yang sakit tapi tetap memaksa untuk berciuman." logika Jeko sambil mengupas bawang.
"Berciuman?Huhh ... Ternyata pria dimana-mana tidak bisa menahan hasratnya." komentar Filia yang membuat Jeko menoleh.
"Bukannya aku ingin membela Yul. Tapi kamu tidak bisa menyalahkan satu pihak saja, karena kita juga nggak tahu siapa yang sakit duluan diantara mereka berdua dan siapa yang mencium duluan?"Jelas Jeko sudah mulai memasak sayur.
"Iya juga Je. Aku baru tahu kamu bisa masak?" Filia melihat Jeko yang cekatan membuat sayur.
Jeko menyodorkan sendok yang berisi kuah sayur yang dia buat.
"Coba kamu cicipi!"
"Hemmnnn. Lumayan! Ini enak." ucap Filia.
"Aku akan jadi suami yang baik di masa depan, betul kan?" Jeko tersenyum.
"Astaga Je Jangan terlalu percaya diri!" Filia menggeleng-nggelengkan kepalanya melihat kekasihnya itu.
"Kamu tidak mau mengakui? Benar tidak mau?" Jeko mulai menggoda Filia menggelitik di belakang pinggangnya.
"Ahhh, berhenti Je! aku lagi mengaduk bubur. Baiklah cukup-cukup, aku mengakuinya iya aku mengakuinya." Filia mulai menyerah.
Jeko yang iseng itu memeluk Filia dari belakang dan mencium pipinya lalu kembali menyelesaikan masakanya.
'Semakin hari semakin manja kamu Je.' gumam Filia.
'Aku suka melihat kamu tersenyum Fil.' gumam Jeko sambil meniriskan sayurnya.
Mereka berdua menyiapkan semua di meja makan. Kemudian mereka mengambil mangkuk berisi bubur dan sayuran lalu Jeko menyuapi Yul dan Filia menyuapi Sean.
Mereka berdua masih lemas tapi sudah mampu berbicara.
"Kenapa kalian berdua ada disini?" tanya Yul yang mengusap matanya perlahan.
"Tidak usah bertanya! kamu membuatku khawatir. Telponku tidak diangkat, pesanku juga tidak di jawab. Tahu-tahu melihat kalian berdua terkapar di ranjang, sebenarnya kalian ini kenapa?" jelas Jeko sambil perlahan menyuapinya bubur.
Sean dan Yul saling berpandangan dan seperti sepakat untuk tidak menjawab.
"Jadi kalian sudah jadian tapi tidak mau memberitahu kami? Atau kalian tidak ingin kita tahu kalau kalian saling bertukar virus karena sudah berciuman?" Filia berkata tanpa berbasa-basi.
Ekspresi wajah mereka berdua berubah jadi merah padam
"Bukan begitu." mereka serentak menjawab
"Tapi begini." mereka menjawab serentak lagi.
Mereka terdiam kebingungan.
Jeko dan Filia hanya tertawa dan melanjutkan untuk menyuapi mereka berdua.
"Sudahlah! Tidak usah canggung begitu, habiskan saja buburnya setelah itu kalian bisa istirahat lagi. Malam ini kita berdua akan menjaga kalian, Yul jangan berbuat macam-macam dengan Sean!"
"Maksudnya kalian tidur disini? yang benar saja, kalian benar-benar mengganggu." Yul berkomentar.
"Dasar anak nakal! Kenapa? Mau berciuman lagi? Lihat keadaanmu saat ini!" Jeko menarik telinga Yul
"Aww, aww eng-enggak kok, aku cuma ingin memeluknya saja. Beneran nggak macem-macem. Lepaskan tanganmu je! Kamu jahat sekali aku kan lagi sakit." Yul meminta ampun sambil mencoba melepaskan tangan Jeko yang ada di telinganya.
Sean dan Filia tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"Ini habiskan sendiri!" Jeko terlihat gemes dengan Yul sambil menyodorkan mangkuk bubur ke tangan Yul.
"Ayolah sahabatku yang ganteng! beneran aku masih lemas ini. Bisa kan menyuapiku sampai habis!" Yul meminta dengan manja kepada Jeko sambil bersikap manis.
__ADS_1
"Astaga! tingkahmu ini membuatku jijik. Iya, iya baiklah." Jeko sedikit risih tapi sebenarnya dalam hati dia sayang dengan sahabatnya itu.
Yul bersandar di badan tempat tidur masih dengan wajahnya yang pucat.
"Maaf ya Fil." Sean cuma bisa mengatakan hal itu.
"Kamu memang jahat kali ini. Aku setengah mati khawatir melihatmu begini. Sudah bahagia sekarang?" Filia mengecilkan suaranya.
Sean yang terlihat malu itu mencubit Filia berharap Filia mengecilkan suaranya takut Yul tahu apa maksudnya.
"Aww. Sakit Se, ini tinggal tiga suap lagi." Filia melihat Sean wajahnya memerah.
"Makanya maafkan aku ya! Ini terakhir kali oke!" Sean memohon sambil mengunyah bubur di sendok terakhir.
"Baiklah." Filia dan Sean tersenyum
Tiba-tiba Yul menarik lengan Jeko untuk mendekati telinganya.
"Kamu tidak serius kan tidur disini Je? maksudku di ranjang ini." Yul bertanya lirih.
"Kalau menginap disini aku serius. Tapi kamu kira aku mau melewatkan kesempatan ini?" Jeko menjawab dengan lirih berakting untuk tidak di dengar kedua wanita itu.
"Huhhh, aku lega. kamu memang sahabatku yang pengertian." jawab Yul mengelus dadanya sendiri.
Suapan terakhir Jeko untuk Yul.
"Ammmmnnn" Yul mengunyah dengan cukup bersemangat.
"Sini mangkuknya Je! aku akan membawanya ke dapur." kata Filia sambil meminta mangkuk Jeko.
"Baiklah." Jeko menyodorkan mangkuk itu.
Setelah Filia selesai mencuci mangkuk itu. Filia kembali ke ranjang untuk menemui mereka bertiga.
"Bagaimana kalau hari ini aku dan Sean satu kamar dan kalian berdua tidur di luar?" Filia tiba-tiba mengejutkan Jeko dan Yul.
"Ahh, Je aku lemas. Badanku masih panas Je." Yul mulai berakting benar-benar sakit parah sambil memberi kode Jeko untuk melakukan sesuatu.
'Huhh ... Sepertinya aku mengerti isyarat Yul.' batin Jeko
"Sayang, kalau kamu tidur dengan Sean nanti kamu tertular." Jeko beranjak dari tempat tidur mendekati Filia yang masih berdiri.
Jeko membelokkan tubuh Filia untuk berbalik menuju ruang makan.
"Tapi Je? Aku biasa merawatnya." Filia masih terus menoleh ke arah Sean.
"Tapi kamu belum makan. Biarkan mereka berdua istirahat!" Jeko berhasil membawa Filia keluar dari ruangan itu.
Jeko menutup pintunya
Sean dan Yul yang masih berada di atas ranjang dengan jarak yang lumayan jauh saling berpandangan. Mereka jadi semakin canggung dan tidak mampu mengucapkan kata.
'Aku tahu sepertinya dia sengaja membuat mereka pergi.' gumam Sean yang terduduk di badan ranjang sambil memegangi selimut karena begitu gugup.
'Kenapa suasananya seperti ini? Yang ku harapkan adalah ...' Yul menghentikan pikirannya sendiri dan mencoba bergerak perlahan untuk mendekati sean dengan bergeser perlahan.
Jantung Sean sudah berdesir dan berdebar. Nafasnya sudah memburu sangat keterlaluan, dia bingung harus berbuat apa?
'Jantungku, ku mohon! Bagaimana ini?Kenapa dia mendekat?' Sean kebingungan.
Yul berhenti setelah jarak mereka tinggal tiga puluh centimeter. Yul melihat tangan Sean yang bersembunyi dibawah selimut, Yul juga sama sangat gugup sampai tidak bisa melihat wajah Sean dan selalu melempar ke arah lain. Tapi dia tetap seorang pria tangannya tetap berjalan mendekati tangan Sean. Hingga mencapai punggungnya yang membuat Sean terkejut tapi tidak mampu menarik tangannya lagi. Yul menggenggam Jemarinya juga dan melihat kedepan. Mereka berdua merubah suhu tubuhnya sendiri menjadi semakin panas, sampai akhirnya Yul menoleh dan memandang Sean.
Sean terpaku tidak berpindah untuk tetap melihat dinding yang jauh di depan matanya.
Yul tersenyum melihat Sean bingung. Yul terus mendekat dan mencium pipi Sean dengan sangat lama. Sean terbelalak tak mampu berkata bahkan melompat sekalipun, tangannya yang masih digenggam Yul terus berkeringat bahkan tangan yang satunya mencengkeram kuat selimut itu.
Yul melepas Ciumannya tapi belum mengubah jarak wajahnya, Sean tiba-tiba menoleh dan wajah mereka bertemu dengan jarak pandang hanya sepuluh centimeter.
'Kenapa jadi begini?' Sean semakin mencengkeram selimut.
__ADS_1
Yul tersenyum dengan sangat manis, mata Yul benar-benar membuat Sean luluh karena dia punya tatapan yang mempesona seperti seorang pria yang bersinar.
'Jika tadi kamu yang menciumku duluan, biarkan aku mengembalikannya dengan rasa sayang yang ada di hatiku.' gumam Yul menatap bibir Sean dan mendekat.
Yul menyentuh bibir Sean dengan lembut tanpa memainkan lidahnya sekalipun, dia tetap hebat untuk membuat bibir itu menari. Sean mengalun seperti terhipnotis.
Filia tiba-tiba membuka pintu kamar Sean tapi mereka berdua yang sedang berciuman tidak peduli dengan Filia yang datang.
Filia yang ingin mengambil mantelnya di dalam kamar Sean mengurungkan niatnya dan menutup pintunya lagi. Jeko juga sudah melihat pemandangan itu walaupun sekilas , Jeko hanya tersenyum melihat hal itu. Filia dan Jeko berpandangan.
"Apa tidak akan terjadi sesuatu Je?" Filia sedikit khawatir tapi dia juga bahagia.
"Mereka berdua saling mencintai, aku tahu Yul memang playboy tapi dia tidak pernah keluar batas. Dia berjanji tidak akan jadi playboy lagi. Aku percaya itu." jelas Jeko.
Wajah Filia tiba-tiba memerah.
'Kenapa aku jadi ingin di cium setelah melihat Sean dan Yul ya?' gumam Filia memegang kedua pipinya.
"Kenapa wajahmu sangat merah? Jangan-jangan kamu?" Jeko menggoda Filia lagi.
'Sepertinya dia baper melihat mereka berdua tadi.' pikir Jeko tersenyum melihat Filia.
"Tidak, aku tidak ingin di ci ... Ah tidak aku lapar." Filia pergi berjalan meninggalkan Jeko.
"Kalau kamu ingin di cium tinggal bilang saja! Aku juga pasti mengabulkannya! Tunggu sayang!" Jeko mengikuti Filia dari belakang.
"Jangan sembarang bicara!" Filia semakin cepat berjalan.
Mereka berdua kembali ke ruang makan dan menikmati makan malam mereka lagi dengan canda tawa mereka.
Malam itu badai salju turun sangat deras. Jeko dan Filia tidur di karpet yang sama di depan TV. Mereka berdua memandang ke langit-langit.
"Je!" panggil Filia
"Hemm" jawab jeko menoleh ke arah Filia.
"Apa kamu pernah merindukan mamamu?" tanya Filia.
"Aku selalu merindukannya." Jeko kembali menatap langit-langit.
"Apakah aku boleh berkunjung melihat dimana dia di semayamkan?" pinta Filia kepada Jeko.
"Apa kamu ingin mendapatkan restunya?" Jeko tersenyum memalingkan tubuhnya ke arah Filia.
"Bagaimanapun aku sudah menjadi kekasih anaknya, paling tidak aku harus menyapanya." Filia menoleh kearah Jeko.
"Baiklah besok kita ke sana jika sudah kembali ke korea." Jeko mengiyakan permintaan Filia.
"Aku ingin bertanya lagi, Apa kamu membenci junior yang menyebabkan mama kamu meninggal dunia Je?" Filia penasaran
"Entahlah, sampai sekarang aku tidak tahu siapa pelakunya karena papa selalu menyembunyikan identitasnya dariku. Mungkin dia takut aku akan balas dendam karena kematian mamaku."jelas Jeko masih melihat Filia di sampingnya.
"Je, jangan menatapku begitu!" Filia merasa sedikit terganggu dengan tatap Jeko.
"Kenapa sayang?" Jeko semakin mendekat ke Filia.
Filia berbalik membelakangi Jeko. Filia menutup matanya. Jeko yang melihat Filia seperti itu hanya membetulkan selimutnya kemudian tidur di belakang Filia.
Filia terkejut ketika tidak ada tindakan apapun yang Jeko lakukan untuknya. Filia berbalik.
'Dia benar-benar tertidur.' Filia menyentuh dahinya dan menyentuh hidungnya.
Jeko masih memejamkan mata, tapi tangannya memeluk Filia dan menarik pinggang Filia untuk mendekat ke tubuhnya. Filia sangat terkejut tidak mampu untuk berteriak dan menolak.
"Kamu selalu menyentuhku disaat aku tidur, tanganku sudah sembuh sekarang. Apa kamu tidak takut aku menyerangmu juga?" tanya Jeko masih memeluk Filia dengan kencang.
"Je, Lepaskan aku! Kamu ini." Filia mencoba melepaskan pelukan Jeko.
Jeko membuka matanya dan memandang Filia.
__ADS_1