
"APA ?!" Nandika berteriak keras, matanya mendelik tidak percaya mendengar pernyataan adik kelasnya.
Laras menyenggol lengan sesama osisnya, dia tidak ingin Silvia tersinggung karena kehisterisan Nandika tentang kebisuannya.
"Apa sih lo ?!" Tanpa sadar Nandika membentak Laras, membuat semua orang menatapnya aneh. Namun wanita cantik itu tidak tersinggung maupun marah karena Nandika yang membentaknya di hadapan semua orang. Karena Laras tahu bahwa Nandika mungkin kaget dan tidak percaya jika orang secantik Silvia bisu.
"Jangan keras keras ngomongnya, nanti dia kesinggung," Bisik Laras.
Nandika menatap Laras tajam.
"Tau dari mana lo ?! dia ngomong langsung sama kalian hah ?!" nandika kembali membentak Laras, tapi bukan hanya laras, kali ini dia juga menatap tajam semua orang.
Semua siswa menatapnya takut. Bahkan para anggota osis pun tidak menyangka jika respon Nandika terhadap kebisuan Silvia akan berlebihan seperti ini.
Berbeda dengan semua orang yang menatapnya takut, Nandika menatap silvia dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Silvia balas menatap Nandika. Mereka saling berpandangan, melakukan kontak mata selama beberapa saat, hingga akhirnya nandika memutuskan kontak mata keduanya.
Sadar dengan apa yang dilakukannya, nandika mengusap wajahnya kasar, lalu kembali menatap semua orang tajam,
"Gue tanya, tau dari mana kalian ?!" dan kembali membentak untuk yang kesekian kalinya.
"Nan," Andika mendekati nandika, memegang pundak remaja itu, bermaksud menenangkannya.
Namun Nandika malah menepis lengan temannya dengan emosi.
"Tau dari mana kalian hah ?! dia ngomong langsung ?!"
"Dia bisu Nan!"
Merasa tidak tahan lagi, Nandika menarik kerah baju Andika, membuat Laras langsung mencoba memisahkan mereka.
"Jangan asal ngomong bangsat."
"Lepasin Nan, apa apaan sih lo ?!" Meski sedikit kesulitan, tapi akhirnya Laras bisa memisahkan mereka berdua.
"Denger ya kalian semua... " nandika menatap Silvia, sedangkan yang ditatap hanya menggeleng kecil padanya dengan memelas.
Memejamkan matanya, Nandika mencoba mengatur emosinya.
Brakk...
"Bngsd!" cowok itu menendang pintu sambil mengumpat.
"Adek adek, jangan dipikirin ya soal kejadian tadi, dia emang kadang suka gitu," ucap Andika memberi pengertian tentang sikap nandika tadi pada anak didiknya.
Laras mendekati Silvia, menatapnya dengan penuh rasa bersalah.
"Dek, jangan kesinggung ya soal kejadian tadi."
Diam diam Silvia kembali meremat roknya. Sebenarnya dia ingin sekali menangis. Karena dirinya lah semua menjadi seperti ini. Tapi yang bisa wanita pucat itu lakukan hanya mengangguk kaku.
...***...
"Waktu istirahat nya sampe jam setengah satu ya," Silvia memperingatkan. Wanita baik itu tidak langsung keluar, dia bersama kedua rekannya menunggu para siswa baru untuk keluar kelas lebih dulu.
"Kantin yuk ?" ajak Kayla. Dia memasukkan bukunya ke dalam tas lalu menunggu persetujuan teman sebangkunya.
Silvia membuka mulutnya, namun dengan cepat dia kembali mengatupkannya. Dan hanya mengangguk mengiyakan ajakan Kayla.
Baru saja mereka sampai di pintu, dan ada seseorang yang mencekal tangan Silvia, membuat keduanya tersentak kaget.
"Ikut!"
Nandika, dia menarik tangan Silvia, namun baru dua langkah sudah ada yang menghentikannya.
"Lo ngapain sih Nan ?" tanya Laras. Cewek itu langsung keluar dan menghentikan Nandika saat mendengar ada ribut-ribut di luar kelas yang ternyata disebabkan oleh Nandika.
"Jangan ikut campur!" Sarkas Nandika.
"Dia tanggung jawab gue."
"Bacot!"
"Nandika!"
Nandika melepaskan tangan Silvia, lalu menatap Laras tajam.
"Gue gak akan ngelukain dia. Jadi gue mohon jangan ikut campur Laras!"
Tanpa menunggu jawaban dari Laras, cowok itu kembali menarik tangan Silvia untuk ikut dengannya.
"Ke UKS sekarang! gue tunggu! Gak pake lama!" nandika memasukkan ponsel mahalnya setelah sebelumnya memutuskan sambungan secara sepihak.
"Gue pinjem ruangannya bentar! Awas kalo ada yang masuk!"
Naya membeo. Dia menganga tidak percaya. Apa apaan Nandika itu masuk dengan tidak sopannya dan apa tadi? remaja itu mengamcamnya ?
Brak
Pintu ditutup dengan kasar oleh Nandika. cowok itu menghempaskan tangan Silvia dengan kasar, membuat cewek cantik itu meringis kecil.
Menghela napas pelan, Nandika menghampiri Silvia lalu meraih tangannya. Membalik balikan tangan kecil itu dengan raut khawatir yang tergambar jelas di wajah tampannya.
"Sakit ya ?" Tanyanya, hanya untuk basa basi agar suasana tidak terlalu canggung. "Maaf," Katanya sambil meniup niup tangan yang sedikit memerah karena cekalannya yang lumayan kuat pada tangan gadis itu.
__ADS_1
Silvia itu menarik tangannya, lantas menggeleng.
"Woyy!"
Keduanya menoleh saat sebuah suara terdengar.
"Gimana hari pertama PLS nya ?" Cowok yang baru saja masuk itu mendekat pada Silvia lalu mengelus rambut panjangnya."Lo apain dia hah ?!" lanjutnya. Dia mendelik tajam pada Nandika saat melihat tangan satu satunya gadis yang ada di ruangan itu memerah.
"Gak sengaja kak, tadi gue narik dia," Nandika nyengir.
Baru saja pria itu akan menghampiri Nandika, tapi sebuah suara mengintrupsinya.
"Aku baik baik aja kak Jae."
Silvia, wanita itu yang bicara.
Randika, pria itu menoleh pada Silvia lalu menghela napas.
"Yakin ?" tanyanya memastikan.
Silvia mengangguk.
"Mau apa lo nyuruh gue kesini ?"
Nandika mencibir.
"Lo inget niat kita jadi osis gak sih kak ?"
"Kenapa ?"
"Lo inget tapi jabatan lo gak main main. apa apaan coba pake jadi sekretaris osis segala ?"
"Gue gak suka basa basi ya Nandika. Kita pernah udah bahas ini sebelumnya."
"Tapi karna jabatan lo itu, lo jadi lalai sebagai kakak."
Dahi mulus itu berkerut, pertanda tidak mengerti dengan perkataan Nandika.
"Maksud lo ?"
"Adek lo."
"Silvi ? Dia juga adek lo bngsd!"
Silvia, adik dari Randika dan Nandika. Itulah sebabnya Nandika sangat marah saat ada yang mengatai adiknya bisu, padahal itu tidak benar sama sekali.
Nandika memutar mata malas.
"Silvi kenapa ? Kamu kenapa dek ? Ada yang jahatin kamu ? Bilang sama kakak!"
Bukan, bukan Silvia yang menjawab, tapi Nandika.
Perkataan nandika berhasil membuat randika melotot.
"Jangan bercanda bego. gak lucu tau gak!"
Nandika bungkam, tidak ingin menjelaskan apapun pada kakak kembarnya. Dia ingin adiknya sendiri yang menjelaskannya.
"Dek ?!" Randika memanggil adik bungsunya, seakan meminta penjelasan.
"Maaf."
Sungguh, bukan itu yang Randika harapkan, dia ingin sadiknya bilang bahwa pernyataan kembarannya salah. Itu semua tidak benar. Tapi perkataan Silvia berbanding terbalik dengan harapannya.
"Kenapa ?!"
1 menit
2 menit
3 menit
Hingga menit ke 5 pun, Silvia tidak menjawab, membuat Randika dengan cepat memeluknya, hingga isakan gadis cantik itu keluar.
Nandika memalingkan wajah. Dia tidak pernah tega melihat adiknya menangis. Itu membuat hatinya merasa sakit. Dan tanpa bisa ditahan lagi, tubuh itu membawanya mendekati kedua saudaranya, dan ikut bergabung bersama kakak dan adiknya untuk berpelukan.
Setelah lumayan lama, mereka melepaskan pelukannya. Dengan telaten, randika menghapus air mata di wajah pucat itu.
"Mau cerita ?"
Diam adalah pilihan silvia saat ini. Dia tidak ingin kedua kakaknya merasa terbebani karenanya. Sudah cukup selama ini dia menjadi beban kedua kakaknya, tapi sekarang tidak lagi. Dia harus bisa berdiri sendiri tanpa menyusahkan siapa pun lagi.
"Dek, gunanya saudara itu untuk saling melindungi, menyayangi, menjaga, dan berbagi. Apa gunanya kakak sama abang kalo kamu gak mau berbagi sama kita?"
Namun, silvia masih setia untuk bungkam.
"Janji. Kita gak akan ngelakuin hal yang aneh aneh," randika masih mencoba membujuk adiknya.
"Janji ?"
randika mengangguk mantap. Lalu Silvia menceritakan semua yang terjadi pada kakak kembarnya.
si kembar hanya mendengarkan, dengan Ran yang memeluk adik bungsunya dan Nan yang mengusap punggungnya. Mereka berdua mengerti tentang adiknya, karena inilah pertama kalinya sang adik menginjak dunia luar dan bersosialisi dengan orang lain. Pantas saja gadis itu gugup dan kesulitan saat bicara dengan orang lain hingga mereka menganggapnya bisu.
__ADS_1
Sejak kecil, Silvia memang jarang sekali menginjakkan kakinya di luar rumah. Dia hampir tidak pernah keluar rumah jika tidak pergi berobat atau sedang dirawat di rumah sakit. Sean, ayah mereka selalu overprotektif padanya karena silvia lahir secara prematur dan selalu sakit sakitan. Ditambah trauma yang dialamai gadis itu saat kecil. Dimana Silvia melihat kecelakaan besar yang membuatnya merasa sangat ketakutan membuat Sean melarangnya mengenal dunia luar. Karena menurutnya dunia luar terlalu berbahaya untuk anak seperti Silvia.
Dari awal, Silvia tidak pernah memiliki teman, temannya hanya ayahnya, kakak kembarnya dan pembantu yang bekerja di rumahnya. Ibunya ? Ibunya meninggal saat melahirkannya.
"Dek.. "
Wajah pucat yang berlinang air mata itu mendongak menatap sang kakak.
"Aku yang mulai semua ini, jadi biarin aku juga yang nyelesaiinnya juga."
si kembar menggeleng tidak setuju. Bagi mereka, dunia terlalu berbahaya untuk adik kecil mereka. Apapun yang terjadi, Silvia tidak sendirian karena akan selalu ada Ran dan Nan yang bersamanya.
Si sulung menghapus air mata si bungsu,
"Udah dong, jangan nangis lagi, ntar jelek loh."
Si bungsu terkekeh mendengar candaan kakak pertamanya.
"Kali ini kita bakal biarin kamu. Tapi kalo mereka udah sampe ngelewatin batas, abang gak akan tinggal diam," Ran mengangguk mengiyakan perkataan saudara kembarnya.
"Udah makan siang ?"
"Ya belum lah bege, kan langsung gue ajak ke sini," Bukan Silvia, tapi Nan yang menyahut.
"Gue gak nanya elo supri!"
"Gue cuma bantu jawab doang Kasja!"
Ran memutar mata malas.
"Mau kakak beliin makan ?"
"Gue mau."
"Diem napa sih Nan!"
Lagi, Silvia terkekeh melihat perdebatan kedua kakaknya.
"Aku gak laper kak."
"Tapi harus tetep makan sayang," Nan mencubit pipi Silvia gemas.
"Tadikan udah."
Melihat kekeras kepalaan sang adik, si kembar hanya menghela napas.
"Besok harus bawa makan dari rumah pokoknya."
"Ihh kan aku bukan anak TK lagi."
"Ululuu jangan Ngambek dong," Nan kembali mencubit pipi Silvia lagi. Itu memang sudah menjadi kebiasaannya ketika gemas dengan tingkah adiknya.
"Yuk, abang anterin ke kelas. Si onoh kan sibuk sama jabatannya."
Ran memukul kepala Nan saat merasa tersindir.
"Gak usah. Nanti yang ada orang malah curiga lagi," tolak Silvia.
Namun, Nan tetaplah Nan, si keras kepala yang tidak akan mendengarkan perkataan orang lain. Tanpa menunggu persetujuan dari sang adik, Nan dengan seenak jidatnya malah menarik tangan kurus itu dan meninggalkan Ran sendirian di ruang PMR.
"Thanks Nay," Ran berterima kasih pada Naya karena sudah meminjamkan ruang PMR pada mereka.
"Abis ngapain kalian ? kalian pasti ngelakuin sesuatu sama murid baru itu ya ?" Mata Naya memicing.
"Emang muka gue ada tampang premannya hah?"
"Yaaa gue cuma curiga aja. Lo beneran gak ngapa ngapain kan?"
"Serah," Ran berlalu dari hadapan wanita itu.
"Woyy!! Jawab dulu pertanyaan gue!!" teriak Naya saat Ran sudah mulai menjauh darinya, namun remaja itu hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh.
"RAN KAMPRET!!! GAK TAU TERIMA KASIH LO AJG!!"
...***...
Silvia menunduk saat sadar bahwa seluruh pasang mata menatapnya yang sedang di tarik oleh Nan. Sungguh, dia benci situasi seperti ini.
"Lo abis ngapain dia hah ?!" tanya Laras yang entah kebetulan atau disengaja ada di depan gugus 5 bersama Andika.
"Masuk!" Nan menyuruh Silvia masuk tanpa menjawab pertanyaan Laras terlebih dahulu. Dalam hati dia meringis karena seharian ini dia sering membentak dan meneriaki orang lain di depan adiknya. Biasanya saat di rumah, baik dia maupun Ran akan sangat lembut pada Silvia, tapi kali ini, untuk pertama kalinya dia membentak sang adik. Ya mau bagaimana lagi, Silvia yang menginginkan ini semua, jadi Nan hanya bisa berpura-pura. Tidak apa, nanti saat sampai di rumah dia akan minta maaf pada adiknya.
Silvia masuk ke dalam kelas. Dan seisi kelas langsung menatapnya. Semua siswa sudah tahu tentang Nan yang mmenarinya secara paksa. Mereka juga tahu jika Nan itu berandal yang entah bagaimana bisa menjadi anggota osis.
Nan melenggang pergi meninggalkan Laras dan Andika yang menunggu penjelasannya, tapi masa bodoh, Nan tidak peduli pada mereka.
"Nan! "
"Woy Nan! lo kudu jelasin sialan!"
"NAN!!"
"Bngsd"
__ADS_1
Laras mengumpat saat Nan tidak menghiraukan perkataannya.
...***...