Fosessive Brother

Fosessive Brother
15


__ADS_3

"Ini sebabnya daddy gak pernah suka kalo kalian punya geng. Punya geng berarti punya musuh. Kalo udah punya musuh, urusannya ribet. Bukan cuma kalian yang jadi inceran musuh kalian, tapi juga orang-orang terdeket kalian juga bisa kena imbasnya!" Sean mengomel, meluapkan kekesalan yang selama ini dia tahan pada kedua anak kembarnya, tidak peduli mereka sedang di rumah sakit sekalipun. Karena dia hanya ingin kedua anaknya sadar bahwa memiliki geng akan berakibat buruk pada orang lain.


Yang diomeli hanya menunduk, tidak berani menatap netra setajam elang milik ayahnya. Mereka tau mereka bersalah, karenanya mereka hanya diam. Menjawab omelan sang ayah tidak akan ada gunanya sama sekali, yang ada ayah mereka bisa lebih marah. Cukup, kemarahannya saat ini saja sudah mengerikan, tidak boleh ditambah lagi.


"Kalian itu udah dewasa. Seharusnya kalian bisa ngehindarin perkelahian itu, bukannya malah ngeladenin!" entah kenapa Sean bisa jadi seemosional ini. Hanya saja... saat melihat putri semata wayangnya takut pada dirinya, membuatnya marah, merasa bersalah dan takut dalam satu waktu.


Tidak, Sean tidak marah pada Silvia, tapi dia marah pada Ran dan Nan yang telah membuat perkelahian ini muncul, juga pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol emosi hingga anaknya yang lain takut padanya.


Ini yang Sean takutkan ketika sisi dari dirinya yang lain muncul. Sisi dalam dirinya yang kembali muncul kepermukaan setelah dia kubur selama bertahun-tahun. Sisi yang dia sebut monster, yang kini berhasil membuat Silvia takut padanya, sesuatu yang tidak pernah bisa Sean terima.


"Daddy nyiapin supir itu suapaya bisa nganter jemput kalian. Suapaya kalian aman. Tapi kenapa kalian malah jalan kaki?!"


"Maaf," hanya itu yang keluar dari mulut si kembar sebagai rasa penyesalan sekaligus rasa bersalah mereka.


Sean mendecih, "Apa kata maaf kalian itu berguna sekarang?! Apa dengan kata maaf kalian, anak daddy bisa baik-baik aja?! Seharusnya kalian tau kalo adek kalian itu nggak kaya orang lain yang biasa-biasa aja kalo ngeliat perkelahian. Dia beda, dia... beda dari yang lain," perkataan Sean melemah diakhir kalimat. Hatinya serasa diremat saat mengatakan itu. Dia ingin menyangkal, tapi... putrinya memang berbeda.


Diam-diam Nan merasa bersalah. Penyebab utama adiknya masuk rumah sakit adalah karenanya. Jika saja dia mampu menahan emosinya, semua ini tidak akan terjadi. Namun apa boleh buat, semuanya sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menyesal.


Pria yang sebentar lagi berkepala empat itu duduk di kursi depan UGD. Dia memijat keningnya, merasa pusing dengan apa yang terjadi. Membayangkan jika putrinya akan ketakutan saat melihatnya, membuatnya ingin mati seketika, menenggelamkan dirinya dirawa-rawa agar bisa hilang dari muka bumi ini.


"Pulang!" suruhnya, tanpa menegakkan kepalanya sedikit pun.


Ran dan Nan mendongak, mengerjap pelan, berusaha memahami perkataan ayahnya. Pulang? Yang benar saja, adiknya sedang ditangani oleh dokter, dan mereka berdua disuruh pulang? Apa ayahnya sedang bercanda?


"Dad, adek kan lagi--"


"Pulang!" Sean menyela dengan cepat, "renungin kesalahan kalian!" finalnya, mutlak tak terbantahkan.


Tidak bisa melawan lagi, si kembar hanya pasrah.


"Kalo gitu kita pamit. Sekali lagi maaf udah ngecewain daddy," lalu mereka berlalu dari hadapan ayahnya saat pria dewasa itu hanya diam.


Setelah kepergian kedua anaknya, Sean menghembuskan napas kasar. Dia menegakkan tubuhnya, kedua sikunya bertumpu pada kaki, lalu telapak tangannya dia gunakan untuk menutupi wajahnya.


"Yan... aku butuh kamu."

__ADS_1


...***...


"Emang kita udah seketerlaluan itu ya?"


"Hm," Ran menggumam, menggunakan tangan kirinya sebagai bantal, lalu tangan kananya digunakan untuk menutupi sebagian wajahnya.


"Terus si adek gimana dong?" tanya Nan, dengan suara yang sedikit bergetar, merasa takut.


"Untuk sekarang, gak ada yang bisa kita lakuin. Daddy pasti gak akan ngizinin kita ke rumah sakit," Ran menjawab kalem, masih pada posisinya.


"huh..." Si tengah menghembuskan napas berat, "Gue khawatir sama keadaan si adek."


"Lo pikir gue enggak?"


"Ya kalem dong," Nan mendumal. "tapikan kak,"


"Hm? Apaan?"


"Daddy keren banget kan ya? Gue baru tau kalo daddy bisa ribut kek gitu. Gue pikir daddy cuma bisa ngerjain berkas kantor, tapi ternyata duel juga bisa bro. Mantap lah," Binar kagum nampak jelas di mata Nan. Demi apa pun, dia tidak percaya jika ayahnya akan sehebat itu ketika berkelahi.


Ran menggeser lengan kanannya. Berbeda dengan Nan yang berbinar, Ran nampak menatap kembarannya datar.


...***...


Sean menggenggam tangan kurus yang tertancap jarum infus itu erat. Sesekali dia akan menciuminya sayang. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah putrinya yang terbaring dengan mata tertutup di bangsal rumah sakit.


Dokter bilang bahwa Silvia hanya schock hingga detak jantungnya sedikit melemah. (maaf kalo gak ada hubungannya sama sekali, soalnya aku gak paham soal kedokteran :"))


"Adek, buka matanya ya, daddy sedih ngeliat kamu tidur terus."


Ini sudah sekitar 3 jam setengah Silvia dipindahkan ke ruang rawat, tapi gadis itu belum membuka matanya barang sedikit pun.


"Maafin daddy yang gak bisa nahan emosi sampe-sampe kamu takut terus masuk rumah sakit. Daddy cuma... gak mau ada yang nyentuh kamu."


Sean meminta Silvia bangun, tapi dia sendiri belum siap jika melihat anak ketiga nya itu takut padanya. Dia juga tidak tahu harus melakukan apa jika hal itu terjadi. Dia hanya berharap Silvia bisa melupakan kejadian tadi. Tapi, apakah mungkin?

__ADS_1


"Kalo kamu bangun, daddy janji gak bakalan ngelarang kamu makan pizza lagi. Kamu boleh makan sepuasnya, sebanyak yang kamu mau," lirihnya, "Makanya, buka matanya ya?"


Bagaikan kata-kata ajaib, kelopak mata itu perlahan terbuka, mengerjap pelan, membiaskan cahaya masuk ke dalam retina matanya. Lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan menyadari bahwa dirinya berada di rumah sakit saat mencium aroma obat-obatan khas rumah sakit.


"Sayang? Kamu udah bangun?" Terlihat binar bahagia di mata yang tadi sore sangat tajam, setajam mata elang itu.


Yang ditanya hanya diam. Dia masih terlalu linglung. Kemudian, ingatannya berputar pada kejadian tadi sore, dimana dia melihat perkelahian yang mengerikkan di depan matanya sendiri. Dan yang lebih parah, keluarganya telibat dalam perkelahian itu. Kedua kakaknya, dan juga...


Silvia berusaha memundurkan tubuhnya yang terbaring lemah di bangsal rumah sakit dengan sekuat tenaga. Di depannya, duduk orang yang memukuli orang lain dengan bruntal tanpa ampun, menatapnya dengan tatapan sedih bercampur khawatir.


"Sayang, ini daddy," Sean berdiri, tangannya terulur, hendak menyentuh putrinya, namun gadis itu tidak membiarkan hal itu terjadi.


"Jangan sentuh!" Silvia berteriak histeris sambil terus berusaha menjauh.


"Pergi! Jangan deket-deket!" peringatnya, "pergi..."


Grep


Sean mamaksa untuk memeluk putrinya, tidak peduli seberapa keras penolakan yang dia dapat.


"Sayang, ini daddy, daddy kamu,"


Teriakan menggema di ruangan yang didomimasi warna putih itu, bersamaan dengan pukulan dan cakaran yang Sean terima di tubuhnya. Namun sekali lagi, dia tegaskan bahwa dia tidak peduli. Sean tidak peduli sesakit apa tubuhnya karena pukulan bruntal anaknya dan seperih apa cakaran itu, karena yang dia pedulikan hanyalah bagaimana cara membuat Silvia tidak takut lagi padanya.


Merasa usahanya tidak membuahkan hasil, Sean terpaksa melepaskan pelukannya, namun dengan cepat dia menangkup wajah anaknya, membuat mata bening itu yang basah oleh air mata itu bertatapan dengan mata tajamnya.


"Dengerin daddy! Ini daddy sayang, daddy Sean, daddy kamu."


Perlawanan Silvia kini melemah, kemudian menghilang, dia hanya pasrah saat dirinya dipaksa menatap dengan sang ayah.


"Ini daddy, sayang," ucap Sean, lirih. Dia merasa senang karena Silvia menghentikan perlawanannya. "Maafin daddy."


Silvia menunduk,


"Jangan lakuin itu lagi... daddy," ucapnya setelah dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika orang yang ada dihadapkannya adalah ayahnya. Orang yang tidak akan pernah melukainya sejahat apapun ayahnya dibelakangnya, "Aku nggak suka. Aku... takut."

__ADS_1


Sean mendekap tubuh ringkih itu lagi, mengucap ribuan syukur dan terima kasih pada Tuhan, karena putri kecilnya sudah tidak takut lagi padanya.


...***...


__ADS_2