Fosessive Brother

Fosessive Brother
1


__ADS_3

...Happy reading...


"Kakak pendamping kalian bakal nganterin kalian ke gugus masing masing," Suara itu terdengar memekakkan telinga karena dia— si ketua osis berbicara menggunakan mic hingga suaranya terdengar ke seluruh penjuru sekolah.


"But, inget ya, ini cuma gugus, bukan kelas. Ya.. walaupun nanti kalian bakal satu kelas sih hehe..." Ketua osis itu terkekeh membuat para siswa perempuan memekik heboh kerena tawanya yang sangat manis.


"Kak cepetan dong! panas nih!"


Sontak, para anggota osis dan siswa baru yang ada di lapangan menoleh pada barisan gugus 3, dimana suara orang yang baru saja memprotes kegiatan kakak osis tampan itu berjajar.


Bukannya marah, ketua osis itu malah terkekeh yang lagi lagi membuat kaum hawa memekik histeris.


"Oke oke. Kakak kakak, tolong anterin adek adek manis ini ke gugus nya masing masing ya."


"Iuww... "


"Huhh.. "


"Receh.. "


"Modus.. "


Begitulah teriakan para kaum adam saat si ketua osis berkata demikian.


"Udah gak usah ngeladenin dia. Ketos kita emang kadang suka sedeng."


Semua orang tertawa mendengar perkataan wanita cantik yang diketahui menjabat sebagai wakil ketua osis itu.


Setelah disuruh, para osis pendamping membawa murid baru ke gugus masing masing.


"Kakak tinggal dulu ya, kalian kenalan aja dulu. Ada waktu setengah jam sebelum materi pertama di mulai. Tapi awas! Jangan ribut."


Murid baru itu mengangguk dan langsung berhamburan mencari tempat duduk mereka.


"Maaf, ini tempat kosong ?"


Gadis cantik itu menoleh saat mendengar suara disampingnya. Saat tahu bahwa orang itu sedang bicara padanya, Keringat mulai membanjiri wajahnya. Dia takut. Dia bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


Menarik napas dalam, gadis itu mencoba tenang. Mengingat ngingat apa saja yang dipelajarinya di internet selama ini lalu mencoba untuk mempraktikkannya.


Gadis itu mengagguk.


"Boleh duduk di sini ?"


Oh tidak. Dia harus bagaimana lagi kali ini ? Apa harus mengangguk lagi ?


Lagi. dia hanya mengagguk kaku, membuat siswa yang bertanya padanya sedikit tidak enak.


"Eng.. nggak papa kalo kamu gak nyaman sama aku. Aku bisa cari tempat duduk lain."


Saat siswa itu hendak berbalik, gadis cantik utu dengan cepat menggoyangkan tangannya. pertanda bahwa dia tidak keberatan sama sekali.


"Beneran ?"


Perempuan itu mengguk lagi.


Menyimpan tasnya di kursi, siswa perempuan itu berbalik dan mengulurkan tangannya pada gadis cantik berkulit pucat disampingnya itu.


"Nama aku Kayla, salam kenal."


Si gadis cantik menatap uluran tangan itu ragu. Haruskan ia menerima uluran tangannya ? Tapi bagaimana ? dia tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya.


Namun pada akhirnya, dia tetap menerima uluran tangan teman sebangkunya.

__ADS_1


Mulutnya terbuka, hendak memperkenalkan diri, tapi lidahnya terasa kelu. Dia bicara layaknya orang gagu. Membuat Kayla-- teman sebangkunya menatapnya tidak mengerti.


"Lo bisu ?"


Mereka berdua menoleh ke belakang dan mendapati dua orang yang duduk di belakangnya memperhatikan mereka.


"Gue perhatiin dari tadi lo gak ngomong apa apa. cuma ngangguk doang. Terus tadi lo juga kaya kesulitan waktu mau ngomong," Wanita bermata sipit itu angkat bicara, membuat teman sebangkunya mengangguk setuju.


Kayla menatap temannya, meminta konfirmasi. Namun yang ada gadis pucat itu hanya menunduk.


"Jangan asal ngomong. Mungkin aja dia cuma... "


Perkataannya terpong saat teman sebangkunya menggeleng.


"Jadi lo beneran bisu ?" Wanita bermata sipit itu bertanya lagi. Yang di balas senyuman oleh si gadis cantik.


Kayla menatap temannya tidak percaya. Orang secantik ini bisu ? malang sekali nasibnya.


"Kamu bawa hp kan ?" tanya Kayla yang dibalas anggukan.


"Kalo gitu ketik aja di hp. Nama kamu siapa ?"


Mengangguk, gadis pucat itu mengeluarkan ponselnya dari tasnya. Dan betapa terkejutnya dua orang di belakangnya saat melihat merk ponsel gadis itu. Ponsel dengan merk apel kegigit.


"Lo... anak orang kaya ?" Lagi, si sipit yang bertanya, yang dibalas senyuman.


Kayla melihat tangan kurus yang sedang mengetik sesuatu di ponsel mahalnya itu gemetar. Entah apa yang membuatnya seperti itu, Dahyun tidak tau.


Silvia


"Nama kamu Silvia ?"


Silvia, gadis itu lagi lagi mengangguk.


Hati Silvia bergemuruh. Jantungnya berdetak sangat kencang. Apa teman sebangkunya baru saja mengatakan ingin berteman dengannya? Sungguh ? Jadi ini rasanya memiliki teman baru ?


Silvia hanya tersenyum.


"Adek adek!! Udah pada kenalan kan ?"


"Udahh."


"Kalo gitu giliran kita dong yang kenalan."


"Kenalin, nama kakak Laras. Kakak kelas 11 IPA 1," Anggota osis yang terlihat ramah itu menyapa lebih dulu.


"Kenalin, nama kakak Tania. Kakak satu kelas sama kak Laras, kelas 11 IPA 1," Anggota osis yang sepertinya memiliki darah taiwan juga ikut memperkenalkan dirinya.


"Nah, kalo kakak tampan ini... Kenalan sendiri ah."


Para siswa tertawa karena candaan yang dilontarkan Laras.


"Kenalin, nama kakak Andika. Kakak kelas 11 IPA 2."


Laras menepuk tangannya,


"Nah, kan kalian udah kenal sama kita. Sekarang giliran kita yang kenal sama kalian."


Tubuh Silvia menegang untuk yang kedua kalinya hari ini. Keringat mulai mengalir membasahi wajahnya. Tangannya mencengkeram rok yang dikenakannya. Bagimana ini ? Temannya yang duduk di belakangnya dan Kayla mengira jika dia bisu. Lagipula dia tidak akan berani untuk memperkenalkan dirinya di depan seluruh kelas seperti ini.


"Nah, sekarang giliran kamu dek."


Silvia tersentak saat Kayla menyenggol lengannya pelan. Oh, ternyata dia melamun sampai tidak sadar jika sudah gilirannya untuk memperkenalkan diri.

__ADS_1


Dengan ragu, Silvia berdiri. Mematanya melihat sekeliling dan mendapati seluruh atensi kelas tertuju padanya, membuatnya semakin meremas roknya hingga sedikit kusut.


Mulutnya terbuka, hendak bicara, namun sebuah suara lebih dulu menyela ucapannya.


"Maaf kak, tapi dia bisu," Yanti. Si sipit yang duduk di belakang yang menyahut.


Hening. Tidak ada yang berani bicara. Mereka mematap Wonyoung tidak percaya. Sama seperti Dahyun pada awalnya.


"Emm,, bener dek ?" Tania bertanya ragu.


Silvia diam. Tak berani menjawab. Dia terlalu takut saat ini.


"Yaudah gak papa. Gak usah tegang gitu ah," Andika mencoba mencairkan suasana.


...***...


Silvia bernapas lega saat tidak menemukan sosok yang dia kenal ada di kantin.


Ngomong ngomong, kini dia sedang ada di kantin. Kayla yang mengajaknya. Silvia senang, baru kenal setengah hari, tapi dia sudah nyaman berteman dengan Kayla. Ternyata berteman semenyenangkan ini. Silvia baru tau itu.


"Abis ini bakal apa lagi ya ?" Kayla bertanya di sela sela kunyahan rotinya. Mereka sudah ada di dalam Kelas lagi ngomong ngomong.


Tepat saat jajanan mereka sudah habis, bel berbunyi pertanda waktu masuk telah tiba.


"Nanti abis istirahat kedua kita kumpul di aula terbuka, ada seminar kepolisian disana," Laras membacakan agenda kegiatan mereka hari itu.


"Udah sekarang mah lanjutin aja nulisnya," Laras kembali bicara. Memang hanya dia yang terlihat aktif diantara kedua partner satu timnya kali ini.


Brakk


"Woyy diem diem bae."


Semua kelas terkejut mendengar pintu di buka dengan kasar. Tania yang sedang menuliskan tata tertib di papan tulis terlonjak. Sedangkan Andika yang sedang duduk di meja guru mendelik kaget.


Si pelaku pendobrakan pintu berjalan dengan santainya ke dalam kelas. Membuat mata para kaum hawa berbinar. Jika Andika dan ketos tadi tampan, maka yang ini lebih tampannn.


"Lagi apa nih ?" Tanyanya sambil memperlihatkan satu persatu siswa baru.


"Joget!" Andika yang menjawab membuat pria itu terkekeh.


"Hati hati adek adek, dia ini kang ngerdus. Jadi jangan baper kalo digombalin sama dia," Laras memperingatkan.


Pria itu tertawa.


"Kenalan dulu lah. Siapa tau cocok, terus jodoh."


Para siswa sudah heboh. Kapan lagi berkenalan dengan orang tampan seperti ini?


"Kannn, baru juga diomongin."


Pria itu terlihat masa bodoh dengan omongan Laras. Dia lebih memilih berkenalan dengan siswa gugus 5.


"Kenalin nama kakak Nandika. Kelas 11 IPA 4," katanya sambil menatap seseorang penuh arti. "Ayo dong... Giliran kaliann." lanjutnya.


Seperti biasa, mereka satu persatu mengenalkan dirinya. Sedangkan Laras terus menatap Nandika. Tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Giliran kamu!" Nandika menunjuk Silvia.


Lagi, Silvia terkesiap. Karena asik memandangi wajah orang bernama Nandika ini, dia jadi lupa waktu.


"Dia bisu kak," Lagi, Si sipit Yanti yang menjawabnya.


"APA ?!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2