Fosessive Brother

Fosessive Brother
17


__ADS_3

"Kak Nqn!!" Indi dan Endah melambaikan tangannya pada Nan yang sedang berjalan santai dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, sendirian, entah dimana kembarannya berada.


Yang merasa terpanggil pun menghentikan langkahnya, dia mengeluarkan tangan kanan dari saku celananya, lalu menyisir rambutnya ke belakang saat melihat Endah dan Indi berlarian menghampirinya.


"Hello girls," sapanya dengan nada bicara yang dibuat so cool. 


"Kak, Silvia kemana? Udah lima hari gak masuk kelas loh. Kita telpon gak pernah diangkat, chat juga gak pernah dibales."


Seketika wajah ceria Nan berubah menjadi sendu. "Ada dirumah," jawabnya, memaksakan senyumannya.


Tidak, Nan tidak berbohong, Silvia memang sudah pulang tadi pagi sebelum dirinya berangkat sekolah.


"Kenapa? Dia baik-baik aja kan?" tanya Indi khawatir.


Silvia mengangguk kecil, "Iya," singkatnya.


"Kenapa?" Endah mengulang pertanyaan Indi tadi yang belum sempat dijawab oleh Nan.


"Cuma... kecapean aja."


"Emm... boleh jenguk gak?" tanya Indi, "biar sekalian liat cogan," suaranya memelan saat mengatakan itu, namun Nan masih bisa mendengarnya.


"Hah?!"


"Om Sean," Indi menutup mulutnya menahan tawa, "dia kan ganteng. Boleh lah kak, aku dijadiin ibu tiri kakak. Aku ikhlas lahir batin kok," candanya.


"Ngapain harus sama bapaknya kalo anaknya aja mau sama kamu," satu-satunya pria yang ada disana menaik turunkan alisnya, menggoda Indi.


Tolong ingatkan Indi untuk bernapas.


...***...


Kelopak mata itu perlahan terbuka. Refleks, tangannya menutupi matanya sendiri saat merasa cahaya terlalu terang hingga membuat pandangannya sedikit mengabur. Setelah membiasakan diri dengan cahaya itu, Silvia menatap lurus ke depan saat tiba-tiba telinganya mendengar bunyi keyboard yang sedang ditekan, gadis itu menoleh dan mendapati ayahnya yang sedang duduk di meja belajarnya dengan laptop yang ada dihadapannya.


"Dad?" panggilnya pelan dengan suara serak khas bangun tidur.


Spontan, Sean menoleh saat mendengar suara lembut yang sudah sangat dia kenali itu. Senyuman terbit di wajah tampannya saat tahu jika putri semata wayangnya sudah bangun. Dia beranjak menghampiri Silvia di tempat tidur, mengabaikan pekerjaannya yang belum selesai.


"Udah bangun?" tanyanya, disertai elusan di rambut sang putri.


Silvia hanya mengangguk, dia memaksakan diri untuk duduk-- dibantu oleh Sean, gadis itu mengucek matanya, efek baru bangun tidur. "Kok belum berangkat kerja?" tanyanya.


Sean tidak tahan untuk tidak mengecup pipi putrinya, wajah bantal Silvia yang baru bangun tidur membuatnya gemas dan tidak bisa menahan diri lagi. Alhasil pipi pucat itu menjadi korban ciuman ayahnya.


"Libur sayang," jawabnya, sesaat setelah dirinya menyudahi kegiatan 'mari menciumi wajah Silvi'.

__ADS_1


"Kok?" si cantik menggumam, "daddy kan udah sering libur, masa libur lagi sih?" protesnya.


Tidak salah Silvia berkata seperti itu, karena selama dirinya berada di rumah sakit, Sean selalu menjaganya, yang berarti ayahnya tidak pergi ke kantor-- yaaa walaupun sean selalu mengerjakan pekerjaannya di rumah sakit. Tapi tetap saja, sekarang Silvia sudah pulang, sudah ada di rumahnya sendiri, ada para asisten rumah tangga, lalu kenapa ayahnya masih membolos kerja?! Huh, menyebalkan.


"Kamu laper? Daddy ambilin makanan buat kamu ya? Abis itu minum obat," mengabaikan omelan putrinya, Sean malah menawarkan makan pada Silvia.


"Nggak nafsu," gadis itu menghembuskan napasnya kasar.


"Dikit aja ya? Emang gak mau cepet sembuh?"


Silvia mendengus geli, dia mengerucutkan bibirnya, merasa sebal pada ayahnya karena menggunakan alasan klasik itu untuk membujuknya agar mau makan. Hell, memangnya dia masih kecil sampai-sampai ayahnya mengatakan itu? Silvia sudah 15 tahun jika Sehun lupa.


"Nggak mau," satu-satunya wanita dalam keluarga itu memeluk lengan kekar ayahnya, menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah.


"Maunya apa hm?" tanya Sean lembut, tangannya tak tinggal diam, dia mengelus kepala Silvia sayang, sesekali menciumi rambutnya.


"Mau daddy aja," gadis itu terkekeh saat mengatakannya.


Sean melepaskan pelukan sang putri pada tangannya, lalu dia balik memeluk putrinya, menyandarkan kepala bungsunya pada dada bidangnya. "kalo itu kamu gak perlu minta, karna daddy bakalan selalu ada sama kamu, selalu ada buat kamu," pria tampan itu tersenyum sendu saat mengatakannya.


"Aku sayang daddy," gumamnya, menduselkan kepalanya pada dada bidang ayahnya, mencari kenyamanan. "sayang bangettt," lanjutnya.


"Daddy lebih sayang sama kamu dek," Sean mengeratkan pelukannya.


"Dad?"


"Jangan marah lagi sama kakak sama abang," pintanya.


"Hm," yang hanya dijawab dengan gumaman, "Jangan mau kalo mereka ngajak kemana-mana."


"Iya," patuh Silvia. "dad?" panggilnya lagi, "Jangan tinggalin aku," gumamnya.


Silvia terkekeh pelan, "daddy nggak akan ninggalin kamu," katanya, membuat hati Silvia merasa tenang mendengarnya. "tapi kamu yang bakalan ninggalin daddy."


Si cantik tersenyum lemah dipelukan ayahnya. "aku ta--"


"Karna suatu saat nanti kamu bakalan punya suami, punya keluarga sendiri dan ninggalin daddy," Sean memotong perkataan putrinya. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan Silvia. Mungkin saja anak ketiganya itu salah paham pada ucapannya barusan, karena itu dia cepat meralat.


"Aku nggak yakin."


"Hei," Sean membentangkan jarak diantara mereka, dia menangkup wajah cantik namun pucat itu agar menatapnya, "Kenapa ngomong gitu hm?" tanyanya, walaupun dia sudah tahu kemana arah pembicaraan ini.


"Daddy pasti udah tau maksud aku," Silvia menunduk, tidak berani menatap netra elang ayahnya yang saat ini terlihat menatapnya dengan lembut. Dia takut pertahananya runtuh hanya dengan melihat wajah yang biasanya penuh dengan ketegasan itu kini menatapnya sendu. Silvia takut air matanya jatuh tanpa bisa dia bendung lagi. "aku kangen mommy, pengen peluk mommy, pengen cium mommy. Mungkin udah saatnya... aku nyusul mommy."


Ya, dari awal Sean memang sudah tahu, tapi... hatinya terasa sakit saat mendengar putrinya mengatakan itu.

__ADS_1


Kadang Sean berpikir bahwa kematian Yani, kebengalan kedua putranya, dan rasa sakit Silvia itu merupakan hukuman Tuhan padanya. Sebuah hukuman atas sikap buruknya di masa lalu. Mungkin si kembar itu nakal, tapi percayalah, Sean lebih nakal di masa lalu.


Tidak jarang dia menyalahkan dirinya sendiri yang sudah membuat banyak kesalahan dimasa lalu, membuat orang lain menangis karenanya, dan menyakiti orang lain. Kenapa? Kenapa dirinya melakukan itu semua? Jika tau bahwa pada akhirnya keluarganyalah yang akan kena imbas dari perbuatannya dulu, maka Sean tidak akan pernah melakukan itu semua. Tapi, tidak ada gunanya mengeluh ataupun menyesal, karena semua yang terjadi sudah terjadi. Semua yang terjadi adalah guratan takdir Tuhan untuknya dan keluarganya. Meskipun berat, tapi Sean bisa melewati ini semua. Ya, Sean akan selalu kuat jika ada ketiga malaikatnya bersamanya.


"Kamu pasti sembuh sayang. Percaya sama daddy. Kamu nggak sendirian, daddy selalu ada buat kamu, kita berjuang sama-sama ya?" air matanya mengalir begitu saja dari matanya. Sungguh menyakitkan rasanya, tapi Sean harus kuat. Jika bukan dirinya, maka siapa lagi yang akan menguatkan anak-anaknya? Seorang kepala keluarga tidak boleh lemah bukan?


Sean menubruk tubuh besar Sean. Dia tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak menangis. Melihat ayahnya, panutannya, yang selama ini selalu tegar kini menangis membuatnya juga ikut menangis.


Silvia tahu, siapapun tahu jika kehidupan seorang Sean tidaklah mudah. Dia Hidup sebagai orang tua tunggal, menjadi ibu sekaligus ayah bagi ketiga anaknya yang saat itu masih kecil. Bahkan sampai sekarang Sean masih bertahan dengan statusnya sebagai duda beranak tiga, tanpa berniat mencari pengganti Yani meski Silvia tahu jika ayahnya membutuhkan pendamping.


Silvia menyayangi Sean, ayahnya sendiri. Tidak peduli kehidupan kelam seperti apa yang Sean lakukan di masa lalu-- emm ya walaupun diantara mereka bertiga tidak ada yang tahu pasti kehidupan ayahnya di masa lalu-- yang jelas dimatanya, Sean hanyalah seorang ayah yang kuat, yang hebat yang bisa membesarkan anak-anaknya seorang diri.


"Aku sayang daddy."


Kalimat itu muncul sebanyak dua kali dalam hari ini.


...***...


"Hello? Anibody home?! Nandika in your area!!"


Silviq mengelus dada mendengar teriakan yang menggelegar itu, sedangkan Sean hanya menggelengkan kepalanya.


Teriakan itu sudah menjadi rutinitas Nan setiap kali pulang sekolah. Karena dulu, sebelum Silvia sekolah, dia sering kali mendengar kakak keduanya mengatakan itu setiap kedua kakaknya pulang sekolah. Tapi sekarang tidak lagi. Ini kali pertamanya dia mendengar itu setelah sekian lama.


"Gak usah teriak-teriak! Kuping daddy sakit dengernya!" marah Sean saat kedua anak kembarnya menghampirinya, lalu mencium tangannya.


"Ya maaf," Nan cengengesan, "dek, abang beliin candy ball buat kamu," bisiknya tepat di telinga sang adik.


Mata jernih yang sedikit memerah akibat menangis itu berbinar. "Beneran?"


"Iya dongg."


"Ngomong apa kamu?!"


"Kepo, wlee," Nan menjulurkan lidahnya pada Sean. Setelahnya si tengah itu berlari menuju kamarnya, tentu saja karena takut pada amukan ayahnya yang galak seperti macan.


Sean hanya mengelus dadanya. Butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi anak biadab seperti Nan. Huhh, untuk saja si sulung tidak terlalu bobrok seperti kembarannya, jika tidak, mungkin dia sudah mati muda.


"Daddy nggak kerja?" tanya Ran.


"Nggak." jawab Sean singkat, "ganti baju gih, abis itu kita makan bareng," suruhnya.


Ran mengangguk, sebelum berjalan menuju kamarnya, dia sempatkan dulu untuk memberi kecupan pada kepala adiknya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2